Wednesday, November 28, 2012

Dream Project: See the Unseen.


Tulisan kali ini adalah tentang project terbaru yang sedang saya kerjain... Apa projectnya? hehehee, nihhh sedikit cuplikan foto-fotonya:


Room in the making
outside area

Iyap, saya sedang renovasi bangunan yang nantinya bakal jadi TK pertama saya. Pertama? yess, karena impian saya memang akan memiliki banyak sekolah nantinya.... nggak hanya TK, tapi juga SD-SMA bahkan homeschooling pun akan saya miliki nanti...
Tapi sekarang, saya sedang fokus membangun "bayi" saya yang satu ini. Mungkin langkah saya ini cukup mengagetkan banyak orang.. mengingat background pendidikan Psikologi saya sebetulnya adalah Klinis, bukan Pendidikan. Tapi eh tapi, saya sendiri ga pernah membatasi diri untuk melakukan apapun sejauh saya tahu passion saya menyala-nyala disana.... Jadi saya mau berbagi sedikit gimana kok bisa kecemplung ngerjain project ini ya...

Project TK ini adalah kombinasi dari semua yang PAS bagi saya, baik sadar ataupun tidak. Saya sudah bercita-cita memiliki PAUD bahkan sejak saya belum tahu kenapa... pokoknya pengen aja... dan itu terjadi kira" 10 tahun lalu waktu saya masih SMA. Sekali lg, saya ngga tahu kenapa, pokoknya jiwa sweet seventeen saya waktu itu percaya bahwa suatu hari saya akan punya TK sendiri... Ternyata arah nasib selanjutnya memang menuntun saya untuk mempelajari Psikologi, yang di dalamnya ada elemen-elemen pendidikan, perkembangan, parenting.... dan disinilah saya mulai lebih mengerti alasan saya menginginkan punya TK. Saya akhirnya memahami bahwa bagaimana anak dibesarkan itu sangat-sangat-sangat berpengaruh bagi kepribadian dan perjalanan kehidupannya kelak.. sehingga sangat penting juga memberikan mereka dasar pendidikan dan pengasuhan terbaik.

Saya sering sekali frustasi melihat masalah-masalah perkembangan / pendidikan yang sekarang ada dan sudah sedemikian kompleksnya dan banyak diantaranya bermula dari usia dini anak... Mulai dari gangguan perkembangan anak yg meningkat dibanding 20 thn lalu, sistem pendidikan yg morat-marit (salah kaprah melihat golden age, calistung di TK, KBM yang hanya mengajarkan konsep, dll), model parenting yang sarat hedonic-motivation (contoh: milihin sekolah anak berdasar syarat 'yang penting keren dan mahal'/ 'yg penting ada judul internationa schoolnya', berlebihan memfasilitasi anak dg teknologi, 'kontes' keahlian memasak n lulus ASI oleh mommy2 muda, ikutin anak di kontes model ini itu,  sampe banyak kasus terlompatinya tahap perkembangan anak demi kebanggaan orangtuanya), juga kasus-kasus remaja sekarang yang memang memiliki akar dari masa kecilnya (KDP, hamil pranikah, tawuran, dll). Wahhh banyak deh! Sampai-sampai secara ga sadar, tesis saya pun mengambil tema dimana saya bisa berkontribusi pada kehidupan individu sejak ia di dalam kandungan.... Ini karena saya memang bersemangat untuk melakukan sesuatu di garda depan, di usia sedini mungkin, di masa paling awal kehidupan.
Nah, daripada saya frustasi tidak pada tempatnya, jadilah cita--cita saya memperbaiki kehidupan bangsa ini lewat pendidikan mulai saya realisasikan. Bidang pendidikan memberikan saya ruang untuk melakukan langkah preventif dalam skala besar... inilah yang saya butuhkan.

Alasan utama lainnya, saya memang sudah memantabkan diri untuk bekerja di atas kaki sendiri. Membangun sesuatu. Bekerja di instansi / perusahaan dengan struktur dan sederet peraturan bukan jiwa saya. Saya juga bertekad melakukannya sedini mungkin, tidak menunggu dengan alasan cari modal, keberanian, dan pengalaman dulu. Ketiganya tetap bisa saya capai kok di usia 27 tahun ini...
Syukurlah saya punya keluarga hebat yang mendukung pilihan-pilihan ini.... Saya menyadari betul dukungan keluarga ini adalah modal yang tak ternilai harganya, karena memang banyak orang yang saya temui kesulitan mewujudkan impiannya karena faktor keluarga.. sementara seringkali alasan kita bekerja adalah untuk keluarga kan?

Dulu, saya berpikir akan memiliki TK di usia di atas 30 tahun. Pikiran saya waktu itu, di usia tersebut saya sudah memiliki modal, ilmu, dan keberanian yang lebih kuat. Saya menyadari, masih banyak hal yang harus saya pelajari jika ingin menyediakan sistem pendidikan yang lebih baik dan tentu butuh waktu untuk menyiapkannya. Ternyata, Allah justru mengakselerasi impian saya. Bulan Juli lalu, saya pertama kali membaca buku best-seller 7 Keajaiban Rezeki nya Ippho Santosa. Telat bgt ya? hehehe, tapi kalo saya baca nih buku dari dulu... jodoh ama TK inipun mungkin tdk terjadi. Di halaman terakhir buku inilah saya mengetahui tentang TK Khalifah, PAUD milik Ippho yang di franchise-kan...
Ibarat love at the first sight, hati saya langsung degggg!!! Insting saya mengatakan saya harus mengikuti gejolak hati saya itu.. Jadilah 2 hari setelahnya saya habiskan dengan googling sebanyak''nya tentang TK ini, dan semakin dibaca keyakinan saya ternyata semakin kuat. Saya sepakat dengan value-value yang diajarkan sekolah ini, dan model franchise dengan sistem yang sudah ada akan sangat membantu bagi  anak bawang seperti saya. Cocok deh! Tapiii.... duit dari mana yaaa?? hehehehe... faktor besar nan utama memang soal permodalan nih... Keraguan kedua, dengan sistem yang sudah jadi begini, bisakah saya berkontribusi maksimal??

Kebetulan saat itu adalah bulan puasa, jadi doa saya yg minta sama Allah agar dimudahkan jalannya jika memang ini baik untuk saya kerjakan sepertinya diijabah dgn cepat juga... Saya bahkan ingat menulis status di bbm saya begini: " tahun 2013 saya udah punya TK, tolong bantu Amien-kan ya..", dan alhamdulillah yang meng-Amien in memang banyak sekali... Subhanallah betapa cepatnya doa terjawab dengan bantuan Amien dari banyak pihak ini. Akhir Agustus, saya akhirnya bertemu dengan pihak master franchise untuk wilayah Yogyakarta. Bagi saya, partner yang memiliki visi yang sama adalah hal mutlak, maka saya pertajam betul indra saya pada pertemuan itu utnuk melihat apakah chemistry dari love at the first sight saya memang ada....hehehehehehe..
Dan lagi-lagi alhamdulillah, pertemuan itu menghasilkan keyakinan yang lebih besar bagi saya. Kecocokan value, visi, dan misi saya dapatkan.. segala keraguan saya mendapat jawaban... dan saya bahkan mendapat kesempatan untuk berkontribusi maksimal ga hanya di TK Khalifah milik saya, tp juga di semua TK Khalifah Yogyakarta! Alhamdulillah...Alhamdulillah....!. Saya juga bersyukur dengan timing yang ternyata serba PAS ini... FYI, Tk milik saya ini adalah yang ke -11 di Yogyakarta. Saya beruntung dengan menjadi yang ke-11 berarti ada banyak perbaikan dari TK-TK yang sudah ada sebelumnya, dan ruang bagi saya mengembangkan TK ini dari pakem yang sudah ada juga semakin terbuka lebar. PAS juga kesempatan ini datang di saat saya hampir lulus (wisuda im comiinggg!!) sehingga fokus saya bisa lebih maksimal nantinya.  See? Allah selalu memberi tepat waktu, dan berkahnya selalu datang dalam jumlah yang PAS! (Pertamina aja kalah nih Pasti Pas-nya.. hehehe... )

Sayapun dibukakan pintu rezeki dari Allah sehingga semua proses menuju deal berjalan cepat. Mulai tanggal 1 Oktober lalu kontrak sudah ditandatangani dan Insya Allah awal tahun besok TK Khalifah 11 Yogyakarta mulai berjalan. Yeyy!!. Saya memang percaya bahwa ide hanya akan berhasil dengan keyakinan kuat dan harus ditindaklanjuti dengan cepat juga... Otak manusia biasanya senang memelihara ketakutan, dan semakin lama dipelihara justru ide-ide seringkali terhambat realisasinya.

Yang lucu... ternyata saya tidak hanya mendapat dukungan banyak pihak, tapi juga...cibiran.
Ada yang bilang: Iyalah gampang, tinggal sediain duit doank.....
Hmm, baiklah... saya mengupayakan rezeki itu ada, lalu saya manfaatkan... so what??. Rezeki ini juga tidak jatuh dari langit, bukan sesuatu yg saya dapatkan gratis, bukan tanpa resiko, dan tetap harus saya pertanggungjawabkan nantinya.
Ada juga yang bilang : model franchise itu kan kalau orang mau gampangnya doank...
Hmm, baiklah.... tapi bagi saya, justru keuntungan dari kemudahan itu yang saya manfaatkan, instead saya harus tunggu 5-10 tahun lagi padahal belum tentu segala sumber daya 5-10 tahun lagi lebih siap dari sekarang... Toh, tujuan saya utk memaksimalkan kontribusi lewat kapabilitas yang saya miliki tetap bisa tercapai kan?

Saya bergerak, saya melakukan sesuatu. Saya tahu dimana sumber daya yang saya miliki dan bisa dimaksimalkan, dan saya tahu juga dimana letak kelemahan saya. Saya tahu apa-apa yang  ingin saya lakukan, apa yang bisa membuat saya bangga dan bergairah melakukannya, apa-apa yang penting dan tidak.   Saya tidak harus menunggu apapun... Saya melakukannya SEKARANG.
Saya pikir inilah point penting yang ingin saya bagi... Ter-realisasinya mimpi saya ini semua terjadi berkat kombinasi keyakinan (meski dulu saya tidak tahu alasan di balik keyakinan ini), doa dari banyak pihak, kecepatan merespon ide, dan kepekaan tentang apa-apa yang  bisa / tidak, mau / tidak, ingin / tidak kita lakukan. Saya bukan orang yang nekad, bagaimanapun saya memutuskan sesuatu melalui pertimbangan.. tapi saya selalu memastikan hati dan otak saya terlibat dalam setiap pengambilan keputusan. Segala hal yang 'nampak' seperti kemudahan sebenarnya adalah produk dari kombinasi tersebut, bukan karena saya anak orang kaya yang gampang saja melakukan apa yang saya mau sambil ongkang-ongkang kaki.

Perjalanan mimpi saya masih panjang... Sekolah ini masih butuh banyak keringat, pikiran, dan waktu.. begitupun goal utama saya di bidang Psikologi untuk menyentuh sebanyak mungkin kehidupan orang lain... Tapi saya yakin selama ada kombinasi hal-hal tersebut di atas, saya sangat bisa mencapai impian apapun.. termasuk: berpenghasilan besar dari Psikologi Klinis! Hihihiii....  Menjadi kaya raya di bidang yang memang menjadi minat kita itu bukan mustahil dan nggak terlarang kan?.. :p


Monday, November 5, 2012

Comfort Zone: Take It OR Leave It?

