Thursday, January 26, 2012

RED LIPS*

Uhuy... rumah saya lagi mati listrik.....
Suami saya belum pulang kerja....
Hmmm...saya jadi punya 'me time' untuk nulis deh....

Judul tulisan saya kali ini gak bertele-tele, langsung ke tujuan dengan huruf besar: RED LIPS. Saya memang lagi rada obsessed sama bibir merah, gincu merah, lipstik merah...hihihi.... sebenernya udah dari dulu pengen banget berani dandan pke lipstik merah. Cuma, selalu adaaaa aja halangannya... dari yang blm nemu merah yang cocok (salah tone warna bisa bikin keliatan tua), gak pede, sampe udah beli lipstik merah n ga kepake-pake sampe akhirnya lupa naruh dimana.... hehehe. Mnurut saya , cewek pake lipstik merah yang tepat itu misterius sekaligus "statement" bgt! Yaa kalo di Hollywood  artis -artis kaya Dita Von Teese, Christina Aguilera, Marylin Monroe, sampe Gwen Stefani adalah golongan yang bisa menyampaikan maksud si lipstik merah dengan super keren......

Saya teringat lagi sama keinginan ber-lipstik merah ini saat di bandara Ngurah Rai kemaren liat cewek dengan kerennya pake lipstik merah, rambut model batok Dora the Explorer, dan kacamata cat eyes.... Gak 'wow' bgt sih, tapi jelas "statement" itu tadi   (i'm not even sure "statement'' is a proper words.... but hell cares lah... u know what im saying rite?? :p ). Lucu sekaligus elegan, sendu sekaligus kuat. Saya selalu suka kombinasi berlawanan seperti ini Dan ajaibnya, 1 hari setelah itu saya menemukan lipstik merah dengan intensitas merah yang saya suka di departemen store.... Jadilah, sejak dari konter kosmetik itu saya sudah berbibir merah merona.

Suami saya? hahahaha, dia memalingkan muka. Dia bilang saya kaya badut dan dia ga mau liat... Buang muka sambil meringis-meringis jahil. Sebel saya.... tapi berhubung kami udah terbiasa agree to disagree tanpa hard feelings, yaudah saya tetap enjoy berbibir merah....
Esoknya, saya beranikan mengoles lipstik baru itu ketika saya berdandan untuk ke kantor. Errrr..... gak pede. Hapus. Ups, ternyata susah dihapus karena itu jenis lipstik matte. Saya pikir: hmm, pertanda bahwa saya harus tetap memakainya nih.... *puter otak*...dan akhirnya saya mengoleskan lagi lipstik lain berwarna super pucat untuk menyamarkan merahnya. Better! meskipun tetap menyala tapi ga merah-merah banget lah. Daan reaksi temen-temen kantor pun beragam... ada yang bilang saya "beda" (entah in positive or in negative way), lucu, bagus, sampe aneh.....

Esoknya lagi, saya mau jalan ni sama salah satu sahabat sekaligus cheerleader #1.. siapa lagi kalo bukan NICEY! hehehe... dia dengan beringasnya membujuk saya pake lipstik merah hari itu. Dan kebetulan suami lagi keluar kota, jadi deh saya keluar rumah pke warna bibir yang gak dia suka........ Lalu, seharian itu saya ke mall untuk ketemuan lagi sama 2 sahabat lain. Saya juga sempet foto-foto beberapa kali dan memasangnya di display picture bbm.....Menarik bgt melihat bagaimana respon orang-orang sama keputusan kecil saya memakai lipstik merah: terang-terang an melotot, ada yang bilang kaya tante-tante, muji keren, sexy, cantik, kritik kurang merah n kurang rapi, saranin besok pake lagi tapi dg kostum serba hitam, mengernyit heran, lirik-lirik... pokoknya beragam deh! Dan menurut Nicey, banyak org ngeliatin artisnya (baca: saya) hari itu. Bisaan banget dia kalo nge-boost pede nya orang emang....



Nah itu bentukan cheerleader #1 saya. Dia sendiri ga dandan padahal....

See? saya hanya memakai lipstik merah... di bagian tubuh yg besarnya hanya sepersekian ratus dari keseluruhan tubuh saya. Saya hanya melakukan keputusan kecil yang playful, yang beda dari biasanya, yang membuat saya happy..... tapi lihat impact nya? Akan selalu ada reaksi pro-kontra.. yang asalnya dari orang di sekitar saya, sampai orang asing yang tidak saya kenal.... dari yang saya minta pendapatnya sampe reaksi yang datang tanpa diundang...

