Wednesday, December 14, 2011

7 Months!

Whohooo..yeheeee.... 14 Desember! Hari ini tepat 7 bulan sudah saya berstatus istri dari Mohammad Guntur Yasser Arafat. Baru 7 bulan, tapi happy-nya berlipat-lipat dibanding ketika masih single, sama berlipat-lipatnya dengan jumlah baju suami  sejak ia menikah dengan saya. Hihihihi....
Saya belum bisa mikir value pernikahan apa-apa yang saya rasa pantas saya bagikan pada khalayak umum sekalian. Jadi, di 7 bulan-an ini saya hanya ingin mengucapkan terimakasih pada dia, suamiku, ik uk ku, papuy-ku, my compatible, oom cino-ku, my chiki-chiki boom boom........

** Terimakasih karena selalu menyempatkan untuk menengok ke belakang setiap kali kamu asyik di depan komputer hanya untuk memangilku, membuat aku merasa selalu diingat apapun kegiatan seru yang sedang kamu lakukan...

** Terimakasih karena selalu mengucapkan "terimakasih" plus senyum nyengir tiap kali aku melakukan sesuatu yang sederhana sekalipun, yg kurasa sebenarnya sudah menjadi kewajibanku sebagai istri. Itu mengingatkanku bahwa kamu selalu menghargai apapun yang kulakukan....

** Terimakasih karena tidak buru-buru memanggilku "mama" "mami" "bunda" or apalah.. dan tetap memanggilku dengan panggilan konyol tanpa arti... kita simpan panggilan itu nanti yaa klo udah punya buntut. Itu membuatku merasa kamu tidak memaksakan aku cepat beradaptasi menjadi 'istri' dan membiarkanku menemukan gaya ke-istri-an ku sendiri....

** Terimakasih karena nggak pernah absen menggelitikki aku setiap hari dan membuatku menjerit-jerit lebay. Itu membuatk hormon tertawaku berproduksi setiap hari...  dan membuat rumah kita jadi semarak tentunya!

** Terimakasih karena selalu jujur... mengatakan aku cantik hanya ketika menurutmu aku pantas dipuji, mengatakan masakanku enak hanya ketika semua bumbunya pas.. Kamu menjaga agar kita tetap "nyata" dan aku tidak perlu takut kehilangan masa-masa "digombalin".

** Terimakasih karena tetap bersikap biasa, memeluk, menciumku di saat-saat terlemahku: ketika aku sakit, wajahku bengka-bengkak akibat alergi, atau ketika aku menangis karena blm diberi kepercayaan untuk mengandung keturunan kita...... Itu membuatku merasa selalu ditemani, dan diterima tanpa syarat.......

** Terimakasih karena tetap memberikan ruang yang besaarr untukku tumbuh menjadi pribadi tanpa dibebani "keharusan-keharusan". Mengizinkanku melakukan hobby, bepergian bersama teman dan keluarga, menikmati "me" time....Hebatnya, Itu membuatku merasa tetap merdeka sekaligus selalu rindu untuk pulang kepadamu...

** Terimakasih karena kamu selalu mudah, sederhana, simple... mengimbangiku yang penuh kompleksitas ini.

** Terimakasih karena tidak mengobral kata cinta, dan ketika mengatakannya kamu melihat ke mataku dan mengatakannya dengan sungguh-sungguh (tanpa sok romantis tentunya..). Kamu membuat kata-kata itu berharga untuk didengar...

** Terimakasih karena begitu peka terhadap hal-hal yang aku butuhkan tanpa harus banyak bertanya. Itu menunjukkan seberapa dalam pedulimu padaku.... surprise netbook baru waktu itu, karena kamu tidak ingin mataku sakit akibat layar netbook sblmnya yang terlalu kecil, dan karena kamu ingin aku lebih rajin menulis... adalah salah satu contoh kecil rasa pedulimu.

** Terimakasih karena tidak pernah menunjukkan emosi negatif yang berlarut-larut. Kamu mengajariku bahwa aku yg secara formal mempelajari manusiapun masih perlu banyak belajar tentang manajemen emosi...