Comfort Zone....
Wilayah yang sering "ditakuti" banyak orang karena menurut konsensus umum, wilayah ini suka bikin kita terlena sehingga berhenti berkembang....
Well, saya akan berada di garis depan penentang pendapat ini. Hehehehe..... Bukan karena saya mengidap ODD (Oppositional Defiant Disorder  -merupakan gangguan perilaku menentang-) lho, tapi memang haqqul yaqien saya punya pendapat yang berbeda.

Menyalahkan comfort zone karena tidak berkembang, menurut saya itu terjadi karena kita sendiri yg mengecilkan arti 'comfort zone'. Menurut bayangan kita, comfort zone itu contohnya seperti: pekerjaan enak yang udah kita lakukan bertahun-tahun, atau lingkungan sosial yang itu-itu saja.... betuull?. Padahal comfort zone sebetulnya kan situasi / wilayah yang membuat kita nyaman... tidak terbatas hanya hal-hal yang dari luar terlihat nyaman saja karena bisa jadi nyamannya seseorang justru dipandang aneh bagi orang lain. Ini masalah rasa.. dan rasa adalah sesuatu yang sangat subjektif.

Contoh, orang yang merasa ngga progress di pekerjaannya lalu memilih keluar karena merasa sudah terlalu nyaman disana sehingga akhirnya berkelana lah dia mencari pekerjaan lain. Menurut saya, comfort zone orang ini bukan pekerjaan nyamannya, tapi di proses mencari tantangan atau situasi baru tersebut. Mengambil resiko, bertemu orang-orang baru, beradaptasi dengan pekerjaan baru.. mungkin hal-hal ini 'terlihat' tidak nyaman, tapi somehow sebenernya ada kenyamanan baginya ketika melakukannya.

(masih) menurut saya, justru sejatinya kita ini selalu mencari comfort zone sebetulnya... Kalau kita lagi susah, biasanya orang yang kita cari adalah sahabat atau keluarga yang bikin kita nyaman kan? atau justru kita lebih nyaman bicara dengan orang asing?. Kalau kita terus menerus ganti pacar, kita sebetulnya sedang mencari orang yang bersamanya kita merasa nyaman kan? . Kalau sekarang kita masih jadi 'kutu loncat' di pekerjaan, saya rasa 2 alasan besar yang sering mendasari hal ini adalah: gaji dan kenyamanan bekerja.. Yess??. Kalau kita lagi jenuh dengan sesuatu, biasanya kita bisa menyelesaikannya dengan melakukan hobby kita kan? Semua terpola menuju hal yang sama: comfort zone yang selalu kita cari.........

Justru... ketika kita sudah berada di tempat atau situasi yang tepat dan kita merasa nyaman disitu, potensi-potensi kita akan berkembang dengan baik... Saya yakin kok Ir.Ciputra, Dwi Lestari, Mark Zuckerberg, dan jutaan tokoh sukses lainnya  bisa sedemikian besar prestasinya karena memang itulah bidang yang membuat mereka nyaman... Ga ada istilah bosan atau stuck ketika kita benar-benar sudah ada di comfort zone. Yang ada adalah menikmati, bersyukur, berkembang lebih besar lagi dan lagi.......

Sehingga, kalau mau ditarik ke belakang... sebetulnya sangat penting buat kita untuk tahu apa yang benar-benar membuat kita nyaman, apa yang sesungguhnya kita mau. Karena mengetahui kenginan hati sedini mungkin tuh akan semakin mempermudah langkah-langkah kita menuju ke arahnya.....
Saya sangat salut pada orangtua yang mempu mendidik anaknya untuk mengetahui apa yang ia inginkan sedari kecil. Dengan mengesampingkan ego 'berkuasanya', orangtua model ini akan mendukung sepenuh hati proses si anak menemukan comfort zonenya.... Nah sebaliknya yang suka bikin saya geram, jenis orangtua yang penetrasi gila-gilaan terhadap keinginan, passion, dan kebutuhan anak. Ini nih bibitnya kenapa fakultas-fakultas yang laku di Indonesia ga jauh-jauh dari Kedokteran, Ekonomi, atau Teknik..... yang kemudian berefek lagi kenapa Indonesia ga punya ahli-ahli di bidang khusus lainnya. Padahal negara yang besar harusnya pendidikannya juga maju di semua bidang, bahkan bidang yang 'nyeleneh' sekalipun!. Saya sering merasa miris ketika beberapa kali harus melakukan rekruitmen di perusahaan, para pendaftar banyak yang berasal dari fakultas-fakultas yang sebenarnya lebih cocok untuk berkarya di bidang lain.... Dan ajaibnya, ketika ditanya alasannya banyak yang menjawab karena harapan orangtua. Harapan orangtua bahwa anaknya akan bekerja di tempat mentereng yang menghasilkan banyak uang dan itu HANYA bisa didapat di bidang tertentu saja -yang tentu saja berbeda dengan bidang perkuliahan si anak-.

Bersyukurlah bagi kita yang sudah menemukan comfort zone saat ini. Ngga perlu merasa berdosa karena menikmatinya, karena justru dari kenikmatan itu akan lahir sesuatu yang bermanfaat.... Kalaupun sekarang belum menemukan comfort zone, saya rasa kita perlu lebih mem-peka-kan diri tentang apa-apa yang sebenarnya kita sukai. Hanya perlu lebih banyak merasakan dan mendengarkan hati saja kok untuk mengetahuinya....





Saturday, August 11, 2012

"Aturan-Aturan" Hidup


Beberapa waktu belakangan ini, saya lagi doyan menabrak beberapa pemikiran yang sebelumnya secara mutlak dan (tidak disadari) sangat saya yakini.... Saya ngga tau darimana asal-muasal keyakinan saya ini, tapi sepertinya pikiran itu memang udah nempel di kepala saya.. Kaya' Ipin yg selalu nempel sama Upin.. hehehe...

Mungkin, karena pikiran-pikiran itu begitu seringnya saya dengar dan udah dikenalkan ke otak saya sedari kecil, jadi saya menerimanya aja tanpa mengujinya lebih lanjut.

Pernah punya pikiran meyakinkan seperti ini? Saya sih menyebutnya : aturan-aturan hidup...." Nggak tau dari mana, pokoknya harusnya begitu!" ---> nah, ini tipe pikiran yang saya maksud itu. Misalnya: keyakinan bahwa  orang tu harusnya kerja dulu sebelum nikah, orang tu harus memulai dari nol dulu kalo mau sukses, orang tu harus kerja keras kalo mau dapetin impiannya, orang tu harus memaafkan dulu kalau mau melupakan, dst, dst..... Aturan-aturan ini saya "uji" di kepala saya dengan menanyakan: emang kenapa nikah harus tunggu kerja?, emang memulai dari 10 ngga boleh sukses? bukannya bakalan lebih cepet nyampe 100 ya?, kerja keras? kenapa ngga kerja cerdas?, emang kalo udah memaafkan beneran bisa melupakan gitu? maksudnya menghapus memori? yakin?......

Itu baru random thought ya... di bawah ini saya akan tuliskan beberapa "aturan hidup" populer yang (menurut saya) perlu dikaji lagi ketepatannya.... yuk cekidot:

**Jadilah yang terbaik! atau bahasa kerennya: Be the best!
Menetapkan target untuk selalu jadi yang terbaik, menurut saya berpotensi menyulut genderang perang terhadap diri sendiri. Kenapa? karena ini sama artinya dengan menetapkan orang-orang atau hal-hal lain di luar kita sebagai sesuatu yang harus dikalahkan. Lha gmn mau jadi yang terbaik, kalau yang lain-lain nggak dalam posisi kalah dari kita?. Permainan sepakbola misalnya, sebuah team tentu akan disebut terbaik jika berhasil mengalahkan team-team lain dalam pertandingan itu kan?. Dalam hal-hal yang memiliki semangat kompetisi, aturan untuk menjadi yang terbaik itu perlu. Tapi menjadi yang terbaik dalam segala hal, wah bisa memicu gangguan psikologis tuh! hehehe... Lihat aja betapa banyak anak sekarang yang stress di sekolah karena target selalu menjadi yang terbaik disematkan orangtuanya dalam berbagai bidang, tanpa toleransi bahwa ketika tidak menjadi yang terbaikpun mereka tetap 'terbaik' di hati orangtuanya.

**Mirror never lies, atau artinya: berkacalah selalu karena kaca ngga pernah bohong.
Kalau bagi saya, cermin bukannya ngga pernah bohong... tapi cermin selalu memberitahu apa yang "ingin" kita lihat. Cermin, dalam arti kata harfiahnya, memang digunakan untuk memberikan pantulan dari objek aslinya. Ketika kita bercermin, kalau kita 'ingin' melihat seseorang yang cantik, ganteng, molek, ya itulah yang akan terlihat. Hm... tapi mana ada orang yang ingin terlihat jelek? Tepat!! Itu kenapa kata ingin saya beri tanda petik ("), karena ingin yang dimaksud disini adalah sesuatu yg sebenarnya lebih kita percayai.. yg lebih mendominasi pikiran kita. Kalau kita ingat di buku dan film The Secret, disitu dijelaskan bahwa kalau kita terus menerus dililit hutang, itu karena kita yang mengundangnya... utang itu begitu lekat menempel di pikiran kita sehingga tidak sadar kita menginginkannya!. Nah ketika bercermin, momen dimana kita melihat jerawat kita terlihat sangat besar dan mengganggu, percaya deh...itu karena kita yang menginginkannya besar!
Begitupun ketika kita sedang menilai diri sendiri, apa yang dikatakan cermin subjektif kita, ya hanya sebatas apa yang 'ingin' kita lihat saja. Itupun hanya satu sisi yang nampak..... sama seperti sedang bercermin wajah, mana mungkin di saat yang bersamaan punggung kita terlihat?
Lalu, gimana caranya dapet pantulan yang objektif? Caranya, seimbangkanlah pantulan cermin ini dari koreksi / opini orang-orang lain. Dengarkan kata keluarga, teman-teman, bahkan musuh-musuh tentang diri kita. Tidak semua kata mereka bisa dipercaya, tetapi tidak semua pantulan cermin juga dipercaya. Jadi menyeimbangkan keduanya adalah cara paling jitu.

**Go with the flow aja.....
Kalau kata saya... only dead fish go with the flow!. Beda lho go with the flow dengan memasrahkan segala urusan pada Tuhan. Berjalan mengikuti arus ini sama dengan tidak mau berusaha menentukan arah hidup kita sendiri. Arusnya korupsi, ya jadi koruptor juga... arusnya lagi suka rainbow cake, ya makan rainbow cake juga (ga peduli rasanya kaya apa)... arusnya jadi PNS, ya milih PNS an juga.... jiaahh, kapan mandirinya bos?
Lebih bagus, dance with the flow lah..... dengan berdansa sama arus ini, kita memilih untuk juga menjadi pihak yang aktif dalam pilihan-pilihan hidup, karena arus juga membutuhkan gerakan-gerakan kita. Berdansa, artinya kita juga mengambil tenaga pasangan dansa untuk jadi kekuatan kita... Berdansa, artinya ketika arus menuju ke tempat yang tidak kita inginkan, kita bisa bergerak menuju ke tepian atau pindah dalam arus yg lain.
Jadi, mau ikut arus atau berdansa dengan arus?

