Wednesday, December 14, 2011

7 Months!

Whohooo..yeheeee.... 14 Desember! Hari ini tepat 7 bulan sudah saya berstatus istri dari Mohammad Guntur Yasser Arafat. Baru 7 bulan, tapi happy-nya berlipat-lipat dibanding ketika masih single, sama berlipat-lipatnya dengan jumlah baju suami  sejak ia menikah dengan saya. Hihihihi....
Saya belum bisa mikir value pernikahan apa-apa yang saya rasa pantas saya bagikan pada khalayak umum sekalian. Jadi, di 7 bulan-an ini saya hanya ingin mengucapkan terimakasih pada dia, suamiku, ik uk ku, papuy-ku, my compatible, oom cino-ku, my chiki-chiki boom boom........

** Terimakasih karena selalu menyempatkan untuk menengok ke belakang setiap kali kamu asyik di depan komputer hanya untuk memangilku, membuat aku merasa selalu diingat apapun kegiatan seru yang sedang kamu lakukan...

** Terimakasih karena selalu mengucapkan "terimakasih" plus senyum nyengir tiap kali aku melakukan sesuatu yang sederhana sekalipun, yg kurasa sebenarnya sudah menjadi kewajibanku sebagai istri. Itu mengingatkanku bahwa kamu selalu menghargai apapun yang kulakukan....

** Terimakasih karena tidak buru-buru memanggilku "mama" "mami" "bunda" or apalah.. dan tetap memanggilku dengan panggilan konyol tanpa arti... kita simpan panggilan itu nanti yaa klo udah punya buntut. Itu membuatku merasa kamu tidak memaksakan aku cepat beradaptasi menjadi 'istri' dan membiarkanku menemukan gaya ke-istri-an ku sendiri....

** Terimakasih karena nggak pernah absen menggelitikki aku setiap hari dan membuatku menjerit-jerit lebay. Itu membuatk hormon tertawaku berproduksi setiap hari...  dan membuat rumah kita jadi semarak tentunya!

** Terimakasih karena selalu jujur... mengatakan aku cantik hanya ketika menurutmu aku pantas dipuji, mengatakan masakanku enak hanya ketika semua bumbunya pas.. Kamu menjaga agar kita tetap "nyata" dan aku tidak perlu takut kehilangan masa-masa "digombalin".

** Terimakasih karena tetap bersikap biasa, memeluk, menciumku di saat-saat terlemahku: ketika aku sakit, wajahku bengka-bengkak akibat alergi, atau ketika aku menangis karena blm diberi kepercayaan untuk mengandung keturunan kita...... Itu membuatku merasa selalu ditemani, dan diterima tanpa syarat.......

** Terimakasih karena tetap memberikan ruang yang besaarr untukku tumbuh menjadi pribadi tanpa dibebani "keharusan-keharusan". Mengizinkanku melakukan hobby, bepergian bersama teman dan keluarga, menikmati "me" time....Hebatnya, Itu membuatku merasa tetap merdeka sekaligus selalu rindu untuk pulang kepadamu...

** Terimakasih karena kamu selalu mudah, sederhana, simple... mengimbangiku yang penuh kompleksitas ini.

** Terimakasih karena tidak mengobral kata cinta, dan ketika mengatakannya kamu melihat ke mataku dan mengatakannya dengan sungguh-sungguh (tanpa sok romantis tentunya..). Kamu membuat kata-kata itu berharga untuk didengar...

** Terimakasih karena begitu peka terhadap hal-hal yang aku butuhkan tanpa harus banyak bertanya. Itu menunjukkan seberapa dalam pedulimu padaku.... surprise netbook baru waktu itu, karena kamu tidak ingin mataku sakit akibat layar netbook sblmnya yang terlalu kecil, dan karena kamu ingin aku lebih rajin menulis... adalah salah satu contoh kecil rasa pedulimu.

** Terimakasih karena tidak pernah menunjukkan emosi negatif yang berlarut-larut. Kamu mengajariku bahwa aku yg secara formal mempelajari manusiapun masih perlu banyak belajar tentang manajemen emosi...

** Terimakasih karena selalu menanyakan hal aneh "mau kemana uk?" - tiap kali aku melangkah pindah ruangan -, "mikir apa loo?" - tiap kali aku terdiam agak lama -, "kok bisaaa?" - tiap kali aku bercerita -. Itu semua pertanyaan konyol sayank.... tapi, aku menyukainya karena itu bentuk pedulimu yang unik.