** Terimakasih karena selalu menanyakan hal aneh "mau kemana uk?" - tiap kali aku melangkah pindah ruangan -, "mikir apa loo?" - tiap kali aku terdiam agak lama -, "kok bisaaa?" - tiap kali aku bercerita -. Itu semua pertanyaan konyol sayank.... tapi, aku menyukainya karena itu bentuk pedulimu yang unik.

Dan terimakasih.... karena melakukan semua ini tanpa perencanaan, pemikiran, apalagi keinginan untuk dibalas ... U just do, and it works...

Love u.....

Tuesday, December 13, 2011

Small Step Big Step

"Men are haunted by the vastness of eternity. And so we ask ourselves: will our actions echo across the centuries? Will strangers hear our names long after we are gone, and wonder who we were, how bravely we fought, how fiercely we loved?”
          - Odysseus, Troy -

Kemarin, saya pergi nyekar (berdoa, membersihkan, dan menabur bunga) di makam eyang. Entah karena sedang musim hujan, atau karena bukan bulan dimana orang-orang biasanya banyak mengunjungi makam... namun kondisi makam saat itu tampak kurang terawat. Rumput ilalang nya tinggi-tinggi sehingga menyulitkan untuk berjalan di antara batu nisan, kotoran sampah dimana-mana, dan banyak pepohonan yang mati. Karena saya sedang datang bulan, maka saya hanya menunggu di dekat pintu masuk makam, sementara budhe yang memang mengajak saya kesanalah yang akhirnya masuk dan melakukan tradisi nyekar tersebut
Di sudut saya berdiri itulah, saya melihat sekeliling... melihat nisan-nisan tak terawat yang bahkan namanya saja sudah tidak terbaca... Saya jadi bertanya-tanya.....
"gimana ya kalau cicit atau saudara jauh hendak nyekar bisa menemukan makam yang mereka cari kalau kondisi makamnya seperti ini?”
“Kapan ya terakhir kali seseorang mendatangi makam itu, dan mendoakan serta mengingat keluarga / kenalan mereka yang telah berpulang"
“Berapa lama, atau berapa keturunan ya yg akan mengingat orang-orang yang terkubur di balik nisan-nisan ini? 10 tahun? 20 tahun? 4 turunan? 7 turunan? 1 abad? sampai akhirnya namanya benar-benar dilupakan.... dan digantikan nama-nama lain di nisan mungkin?"
Dan akhirnya pertanyaan......
"Apa ya yang diingat orang-orang yang masih hidup akan mereka yang telah tiada ini? kenangan baik kah...? kenangan buruk...? prestasi...? atau.... tidak ada? mereka hanya nama?"

Hm.. mungkin saya lagi over analyzed sama makam-makam itu. Harusnya kan saya mikir something yang lebih spiritual ya... semacam siksa kubur, kehidupan akherat, hisab, dsb, dsb.... Ya, pikiran tentang itu jelas ada, tapi kalau saya butuh jawaban dari hal-hal itu, saya yakin punya Al-qur'an yang akan menjawab segalanya
Saya justru berpikir tentang....hidup. Yeah, hidup yang teramat singkat dan apa yang bisa kita  lakukan untuk mengisinya.

Entah bagaimana dengan orang lain, tapi salah satu kecemasan utama hidup saya adalah... tidak melakukan apa-apa yang cukup besar bagi orang lain. Saya takut hidup saya cuma numpang lewat, sehingga tidak ada kebaikan yang akan terus berjalan nanti setelah jatah usia saya habis... Saya takut orang-orang hanya akan mengingat dan mendoakan saya, let's say, 40 hari aja dari kepergian saya.. setelah itu whuzzzzz, melangkah maju dan saya, Ega Asnatasia Maharani, benar-benar hanyalah sebuah nama.... orang tidak akan mengingat apa gunanya saya hidup.