**Follow your heart
Follow your heart boleh..... but use your head also! Hehehe.... Hati, memang memiliki kapasitas yang terhitung murni. Dia akan memberitahu kita apa yang benar-benar membuat kita bahagia, apa yang sungguh-sungguh benar dan salah. Tapi jangan abaikan fungsi akal, pikiran, kognitif, atau apalah namanya... karena fungsi ini yang memuliakan kita manusia dibanding makhluk-makhluk lainnya. Saya sering, bertemu dengan orang yang menyesali keputusannya karena merasa dulu terlalu mengandalkan keinginan hati... atau sebaliknya, terlalu mengandalkan pertimbangan logika. Hal ini terjadi, karena kita kerap terlalu mengkotak-kotakkan mana yang kata hati dan mana yang kata pikiran. Padahal, kalau saja kita mau ramah kepada keduanya, maka keduanya juga akan bekerja dengan harmonis untuk kita.... Jadi, menurut saya, keputusan yang baik adalah keputusan yang dapat diterima secara akal sehat dan hati nurani... tidak memihak salah satunya. Diterima, bukan berarti selalu dalam presentasi seimbang ya... yang penting, keduanya (dalam mekanisme masing-masing) "ada" dalam keputusan tu.

** Stay positive!
Kata-kata ini, kalau bagi saya... sangat sarat pemaksaan. Karena menjadi orang yang positif sepanjang waktu tuh melelahkaannn... bahkan, saya bisa sangat muak kalau ketika saya sedang down dan segala hal tampak gloomy, lalu ada orang yang meminta saya bersikap lebih positif. Memangnya ada apa sih dengan ke-negatif-an? Bukannya negative things juga sarana kita mempelajari sesuatu?... Lalu kenapa kita ngga accept aja dengan keadaan negatif itu, sehingga tidak ada kelelahan dengan berusaha menolaknya?. Karena begitu kita accept, otomatis  kondisi tubuh akan lebih rileks dan hal-hal negatif itu akan pergi dengan sendirinya, tanpa paksaan. Justru kalau kita memaksakan stay positive sepanjang waktu, sekalinya ada hal negative yang datang , kita akan sulit mengatasinya.... Ya gimana mau diatasin, wong emang itu hal asing yang jarang kita terima keberadaannya!
Betul, yang harus kita lakukan sebagai manusia adalah berusaha menjadi pribadi yang positif... Betul, menerima ke-negatif-an bukan berarti melegalkan kita untuk terus menjadi negatif apalagi melanggar norma. Tetapi, jika sedang tidak positif, menerima diri apa adanya itu jauh lebih bijaksana...tetap mencintai diri sendiri, during the bad times or a good times, adalah janji paling mulia yang bisa kita katakan pada diri sendiri.

** Dont judge the book by it's cover.
Aturan ini seringkali membuat kita mengabaikan pentingnya memperbagus cover. Oke, saya setuju bahwa tampilan luar tidak selalu merepresentasikan isi di dalam... Tapi, tidak dalam semua kondisi kita bisa membuat keputusan dengan menyelami isinya dulu kan?. Misalnya kita mau beli majalah... majalahnya masih disegel kan, kita ngga bisa membuka nya lebih dulu. Tapi dari informasi yang diberikan cover, kita akan bisa memutuskan apakah akan membelinya atau tidak.
Begitupun dengan manusia, seringkali persepsi atau informasi tentang manusia lain kita dapat ya dari covernya saja, karena mustahil kita mengenal pribadi semua orang secara mendalam. Cover, bagi saya bukan sekedar cara berpakaian saja, tapi cara berbicara, gesture , bahkan cara kita membawa diri dalam situasi. Intinya, apapun yang bisa diobservasi secara langsung oleh orang lain.
Jangan salah, di perusahaan pun dalam proses recruitmen, cover atau appearance ini seringkali memberikan informasi awal yang penting apakah calon karyawan itu menganggap pekerjaan ini serius dan benar-benar menginginkannya atau tidak lho.
Kesimpulannya, kalau kita merasa punya 'jeroan' yang berkualitas, yuk perbaiki juga tampilan luarnya. Karena dengan first impression yang bagus, jalan kita mencapai tujuan akan jauh lebih mudah!

** Carilah  win-win solution 
Hmmm.... emang ada ya win-win solution???, buat saya sih... yang ada draw-solution alias solusi SERI, nggak menang dan nggak kalah juga. Itu aja sih koreksi saya untuk aturan hidup yang satu ini... ga pake penjelasan P x L (panjang x lebar), hihihiiiiiiiii

Demikianlah, beberapa 'aturan-aturan' hidup yang sedikit banyak pengen saya sempurnakan ketepatannya...  Itu adalah sebagian aturan yang saya olah... anda boleh agree, boleh juga agree to disagreeBottom line sih, apapun aturan hidup yang kita percayai dan jalani, pastikan kita benar-benar mengetahui apa dan bagaimana aturan itu ada....
Masih punya aturan-aturan hidup yang mau ditabrak? Share-kan dengan saya ya! Hehehehe....

Wednesday, August 1, 2012

EX (baca: Mantan)

"At some point you have to realize that someone might stay forever in your heart, but not in your life"
        - Unknown, Quote-ing from twitter -



Tell me, siapa orang yang paling berpengaruh dalam hidup kita? yang sungguh2 berperan membentuk diri kita? .... Orangtua? Teman? Kekasih? Suami / Istri? Anak? Musuh?.... Hmm, saya mau tambahin satu kategori lagi : mantan pacar.

Buat mereka-mereka yang sekarang sudah menemukan belahan jiwanya sih, mungkin lebih mudah ya melupakan sosok si mantan ini... Ngapain juga dipikirin, udah dapet yang jauhhh lebih baik ini. Ngapain jg mentingin mantan, toh sama mereka hubungannya juga gak berhasil.. kalo berhasil, gak sampe putus namanya dan ga bakalan mereka menyandang status mantan kan? Hm... begini mungkin pikiran para pengelana cinta yang sudah sukses berlabuh di pantai asmara ..... LOL.*serius, saya kok mendadak bayangin Shah Rukh Khan ya waktu ngetik kalimat terakhir ini* hihihihihiii *inget cinta, inget luka, inget India*

Kalo bagi saya, hubungan kita dengan lawan jenis yg ada embel-embel asmara tu layaknya "sekolah kepribadian". Sedikit banyak, disadari atau tidak, hubungan emosional yang sudah kita jalani bersama lawan jenis tu pasti ngasih pengaruh ke perkembangan kita sebagai pribadi. Anda sekarang merasa jadi orang yang tangguh? mungkin itu karena mantan anda memberi pengalaman sakit yang luar biasa.... Anda sekarang jadi sosok yang hebat untuk pasangan anda sekarang? hmm... itu juga mungkin peran mantan yang selalu marah kalau anda berperilaku yang tidak layak padanya dulu.... Atau anda sekarang sudah bersama pasangan yg lebih "sempurna"?... Bisa jadi, itu karena mantan memberitahu anda apa yang sebenarnya tidak cocok bagi diri anda

Kebanyakan dari kita merasa sakit kalau mengingat mantan, sehingga malas mengapresiasi keberadaannya. Padahal, justru dari pengalaman sakit itulah biasanya kita bertumbuh pesat... ya kan? . Saya yakin kita-kita semua yang sampai saat ini tidak mati karena sakitnya cinta, pasti adalah pribadi yang berbeda dibanding kita dulu. Lalu kenapa kita tidak merayakan betapa 'hidupny'a kita sekarang?. Karena kalau mau diibaratkan anak tangga, mantan tuh anak-anak tangga di bawah yang sebenarnya membantu kita sampai di posisi setinggi sekarang. Udah diinjek-injek, ga jadi pula! Udah sepantasnya kan kita berterima kasih padanya?

Fungsi dan manfaat kenapa dihadirkannya sang mantan oleh Tuhan ini juga tidak serta merta bisa kita dapat kok... Waktu memang (teorinya) hanya berjalan ke depan, tapi titik-titik tentang hikmah kehidupan itu hanya bisa ditarik mundur. Jadi kalo kita sekarang masih belum bisa mengapresiasi kehadiran mantan-mantan, jangan buru-buru kecil hati. Mungkin kita memang sedang dipaksa berjalan maju dulu oleh waktu, sebelum nanti bisa berhenti sejenak dan menarik garis ke belakang... ke titik-titik yang kita tinggalkan tadi..


Tapi saya juga yakin banyak diantara kita yang malas mengapresiasi mantan karena sampai saat ini dia masih ada di hati kita plus segala perasaan cintanya, sehingga mengingatnya justru seperti menabur garam di atas luka *hihihiiii, kali ini saya jadi inget Saipul Jamil, kalo dia yg ngucapin kalimat barusan pasti sambil dinyanyiin dangdut*....
Nah, kalo kasusnya seperti ini sih, ga lain dan ga bukan memang harus berproses dulu sama diri sendiri ya.... Kalo istilah kerennya, berdamailah dengan diri sendiri, kiddo! :D. Berdamai dengan cara menerima bahwa ia mungkin memang akan selalu jadi bagian dari hati kita selamanya.... Psstt, satu rahasia yang mau saya bagi: ternyata hati itu kapasitasnya luar biasa besar. Jadi menerima dan membiarkan mantan  mengisi salah satu ruangnya, nggak akan merubah kemampuan kita mencintai orang lain dengan sama atau bahkan lebih besarnya.
Lho kok bisa???!! *gitu mungkin jeritan hati para tawanan cinta yang belum bebas dari kerangkeng masa lalu*
Iya, BISA! Karena begitu kita berhenti berperang dengan diri sendiri dengan terus-menerus mencoba mengusir si mantan dari hati, saat itu sebenanrnya proses healing sedang berjalan. Kalau kita sudah dengan ikhlas memberi izin si mantan untuk terus bersemayam dalam hati, percaya deh... hati juga rasanya akan menggelembung lebih besar, siap membuat ruang untuk orang-orang lain.

Tapi eh tapiiiiiii.... menurut saya sih tetep aja: tidak ada rumus pasti untuk segala hal, apalagi untuk urusan cinta. Jadi kalo ada kasus-kasus unik sama mantan yang ngga bisa selesai dengan rumus di atas ya sah-sah saja.... Toh tujuan tulisan ini bukan buat bagi-bagi tips, tapi untuk memberi perspektif baru terhadap keberadaan mantan.Tulisan ini juga bukan bertujuan supaya kita terus menerus mengingat mantan, tapi memberi tempat yang lebih baik bagi keberadaannya. Dengan begitu, jiwa kita bisa jauhhhh lebih sehat!

Jadi, buat kita-kita yang selama ini mengesampingkan fungsi mantan dan ogah memikirkannya, yuk hari ini kita dedikasikan sedikit waktu luang untuk mengapresiasi apa-apa yang sudah ia berikan pada hidup kita. Mudah-mudahan dengan begitu, segala macam mimpi buruk yang biasa hadir dalam sosok mantan, nanti malam muncul dalam bentuk mimpi indah. Jangan lupa sampaikan terima kasih anda ya kalau dia hadir di mimpi! Hehehehehe.....

Ps: Blog post ini diperuntukkan bagi mereka yang memiliki mantan. Bagi anda yang belum memiliki dan memutuskan tidak akan memiliki mantan (baca: sekali pacaran langsung menikah), saya yakin 100% anda akan menemukan "sekolah keprbadian" dalam bentuk lain yang tidak kalah seru!

Thursday, May 31, 2012

Kontemplasi 27

Hai.... kamu.....

Ini tulisan saya pertama lagi di usia 27 tahun. Yep, saya kemarin baru aja dianugerahi pertambahan (atau pengurangan jatah) usia ke angka 27 tahun....
Mei yang penuh warna, tahun ini, tapi saya bahkan belum sempat menuliskan apa-apa ya.... hehehe.... Selain perayaan ulang tahun yang seru pol-pol an, saya kemarin juga sempat kehilangan laptop beserta semua data-data nya. Masa-masa berdukanya sudah saya lewati kok....malahan, peristiwa horor itu banyak hikmahnya. Selain dapet laptop baru yang lbh canggih (hiihihiihiii...) , saya juga banyak dapat buku-buku dan materi-materi baru untuk modul tesis saya.. Jadi sekalian deh, nambahin ini itu di modul ini.