Dan terimakasih.... karena melakukan semua ini tanpa perencanaan, pemikiran, apalagi keinginan untuk dibalas ... U just do, and it works...

Love u.....

Tuesday, December 13, 2011

Small Step Big Step

"Men are haunted by the vastness of eternity. And so we ask ourselves: will our actions echo across the centuries? Will strangers hear our names long after we are gone, and wonder who we were, how bravely we fought, how fiercely we loved?”
          - Odysseus, Troy -

Kemarin, saya pergi nyekar (berdoa, membersihkan, dan menabur bunga) di makam eyang. Entah karena sedang musim hujan, atau karena bukan bulan dimana orang-orang biasanya banyak mengunjungi makam... namun kondisi makam saat itu tampak kurang terawat. Rumput ilalang nya tinggi-tinggi sehingga menyulitkan untuk berjalan di antara batu nisan, kotoran sampah dimana-mana, dan banyak pepohonan yang mati. Karena saya sedang datang bulan, maka saya hanya menunggu di dekat pintu masuk makam, sementara budhe yang memang mengajak saya kesanalah yang akhirnya masuk dan melakukan tradisi nyekar tersebut
Di sudut saya berdiri itulah, saya melihat sekeliling... melihat nisan-nisan tak terawat yang bahkan namanya saja sudah tidak terbaca... Saya jadi bertanya-tanya.....
"gimana ya kalau cicit atau saudara jauh hendak nyekar bisa menemukan makam yang mereka cari kalau kondisi makamnya seperti ini?”
“Kapan ya terakhir kali seseorang mendatangi makam itu, dan mendoakan serta mengingat keluarga / kenalan mereka yang telah berpulang"
“Berapa lama, atau berapa keturunan ya yg akan mengingat orang-orang yang terkubur di balik nisan-nisan ini? 10 tahun? 20 tahun? 4 turunan? 7 turunan? 1 abad? sampai akhirnya namanya benar-benar dilupakan.... dan digantikan nama-nama lain di nisan mungkin?"
Dan akhirnya pertanyaan......
"Apa ya yang diingat orang-orang yang masih hidup akan mereka yang telah tiada ini? kenangan baik kah...? kenangan buruk...? prestasi...? atau.... tidak ada? mereka hanya nama?"

Hm.. mungkin saya lagi over analyzed sama makam-makam itu. Harusnya kan saya mikir something yang lebih spiritual ya... semacam siksa kubur, kehidupan akherat, hisab, dsb, dsb.... Ya, pikiran tentang itu jelas ada, tapi kalau saya butuh jawaban dari hal-hal itu, saya yakin punya Al-qur'an yang akan menjawab segalanya
Saya justru berpikir tentang....hidup. Yeah, hidup yang teramat singkat dan apa yang bisa kita  lakukan untuk mengisinya.

Entah bagaimana dengan orang lain, tapi salah satu kecemasan utama hidup saya adalah... tidak melakukan apa-apa yang cukup besar bagi orang lain. Saya takut hidup saya cuma numpang lewat, sehingga tidak ada kebaikan yang akan terus berjalan nanti setelah jatah usia saya habis... Saya takut orang-orang hanya akan mengingat dan mendoakan saya, let's say, 40 hari aja dari kepergian saya.. setelah itu whuzzzzz, melangkah maju dan saya, Ega Asnatasia Maharani, benar-benar hanyalah sebuah nama.... orang tidak akan mengingat apa gunanya saya hidup.

Saya punya Ayah mertua, yang tidak sempat saya kenal karena beliau meninggal dunia ketika saya baru saja menjalin hubungan dengan putranya yang saat ini sudah berstatus suami saya. Saya tidak mengenal Ayah mertua saya ini... Secara fisik, saya hanya mengenalnya dari foto-foto beliau yang banyak tersimpan di rumah Blitar. Tapi saya ingat, suami pernah berkata bahwa salah satu cita-cita Bapak adalah kalau meninggal nanti ingin banyak yang melayat dan mendoakannya.
Dan keinginan inipun terkabul... meskipun saya hanya melihatnya dari video.. betapa banyaknya masyarakat Blitar yang mengantar Bapak ke peristirahatan terakhirnya. Saya rasa, ini bukan semata karena jabatan yang beliau miliki semasa hidup.... tapi dari caranya menjalani hidup. Tidak cuma sekali dua kali saya mendengar dari orang-orang yang bukan keluarga dekat beliau, menceritakan bagaimana Bapak menjalani hidupnya dengan kebaikan. No wonder begitu banyak orang yang bersedih ketika Bapak wafat, dan mendoakannya..... hingga saat ini....
Kalau saja saya punya waktu untuk mengenalnya, dan belajar lebih jauh tentang kebaikan-kebaikan hidup....