Saya hari itu merasa, lipstik merah itu jangkar bagi saya. Mengingatkan diri saya sendiri betapa saya suka mencoba sesuatu yang baru, yang ber-resiko.. menyenangkan rasanya memilih sesuatu dan tidak tahu sesuatu itu akan mengarahkan kita kemana. Saya suka bermain-main, sekaligus sangat serius terhadap diri saya. Saya tidak pernah suka keseragaman, saya melakukan sesuatu mostly untuk diri saya sendiri.
Nah... si lipstik merah inilah jangkarnya... Dia mengingatkan bahwa inilah saya. Seperti dalam film Inception, setiap pemimpi harus punya totem miliknya pribadi. Benda kecil yang jadi miliknya dan mengingatkan dia untuk tahu mana yang dunia nyata atau mimpi belaka.....

Saya pikir, masing-masing dari kita harusnya punya ya jangkar-jangkar atau totem-totem semacam ini. Karena dengan meningkatnya usia, tanggung jawab, rutinitas, kita seringkali hidup dalam mode autopilot, dimana semua aktivitas kita seperti terprogram  agar berjalan sebagaimana mestinya. Kita bahkan tidak berpikir lagi bahwa setiap hari kita parkir di tempat yang sama, atau makan dengan orang yang sama, atau mengerjakan hal yang sama, atau melakukan kesalahan-kesalahan yang sama........ Kita lupa bahwa ada yang "lain" dan bahwa kita berhak kok memilih yang lain itu.....

Pernah dengar sama orang yang memilih sesuatu karena dia merasa tidak punya pilihan? Hmm, saya sendiripun sering merasakannya. Seolah-olah semua sudah di set-up seharusnya begini, begitu, a,b,c karena kalau nggak maka kita adalah lalala, lilili, abrakadabra. Sederet rules, aturan, peran, dan konsekuensi yang sudah begitu kuat terekam dalam jejak memori kita saking setiap hari kita hadapi. Menjadi dewasa kemudian menjadi ibu, kita jadi harus mendadak ahli dalam menentukan apa yang baik dan tidak bagi anak kita. Harus fokus penuh dan tanggung jawab besar yang harus dipikul, jadi kita harus merelakan seluruh waktu kita untuk mengasuh anak, jadi kita harus mengesampingkan dulu bersantai-santai seperti sebelumnya. Kyaaaaa!! begitu banyak harus. Dan sederet konsekuensi dan judgement jika keharusan ini kita lalaikan. Padahal ini baru contoh kecil keharusan kita sehari-hari....
Lalu apa salah?? Ya tentu enggak....jadi manusia ya harus begitu itu. hehehe... My point is, kita juga harus jeli melihat bahwa banyak kok ketidakharusan yang sebenarnya ada di antara keharusan-keharusan ini. Kita masih bisa memilih......
Jangkar-jangkar kecil inilah yang akan mengembalikan kemampuan kita dalam mengendalikan keputusan-keputusan kita sendiri.... Bebas dari keharusan, dan dari penilaian atau ekspektasi orang lain. Ga usah takut dianggap aneh, aneh itu hanya karena tidak biasa kok. Ga usah juga takut dicap buruk, karena memang bukan tugas kita membahagiakan semua orang. Apalagi, ga usah takut berbeda...karena berbedanya kita itu sebenarnya yang mendefinisikan siapa diri kita. What makes u different is what define YOU, begitu bunyi status bbm saya sendiri beberapa hari lalu.
Jangkar itu tidak melulu harus sebuah benda sih... bisa aja kegiatan sederhana, atau tempat favorit mungkin. Pokoknya sesuatu dimana kita benar-benar bahagia melakukannya, bahagia berada di sana, persetan apa kata orang!! termasuk persetan apa kata pacar, sahabat, tetangga, satpam, siapa aja lah!
*eh tapi jangan yang melanggar hukum , agama, n moral ya. Hahahahahha*.

Jangkar ini selain jadi reminder tentang siapa diri kita, juga berfungsi sebagai refreshing point. Kalo kita lagi eneegg banget sama rutinitas harian, tesis yg ga selesai-selesai, teman / pacar yang ga brenti-brenti nyusahin, dunia politik yang chaos, harga cabe yang terus naik... nahhh.... ingatlah selalu bahwa kita punya jangkar ini. Datang kesana, lakukan, bersenang-senang, dont over analyze of other's judgement, then start all over again.... Begitu terus...