Oke, kembali.....(eh, kembali kemana ya?) Hmm, kembali ke hal yang mau saya tulis beneran lah ya... yang seperti biasa, menggelitik bulu idung saya, dan mengobrak abrik sistem kepala saya....Saya emang males kalo cuma nulis pengalaman hidup yang gak bikin otak saya mau meledak.

Dua hari lalu saya hendak meng-edit kotak Description pada account twitter saya. Ga ada sebabnya sih, cuma pengen ganti suasana aja.... Dan ternyata, saya suliitttt sekali menuliskan / menjelaskan siapa sih saya ini?
Lamaaaaaa saya cuma mengamati kotak kosong itu. Akhirnya karena saya nge-blank, saya coba cari inspirasi dengan liat-liat gimana orang lain mendeskripsikan dirinya.

Ternyata, kebanyakan dari kita mendefinisikan diri berdasar apa yang kita suka... misalnya (dari yang saya baca nih ya): travelling junkie, food lovers, photography addict, dst, dst..... Atau, anda adalah pekerjaan anda, seperti juga saya menulis di kotak description sebelumnya, saya adalah psychologist -soon to be- alias sebentar lagi jadi psikolog resmi. Atau yg lucu, anda mendeskripsikan diri sebagai "properti" orang lain, misalnya: boyfriend of @....... (nyebutin account  pacarnya).
Intinya, kebanyakan dari kita mengidentifikasi diri dengan hal-hal yang umumnya dapet label 'positif'. Entah karena hanya itu yang kita pahami tentang diri kita, atau hanya itu yang ingin kita tahu dari diri kita........ 


Saya Galau.... ya GALAU, seperti anak remaja yang (katanya) sibuk cari jati diri. Ternyata sayapun bisa kebingungan dengan diri saya. Maksudnya, bagaimana ya saya bisa mendeskripsikan diri saya dengan akurat, tanpa atribut-atribut tempelan dari luar? . Kata-kata yang tetap  menjelaskan siapa diri saya bahkan ketika saya TIDAK sedang melakukan hal-hal yang saya sukai, ketika saya BUKAN sedang mengerjakan pekerjaan saya, atau saya yang merdeka, bukan milik siapa-siapa.......

Siapa saya?
Atau, saya adalah sifat saya? Ega yang konyol, easy going, moody-an, gampang lupa-gampang inget, dst...? Lha, itu kan menurut kacamata saya ya, padahal sifat saya menurut orang lain bisa saja berbeda.
Atau memang "saya" ya subjektif dari kacamata saya sendiri? tidak ada ruang untuk interpretasi orang lain tentang saya, bahkan sebagai pertimbangan sekalipun....?
Saya tetep ngga sreg dengan opsi ini. Karena kalau mau bicara sifat, sifat saya sebenarnya jauh lebih kompleks dari yang saya sebutkan tadi. Itu baru lingkaran terluar.... tetapi kalo mau ditelisik layer-per-layer, saya ini masih misterius bahkan untuk diri saya sendiri kok... saking kompleksnya. Bagaimana mungkin menjelaskan ke-kompleks-an tadi dalam beberapa baris singkat sederhana?

Seorang teman dekat saya pernah bilang, kalau masing-masing kita ini unik dan special karena tercipta dari berbagai milyar kemungkinan kombinasi DNA. Tidak ada orang yang sama persis, se-kembar apapun dia atau sesama apapun dia dibesarkan.... Jadi kalau kita mau merunut dari jaman terciptanya manusia sampai kiamat nanti, yang cetakannya kaya kita itu ngga bakalan ada lagi....
Hmmm, lalu knapa ya banyaaakkk sekali orang menggunakan kata "ordinary" untuk menjelaskan dirinya... tidak tahukah mereka, betapa langkanya diri mereka sendiri?

Oke, jadi satu point jelas sudah saya dapat: saya special
Lalu, kalau saya special, anda special, dan begitupun semua makhluk di muka bumi ini.... apa specialnya? hehehe.... bukankah special itu berarti berbeda ya? menonjol? irreplaceable?
Hahahhaa, makin banyak aja pertanyaan lahir dari pertanyaan saya sendiri.
Tapi ngga papa, ini artinya otak saya masih punya dahaga, dan masih berguna. Tidak mati dalam kerangkeng dogmatis.

Sampai saya menulis inipun, saya masih belum menemukan pencerahan yang konkrit... Jadi saya rasa, ini akan jadi tulisan bersambung saya yang pertama...yang akan saya sambung lagi nanti kalau percikan ilham sudah sudi menghampiri, hehehe...
Saya juga ngga bisa memastikan, apakah jawabannya akan datang dalam bentuk kerumitan juga... atau jutru dalam kesederhanaan.. atau justru tidak akan terjawab. Seperti yang Dee Lestari tuliskan dalam salah satu scene nya: ini adalah atraktor asing yang akan terus menggantung.. sebuah tanda tanya Agung. Tanda tanya itulah sebenarnya perjalanan kita, yang secara konstan menggerakkan kita...
Yang jelas, perjalanan ke 'dalam' itu memang lebih sulit terduga ya?, saya sendiri masih sering terkaget-kaget setiap kali melakukannya....

Maka sementara, saya akan membiarkan kotak Description dalam account twitter saya demikian saja adanya: Saya...... adalah kejutan bagi diri saya sendiri.






Sunday, April 22, 2012

Quick thought, Keep walk.

Efisiensi menulis itu perlu. Tetapi menyingkat ucapan-ucapan seperti GWS (get well soon), WYATB (wish u all the best), GBU (God bless u) dimana notabene itu adalah ungkapan "doa", kok rasa-rasanya kurang baik ya.... Kalau kita sungguh-sungguh pengen mendoakan orang lain, mendingan diucapkan dengan benar.

******************

Kalau saya tidak pernah mengeluh atau berkoar-koar kesedihan tentang not having children yet, itu bukan karena saya tidak menginginkannya. I want it more than anyone... anyone. Hanya saja, saya merasa sangat dicukupkan dan dibahagiakan dengan kondisi saat ini, yang seperti ini. Jadi kebanyakan complain sama Allah bikin saya ngga enak hati karena itu artinya saya fokus pada apa yang gak saya punya.... Saya dan suami percaya kok bahwa jawabannya hanya "belum", bukan "tidak". Dan di masa "belum" ini, kami berusaha mengisi rumah tangga yang kami miliki dengan se-produktif mungkin dalam banyak hal.
FYI, Saya tertawa jaauuuhhhh lebih banyak sejak menikah. Saya rasa ini saja sudah indikator bahwa kami harus lebih banyak bersyukur daripada meminta lebih.

******************

Saya baru menemukan kalau ternyata sangat menyenangkan berada di antara orang-orang berzodiak Aries-Taurus, hihihihii.... Sampai detik ini saya sudah menemukan 11 nama yg berzodiak keduanya yg saya kategorikan "asyik". (pssstt.... bahkan 2 di antaranya adalah mantan pacar!)

******************

Ayah saya kemarin baru saja selesai menjalankan jabatan puncaknya. Sekarang beliau menempati posisi lain, dan lebih fokus mempersiapkan masa pensiunnya tahun depan. Kadang-kadang saya ngga percaya kalau Papi udah setua itu, mengingat semua kelincahan dan energinya yang seolah ga pernah habis. Papi bener-bener inspirasi tentang semangat bekerja keras, fleksibilitas, dan selalu bersenang-senang dengan apapun yang saya kerjakan.

******************

Quote itu salah satu kekayaan intelektual. Jadi kalau kita mengutip quote siapapun, berbesar hati aja untuk mengatakan / menuliskan siapa sumbernya. Anggap quote itu seperti citation di tugas akademik. Kalaupun lupa, mendingan ditulis "unknown" sekalian. Seriously, don't take any credits if it's not yours.



Wednesday, April 18, 2012

Motivasi dan Motivator


Jujur nih ya.... saya bukan penggemar, pengikut, atau pemerhati motivator. Itu lhoh , orang-orang yang berbicara di seminar atau pelatihan, atau menulis buku, yang tujuannya memotivasi orang lain... ngasih resep-resep jitu menghadapi kerasnya kehidupan. Tujuannya satu: mencapai sukses. Entah sukses secara emosional, finansial, relasional, u name it....

Sebelumnya saya juga ngga terlalu paham kenapa saya nggak ngerasa related sama motivator-motivator itu.. Padahal kebanyakan dari mereka punya jargon hebat yang sering saya dengar, punya acara televisi terkenal, punya seminar-seminar yang sering diadakan , punya kolom sendiri di media massa, punya jutaan follower di twitter yang sering mendengungkan betapa hebatnya mereka... Entahlah, saya hanya ngerasa ga "klik" aja. Kayak jodoh, kalo ga "klik" ya ga bakalan nyambung ya. hehehehe...

Pernah sih beberapa kali saya coba menonton acara mereka, memperhatikan apa yg mereka tulis dan katakan, mencoba mencari "wow" momen seperti yang bisa didapat orang lain. Tapi apa daya, biasanya saya cuma berakhir dengan melongo aja dengan kata-kata indah para motivator itu. Buat saya itu cuma kata-kata indah, titik. tidak cukup memotivasi saya melakukan perubahan apapun dalam hidup. Bahkan seringnya saya justru geli kalau menonton acara salah satu motivator paling terkenal di Indonesia karena jawaban-jawaban yang dia berikan suka ngga nyambung sama pertanyaan audiens. Tapi dengan gaya penyampaian yang aduhai kayaknya cukup bikin semua penontonnya terpukau n bertepuk tangan keras setiap kali dia mengakhiri kalimat. Begitupun dengan membaca tweet2 atau kolom-kolom yang biasa diisi motivator itu, otak dan hati saya ga bisa konek. Saya bahkan pernah  secara sengaja memperhatikan semuaaa tweet seorang motivator terkenal selama beberapa hari... Ajaibnya, saya menemukan beberapa quote bijak yang saya tau persis itu quote milik orang lain, hanya dipoles sedikittt dgn esensi yang jelas sama, tetapi diberi hashtag (#) bahwa itu quote miliknya... Alamak!! tidak pernahkah dia mendengar tentang plagiatisme???. Bener-bener pengalaman yg tidak membuat saya terinspirasi deh.

Hmmm....mungkin saya jadi terdengar negativistik ya... atau pesimistis? . Atau saya terlalu egois sehingga motivasi dari orang-orang hebat itu tidak bisa menggugah sanubari jiwa terdalam ini???
Seperti biasa, saya mulailah menajamkan intuisi ini untuk tahu jawabannya..... supaya saya nyaman aja dengan ke-enggan-an saya jadi pengagum para motivator itu. :D :D

Saya memulai pencarian itu dengan sungguh-sungguh memperhatikan apa yang dikatakan para motivator. Di televisi, tweet, media cetak, anything.... saya bahkan membeli dua buah buku yang diklaim bestseller n jadi salah satu mahakarya penulisnya -ya motivator itu sendiri-. Judulnya: gagah. Pemberi komentar tentang buku itu: orang-orang terkenal. Isi komentar mereka: persuasif sangat. Harga bukunya: dahsyat!! Hehehehehe..... Sayapun berniat akan baca isi buku itu dengan segenap hati, tanpa prejudice yang menyesatkan.