Lalu, masih di hari yang sama... saya menonton film bagus di bioskop. Judulnya Machine Gun Preacher... bercerita tentang seorang mantan pecandu narkoba yang akhirnya membaktikan hidupnya untuk membantu anak-anak Afrika dengan segala yang ia miliki. Garis bawah: dengan segala yang ia miliki, termasuk kekayaan pribadinya, dan pada titik tertentu... keluarganya. Tapi Sam Childers tetap melakukannya dengan keyakinan bahwa yang ia lakukan adalah panggilan jiwanya........ (ok saya mesti stop cerita filmnya disini, kalo engga jadi review film lagi :p)

Film itu, pertanyaan-pertanyaan di makam, dan ingatan saya tentang Ayah mertua membuat saya mengevaluasi lagi hal-hal yang sudah saya lakukan dalam hidup.. yang sekiranya bisa terus ada hingga lamaaaaa setelah saya tiada....
Ternyata, yang muncul adalah... perjalanan dalam langkah-langkah kecil. Seperti slogan sebuah pusat pendidikan anak di Jogja, Small Step Big Step!
Saya jadi malu sendiri... kenapa juga saya selalu takut tidak melakukan hal-hal besar, padahal yang seharusnya saya lakukan adalah melakukan langkah-langkah kecil? Trevor hanya berpikir untuk mengajak orang untuk saling mengasihi ketika ia memulai eksperimen "Pay It Forward" yang akhirnya menjadi sebuah gerakan besar yang mengajak orang berbuat baik. Valencia Mieke Randa hanya berpikir ingin menolong pasien yang membutuhkan darah ketika pertama membangun "Blood for Life", dan kini menjadi gerakan sosial besar dengan manfaat yang sudah dirasakan masyarakat luas. Harry Moseley  hanya berpikir ingin menyumbang untuk penelitian kanker otak (penyakit yg diderita sahabatnya, sementara ia sendiri menderita tumor otak) ketika ia membuat gelang manik-manik dan menjualnya seharga 2 poundsterling, sebelum akhirnya menjadi gerakan fundraising "Harry Help Others" dengan hasil jutaan poundsterling.
Mereka adalah orang-orang dengan ide sederhana, langkah sederhana, dengan gema yang luar biasa besarnya...............

Saya pikir kita semuapun harusnya begini ya.... tidak melulu fokus pada hal-hal besar, tetapi jg meluangkan waktu untuk melakukan hal-hal sederhana. Siapa tahu, justru dari kesederhanaan itu maka jalannya akan jauh lebih mudah, lalu efeknya justru lebih besar dari perkiraan sebelumnya. Mungkin, ini juga yang menjadi sumber kehampaan hidup bagi kebanyakan orang, terutama mereka yang hidupnya selalu menetapkan target... Mereka luput melihat langkah-langkah kecilnya dan menjadikan itu bermakna. Mereka, dan juga saya, sering lupa bahwa satu bantuan kecil, satu senyum tulus, satu kata-kata sederhana bisa jadi sesuatu yang besar bagi orang lain....

Saya? Saya tidak akan memaksakan diri menjadi siapapun.... Saya, hanya ingin setulus hati menikmati perjalanan-perjalanan kecil saya.. menyentuh kehidupan orang lain sebanyak yang mungkin saya lakukan. Beruntung saya diberikan jalan untuk menemukan ilmu yang saya cintai, Psikologi.. dimana saya belajar banyak hal tentang kehidupan manusia....tentang semesta, tentang rasa..... Ilmu ini memungkinkan saya melakukan hal itu, menyentuh kehidupan orang lain.
Saya ga muluk-muluk kalo bilang pengen ikut andil make a world better place... saya nggak akan mengerdilkan diri saya, karena.. satu kehidupan saja berhasil saya sentuh dan berubah lebih baik..itu artinya saya sudah membantu dunia ini....

