Saturday, August 11, 2012

"Aturan-Aturan" Hidup


Beberapa waktu belakangan ini, saya lagi doyan menabrak beberapa pemikiran yang sebelumnya secara mutlak dan (tidak disadari) sangat saya yakini.... Saya ngga tau darimana asal-muasal keyakinan saya ini, tapi sepertinya pikiran itu memang udah nempel di kepala saya.. Kaya' Ipin yg selalu nempel sama Upin.. hehehe...

Mungkin, karena pikiran-pikiran itu begitu seringnya saya dengar dan udah dikenalkan ke otak saya sedari kecil, jadi saya menerimanya aja tanpa mengujinya lebih lanjut.

Pernah punya pikiran meyakinkan seperti ini? Saya sih menyebutnya : aturan-aturan hidup...." Nggak tau dari mana, pokoknya harusnya begitu!" ---> nah, ini tipe pikiran yang saya maksud itu. Misalnya: keyakinan bahwa  orang tu harusnya kerja dulu sebelum nikah, orang tu harus memulai dari nol dulu kalo mau sukses, orang tu harus kerja keras kalo mau dapetin impiannya, orang tu harus memaafkan dulu kalau mau melupakan, dst, dst..... Aturan-aturan ini saya "uji" di kepala saya dengan menanyakan: emang kenapa nikah harus tunggu kerja?, emang memulai dari 10 ngga boleh sukses? bukannya bakalan lebih cepet nyampe 100 ya?, kerja keras? kenapa ngga kerja cerdas?, emang kalo udah memaafkan beneran bisa melupakan gitu? maksudnya menghapus memori? yakin?......

Itu baru random thought ya... di bawah ini saya akan tuliskan beberapa "aturan hidup" populer yang (menurut saya) perlu dikaji lagi ketepatannya.... yuk cekidot:

**Jadilah yang terbaik! atau bahasa kerennya: Be the best!
Menetapkan target untuk selalu jadi yang terbaik, menurut saya berpotensi menyulut genderang perang terhadap diri sendiri. Kenapa? karena ini sama artinya dengan menetapkan orang-orang atau hal-hal lain di luar kita sebagai sesuatu yang harus dikalahkan. Lha gmn mau jadi yang terbaik, kalau yang lain-lain nggak dalam posisi kalah dari kita?. Permainan sepakbola misalnya, sebuah team tentu akan disebut terbaik jika berhasil mengalahkan team-team lain dalam pertandingan itu kan?. Dalam hal-hal yang memiliki semangat kompetisi, aturan untuk menjadi yang terbaik itu perlu. Tapi menjadi yang terbaik dalam segala hal, wah bisa memicu gangguan psikologis tuh! hehehe... Lihat aja betapa banyak anak sekarang yang stress di sekolah karena target selalu menjadi yang terbaik disematkan orangtuanya dalam berbagai bidang, tanpa toleransi bahwa ketika tidak menjadi yang terbaikpun mereka tetap 'terbaik' di hati orangtuanya.

**Mirror never lies, atau artinya: berkacalah selalu karena kaca ngga pernah bohong.
Kalau bagi saya, cermin bukannya ngga pernah bohong... tapi cermin selalu memberitahu apa yang "ingin" kita lihat. Cermin, dalam arti kata harfiahnya, memang digunakan untuk memberikan pantulan dari objek aslinya. Ketika kita bercermin, kalau kita 'ingin' melihat seseorang yang cantik, ganteng, molek, ya itulah yang akan terlihat. Hm... tapi mana ada orang yang ingin terlihat jelek? Tepat!! Itu kenapa kata ingin saya beri tanda petik ("), karena ingin yang dimaksud disini adalah sesuatu yg sebenarnya lebih kita percayai.. yg lebih mendominasi pikiran kita. Kalau kita ingat di buku dan film The Secret, disitu dijelaskan bahwa kalau kita terus menerus dililit hutang, itu karena kita yang mengundangnya... utang itu begitu lekat menempel di pikiran kita sehingga tidak sadar kita menginginkannya!. Nah ketika bercermin, momen dimana kita melihat jerawat kita terlihat sangat besar dan mengganggu, percaya deh...itu karena kita yang menginginkannya besar!
Begitupun ketika kita sedang menilai diri sendiri, apa yang dikatakan cermin subjektif kita, ya hanya sebatas apa yang 'ingin' kita lihat saja. Itupun hanya satu sisi yang nampak..... sama seperti sedang bercermin wajah, mana mungkin di saat yang bersamaan punggung kita terlihat?
Lalu, gimana caranya dapet pantulan yang objektif? Caranya, seimbangkanlah pantulan cermin ini dari koreksi / opini orang-orang lain. Dengarkan kata keluarga, teman-teman, bahkan musuh-musuh tentang diri kita. Tidak semua kata mereka bisa dipercaya, tetapi tidak semua pantulan cermin juga dipercaya. Jadi menyeimbangkan keduanya adalah cara paling jitu.