Tapi ingat ya, jangkar inipun baiknya juga ga persisten. Kita juga punya hak untuk membuat jangkar-jangkar baru kok.. jangan sampai jangkar ini malah jadi bagian lingkaran setan yang membosankan.
Minggu ini lipstik merah... who knows, minggu depan fashion tabrak lari , atau sepatu wedges 12cm mungkin??
Yeah.... i have my red lipstick in my purse... what's yours?


Muka saya udah misterius belom? *yak, ngarep*

Friday, January 20, 2012

I am Today

" Dear Claire, 'What' and 'If' are two words as non-threatening as words can be. But put them together side-by-side and they have the power to haunt you for the rest of your life: What if? What if? What if?"

          - Sophie, Letters to Juliet -

Minggu lalu, saya pergi selama 3 hari ke Bali untuk mengikuti kelas Transpersonal Psychology. Seperti biasa, kombinasi suasana Bali, energi positif di Jiwa Damai (tempat training berlangsung), dan kehebatan Margret Ruefler sang maestro Transpersonal jadi kombinasi yang tepat untuk kegalauan jiwa saya ... Hehehe.... Saya ingat, pagi pertama kami meditasi dan berdialog dengan hati, ternyata hati saya menjawab kalau dia butuh untuk diingatkan lagi siapa dirinya...... Hmm, saya memang suka lupa siapa saya akhir-akhir ini sepertinya.... Tanda paling utama adalah, saya jadi suka ragu... dan mempertanyakan keputusan-keputusan saya : what if? what if? what if i did this differently? what if i choose other way back then? what if everything could be better? what if...........

Kayaknya, cuma kandidat Miss Universe aja ya yang kalo ditanya: jika kamu diberi kesempatan, apakah kamu mau mengulang waktu dan memperbaiki keputusan-keputusan dan kesalahan-kesalahanmu? , akan menjawab TIDAK. Kalau saya sih mau-mau ajaaaa..... tidak banyak sih, hanya kesalahan-kesalahan fatal aja yang pengen saya perbaiki... Seperti, kesalahan saya memilih salah satu kekasih di masa lalu, yang segitunya saya perjuangin, eehh ternyata sayanya justru jadi orang yang lebih buruk saat bersama dia dibanding saat saya bebas merdeka seorang diri. *oh semoga dia gak baca tulisan ini, jadi dia ga tau betapa menyesalnya saya.....hihihi*

Hmmm..menyesal?
Yup, pasti penyesalan lah yang kemudian membuat self-questioning tentang 'what if' ini muncul...... Karena, slogan besar yang sering kita dengar adalah : Hidup ini pilihan, Jendral!. Pilihan, berarti sebenarnya tidak ada harga mutlak mana jalan yang harus kita pilih kan? Sehingga, ketika yang namanya penyesalan datang, jadilah pikiran otomatis kita menyalahkan keputusan masa lalu, dan memikirkan kemungkinan lain yang pasti lebih baik.. Pilihan lain yang lebih baik, karena kita tau yang INI, yang SAAT INI adalah pilihan yang ternyata nggak oke.....

But wait...... what if,  saat ini kita berada di sana, di pilihan satunya, dan saat ini juga sedang berpikir "what if?"........
Membingungkan ya? Gak bakal ada abisnya ya?
Exactly!!

Dari sesi Transpersonal yang saya jalani kemarin, jawaban ini lah yang kemudian saya dapat: bahwa untuk menemukan diri saya kembali, saya harus mengembalikan kemampuan penerimaan diri saya........ Tempat dimana tidak ada judgement benar-atau- salah...... Tempat dimana tidak ada penyesalan..... tempat dimana semua sudah jatuh tepat pada porsinya.
Karena, satu milimeter saja saya lakukan perubahan pada apapun yang terjadi kemarin, maka saat ini tidak akan berjalan seperti saat ini. Meskipun bisa saja yang terjadi lebih baik dari saat ini.... atau lebih buruk? who knows...?. Yang jelas... pasti berbeda...dan implikasi dari berbeda itu, apa-apa yang saat ini kita nikmati dan syukuri keberadaannya bisa jadi tidak ada... Entah itu sekedar hidangan nikmat yang kita makan saat ini, atau orang terkasih yang sekarang sudah ada di samping kita.....