Minggu ini, 2 orang adik angkatan saya yang pintar-pintar menunjukkan bahwa saya, dengan kapabilitas yang saya miliki sekarang, mampu meng-inspirasi mereka....... Apresiasi mereka manis banget, sampe saya malu sendiri..... :p . Tidak dalam arti bikin saya Ge-eR, tapi menjadi semacam doping bahwa ya, saya tetap ingin melakukan perjalanan-perjalanan kecil yang bermakna ini.... Bahagia banget rasanya kalau orang lain dalam proses hidupnya sekarang atau kelak, bisa merasakan kebahagiaan / kebaikan dan mereka mengingat nama saya pada moment itu.... Apresiasi mereka menjadi bukti nyata, bahwa saya bisa melakukan sesuatu yang sungguh-sungguh bermanfaat bagi orang lain. Sebelumnya, jika ada klien / teman yang mengucapkan apresiasi semacam ini, saya cuma bisa malu dan ga percaya....... Tapi sekarang, pemikiran tentang langkah-langkah kecil ini menyadarkan banget agar saya tidak mengerdilkan diri dan menerimanya sebagai pendorong untuk langkah-langkah selanjutnya.......

Saya jadi inget omongan saya sendiri... "Terkadang kita memang tidak perlu tahu apa yang ada 100 meter di depan. Berhenti memikirkannya, dan nikmati saja 10-20 langkah ke depan....". Saya yakin, spirit sederhana ini jugalah yang ada dalam diri Trevor, Mieke Valencia Randa, Harry Moseley, Bapak, dan jutaan inspirator dunia lainnya yang menyentuh dunia dengan caranya masing-masing.....
Small Step... is a BIG STEP!

Friday, December 9, 2011

Mendengar dengan Hati

"The gunfire around us makes it hard to hear. But the human voice is different from other sounds. It can be heard over noises that bury everything else. Even when it's not shouting. Even when it's just a whisper. Even the lowest whisper can be heard - -over armies... when it's telling the truth. "
       - Zuwanie, The Interpreter (reading from the dedication of the book he wrote decades earlier) -

Jika saya adalah pemimpin rakyat, seorang anggota DPD... saya yakin akan banyak sekali suara-suara yg saya dengar. Entah suara dari pendukung, musuh-musuh politik, pihak2 yg berkepentingan, hingga suara rakyat yang saya wakili... Saya jg yakin dengan banyaknya suara ini bisa jadi saya akan tersesat, salah mengambil keputusan, bersikap ragu-ragu, atau justru tidak melakukan apa-apa....

Maka, jika ini terjadi... saya akan kembali pada suara lirih yang tidak akan teredam oleh apapun. Suara yang mungkin sudah lama saya tinggalkan sejak saya beranjak dewasa karena semakin banyaknya urusan yang harus saya pikul. Suara yg tdk akan teracun oleh uang, kekuasaan, nafsu.... Suara hati nurani saya sendiri..

Ya,,saya akan mengambil jarak sejenak dari suara-suara lain, dan dalam keheningan yg singkat itu berdialog kembali dengan diri saya. Kembali pada cita-cita saya menjadi pemimpin, pada amanah politik yg saya emban, dan tentu saja....pada kebenaran.

Saturday, December 3, 2011

Muvee Review: Breaking Dawn part 1

Saya suka film! Dan kayaknya kesukaan ini memberi hak bagi saya untuk nyampah-nyampahin, mengomentarin, dan memuji film-film yang saya tonton kan? aheeeee.... here we go! my 1st muvee review!


Breaking Dawn part 1
My score: 5 (baca: tidak terlalu memuaskan)




Menurut saya, membuat film berdasar novel ada kelebihan n kekurangan sendiri. Kelebihannya, udah ada jalur yang jelas tentang karakter, setting, alur cerita, dll. Kekurangannya, pembuat film harus pinter menuangkan deskripsi verbal ke dalam bentuk visual dengan ringkas, tapi esensi filmnya tetap terasa. Novel yang sudah meledak di pasaran duluan seperti Harry Potter, Eat Pray Love, The Da Vinci Code, The Graduate, My Sister's Keepers dan Twilight Saga tentu saja sudah punya penggemar fanatik masing-masing... dan tentu saja tidak mudah memuaskan imajinasi yang sudah mereka miliki tentang cerita itu ke dalam suguhan visual dan audio.