Saya punya Ayah mertua, yang tidak sempat saya kenal karena beliau meninggal dunia ketika saya baru saja menjalin hubungan dengan putranya yang saat ini sudah berstatus suami saya. Saya tidak mengenal Ayah mertua saya ini... Secara fisik, saya hanya mengenalnya dari foto-foto beliau yang banyak tersimpan di rumah Blitar. Tapi saya ingat, suami pernah berkata bahwa salah satu cita-cita Bapak adalah kalau meninggal nanti ingin banyak yang melayat dan mendoakannya.
Dan keinginan inipun terkabul... meskipun saya hanya melihatnya dari video.. betapa banyaknya masyarakat Blitar yang mengantar Bapak ke peristirahatan terakhirnya. Saya rasa, ini bukan semata karena jabatan yang beliau miliki semasa hidup.... tapi dari caranya menjalani hidup. Tidak cuma sekali dua kali saya mendengar dari orang-orang yang bukan keluarga dekat beliau, menceritakan bagaimana Bapak menjalani hidupnya dengan kebaikan. No wonder begitu banyak orang yang bersedih ketika Bapak wafat, dan mendoakannya..... hingga saat ini....
Kalau saja saya punya waktu untuk mengenalnya, dan belajar lebih jauh tentang kebaikan-kebaikan hidup....

Lalu, masih di hari yang sama... saya menonton film bagus di bioskop. Judulnya Machine Gun Preacher... bercerita tentang seorang mantan pecandu narkoba yang akhirnya membaktikan hidupnya untuk membantu anak-anak Afrika dengan segala yang ia miliki. Garis bawah: dengan segala yang ia miliki, termasuk kekayaan pribadinya, dan pada titik tertentu... keluarganya. Tapi Sam Childers tetap melakukannya dengan keyakinan bahwa yang ia lakukan adalah panggilan jiwanya........ (ok saya mesti stop cerita filmnya disini, kalo engga jadi review film lagi :p)

Film itu, pertanyaan-pertanyaan di makam, dan ingatan saya tentang Ayah mertua membuat saya mengevaluasi lagi hal-hal yang sudah saya lakukan dalam hidup.. yang sekiranya bisa terus ada hingga lamaaaaa setelah saya tiada....
Ternyata, yang muncul adalah... perjalanan dalam langkah-langkah kecil. Seperti slogan sebuah pusat pendidikan anak di Jogja, Small Step Big Step!
Saya jadi malu sendiri... kenapa juga saya selalu takut tidak melakukan hal-hal besar, padahal yang seharusnya saya lakukan adalah melakukan langkah-langkah kecil? Trevor hanya berpikir untuk mengajak orang untuk saling mengasihi ketika ia memulai eksperimen "Pay It Forward" yang akhirnya menjadi sebuah gerakan besar yang mengajak orang berbuat baik. Valencia Mieke Randa hanya berpikir ingin menolong pasien yang membutuhkan darah ketika pertama membangun "Blood for Life", dan kini menjadi gerakan sosial besar dengan manfaat yang sudah dirasakan masyarakat luas. Harry Moseley  hanya berpikir ingin menyumbang untuk penelitian kanker otak (penyakit yg diderita sahabatnya, sementara ia sendiri menderita tumor otak) ketika ia membuat gelang manik-manik dan menjualnya seharga 2 poundsterling, sebelum akhirnya menjadi gerakan fundraising "Harry Help Others" dengan hasil jutaan poundsterling.
Mereka adalah orang-orang dengan ide sederhana, langkah sederhana, dengan gema yang luar biasa besarnya...............

Saya pikir kita semuapun harusnya begini ya.... tidak melulu fokus pada hal-hal besar, tetapi jg meluangkan waktu untuk melakukan hal-hal sederhana. Siapa tahu, justru dari kesederhanaan itu maka jalannya akan jauh lebih mudah, lalu efeknya justru lebih besar dari perkiraan sebelumnya. Mungkin, ini juga yang menjadi sumber kehampaan hidup bagi kebanyakan orang, terutama mereka yang hidupnya selalu menetapkan target... Mereka luput melihat langkah-langkah kecilnya dan menjadikan itu bermakna. Mereka, dan juga saya, sering lupa bahwa satu bantuan kecil, satu senyum tulus, satu kata-kata sederhana bisa jadi sesuatu yang besar bagi orang lain....