Sebagai ilustrasi, di film Curious Case of Benjamin Button pernah ada scene dimana Daisy, kekasih Benjamin nantinya, tertabrak mobil hingga kakinya luka parah dan tidak bisa menari ballet lagi. Di scene itu, digambarkan bagaimana kesedihan Benjamin melihat kondisi Daisy hingga ia membayangkan setiap detik rangkaian peristiwa yang menyebabkan Daisy kecelakaan VS kondisi 'what if' nya.... Andaikan supir taxi melaju beberapa detik sebelumnya, andaikan wanita di dlm taxi itu masuk mobil lebih cepat, andaikan ia tidak terhalang bunyi telepon di apartemennya hingga bisa masuk mobil lebih cepat, dan seterusnya...dan seterusnya......
But if.... If Daisy wasnt through the accident, maka kisah cinta mereka juga tidak akan dimulai........ Kalimat terakhir ini kesimpulan saya sendiri dan tidak diilustrasikan dalam film nya. Tapi ini adalah contoh sempurna bahwa setiap pilihan hidup kita adalah rangkaian unik yang saling membentuk satu sama lain.........
Kita yang sekarang merupakan produk kesalahan-kesalahan masa lalu.... kita, sampai kepingan terkecilnya, adalah sekumpulan puzzle yang lahir dari apapun pilihan kita kemarin....

Hmmm... Jadi sayapun ga perlu lah ya merubah masa lalu sama mantan menyedihkan itu? Ternyata... dia adalah anak tangga untuk saya gunakan sebagai pijakan hingga akhirnya sampai pada suami saya saat ini.....
Dan ternyata, saya juga ga perlu merubah apapun keputusan saya kemarin..... Yeah, saya memang jadi sering kehilangan diri saya... tapi itu adalah caraNya agar saya mencari, berpikir, menemukan kembali apa yang hilang, dan akhirnya menuliskan ini di blog saya.....

@Jiwa Damai....... syukurlah ada foto ini, krn saya lg ga mood foto2 disana kemarin... :P




Ps: Magret  juga mengajarkan bagaimana cara mendeteksi keberadaan diri sendiri......
Caranya, saat saya di situasi yang serba chaos dan ga mengenakkan, saya hanya harus diam...
dan merasakan detak jantung saya sendiri. Kalau hati saya masih disana, dia akan memberi tanda dan bisa diajak berdialog.....
 Jika tidak, maka situasi / tempat itulah yang harus saya tinggalkan. Sesimple itu.
So Dear Heart, thank you for stay with me today.........

Monday, January 9, 2012

Welcome to the JungLe!

Happy New Year!!

Hehe telattt bgt deh.... Gapapa yaa? kan masih Januari.....
saya sudah rindu rindu rindu menulis... Akhir-akhir ini saya sok-sok jadi wanita karier jadi di rumah selalu kebagian capeknya aja, ga sempet lagi mau nulis... Padahal sampah-sampah ini udah numpuk aja di kepala rasanya.....

Hmm... apa yang berbeda sekarang memang status saya itu: jadi pekerja kantoran. Masih ingat sama kisah 2 bulan lalu saat saya harus menolak posisi di sebuah klinik kecantikan karena persoalan lokasi? Iyesshh, saya akhirnya bekerja juga dsana... tapi di posisi berbeda, dan bermarkas di Jogja donk tentunya... Alhamdulillah saya dipercaya untuk menempati posisi yg cukup baik disana, meskipun tantangannya juga jadi dobel.. Well, great things never come easily kan?

Dengan drama-drama, airmata, dan kelelahan emosional yang cukup heboh selama 1 minggu pertama saya bekerja disana, akhirnya saya dipercaya untuk mem-back up posisi penting: HRD Supervisor.. atau kadang mereka sebutnya HRD Manager. Keliatannya sih gaya yah... tapi saya nya ngerasa biasa aja... soalnya ini penempatan mendadak, sedangkan saya taunya teken kontrak untuk posisi staff biasa. Bukan soal gaji yang membuat saya ngerasa tetep aja jadi staff, tapi soal manajemen diri aja... Saya merasa masih anak bawang, dengan pengalaman nol di bidang human resources, dan minim ilmu industri. Jadi kok kaya nya keterlaluan kalo saya ber leha-leha dengan posisi ini.... Mungkin nanti, setelah 3 bulan pertama  terjalani, baru saya bisa lebih membawa diri untuk settle di posisi itu, dengan penugasan yang lebih jelas tentunya.