**Go with the flow aja.....
Kalau kata saya... only dead fish go with the flow!. Beda lho go with the flow dengan memasrahkan segala urusan pada Tuhan. Berjalan mengikuti arus ini sama dengan tidak mau berusaha menentukan arah hidup kita sendiri. Arusnya korupsi, ya jadi koruptor juga... arusnya lagi suka rainbow cake, ya makan rainbow cake juga (ga peduli rasanya kaya apa)... arusnya jadi PNS, ya milih PNS an juga.... jiaahh, kapan mandirinya bos?
Lebih bagus, dance with the flow lah..... dengan berdansa sama arus ini, kita memilih untuk juga menjadi pihak yang aktif dalam pilihan-pilihan hidup, karena arus juga membutuhkan gerakan-gerakan kita. Berdansa, artinya kita juga mengambil tenaga pasangan dansa untuk jadi kekuatan kita... Berdansa, artinya ketika arus menuju ke tempat yang tidak kita inginkan, kita bisa bergerak menuju ke tepian atau pindah dalam arus yg lain.
Jadi, mau ikut arus atau berdansa dengan arus?

**Follow your heart
Follow your heart boleh..... but use your head also! Hehehe.... Hati, memang memiliki kapasitas yang terhitung murni. Dia akan memberitahu kita apa yang benar-benar membuat kita bahagia, apa yang sungguh-sungguh benar dan salah. Tapi jangan abaikan fungsi akal, pikiran, kognitif, atau apalah namanya... karena fungsi ini yang memuliakan kita manusia dibanding makhluk-makhluk lainnya. Saya sering, bertemu dengan orang yang menyesali keputusannya karena merasa dulu terlalu mengandalkan keinginan hati... atau sebaliknya, terlalu mengandalkan pertimbangan logika. Hal ini terjadi, karena kita kerap terlalu mengkotak-kotakkan mana yang kata hati dan mana yang kata pikiran. Padahal, kalau saja kita mau ramah kepada keduanya, maka keduanya juga akan bekerja dengan harmonis untuk kita.... Jadi, menurut saya, keputusan yang baik adalah keputusan yang dapat diterima secara akal sehat dan hati nurani... tidak memihak salah satunya. Diterima, bukan berarti selalu dalam presentasi seimbang ya... yang penting, keduanya (dalam mekanisme masing-masing) "ada" dalam keputusan tu.

** Stay positive!
Kata-kata ini, kalau bagi saya... sangat sarat pemaksaan. Karena menjadi orang yang positif sepanjang waktu tuh melelahkaannn... bahkan, saya bisa sangat muak kalau ketika saya sedang down dan segala hal tampak gloomy, lalu ada orang yang meminta saya bersikap lebih positif. Memangnya ada apa sih dengan ke-negatif-an? Bukannya negative things juga sarana kita mempelajari sesuatu?... Lalu kenapa kita ngga accept aja dengan keadaan negatif itu, sehingga tidak ada kelelahan dengan berusaha menolaknya?. Karena begitu kita accept, otomatis  kondisi tubuh akan lebih rileks dan hal-hal negatif itu akan pergi dengan sendirinya, tanpa paksaan. Justru kalau kita memaksakan stay positive sepanjang waktu, sekalinya ada hal negative yang datang , kita akan sulit mengatasinya.... Ya gimana mau diatasin, wong emang itu hal asing yang jarang kita terima keberadaannya!
Betul, yang harus kita lakukan sebagai manusia adalah berusaha menjadi pribadi yang positif... Betul, menerima ke-negatif-an bukan berarti melegalkan kita untuk terus menjadi negatif apalagi melanggar norma. Tetapi, jika sedang tidak positif, menerima diri apa adanya itu jauh lebih bijaksana...tetap mencintai diri sendiri, during the bad times or a good times, adalah janji paling mulia yang bisa kita katakan pada diri sendiri.