Saya? Saya tidak akan memaksakan diri menjadi siapapun.... Saya, hanya ingin setulus hati menikmati perjalanan-perjalanan kecil saya.. menyentuh kehidupan orang lain sebanyak yang mungkin saya lakukan. Beruntung saya diberikan jalan untuk menemukan ilmu yang saya cintai, Psikologi.. dimana saya belajar banyak hal tentang kehidupan manusia....tentang semesta, tentang rasa..... Ilmu ini memungkinkan saya melakukan hal itu, menyentuh kehidupan orang lain.
Saya ga muluk-muluk kalo bilang pengen ikut andil make a world better place... saya nggak akan mengerdilkan diri saya, karena.. satu kehidupan saja berhasil saya sentuh dan berubah lebih baik..itu artinya saya sudah membantu dunia ini....

Minggu ini, 2 orang adik angkatan saya yang pintar-pintar menunjukkan bahwa saya, dengan kapabilitas yang saya miliki sekarang, mampu meng-inspirasi mereka....... Apresiasi mereka manis banget, sampe saya malu sendiri..... :p . Tidak dalam arti bikin saya Ge-eR, tapi menjadi semacam doping bahwa ya, saya tetap ingin melakukan perjalanan-perjalanan kecil yang bermakna ini.... Bahagia banget rasanya kalau orang lain dalam proses hidupnya sekarang atau kelak, bisa merasakan kebahagiaan / kebaikan dan mereka mengingat nama saya pada moment itu.... Apresiasi mereka menjadi bukti nyata, bahwa saya bisa melakukan sesuatu yang sungguh-sungguh bermanfaat bagi orang lain. Sebelumnya, jika ada klien / teman yang mengucapkan apresiasi semacam ini, saya cuma bisa malu dan ga percaya....... Tapi sekarang, pemikiran tentang langkah-langkah kecil ini menyadarkan banget agar saya tidak mengerdilkan diri dan menerimanya sebagai pendorong untuk langkah-langkah selanjutnya.......

Saya jadi inget omongan saya sendiri... "Terkadang kita memang tidak perlu tahu apa yang ada 100 meter di depan. Berhenti memikirkannya, dan nikmati saja 10-20 langkah ke depan....". Saya yakin, spirit sederhana ini jugalah yang ada dalam diri Trevor, Mieke Valencia Randa, Harry Moseley, Bapak, dan jutaan inspirator dunia lainnya yang menyentuh dunia dengan caranya masing-masing.....
Small Step... is a BIG STEP!

Friday, December 9, 2011

Mendengar dengan Hati

"The gunfire around us makes it hard to hear. But the human voice is different from other sounds. It can be heard over noises that bury everything else. Even when it's not shouting. Even when it's just a whisper. Even the lowest whisper can be heard - -over armies... when it's telling the truth. "
       - Zuwanie, The Interpreter (reading from the dedication of the book he wrote decades earlier) -

Jika saya adalah pemimpin rakyat, seorang anggota DPD... saya yakin akan banyak sekali suara-suara yg saya dengar. Entah suara dari pendukung, musuh-musuh politik, pihak2 yg berkepentingan, hingga suara rakyat yang saya wakili... Saya jg yakin dengan banyaknya suara ini bisa jadi saya akan tersesat, salah mengambil keputusan, bersikap ragu-ragu, atau justru tidak melakukan apa-apa....

Maka, jika ini terjadi... saya akan kembali pada suara lirih yang tidak akan teredam oleh apapun. Suara yang mungkin sudah lama saya tinggalkan sejak saya beranjak dewasa karena semakin banyaknya urusan yang harus saya pikul. Suara yg tdk akan teracun oleh uang, kekuasaan, nafsu.... Suara hati nurani saya sendiri..

Ya,,saya akan mengambil jarak sejenak dari suara-suara lain, dan dalam keheningan yg singkat itu berdialog kembali dengan diri saya. Kembali pada cita-cita saya menjadi pemimpin, pada amanah politik yg saya emban, dan tentu saja....pada kebenaran.