Dan perjalanan menembus lembar demi lembar buku itupun saya lakukan...... saya membiarkan dulu diri ini hanyut di dalamnya, sambil mulai merasakan, dan menganalisa tentunya...

Saat ini sudah satu buku yang saya selesaikan... dan sekali lagi, jujur sejujur-jujurnya...saya merasa membayar terlalu mahal "hanya" untuk isi buku semacam itu. saya tidak menemukan resep-resep how-to yang terhitung baru, dan tidak tergugah akan kisah hidupnya, intinya...tidak melihat sesuatu yang signifikan untuk bisa saya terapkan lah. Memang, dalam bagian-bagian tertentu saya mendapat kan "agree moment", dimana topik yang ditulis memang sesuai apa yang sudah saya yakini sebelum ini. Tapi selebihnya tidak ada sesuatu yang baru. Saya sudah tahu tentang bekerja cerdas instead bekerja keras, tentang integritas, bermimpi besar, fokus mencapai cita-cita, menjalin relasi, dst, dst.... Tapi how-to secara teknis, yang benar-benar implementatif,dan revolusioner tentunya..tidak saya temukan. Saya bahkan ga bisa menangkap how-to nya si motivator itu mencapai suksesnya sendiri, yang benar-benar berbeda dari how-to orang sukses lainnya. Kisah-kisah analogi singkat yang selalu dia tulis untuk menjelaskan maksud dari tema-tema besar resep suksesnya juga tidak inspiratif. Saya sudah sering mendengar tentang kisah anak ayam-rajawali, coca cola, dan beberapa lainnya. Dan hal paling krusial yang bikin saya ga sreg adalah......buku itu tidak mendukung individual differences, karena cenderung mengarahkan pembaca untuk menyetujui kesuksesan versi si motivator saja. Padahal di hari yang sama, saya baru berbicara dengan seorang teman yang punya definisi happy n sukses yang jauh berbeda dengan motivator ini..........

Saya bukannya memandang sinis, meremehkan, atau being negative aja lhoh. Saya pun sebenenarnya kagum sama pencapaian si motivator ini... Saya kagum dengan sepak terjangnya yang bener-bener meyakini mimpinya, visinya, dan hasil nyata dari keyakinan itu. Saya yakin secara finansial, si motivator ini sudah beyond cukup deh... Siapa yang ga iri coba?? terkenal, diundang bicara dimana-mana, dibayar mahal, plus punya visi yang baik untuk humanity.... itu adalah poin dimana saya menghargai kesuksesannya yang from zero to hero. Saya menghargai si motivator ini sebagai individu, bukan atas kemampuan motivasinya.


Sayapun menyadari, mungkin..inilah sebabnya saya ga feel related sama motivator-motivator itu. Karena buat saya,motivator itu seharusnya orang yang been through sesuatu, sudah punya wisdom akan keberhasilannya, dan mampu mengkomunikasikan ilmunya. Motivator kanker, ya seharusnya para survival cancer yang berhasil melewati tahap krisis di hidupnya dan sudah memetik nilai-nilai dari pengalaman sakitnya. Motivator bisnis, ya seharusnya enterpreneur yang betul-betul merangkak dari nol dan sudah menyadari betul resep-resep jitu suksesnya sendiri. Nah padahal yang saya lihat sekarang, dengan semakin menjamurnya motivator.... banyak orang yang cita-citanya jadi motivator, sebelum dia mencapai suksesnya sendiri!! siapa yang ga mau sih memang, dibayar puluhan juta dengan berbicara beberapa jam, buku-bukunya laris di pasaran, dan "didengarkan"... seolah punya semua jawaban atas semua permasalahan hidup. Saya bahkan melihat sendiri, ada pelatihan yang bertujuan mencetak motivator!! Saya ngga membayangkan gimana ya materi yang dilatihkan?? public speaking kah? art of life?? apaaaa???. Gimana seorang motivator muda , non pengalaman, bisa memberi nasehat-nasehat hidup?? (saya memang menyebutnya nasehat, karena quote-quote dari motivator ini seringnya bernada menasehati: "janganlah kita bla bla bla.....", "berikanlah bla bla bla.....). Maka gak salah kan kalau kemudian anggapan saya motivator itu ya cuma pandai merangkai kata saja, bukan karena sudah melalui proses berpikir mendalam dan jatuh-bangun?....

Alasan kedua, bagi saya seni ilmu hidup itu spesifik bagi setiap orang... Saya pernah baca quote bagus tetapi maaf saya lupa siapa pencetusnya... Bunyinya kurang lebih gini:
 "U may know my name, but not my story. U may know what i've done, but not what i've been through. If u are in my shoes, u will fall in u'r first step"
maksud dari quote ini adalah.. setiap diri kita punya kisah sendiri, perspektif sendiri... dan hanya kitalah yang akan sanggup menjalani hidup sebagai diri kita. Kalau orang lain mencoba jadi diri kita, mereka tidak akan berhasil. So, melihat betapa unik dan berbedanya masing-masing dari kita, saya rasa yang bisa ditawarkan para motivatorpun sesungguhnya hanya rumus-rumus umum tentang menjalani hidup kan? Mereka ga akan bisa ngajarin caranya sukses jadi si Bambang, si Edi, si  Tini, dst dst.... Coba perhatikan deh, ajaran-ajaran how-to-get-sucessfull-in-your-life milik motivator ini sesungguhnya sangat umum kok. Tapi karena mereka sanggup merangkumnya dengan indah,ya jadi tampak fantastik. Nah, kalau yang ditawarkan "hanya" rumus umum, kenapa kita tidak melakukannya dengan cara lain? Misalnya, dengan menajamkan pancaindra kita. Lebih banyak mendengarkan, melihat, merasakan, berpikir, mengolah hasil pengalaman n kisah hidup orang lain, memaknai pengalaman pribadi. Saya yakin dengan begitu kita justru akan banyak mendapat resep-resep umum tadi, plus dengan kepekaan yang tinggi kita bisa create rumus-rumus spesifik yang hanya akan berhasil untuk kita!. Asyik kan??


Yang saya perhatikan adalah, jika pekerjaan motivator ini jadi sedemikian menjanjikan, berarti karena permintaan pasar juga sangat besar. Seperti teori ekonomi dimana ketika demand meningkat, supply juga meningkat. Berarti, orang-orang yang demotivasi juga banyak banget ya? Sampe butuh dimotivasi oleh banyak motivator gitu.... hehehehe.... Jadi miris juga jadinya saya, karena dengan butuh dimotivasi gitu, berarti kekuatan masyarakat kita untuk mengakses sumberdaya internal juga rendah banget ya?. Padahal sumberdaya internal ini sudah fitrahnya dimiliki manusia, bisa diakses kapan aja, berlimpah ruah, dan gratis!

Sekali lagi, tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyepelekan motivator. Mereka besar, berkembang, exist pun pasti karena dibutuhkan banyak orang. Saya juga ngga menafikan bahwa ada banyak motivator yang hebat di luar sana... Mereka yang saya golongkan motivator hebat ini justru bukan orang yang dengan sengaja dapat julukan motivator, bahkan mereka hanya sesekali saja bicara untuk menularkan ilmu nya pada orang lain atau sesekali mengeluarkan quote-quote hebat, namun justru di saat bersamaan.... memotivasi orang lain. Contohnya: Bunda Teresa, Donald Trump,Mahatma Gandhi. Kalau kelas lokal saya suka Ir.Ciputra, Dahlan Iskan, R.A Kartini. mereka-mereka ini jelas-jelas bekerja nyata, hasilnya nyata, dan punya segudang pemikiran brilian yang bisa memotivasi saya!. Belum lagi motivator-motivator lain yang tidak world-wide atau nation-wide tapi sungguh-sungguh menyentuh hidup saya: dosen, penjual angkringan, tukang pijat langganan, sahabat dekat...... Jadi, yeah bagi saya motivator itu berguna dan priceless, tapi tidak melulu mereka-mereka yang dijuluki motivator oleh masyarakat, yang untuk mendapatkan resep umumnya saja saya harus membayar teramat sangat mahal........ :p :p

Saya tidak menyepelekan motivator, saya hanya tergelitik melihat bahwa motivator sekarang adalah sebuah pekerjaan, sebuah komoditas pencetak uang!


Tapi, lagi-lagi saya juga harus punya kejernihan berpikir bahwa ke-enggan-an saya ini ya hanya didasari pada ke-tidak-butuh-an saya pada kata-kata bijak mereka... Rasa tidak butuh ini juga karena dasarnya saya merasa sudah tahu, sehingga merasa tidak perlu diberi tahu lagi. Mungkin, banyak orang yang memang masih butuh diberitahu dan betul-betul mendapat "aha" moment dari motivator-motivator itu. Karena sedikit penggerak sebenarnya sudah cukup untuk membuat seseorang melakukan perbaikan hidup. Saya sih pengennya kita semua lebih peka untuk dapetin sumber-sumber motivasi yang lebih dekat dengan kita... sehingga kita bisa mengkases sirkuit penggerak ini kapan saja, gak melulu tergantung omongan si motivator.

Yang belum saya lakukan dalam proses memahami ini adalah... bicara langsung dengan pengikut motivator tersebut. Sehingga saya juga belum tahu pasti apa yang sebenarnya mereka rasakan dan pikirkan... Semua yang saya tulis di atas hanya dari kacamata saya dan ke-sok-tahu-an saya sama kondisi orang lain, hehehe... Jadi, kalau anda termasuk golongan ini, u're welcome to share your story with me yaa......

Salam BAHAGIA dari saya Egolita!!! hihihihihihiiiii.............


Thursday, April 5, 2012

Karena cinta itu (Un)Niversal...

"How can you hope they will understand the love between two people if they're not around?"
           -Carrie Bradshaw, Sex and The City The Movie 2- 


Dua hari lalu saya chat sama seorang sahabat lama yang sekarang tinggal di kota seberang... Kami cukup sering sih haha hihi ngobrol ngga penting, sehingga dia cukup tau bagaimana hari-hari saya dsini dan sebaliknya. Lalu diapun menanyakan sesuatu yang cukup menggelitik bulu idung saya, he.... lupakan bulu idungnya...., katanya gini...

                "kamu kok jarang sih posting foto berdua suamimu? atau nulis-nulis apaaa gitu 
                 tentang kalian berdua...."

Waktu itu sih jawaban saya standar jawaban prinsipil aja: ngga suka pamer-pamer berlebihan, demikian kata saya. Tapi sesungguhnya saya juga ga puas-puas amat sama jawaban saya... pasti ada sesuatu yang lebih besar yang melatarbelakangi pikiran ini karena yess saya tu sebenernya suka terganggu liat pasangan-pasangan yg heboh banget displaying their affection, meskipun tu pasangan suami-istri sekalipun. Saya juga ga belagak keren sendiri dgn anti banget sama yang namanya kemesraan di socmed, saya juga suka kok pasang picture berdua suami, sesekali menulis tentangnya, tapiiiiiii menurut timbangan subjektif saya siihh... itu masi biasa-biasa aja... Haha, ga boleh protes, ni kan blog saya, suka-suka donk donk.....

Setelah mikir-mikir , menelaah selama 2 hari ini, maka skrg saya siap memberikan hak jawab saya terhadap pertanyaan di atas....

