" Dear Claire, 'What' and 'If' are two words as non-threatening as words can be. But put them together side-by-side and they have the power to haunt you for the rest of your life: What if? What if? What if?"
- Sophie, Letters to Juliet -
Minggu lalu, saya pergi selama 3 hari ke Bali untuk mengikuti kelas Transpersonal Psychology. Seperti biasa, kombinasi suasana Bali, energi positif di Jiwa Damai (tempat training berlangsung), dan kehebatan Margret Ruefler sang maestro Transpersonal jadi kombinasi yang tepat untuk kegalauan jiwa saya ... Hehehe.... Saya ingat, pagi pertama kami meditasi dan berdialog dengan hati, ternyata hati saya menjawab kalau dia butuh untuk diingatkan lagi siapa dirinya...... Hmm, saya memang suka lupa siapa saya akhir-akhir ini sepertinya.... Tanda paling utama adalah, saya jadi suka ragu... dan mempertanyakan keputusan-keputusan saya : what if? what if? what if i did this differently? what if i choose other way back then? what if everything could be better? what if...........
Kayaknya, cuma kandidat Miss Universe aja ya yang kalo ditanya: jika kamu diberi kesempatan, apakah kamu mau mengulang waktu dan memperbaiki keputusan-keputusan dan kesalahan-kesalahanmu? , akan menjawab TIDAK. Kalau saya sih mau-mau ajaaaa..... tidak banyak sih, hanya kesalahan-kesalahan fatal aja yang pengen saya perbaiki... Seperti, kesalahan saya memilih salah satu kekasih di masa lalu, yang segitunya saya perjuangin, eehh ternyata sayanya justru jadi orang yang lebih buruk saat bersama dia dibanding saat saya bebas merdeka seorang diri. *oh semoga dia gak baca tulisan ini, jadi dia ga tau betapa menyesalnya saya.....hihihi*
Hmmm..menyesal?
Yup, pasti penyesalan lah yang kemudian membuat self-questioning tentang 'what if' ini muncul...... Karena, slogan besar yang sering kita dengar adalah : Hidup ini pilihan, Jendral!. Pilihan, berarti sebenarnya tidak ada harga mutlak mana jalan yang harus kita pilih kan? Sehingga, ketika yang namanya penyesalan datang, jadilah pikiran otomatis kita menyalahkan keputusan masa lalu, dan memikirkan kemungkinan lain yang pasti lebih baik.. Pilihan lain yang lebih baik, karena kita tau yang INI, yang SAAT INI adalah pilihan yang ternyata nggak oke.....
But wait...... what if, saat ini kita berada di sana, di pilihan satunya, dan saat ini juga sedang berpikir "what if?"........
Membingungkan ya? Gak bakal ada abisnya ya?
Exactly!!
Dari sesi Transpersonal yang saya jalani kemarin, jawaban ini lah yang kemudian saya dapat: bahwa untuk menemukan diri saya kembali, saya harus mengembalikan kemampuan penerimaan diri saya........ Tempat dimana tidak ada judgement benar-atau- salah...... Tempat dimana tidak ada penyesalan..... tempat dimana semua sudah jatuh tepat pada porsinya.
Karena, satu milimeter saja saya lakukan perubahan pada apapun yang terjadi kemarin, maka saat ini tidak akan berjalan seperti saat ini. Meskipun bisa saja yang terjadi lebih baik dari saat ini.... atau lebih buruk? who knows...?. Yang jelas... pasti berbeda...dan implikasi dari berbeda itu, apa-apa yang saat ini kita nikmati dan syukuri keberadaannya bisa jadi tidak ada... Entah itu sekedar hidangan nikmat yang kita makan saat ini, atau orang terkasih yang sekarang sudah ada di samping kita.....
Sebagai ilustrasi, di film Curious Case of Benjamin Button pernah ada scene dimana Daisy, kekasih Benjamin nantinya, tertabrak mobil hingga kakinya luka parah dan tidak bisa menari ballet lagi. Di scene itu, digambarkan bagaimana kesedihan Benjamin melihat kondisi Daisy hingga ia membayangkan setiap detik rangkaian peristiwa yang menyebabkan Daisy kecelakaan VS kondisi 'what if' nya.... Andaikan supir taxi melaju beberapa detik sebelumnya, andaikan wanita di dlm taxi itu masuk mobil lebih cepat, andaikan ia tidak terhalang bunyi telepon di apartemennya hingga bisa masuk mobil lebih cepat, dan seterusnya...dan seterusnya......
But if.... If Daisy wasnt through the accident, maka kisah cinta mereka juga tidak akan dimulai........ Kalimat terakhir ini kesimpulan saya sendiri dan tidak diilustrasikan dalam film nya. Tapi ini adalah contoh sempurna bahwa setiap pilihan hidup kita adalah rangkaian unik yang saling membentuk satu sama lain.........
Kita yang sekarang merupakan produk kesalahan-kesalahan masa lalu.... kita, sampai kepingan terkecilnya, adalah sekumpulan puzzle yang lahir dari apapun pilihan kita kemarin....
Hmmm... Jadi sayapun ga perlu lah ya merubah masa lalu sama mantan menyedihkan itu? Ternyata... dia adalah anak tangga untuk saya gunakan sebagai pijakan hingga akhirnya sampai pada suami saya saat ini.....
Dan ternyata, saya juga ga perlu merubah apapun keputusan saya kemarin..... Yeah, saya memang jadi sering kehilangan diri saya... tapi itu adalah caraNya agar saya mencari, berpikir, menemukan kembali apa yang hilang, dan akhirnya menuliskan ini di blog saya.....
![]() |
| @Jiwa Damai....... syukurlah ada foto ini, krn saya lg ga mood foto2 disana kemarin... :P |
Ps: Magret juga mengajarkan bagaimana cara mendeteksi keberadaan diri sendiri......
Caranya, saat saya di situasi yang serba chaos dan ga mengenakkan, saya hanya harus diam...
dan merasakan detak jantung saya sendiri. Kalau hati saya masih disana, dia akan memberi tanda dan bisa diajak berdialog.....
Jika tidak, maka situasi / tempat itulah yang harus saya tinggalkan. Sesimple itu.
So Dear Heart, thank you for stay with me today.........

No comments :
Post a Comment