Saturday, December 3, 2011

Muvee Review: Breaking Dawn part 1

Saya suka film! Dan kayaknya kesukaan ini memberi hak bagi saya untuk nyampah-nyampahin, mengomentarin, dan memuji film-film yang saya tonton kan? aheeeee.... here we go! my 1st muvee review!


Breaking Dawn part 1
My score: 5 (baca: tidak terlalu memuaskan)




Menurut saya, membuat film berdasar novel ada kelebihan n kekurangan sendiri. Kelebihannya, udah ada jalur yang jelas tentang karakter, setting, alur cerita, dll. Kekurangannya, pembuat film harus pinter menuangkan deskripsi verbal ke dalam bentuk visual dengan ringkas, tapi esensi filmnya tetap terasa. Novel yang sudah meledak di pasaran duluan seperti Harry Potter, Eat Pray Love, The Da Vinci Code, The Graduate, My Sister's Keepers dan Twilight Saga tentu saja sudah punya penggemar fanatik masing-masing... dan tentu saja tidak mudah memuaskan imajinasi yang sudah mereka miliki tentang cerita itu ke dalam suguhan visual dan audio.

Sejak seri pertamanya ditayangkan, Twilight Saga cukup mampu memuaskan imajinasi ini. Warna-warna yang sendu dan dingin tergambar jelas di setiap adegannya dan jelas sangat membantu untuk mengantarkan atmosfer romantis ke dalamnya. Begitupun dengan special effectnya.. Cukup keren, tapi belum bisa menandingi kelasnya Avatar atau Harry Potter sekalipun. Beberapa adegan masih terlihat kasar penggarapannya seperti ketika transformasi Jacob Black menjadi serigala... keliatan banget efek green screen nya. Thankfully, di seri terakhir ini masalah special effect sudah sangat baik teratasi, seperti dalam adegan dimana Bella bertransformasi menjadi vampir. Cantik banget perubahan kulitnya dari yang kering, kusam, dan kurus jadi bercahaya kaya' porselen itu...
Saya merasa sangat dipuaskan dalam detail di seri Breaking Dawn ini. Gaun pengantin Bella, dekorasi pernikahan, sampe Villa di Pulau Esme diberikan porsi yang lebih untuk "tampil". Ditandai dengan cukup lama nya pengambilan gambar untuk scene-scene yang memuat hal-hal ini... bahkan kadang, terlalu lama.. sehingga porsi untuk adegan-adegan penting lain seolah tercuri karena "keharusan" memuaskan dahaga penonton dengan keindahan detail-detail itu.

Sayangnyaa... yang tidak berkembang sejak seri pertama hingga sekarang adalah... akting pemain-pemainnya! Frustasi bener saya melihat akting ke-3 aktor utamanya (Robert Pattionson, Kirsten Stewart, Taylor Lautner) yang datar-datar aja tanpa emosi yang kuat. Padahal semua pembaca tahu betapa luar biasanya chemistry antara Bella-Edward dan Bella-Jacob.. Tapi ternyata chemistry ini gagal disampaikan baik lewat bahasa tubuh, kontak mata, maupun setiap gerakan yang mereka lakukan.  Ngeliat akting mereka tuh saya jadi inget sama akting pemain sinetron lokal yang mendadak dapet peran penting gitu deh... hehehe... Ga ada intensitas, ga ada passion, ga ada kekuatan yang bikin saya percaya bahwa mereka sebegitunya saling mencintai. Yang paling ketolong sih Robert Pattinson ya, karena karakter Edward kebetulan memang sedingin es, sehingga dia memang ga bisa banyak bergerak. Tapi seperti saya bilang, bahkan dari kontak matapun chemistry ini ga tersampaikan dengan sempurna..... sayang banget ....