Menurut saya, kemesraan itu kan pasti related sama cinta yah... jadi menunjukkan kemesraan sama juga kaya ber statement "ni lho i'm deeply in love sama orang ini..... oh-betapa-bahagianya-kami", kira-kira gitu kan? .
Cinta memang milik semua orang, cinta memang bahasa universal sebagaimana musik dan matematika. Tapi bagi saya, cinta juga bahasa khusus yang tidak bisa dipahami setiap orang......
Coba, berapa di antara kita yang mengernyit lihat  cinta menembus batas usia macem Raffi Ahmad - Yuni Shara (contohnya asix banget deh akuh :p) ? lihat orang yang bertahan mencintai orang lain yang tidak mungkin dimiliki? lihat cinta yang menyakiti tapi somehow orang tersebut tetap bertahan pada hubungannya? ... lihat cinta antar orang jelek n pasangannya yg jaaauuhhh lbh good looking?
Itu baru contoh yang common ya,masih ada bentuk-bentuk cinta  lainnya yang mungkin bikin kita lebih jago menilai, menghujat, bergidik ngeri : cinta sesama jenis, cinta beda agama, cinta yang mampu bikin orang melakukan hal-hal gila, cinta pada objek yang 'terlarang'... saya pikir kita ngga kekurangan informasi lah untuk tau bahwa banyak cinta ajaib di luar sana.
Hm..atau ngga usah jauh-jauh deh... yuk coba dilihat ke pengalaman kita sendiri, berapa kali kita terlibat pada hubungan percintaan yang kita yakin tidak akan ada orang lain yang mengerti selain pihak-pihak yang terlibat di dalamnya??
Sayapun mengalaminya, berkali-kali malah..... cinta yang saya yakin hanya saya, dia, dan Tuhan yang tau bagaimana bentuknya...... Mau dijelaskan detail sampe jungkir balik juga orang lain ngga bakalan bisa mengerti...
Inilah kenapa saya bilang cinta itu memang universal, dalam hal kepemilikan... tapi secara pemaknaan, dia itu agung, khusus, unik...karena tidak akan pernah ada bahasa cinta yang sama, meskipun dialami oleh orang yang sama.
Cara saya mencintai si A, berbeda dengan cara saya mencintai B... meskipun status hubungannya sama. Kita tidak akan pernah bisa mengualngi kisah cinta yang sama.. hanya sekali, pada satu waktu. Itulah kenapa saya bilang cinta tu bahasa yang personal banget sebenernya.....

Lalu, jika sebegitu khususnya bahasa cinta, saya jadi ngga ngerti apa pentingnya terus menerus memberitakannya ke khalayak umum??. Kalau saya perlu memberitahu pasangan betapa saya mencintai nya, yang perlu saya lakukan adl memberitahukan itu padanya secara langsung kan? dengan bahasa yang dipahami kami berdua... bukan dengan nulis "i love u sayangku" di status, tweet, atau apalah.....
Saya juga ngga merasa perlu membuktikan sungguh2 berada dalam kondisi cinta yang membahagiakan dengan sering-sering posting foto berdua suami. Membuktikan ke siapa? Mencitrakan ke siapa? Toh kalaupun itu dipahami sebagai image positif dari orang lain, tetep aja yang dipahami mereka ya sebatas kulit luarnya.... Mereka lihat saya bahagia? gimana kalau saya bilang, saya super sangat banget banget pol-polan bahagianya?? Bisa ngga mereka memahami itu? sementara saya tau ada banyak orang di luar sana yang menilai kebahagiaan kami kurang lengkap karena rumah tangga saya belum ramai sama suara bayi sampe sekarang....... Sekali lagi, formula cinta n kebahagiaan rumah tangga saya tidak akan bisa dipahami orang lain...

Ketidaksetujuan saya sama pamer-pamer kemesraan tu juga bentuk empati saya bagi mereka-mereka yang belum menemukan pasangannya. Banyak orang yang saya kenal sampai saat ini masih berjuang menemukan cintanya... padahal menurut saya, cari jodoh tuh lebih susah daripada cari kerja atau cari sekolah. Jadi ga ada gunanya nambah-nambahin beban para single ini dengan membuatnya semakin "sesak" dengan melihat kemesraan orang lain.... Daripada membebani mereka dengan energi "iri" yang pasti muncul seberapapun kadarnya, mending meng encourage mereka untuk nemuin kebahagiaannya sendiri dulu kan? karena cinta positif memang berhubungan sama kebahagiaan, tapi kebahagiaan belum tentu selalu tergantung sama sudah atau belumnya kita menemukan cinta itu.
Nah, masalahnya adalah... banyak ni orang yang saya tahu menggantungkan betul momentum menemukan cinta ini sama naiknya derajat kebahagiaan mereka. Dari yang sebelumnya memble, merana, menderita, diolok-olok lingkungan krn lama single, punya hubungan yang gagal melulu, atau punya pasangan tapi ga bisa dibanggain, sampe akhirnya... dher!! nemulah sama si solmed,eh soulmate sejatinya.... habis itu menggelegar deh energi public display affection alias pamer kemesraan ini. Kalau dari kacamata saya sih, model begini ini  kasian sebenernya, karena kebutuhan nya akan cinta lebih banyak untuk dunia eksternalnya: pembuktian, pamer, pemenuhan social value..... Sorry dorry morry to say, tapi saya yakin yang termasuk kategori ini -entah dgn sadar atau tidak- tu banyak bgt. Cirinya gampang deh, liat aja socmed yang dia miliki, lalu hitung seberapa mendominasinya deklarasi cinta pd pasangan yang dia lakukan.

Padahal sejatinya, kalau kita memaknai betapa cinta itu kebutuhan internal, kita akan lebih banyak melakukan proses-proses untuk membangunnya, bukan meneriakkannya pada dunia.
dan sebagai bonus kalau kita benar-benar memaknainya secara internal , cinta yang baik tu akan tampak kok, tanpa kita harus susah payah mempertontonkannya.... Gimana nampaknya?? Ya karena cinta itu bahasa khusus, maka penampakannya pun akan khusus sehingga ga ada rumus pastinya... ia berbeda bagi setiap orang.
Gampangnya gini deh, kita bisa kan merasakan mana pasangan-pasangan yang sungguh-sungguh bahagia, saling meng-influence dengan energi positif, dan mana pasangan-pasangan yang "hanya" bagus tampilannya aja?

Cinta punya banyak cara untuk menemukan kita, tetapi setelah bertemu dengannya, keputusan ada di tangan kita bagaimana menggunakannya... Mudah-mudahan para penggemar public display affection bisa sedikit kesetrum dengan tulisan ini... atau minimal, menggelitik bulu idung mereka deh! hihihihihi......

..............Semoga menginspirasi! ..............

Tuesday, February 21, 2012

I = Me = Myself.

Sudah 5 bulan saya nge-blog..... Meskipun masih termasuk blogger angot-angot an (nulis kalo bener-bener sempet aja), tapi saya cinta aktivitas ini...
Barusan saya baru aja me-review apa yang sudah saya tulis sejauh ini.. Saya penasaran, kok banyak ya yang kangen ama tulisan saya? hehehe... Beberapa pembaca setia saya 'nagih' kalo lama saya ngga nulis... Dan seringnya jawaban saya ya enteng aja "gak sempat". *Alamaakkk gaya kali aku ni yaaaaaa!

Saya bersyukur dapet banyak sekali feedback positif lewat media tulisan ini. Bahagia banget rasanya kalo ada yang mengapresiasi dgn bilang bahwa tulisan saya memberi insight, atau minimal gelitikan-gelitikan yang menunjukkan bahwa viewer tuh emotionally related sama tulisan saya....
Dan yang kemudian juga menggelitik saya adalah, pembaca-pembaca ini jadi punya asumsi tentang seperti apa pribadi saya sebenanrnya... Ada yang percaya saya ini orangnya positive thinking banget dalam segala hal, saya bijaksana, saya dewasa.... (Huhaahh, ni saya ngetik huruf-huruf barusan aja sambil ngikik sendiri :p), Karena sungguh... sayapun sebenarnya tidak sesempurna itu kok.

Saya ini bisa juga kejam dalam berkata-kata, nyacat-nyacat in orang layaknya udah paling suci sejagat raya (apalagi kalo dah ketemu partner berrgosip , wuuhhhh!), saya punya banyak ketakutan dan rasa pesimis tentang hidup, saya banyak mengeluh, saya sering bete' sendiri tanpa sebab.....
Orang-orang yang dekat dengan sayapun pasti tau betapa ceroboh dan grasah-grusuhnya saya, betapa pelupanya saya, dan betapa saya pun suka ngomong ga ada intinya alias ngawur. Hehehe.....
Pun begitu...bukan berati apa yang saya tulis tidak jujur yah... Tulisan ini "terlihat" baik karena memang sudah lewat proses berpikir dan editing... Saya sendiri barusan merasa ter refresh lagi dengan membaca apa yang pernah saya postingkan..

My point is.... Ngga usah heran kalau kita melihat dalam diri kita ada sisi-sisi yang sangat bertentangan dan mungkin sama adequat nya. Di satu saat kita bisa jadi si manis, si pendiam, si pengalah... tapi di saat lain dengan kondisi yang sama kita mendadak jadi si pemarah,si outlouder, si egois..... Ini bisa terjadi karena manusia diciptakan dengan penuh kompleksitasnya , sehingga sifat-sifat dalam diri kita tidak terkotak-kotakkan melainkan kontinuum... bisa berfluktuasi dan berkembang dengan indahnya.

Yang susah adalah kalau kita terlanjur jatuh cinta berat sama satu sisi dalam diri kita, sehingga menolak keberadaan sisi lainnya. Katakanlah, misal kita senang jadi pribadi yang selalu berhasil mendapatkan apa yang kita mau. Kita suka bekerja keras, kita target oriented, kita perfectionist. Mungkin kita cenderung bertahan pada penerimaan tentang diri kita yang "itu" karena sisi itulah yang mengantarkan kita pada sukses sejauh ini.... Lalu apa yang terjadi jika kita sebenarnya pun punya sisi yang mudah menyerah, takut gagal, pesimis? Yep, biasanya sih kita akan menolaknya habis-habisan ya... mengatakan pada diri sendiri kalau sisi ini bisa dikalahkan sama sisi kita yang "biasanya". Mungkin strategi ini berhasil, mungkin tidak... tergantung indikator keberhasilannya. Kalau ukurannya adalah pencapaian ya mungkin akan selalu tampak  berhasil, tapi kalau ukurannya kebahagiaan hati... bisa jadi ini adalah peperangan batin yang ga akan kunjung selesai... karena energi kita terus menerus tersedot untuk memenangkan peperangan ini.

Lalu gimana kalau kasusnya adalah soal mengenali orang lain?
Saya beri contoh ya....
Saya pernah, merasa mengenal dekaaattt sekali dengan seseorang selama kurang lebih 3 tahun. Saya merasa jadi orang yang peling mengerti pribadinya dan begitupun sebaliknya. Lalu kami tidak bertemu selama 2 tahun sesudahnya dan pada moment conversation selanjutnya saya mendadak merasa asing dengan orang itu. Saya merasa tidak lagi mengenalnya dan mempertanyakan kemampuan saya menilainya selama ini.... Apa saya yang bodoh ya? Kenapa saya nggak peka? Kemana sisi dia yang saya temui saat itu sebelumnya?.
Lalu ternyata, dia pun melihat saya bagai orang asing. Menurutnya saya berubah menjadi A,B,C, dst... Mekipun dia sudah melihat bahwa dari dulu sebenanrnya bibit A,B,C itu sudah ada..... tinggal bagaimana saya menemukan jalan aja untuk mengembangkannya.