** Dont judge the book by it's cover.
Aturan ini seringkali membuat kita mengabaikan pentingnya memperbagus cover. Oke, saya setuju bahwa tampilan luar tidak selalu merepresentasikan isi di dalam... Tapi, tidak dalam semua kondisi kita bisa membuat keputusan dengan menyelami isinya dulu kan?. Misalnya kita mau beli majalah... majalahnya masih disegel kan, kita ngga bisa membuka nya lebih dulu. Tapi dari informasi yang diberikan cover, kita akan bisa memutuskan apakah akan membelinya atau tidak.
Begitupun dengan manusia, seringkali persepsi atau informasi tentang manusia lain kita dapat ya dari covernya saja, karena mustahil kita mengenal pribadi semua orang secara mendalam. Cover, bagi saya bukan sekedar cara berpakaian saja, tapi cara berbicara, gesture , bahkan cara kita membawa diri dalam situasi. Intinya, apapun yang bisa diobservasi secara langsung oleh orang lain.
Jangan salah, di perusahaan pun dalam proses recruitmen, cover atau appearance ini seringkali memberikan informasi awal yang penting apakah calon karyawan itu menganggap pekerjaan ini serius dan benar-benar menginginkannya atau tidak lho.
Kesimpulannya, kalau kita merasa punya 'jeroan' yang berkualitas, yuk perbaiki juga tampilan luarnya. Karena dengan first impression yang bagus, jalan kita mencapai tujuan akan jauh lebih mudah!

** Carilah  win-win solution 
Hmmm.... emang ada ya win-win solution???, buat saya sih... yang ada draw-solution alias solusi SERI, nggak menang dan nggak kalah juga. Itu aja sih koreksi saya untuk aturan hidup yang satu ini... ga pake penjelasan P x L (panjang x lebar), hihihiiiiiiiii

Demikianlah, beberapa 'aturan-aturan' hidup yang sedikit banyak pengen saya sempurnakan ketepatannya...  Itu adalah sebagian aturan yang saya olah... anda boleh agree, boleh juga agree to disagreeBottom line sih, apapun aturan hidup yang kita percayai dan jalani, pastikan kita benar-benar mengetahui apa dan bagaimana aturan itu ada....
Masih punya aturan-aturan hidup yang mau ditabrak? Share-kan dengan saya ya! Hehehehe....

Wednesday, August 1, 2012

EX (baca: Mantan)

"At some point you have to realize that someone might stay forever in your heart, but not in your life"
        - Unknown, Quote-ing from twitter -



Tell me, siapa orang yang paling berpengaruh dalam hidup kita? yang sungguh2 berperan membentuk diri kita? .... Orangtua? Teman? Kekasih? Suami / Istri? Anak? Musuh?.... Hmm, saya mau tambahin satu kategori lagi : mantan pacar.

Buat mereka-mereka yang sekarang sudah menemukan belahan jiwanya sih, mungkin lebih mudah ya melupakan sosok si mantan ini... Ngapain juga dipikirin, udah dapet yang jauhhh lebih baik ini. Ngapain jg mentingin mantan, toh sama mereka hubungannya juga gak berhasil.. kalo berhasil, gak sampe putus namanya dan ga bakalan mereka menyandang status mantan kan? Hm... begini mungkin pikiran para pengelana cinta yang sudah sukses berlabuh di pantai asmara ..... LOL.*serius, saya kok mendadak bayangin Shah Rukh Khan ya waktu ngetik kalimat terakhir ini* hihihihihiii *inget cinta, inget luka, inget India*

Kalo bagi saya, hubungan kita dengan lawan jenis yg ada embel-embel asmara tu layaknya "sekolah kepribadian". Sedikit banyak, disadari atau tidak, hubungan emosional yang sudah kita jalani bersama lawan jenis tu pasti ngasih pengaruh ke perkembangan kita sebagai pribadi. Anda sekarang merasa jadi orang yang tangguh? mungkin itu karena mantan anda memberi pengalaman sakit yang luar biasa.... Anda sekarang jadi sosok yang hebat untuk pasangan anda sekarang? hmm... itu juga mungkin peran mantan yang selalu marah kalau anda berperilaku yang tidak layak padanya dulu.... Atau anda sekarang sudah bersama pasangan yg lebih "sempurna"?... Bisa jadi, itu karena mantan memberitahu anda apa yang sebenarnya tidak cocok bagi diri anda

Kebanyakan dari kita merasa sakit kalau mengingat mantan, sehingga malas mengapresiasi keberadaannya. Padahal, justru dari pengalaman sakit itulah biasanya kita bertumbuh pesat... ya kan? . Saya yakin kita-kita semua yang sampai saat ini tidak mati karena sakitnya cinta, pasti adalah pribadi yang berbeda dibanding kita dulu. Lalu kenapa kita tidak merayakan betapa 'hidupny'a kita sekarang?. Karena kalau mau diibaratkan anak tangga, mantan tuh anak-anak tangga di bawah yang sebenarnya membantu kita sampai di posisi setinggi sekarang. Udah diinjek-injek, ga jadi pula! Udah sepantasnya kan kita berterima kasih padanya?