Kekurangan besar lain dari seri terakhir Twilight Saga ini adalah kurangnya dialog yang benar-benar bisa menggambarkan apa yang sedang terjadi saat itu. Well, harusnya si pembuat film tau kan bahwa penonton film ini belum tentu semua sudah membaca bukunya? Jadi harusnya deskripsi-deskripsi penting dalam adegan-adegan yang mereka putuskan untuk dibuat ya jangan sampai kelewat donk.... Seperti, adegan Bella berpamitan sama Ayah Ibunya setelah upacara pernikahan. Pembaca buku sudah pasti tahu bahwa kesedihan Bella saat itu karena ia tidak akan bertemu lagi dengan kedua orangtuanya, karena menurut rencana ia akan segera diubah menjadi vampir dan mustahil orangtuanya akan bertemu ia lagi dalam wujud "berbeda". Tapi sayangnya, penjelasan / dialog mengenai ini tidak ada sehingga penonton yang belum membaca bukunya pasti ngga dapet sense kesedihan itu... Hal yang sama juga tampak di adegan Jacob marah pada Bella ketika tahu Bella-Edward akan bulan madu sebelum Bella diubah jadi vampir, adegan kenapa Bella memilih Rosalie untuk melindunginya, adegan kenapa keluarga Cullen ketakutan akan janin Bella (seingat saya tidak dijelaskan soal anak-anak immortal), adegan kenapa dan bagaimana ketika ke-alfa-an jacob mulai muncul, sampai adegan yang seharusnya menjelaskan tentang "imprint" (saya bahkan tidak melihat kata-kata "imprint" ditulis sebagaimana mestinya) sehingga akhirnya penonton juga kurang dapet sense nya ketika terjadi imprint antara Jacob-Renesmee.

Saya rasa kesalahan memang terletak pada dialognya, karena gaya cerita dalam buku serial Twilight Saga: Breaking Dawn memang mengambil sudut pandang orang pertama. Gaya penulisan ini memungkinkan penulis menggambarkan pikiran dan perasaan karakternya secara mendalam. Nah sayangnya, karena keterbatasan film, gaya bicara orang pertama ini sulit dilakukan sehingga jalan satu-satunya menjelaskan isi kepala masing-masing karakter ya lewat dialog yang diracik dengan ringkas tapi tepat sasaran. Padahal, hal ini juga sebenarnya ga mustahil2 amat dilakukan kok... seperti adegan ketika Leah menceritakan kenapa dia memilih ikut kawanan Jacob, dalam beberapa kalimat ringkas sudah bisa tertangkap bahwa: Leah tersiksa karena imprint antara mantan pacarnya (Sam) dengan sepupunya (Emily), Leah tersiksa karena kemampuan mereka saling membaca pikiran, dan betapa bencinya ia pada keluarga Cullen. jadi seharusnya dialog-dialog efektif semacam ini bisa diterapkan juga di semua adegan penting lainnya.

Kalo boleh sedikittt mengomentari cerita Twilight Saga keseluruhan, saya sebenarnya ngga terlalu suka dengan ending ceritanya yang dipaksakan perfectly happy for everyone. Jacob yang meng imprint Renesmee, kemudahan Charlie menerima Bella yang "baru" dan Renesmee, kemudahan Bella melalui masa-masa awal ke-vampir-an-nya, sampe kemarahan keluarga Volturi yang ternyata nggak segitunya... Entahlah, buat saya jadi terlalu dongeng aja gitu. Ga ada yg berduka, ga ada kesedihan, ga ada pengorbanan, dan ga ada kesulitan yang terbukti benar-benar sulit...
Yah..tapi banyak orang memang suka dengan tipe cerita seperti ini kan? Karena ada janji yang cukup besar disana: HARAPAN..... Harapan bahwa kehidupan dongeng yang aneh tapi serba bahagia itu ada........... Apalagi karakter Edward n Bella, dan kisah cinta mereka yang mewakili banget imajinasi percintaan bagi pembacanya, terutama kaum perempuan. heheheee...

Hmm... ga sabar tunggu November tahun depan untuk Breaking Dawn part 2. Semoga, bagian keduanya lebih sempurna lagi sehingga bener-bener bisa jadi cherry on top in a piece of ice cream! ^^