Nah, akhirnya saya jadi ber refleksi lagi...bahwa saya sebenarnya dulu sudah mengenalnya dengan baik. Tapi sebegitu kompleksnya manusia sehingga mustahil kita akan mampu memahami orang lain dengan sempurna... dan begitu dalamnya labirin manusia sehingga sayapun tidak sempat menyusurinya. Makanya, kata-kata "aku ngerti apa yang kamu rasakan" atau "aku memahamimu" pun saat ini terasa lucu buat saya... Sejak saat itu, saya berhenti berusaha terlalu keras memahami orang lain, karena itu cuma bikin saya jadi orang sok tahu. Sayapun berhenti berusaha terlalu keras memahami diri sendiri di satu waktu karena justru perjalanan menemukan puzzle-puzzle diri saya ini yang menyenangkan. Mau baik kek, mau buruk kek, mau gak jelas kek...... terima saja dengan cinta dan lihat bagaimana cinta itu akan bekerja dengan indahnya.

Amunisi saya cuma satu: Awareness, sehingga smua proses hidup: baik, tidak baik,atau tidak tahu itu termasuk baik atau tidak baik... saya jalani dengan kesadaran penuh.
Kalau saya sadar, tidak ada yang perlu saya sesali kan?
Kalau saya sadar, maka Insya Allah saya akan selalu jujur pada diri saya sendiri.....


Sekian dan terimakasih curhatan sore ini. Saya mau nulis mahakarya lainnya dulu: TESIS !!.

Thursday, January 26, 2012

RED LIPS*

Uhuy... rumah saya lagi mati listrik.....
Suami saya belum pulang kerja....
Hmmm...saya jadi punya 'me time' untuk nulis deh....

Judul tulisan saya kali ini gak bertele-tele, langsung ke tujuan dengan huruf besar: RED LIPS. Saya memang lagi rada obsessed sama bibir merah, gincu merah, lipstik merah...hihihi.... sebenernya udah dari dulu pengen banget berani dandan pke lipstik merah. Cuma, selalu adaaaa aja halangannya... dari yang blm nemu merah yang cocok (salah tone warna bisa bikin keliatan tua), gak pede, sampe udah beli lipstik merah n ga kepake-pake sampe akhirnya lupa naruh dimana.... hehehe. Mnurut saya , cewek pake lipstik merah yang tepat itu misterius sekaligus "statement" bgt! Yaa kalo di Hollywood  artis -artis kaya Dita Von Teese, Christina Aguilera, Marylin Monroe, sampe Gwen Stefani adalah golongan yang bisa menyampaikan maksud si lipstik merah dengan super keren......

Saya teringat lagi sama keinginan ber-lipstik merah ini saat di bandara Ngurah Rai kemaren liat cewek dengan kerennya pake lipstik merah, rambut model batok Dora the Explorer, dan kacamata cat eyes.... Gak 'wow' bgt sih, tapi jelas "statement" itu tadi   (i'm not even sure "statement'' is a proper words.... but hell cares lah... u know what im saying rite?? :p ). Lucu sekaligus elegan, sendu sekaligus kuat. Saya selalu suka kombinasi berlawanan seperti ini Dan ajaibnya, 1 hari setelah itu saya menemukan lipstik merah dengan intensitas merah yang saya suka di departemen store.... Jadilah, sejak dari konter kosmetik itu saya sudah berbibir merah merona.

Suami saya? hahahaha, dia memalingkan muka. Dia bilang saya kaya badut dan dia ga mau liat... Buang muka sambil meringis-meringis jahil. Sebel saya.... tapi berhubung kami udah terbiasa agree to disagree tanpa hard feelings, yaudah saya tetap enjoy berbibir merah....
Esoknya, saya beranikan mengoles lipstik baru itu ketika saya berdandan untuk ke kantor. Errrr..... gak pede. Hapus. Ups, ternyata susah dihapus karena itu jenis lipstik matte. Saya pikir: hmm, pertanda bahwa saya harus tetap memakainya nih.... *puter otak*...dan akhirnya saya mengoleskan lagi lipstik lain berwarna super pucat untuk menyamarkan merahnya. Better! meskipun tetap menyala tapi ga merah-merah banget lah. Daan reaksi temen-temen kantor pun beragam... ada yang bilang saya "beda" (entah in positive or in negative way), lucu, bagus, sampe aneh.....

Esoknya lagi, saya mau jalan ni sama salah satu sahabat sekaligus cheerleader #1.. siapa lagi kalo bukan NICEY! hehehe... dia dengan beringasnya membujuk saya pake lipstik merah hari itu. Dan kebetulan suami lagi keluar kota, jadi deh saya keluar rumah pke warna bibir yang gak dia suka........ Lalu, seharian itu saya ke mall untuk ketemuan lagi sama 2 sahabat lain. Saya juga sempet foto-foto beberapa kali dan memasangnya di display picture bbm.....Menarik bgt melihat bagaimana respon orang-orang sama keputusan kecil saya memakai lipstik merah: terang-terang an melotot, ada yang bilang kaya tante-tante, muji keren, sexy, cantik, kritik kurang merah n kurang rapi, saranin besok pake lagi tapi dg kostum serba hitam, mengernyit heran, lirik-lirik... pokoknya beragam deh! Dan menurut Nicey, banyak org ngeliatin artisnya (baca: saya) hari itu. Bisaan banget dia kalo nge-boost pede nya orang emang....



Nah itu bentukan cheerleader #1 saya. Dia sendiri ga dandan padahal....

See? saya hanya memakai lipstik merah... di bagian tubuh yg besarnya hanya sepersekian ratus dari keseluruhan tubuh saya. Saya hanya melakukan keputusan kecil yang playful, yang beda dari biasanya, yang membuat saya happy..... tapi lihat impact nya? Akan selalu ada reaksi pro-kontra.. yang asalnya dari orang di sekitar saya, sampai orang asing yang tidak saya kenal.... dari yang saya minta pendapatnya sampe reaksi yang datang tanpa diundang...

Saya hari itu merasa, lipstik merah itu jangkar bagi saya. Mengingatkan diri saya sendiri betapa saya suka mencoba sesuatu yang baru, yang ber-resiko.. menyenangkan rasanya memilih sesuatu dan tidak tahu sesuatu itu akan mengarahkan kita kemana. Saya suka bermain-main, sekaligus sangat serius terhadap diri saya. Saya tidak pernah suka keseragaman, saya melakukan sesuatu mostly untuk diri saya sendiri.
Nah... si lipstik merah inilah jangkarnya... Dia mengingatkan bahwa inilah saya. Seperti dalam film Inception, setiap pemimpi harus punya totem miliknya pribadi. Benda kecil yang jadi miliknya dan mengingatkan dia untuk tahu mana yang dunia nyata atau mimpi belaka.....

Saya pikir, masing-masing dari kita harusnya punya ya jangkar-jangkar atau totem-totem semacam ini. Karena dengan meningkatnya usia, tanggung jawab, rutinitas, kita seringkali hidup dalam mode autopilot, dimana semua aktivitas kita seperti terprogram  agar berjalan sebagaimana mestinya. Kita bahkan tidak berpikir lagi bahwa setiap hari kita parkir di tempat yang sama, atau makan dengan orang yang sama, atau mengerjakan hal yang sama, atau melakukan kesalahan-kesalahan yang sama........ Kita lupa bahwa ada yang "lain" dan bahwa kita berhak kok memilih yang lain itu.....

Pernah dengar sama orang yang memilih sesuatu karena dia merasa tidak punya pilihan? Hmm, saya sendiripun sering merasakannya. Seolah-olah semua sudah di set-up seharusnya begini, begitu, a,b,c karena kalau nggak maka kita adalah lalala, lilili, abrakadabra. Sederet rules, aturan, peran, dan konsekuensi yang sudah begitu kuat terekam dalam jejak memori kita saking setiap hari kita hadapi. Menjadi dewasa kemudian menjadi ibu, kita jadi harus mendadak ahli dalam menentukan apa yang baik dan tidak bagi anak kita. Harus fokus penuh dan tanggung jawab besar yang harus dipikul, jadi kita harus merelakan seluruh waktu kita untuk mengasuh anak, jadi kita harus mengesampingkan dulu bersantai-santai seperti sebelumnya. Kyaaaaa!! begitu banyak harus. Dan sederet konsekuensi dan judgement jika keharusan ini kita lalaikan. Padahal ini baru contoh kecil keharusan kita sehari-hari....
Lalu apa salah?? Ya tentu enggak....jadi manusia ya harus begitu itu. hehehe... My point is, kita juga harus jeli melihat bahwa banyak kok ketidakharusan yang sebenarnya ada di antara keharusan-keharusan ini. Kita masih bisa memilih......
Jangkar-jangkar kecil inilah yang akan mengembalikan kemampuan kita dalam mengendalikan keputusan-keputusan kita sendiri.... Bebas dari keharusan, dan dari penilaian atau ekspektasi orang lain. Ga usah takut dianggap aneh, aneh itu hanya karena tidak biasa kok. Ga usah juga takut dicap buruk, karena memang bukan tugas kita membahagiakan semua orang. Apalagi, ga usah takut berbeda...karena berbedanya kita itu sebenarnya yang mendefinisikan siapa diri kita. What makes u different is what define YOU, begitu bunyi status bbm saya sendiri beberapa hari lalu.
Jangkar itu tidak melulu harus sebuah benda sih... bisa aja kegiatan sederhana, atau tempat favorit mungkin. Pokoknya sesuatu dimana kita benar-benar bahagia melakukannya, bahagia berada di sana, persetan apa kata orang!! termasuk persetan apa kata pacar, sahabat, tetangga, satpam, siapa aja lah!
*eh tapi jangan yang melanggar hukum , agama, n moral ya. Hahahahahha*.

Jangkar ini selain jadi reminder tentang siapa diri kita, juga berfungsi sebagai refreshing point. Kalo kita lagi eneegg banget sama rutinitas harian, tesis yg ga selesai-selesai, teman / pacar yang ga brenti-brenti nyusahin, dunia politik yang chaos, harga cabe yang terus naik... nahhh.... ingatlah selalu bahwa kita punya jangkar ini. Datang kesana, lakukan, bersenang-senang, dont over analyze of other's judgement, then start all over again.... Begitu terus...

Tapi ingat ya, jangkar inipun baiknya juga ga persisten. Kita juga punya hak untuk membuat jangkar-jangkar baru kok.. jangan sampai jangkar ini malah jadi bagian lingkaran setan yang membosankan.
Minggu ini lipstik merah... who knows, minggu depan fashion tabrak lari , atau sepatu wedges 12cm mungkin??
Yeah.... i have my red lipstick in my purse... what's yours?


Muka saya udah misterius belom? *yak, ngarep*

Friday, January 20, 2012

I am Today

" Dear Claire, 'What' and 'If' are two words as non-threatening as words can be. But put them together side-by-side and they have the power to haunt you for the rest of your life: What if? What if? What if?"

          - Sophie, Letters to Juliet -

Minggu lalu, saya pergi selama 3 hari ke Bali untuk mengikuti kelas Transpersonal Psychology. Seperti biasa, kombinasi suasana Bali, energi positif di Jiwa Damai (tempat training berlangsung), dan kehebatan Margret Ruefler sang maestro Transpersonal jadi kombinasi yang tepat untuk kegalauan jiwa saya ... Hehehe.... Saya ingat, pagi pertama kami meditasi dan berdialog dengan hati, ternyata hati saya menjawab kalau dia butuh untuk diingatkan lagi siapa dirinya...... Hmm, saya memang suka lupa siapa saya akhir-akhir ini sepertinya.... Tanda paling utama adalah, saya jadi suka ragu... dan mempertanyakan keputusan-keputusan saya : what if? what if? what if i did this differently? what if i choose other way back then? what if everything could be better? what if...........