But again, saya ni memang tipe random.. Saya suka belajar... saya gak suka buru-buru berakar atau melimitasi diri sendiri. Jadi saya terima tantangan ini dengan senang hati... Sama seperti ketika saya kecemplung di Mapro Klinis, rasanya otak ini kosong bgt... Tapi dengan kesenangan, ternyata saya malah jatuh cinta berat sama klinis. Sekarang pun begitu... My dear Allah SWT begitu baiknya memberi saya rezeki ini, meskipun banyak orang mengernyit aneh dengan pilihan saya, tapi saya selalu percaya kalo pemberianNya itu ga pernah salah.....
Saya melangkah ringan karena tau keluarga dan sahabat2 ada di belakang saya. Tidak menuntut. Jadi kapanpun saya gak bahagia, saya selalu bisa kembali dan pulang......

Nah masalahnya, dalam 3 minggu saya kerja ini... Udah banyaaakkk bgt tantangannya yang seolah meminta saya untuk kembali dan pulang itu....
Tapi jujur, x ini saya merasa sedang diuji.... Diuji kemampuan intelektual, mental, emosi.... Kalo ditanya kenapa saya merasa gtu, saya juga ga tau... Yang saya tau, saya bukan quiter! itu aja simple nya.....

Sejak awal saya masuk ke tempat ini, saya tau akan ada yang ga suka dengan kehadiran saya... Hmm,tapi buat saya sih itu biasa ya... Saya pun tau dengan minimnya pengalaman ini, saya akan di underestimate kan. Gak masalah juga sih, wong saya malah biasanya berkembang baik kalo dianggep remeh kaya gitu. Nah yang ga biasa adalah, posisi saya yang naik mendadak (secara De Jure, bukan De Facto...) itu kemudian bikin orang-orang menyorot saya... dan mengharap saya cukup hebat kemampuannya karena bisa ada disitu. Susah kan? Di satu sisi di underestimate, disaat bersamaan ada harapan bahwa saya bisa! Efeknya, apapun yang saya lakukan emang ga bisa menyenangkan semua pihak.... Giliran kerjaan saya bagus, pikiran yg underestimate saya yg ga happy. Giliran saya berbuat salah, pikiran yang mengharap saya cukup hebatlah yg ga terima...... Appearantly, being in a spotlight isn't always exciting.

Tapi saya nggak akan cengeng krn hal itu...karena bagi saya patung indah dari batu memang ga akan terbentuk dengan cara dielus-elus, tapi lewat dipahat, dijemur, dipukul, dikikis... Dari situ baru patung yg valuable akan lahir. Jadi persoalan kaya gini ya saya nikmati aja.... Toh, saya punya begitu banyak cinta dan kekuatan di luar. Saya dibesarkan tidak dengan kebencian, tidak juga bergaul dengan orang2 yang terbiasa dgn kebencian... Amunisi seperti itu saya rasa lebih dari cukup untuk melindungi saya.....

Ya, saya memang khawatir... Khawatir karena di lingkungan ini, ternyata ada begitu banyak cara dan alasan bagi saya untuk tidak sadar melupakan siapa diri saya. Ketika saya diserang, instingtif saya pun akan bereaksi agresif. Ketika saya disakiti, mendadak kemarahan muncul dalam diri saya. Ketika saya menyerap terlalu banyak energi negatif, gak terasa tubuh saya jadi panas karena aliran yang ga sehat itu.... Dan hal-hal semacam ini terus menerus terjadi.
Alhamdulillah, saya tahu bagaimana harus centering... kembali ke titik nol dimana saya lah "sutradara" nya. Awalnya sulit, tapi by practising hampir setiap hari prosesnya jadi lebih mudah.... Hmm, hari ini saya malah bisa nyolong waktu, ngetik sambil dengerin brain therapy utk soothing hati saya yang mulai ga enak....
Saya sendiri bukan orang yang percaya bahwa untuk berkembang kita harus keluar dari comfort zone. Yang saya yakini, saya sudah punya comfort zone, dan wilayah itu yang akan selalu saya bawa kemanapun... termasuk di lingkungan yang ga nyaman. Istilahnya, saya punya comfort zone sendiri di dalam lingkungan yang ga comfort.

Pada akhirnya, ini hanya tentang bagaimana beradaptasi di hutan baru.... tanpa kehilangan diri saya yang saya tahu......
Pada akhirnya saya hanya bisa bilang terima kasih, karena kesulitan ini menyediakan banyak alasan kuat untuk saya berkembang jadi pribadi yang hebat......
Pada akhirnya, ini adalah bensin yang memberikan kobaran lebih besar pada api saya yang sudah menyala!