Fungsi dan manfaat kenapa dihadirkannya sang mantan oleh Tuhan ini juga tidak serta merta bisa kita dapat kok... Waktu memang (teorinya) hanya berjalan ke depan, tapi titik-titik tentang hikmah kehidupan itu hanya bisa ditarik mundur. Jadi kalo kita sekarang masih belum bisa mengapresiasi kehadiran mantan-mantan, jangan buru-buru kecil hati. Mungkin kita memang sedang dipaksa berjalan maju dulu oleh waktu, sebelum nanti bisa berhenti sejenak dan menarik garis ke belakang... ke titik-titik yang kita tinggalkan tadi..


Tapi saya juga yakin banyak diantara kita yang malas mengapresiasi mantan karena sampai saat ini dia masih ada di hati kita plus segala perasaan cintanya, sehingga mengingatnya justru seperti menabur garam di atas luka *hihihiiii, kali ini saya jadi inget Saipul Jamil, kalo dia yg ngucapin kalimat barusan pasti sambil dinyanyiin dangdut*....
Nah, kalo kasusnya seperti ini sih, ga lain dan ga bukan memang harus berproses dulu sama diri sendiri ya.... Kalo istilah kerennya, berdamailah dengan diri sendiri, kiddo! :D. Berdamai dengan cara menerima bahwa ia mungkin memang akan selalu jadi bagian dari hati kita selamanya.... Psstt, satu rahasia yang mau saya bagi: ternyata hati itu kapasitasnya luar biasa besar. Jadi menerima dan membiarkan mantan  mengisi salah satu ruangnya, nggak akan merubah kemampuan kita mencintai orang lain dengan sama atau bahkan lebih besarnya.
Lho kok bisa???!! *gitu mungkin jeritan hati para tawanan cinta yang belum bebas dari kerangkeng masa lalu*
Iya, BISA! Karena begitu kita berhenti berperang dengan diri sendiri dengan terus-menerus mencoba mengusir si mantan dari hati, saat itu sebenanrnya proses healing sedang berjalan. Kalau kita sudah dengan ikhlas memberi izin si mantan untuk terus bersemayam dalam hati, percaya deh... hati juga rasanya akan menggelembung lebih besar, siap membuat ruang untuk orang-orang lain.

Tapi eh tapiiiiiii.... menurut saya sih tetep aja: tidak ada rumus pasti untuk segala hal, apalagi untuk urusan cinta. Jadi kalo ada kasus-kasus unik sama mantan yang ngga bisa selesai dengan rumus di atas ya sah-sah saja.... Toh tujuan tulisan ini bukan buat bagi-bagi tips, tapi untuk memberi perspektif baru terhadap keberadaan mantan.Tulisan ini juga bukan bertujuan supaya kita terus menerus mengingat mantan, tapi memberi tempat yang lebih baik bagi keberadaannya. Dengan begitu, jiwa kita bisa jauhhhh lebih sehat!

Jadi, buat kita-kita yang selama ini mengesampingkan fungsi mantan dan ogah memikirkannya, yuk hari ini kita dedikasikan sedikit waktu luang untuk mengapresiasi apa-apa yang sudah ia berikan pada hidup kita. Mudah-mudahan dengan begitu, segala macam mimpi buruk yang biasa hadir dalam sosok mantan, nanti malam muncul dalam bentuk mimpi indah. Jangan lupa sampaikan terima kasih anda ya kalau dia hadir di mimpi! Hehehehehe.....

Ps: Blog post ini diperuntukkan bagi mereka yang memiliki mantan. Bagi anda yang belum memiliki dan memutuskan tidak akan memiliki mantan (baca: sekali pacaran langsung menikah), saya yakin 100% anda akan menemukan "sekolah keprbadian" dalam bentuk lain yang tidak kalah seru!