Kayaknya, cuma kandidat Miss Universe aja ya yang kalo ditanya: jika kamu diberi kesempatan, apakah kamu mau mengulang waktu dan memperbaiki keputusan-keputusan dan kesalahan-kesalahanmu? , akan menjawab TIDAK. Kalau saya sih mau-mau ajaaaa..... tidak banyak sih, hanya kesalahan-kesalahan fatal aja yang pengen saya perbaiki... Seperti, kesalahan saya memilih salah satu kekasih di masa lalu, yang segitunya saya perjuangin, eehh ternyata sayanya justru jadi orang yang lebih buruk saat bersama dia dibanding saat saya bebas merdeka seorang diri. *oh semoga dia gak baca tulisan ini, jadi dia ga tau betapa menyesalnya saya.....hihihi*

Hmmm..menyesal?
Yup, pasti penyesalan lah yang kemudian membuat self-questioning tentang 'what if' ini muncul...... Karena, slogan besar yang sering kita dengar adalah : Hidup ini pilihan, Jendral!. Pilihan, berarti sebenarnya tidak ada harga mutlak mana jalan yang harus kita pilih kan? Sehingga, ketika yang namanya penyesalan datang, jadilah pikiran otomatis kita menyalahkan keputusan masa lalu, dan memikirkan kemungkinan lain yang pasti lebih baik.. Pilihan lain yang lebih baik, karena kita tau yang INI, yang SAAT INI adalah pilihan yang ternyata nggak oke.....

But wait...... what if,  saat ini kita berada di sana, di pilihan satunya, dan saat ini juga sedang berpikir "what if?"........
Membingungkan ya? Gak bakal ada abisnya ya?
Exactly!!

Dari sesi Transpersonal yang saya jalani kemarin, jawaban ini lah yang kemudian saya dapat: bahwa untuk menemukan diri saya kembali, saya harus mengembalikan kemampuan penerimaan diri saya........ Tempat dimana tidak ada judgement benar-atau- salah...... Tempat dimana tidak ada penyesalan..... tempat dimana semua sudah jatuh tepat pada porsinya.
Karena, satu milimeter saja saya lakukan perubahan pada apapun yang terjadi kemarin, maka saat ini tidak akan berjalan seperti saat ini. Meskipun bisa saja yang terjadi lebih baik dari saat ini.... atau lebih buruk? who knows...?. Yang jelas... pasti berbeda...dan implikasi dari berbeda itu, apa-apa yang saat ini kita nikmati dan syukuri keberadaannya bisa jadi tidak ada... Entah itu sekedar hidangan nikmat yang kita makan saat ini, atau orang terkasih yang sekarang sudah ada di samping kita.....

Sebagai ilustrasi, di film Curious Case of Benjamin Button pernah ada scene dimana Daisy, kekasih Benjamin nantinya, tertabrak mobil hingga kakinya luka parah dan tidak bisa menari ballet lagi. Di scene itu, digambarkan bagaimana kesedihan Benjamin melihat kondisi Daisy hingga ia membayangkan setiap detik rangkaian peristiwa yang menyebabkan Daisy kecelakaan VS kondisi 'what if' nya.... Andaikan supir taxi melaju beberapa detik sebelumnya, andaikan wanita di dlm taxi itu masuk mobil lebih cepat, andaikan ia tidak terhalang bunyi telepon di apartemennya hingga bisa masuk mobil lebih cepat, dan seterusnya...dan seterusnya......
But if.... If Daisy wasnt through the accident, maka kisah cinta mereka juga tidak akan dimulai........ Kalimat terakhir ini kesimpulan saya sendiri dan tidak diilustrasikan dalam film nya. Tapi ini adalah contoh sempurna bahwa setiap pilihan hidup kita adalah rangkaian unik yang saling membentuk satu sama lain.........
Kita yang sekarang merupakan produk kesalahan-kesalahan masa lalu.... kita, sampai kepingan terkecilnya, adalah sekumpulan puzzle yang lahir dari apapun pilihan kita kemarin....

Hmmm... Jadi sayapun ga perlu lah ya merubah masa lalu sama mantan menyedihkan itu? Ternyata... dia adalah anak tangga untuk saya gunakan sebagai pijakan hingga akhirnya sampai pada suami saya saat ini.....
Dan ternyata, saya juga ga perlu merubah apapun keputusan saya kemarin..... Yeah, saya memang jadi sering kehilangan diri saya... tapi itu adalah caraNya agar saya mencari, berpikir, menemukan kembali apa yang hilang, dan akhirnya menuliskan ini di blog saya.....

@Jiwa Damai....... syukurlah ada foto ini, krn saya lg ga mood foto2 disana kemarin... :P




Ps: Magret  juga mengajarkan bagaimana cara mendeteksi keberadaan diri sendiri......
Caranya, saat saya di situasi yang serba chaos dan ga mengenakkan, saya hanya harus diam...
dan merasakan detak jantung saya sendiri. Kalau hati saya masih disana, dia akan memberi tanda dan bisa diajak berdialog.....
 Jika tidak, maka situasi / tempat itulah yang harus saya tinggalkan. Sesimple itu.
So Dear Heart, thank you for stay with me today.........

Monday, January 9, 2012

Welcome to the JungLe!

Happy New Year!!

Hehe telattt bgt deh.... Gapapa yaa? kan masih Januari.....
saya sudah rindu rindu rindu menulis... Akhir-akhir ini saya sok-sok jadi wanita karier jadi di rumah selalu kebagian capeknya aja, ga sempet lagi mau nulis... Padahal sampah-sampah ini udah numpuk aja di kepala rasanya.....

Hmm... apa yang berbeda sekarang memang status saya itu: jadi pekerja kantoran. Masih ingat sama kisah 2 bulan lalu saat saya harus menolak posisi di sebuah klinik kecantikan karena persoalan lokasi? Iyesshh, saya akhirnya bekerja juga dsana... tapi di posisi berbeda, dan bermarkas di Jogja donk tentunya... Alhamdulillah saya dipercaya untuk menempati posisi yg cukup baik disana, meskipun tantangannya juga jadi dobel.. Well, great things never come easily kan?

Dengan drama-drama, airmata, dan kelelahan emosional yang cukup heboh selama 1 minggu pertama saya bekerja disana, akhirnya saya dipercaya untuk mem-back up posisi penting: HRD Supervisor.. atau kadang mereka sebutnya HRD Manager. Keliatannya sih gaya yah... tapi saya nya ngerasa biasa aja... soalnya ini penempatan mendadak, sedangkan saya taunya teken kontrak untuk posisi staff biasa. Bukan soal gaji yang membuat saya ngerasa tetep aja jadi staff, tapi soal manajemen diri aja... Saya merasa masih anak bawang, dengan pengalaman nol di bidang human resources, dan minim ilmu industri. Jadi kok kaya nya keterlaluan kalo saya ber leha-leha dengan posisi ini.... Mungkin nanti, setelah 3 bulan pertama  terjalani, baru saya bisa lebih membawa diri untuk settle di posisi itu, dengan penugasan yang lebih jelas tentunya.

But again, saya ni memang tipe random.. Saya suka belajar... saya gak suka buru-buru berakar atau melimitasi diri sendiri. Jadi saya terima tantangan ini dengan senang hati... Sama seperti ketika saya kecemplung di Mapro Klinis, rasanya otak ini kosong bgt... Tapi dengan kesenangan, ternyata saya malah jatuh cinta berat sama klinis. Sekarang pun begitu... My dear Allah SWT begitu baiknya memberi saya rezeki ini, meskipun banyak orang mengernyit aneh dengan pilihan saya, tapi saya selalu percaya kalo pemberianNya itu ga pernah salah.....
Saya melangkah ringan karena tau keluarga dan sahabat2 ada di belakang saya. Tidak menuntut. Jadi kapanpun saya gak bahagia, saya selalu bisa kembali dan pulang......

Nah masalahnya, dalam 3 minggu saya kerja ini... Udah banyaaakkk bgt tantangannya yang seolah meminta saya untuk kembali dan pulang itu....
Tapi jujur, x ini saya merasa sedang diuji.... Diuji kemampuan intelektual, mental, emosi.... Kalo ditanya kenapa saya merasa gtu, saya juga ga tau... Yang saya tau, saya bukan quiter! itu aja simple nya.....

Sejak awal saya masuk ke tempat ini, saya tau akan ada yang ga suka dengan kehadiran saya... Hmm,tapi buat saya sih itu biasa ya... Saya pun tau dengan minimnya pengalaman ini, saya akan di underestimate kan. Gak masalah juga sih, wong saya malah biasanya berkembang baik kalo dianggep remeh kaya gitu. Nah yang ga biasa adalah, posisi saya yang naik mendadak (secara De Jure, bukan De Facto...) itu kemudian bikin orang-orang menyorot saya... dan mengharap saya cukup hebat kemampuannya karena bisa ada disitu. Susah kan? Di satu sisi di underestimate, disaat bersamaan ada harapan bahwa saya bisa! Efeknya, apapun yang saya lakukan emang ga bisa menyenangkan semua pihak.... Giliran kerjaan saya bagus, pikiran yg underestimate saya yg ga happy. Giliran saya berbuat salah, pikiran yang mengharap saya cukup hebatlah yg ga terima...... Appearantly, being in a spotlight isn't always exciting.

Tapi saya nggak akan cengeng krn hal itu...karena bagi saya patung indah dari batu memang ga akan terbentuk dengan cara dielus-elus, tapi lewat dipahat, dijemur, dipukul, dikikis... Dari situ baru patung yg valuable akan lahir. Jadi persoalan kaya gini ya saya nikmati aja.... Toh, saya punya begitu banyak cinta dan kekuatan di luar. Saya dibesarkan tidak dengan kebencian, tidak juga bergaul dengan orang2 yang terbiasa dgn kebencian... Amunisi seperti itu saya rasa lebih dari cukup untuk melindungi saya.....

Ya, saya memang khawatir... Khawatir karena di lingkungan ini, ternyata ada begitu banyak cara dan alasan bagi saya untuk tidak sadar melupakan siapa diri saya. Ketika saya diserang, instingtif saya pun akan bereaksi agresif. Ketika saya disakiti, mendadak kemarahan muncul dalam diri saya. Ketika saya menyerap terlalu banyak energi negatif, gak terasa tubuh saya jadi panas karena aliran yang ga sehat itu.... Dan hal-hal semacam ini terus menerus terjadi.
Alhamdulillah, saya tahu bagaimana harus centering... kembali ke titik nol dimana saya lah "sutradara" nya. Awalnya sulit, tapi by practising hampir setiap hari prosesnya jadi lebih mudah.... Hmm, hari ini saya malah bisa nyolong waktu, ngetik sambil dengerin brain therapy utk soothing hati saya yang mulai ga enak....
Saya sendiri bukan orang yang percaya bahwa untuk berkembang kita harus keluar dari comfort zone. Yang saya yakini, saya sudah punya comfort zone, dan wilayah itu yang akan selalu saya bawa kemanapun... termasuk di lingkungan yang ga nyaman. Istilahnya, saya punya comfort zone sendiri di dalam lingkungan yang ga comfort.

Pada akhirnya, ini hanya tentang bagaimana beradaptasi di hutan baru.... tanpa kehilangan diri saya yang saya tahu......
Pada akhirnya saya hanya bisa bilang terima kasih, karena kesulitan ini menyediakan banyak alasan kuat untuk saya berkembang jadi pribadi yang hebat......
Pada akhirnya, ini adalah bensin yang memberikan kobaran lebih besar pada api saya yang sudah menyala!