Sejak seri pertamanya ditayangkan, Twilight Saga cukup mampu memuaskan imajinasi ini. Warna-warna yang sendu dan dingin tergambar jelas di setiap adegannya dan jelas sangat membantu untuk mengantarkan atmosfer romantis ke dalamnya. Begitupun dengan special effectnya.. Cukup keren, tapi belum bisa menandingi kelasnya Avatar atau Harry Potter sekalipun. Beberapa adegan masih terlihat kasar penggarapannya seperti ketika transformasi Jacob Black menjadi serigala... keliatan banget efek green screen nya. Thankfully, di seri terakhir ini masalah special effect sudah sangat baik teratasi, seperti dalam adegan dimana Bella bertransformasi menjadi vampir. Cantik banget perubahan kulitnya dari yang kering, kusam, dan kurus jadi bercahaya kaya' porselen itu...
Saya merasa sangat dipuaskan dalam detail di seri Breaking Dawn ini. Gaun pengantin Bella, dekorasi pernikahan, sampe Villa di Pulau Esme diberikan porsi yang lebih untuk "tampil". Ditandai dengan cukup lama nya pengambilan gambar untuk scene-scene yang memuat hal-hal ini... bahkan kadang, terlalu lama.. sehingga porsi untuk adegan-adegan penting lain seolah tercuri karena "keharusan" memuaskan dahaga penonton dengan keindahan detail-detail itu.

Sayangnyaa... yang tidak berkembang sejak seri pertama hingga sekarang adalah... akting pemain-pemainnya! Frustasi bener saya melihat akting ke-3 aktor utamanya (Robert Pattionson, Kirsten Stewart, Taylor Lautner) yang datar-datar aja tanpa emosi yang kuat. Padahal semua pembaca tahu betapa luar biasanya chemistry antara Bella-Edward dan Bella-Jacob.. Tapi ternyata chemistry ini gagal disampaikan baik lewat bahasa tubuh, kontak mata, maupun setiap gerakan yang mereka lakukan.  Ngeliat akting mereka tuh saya jadi inget sama akting pemain sinetron lokal yang mendadak dapet peran penting gitu deh... hehehe... Ga ada intensitas, ga ada passion, ga ada kekuatan yang bikin saya percaya bahwa mereka sebegitunya saling mencintai. Yang paling ketolong sih Robert Pattinson ya, karena karakter Edward kebetulan memang sedingin es, sehingga dia memang ga bisa banyak bergerak. Tapi seperti saya bilang, bahkan dari kontak matapun chemistry ini ga tersampaikan dengan sempurna..... sayang banget ....

Kekurangan besar lain dari seri terakhir Twilight Saga ini adalah kurangnya dialog yang benar-benar bisa menggambarkan apa yang sedang terjadi saat itu. Well, harusnya si pembuat film tau kan bahwa penonton film ini belum tentu semua sudah membaca bukunya? Jadi harusnya deskripsi-deskripsi penting dalam adegan-adegan yang mereka putuskan untuk dibuat ya jangan sampai kelewat donk.... Seperti, adegan Bella berpamitan sama Ayah Ibunya setelah upacara pernikahan. Pembaca buku sudah pasti tahu bahwa kesedihan Bella saat itu karena ia tidak akan bertemu lagi dengan kedua orangtuanya, karena menurut rencana ia akan segera diubah menjadi vampir dan mustahil orangtuanya akan bertemu ia lagi dalam wujud "berbeda". Tapi sayangnya, penjelasan / dialog mengenai ini tidak ada sehingga penonton yang belum membaca bukunya pasti ngga dapet sense kesedihan itu... Hal yang sama juga tampak di adegan Jacob marah pada Bella ketika tahu Bella-Edward akan bulan madu sebelum Bella diubah jadi vampir, adegan kenapa Bella memilih Rosalie untuk melindunginya, adegan kenapa keluarga Cullen ketakutan akan janin Bella (seingat saya tidak dijelaskan soal anak-anak immortal), adegan kenapa dan bagaimana ketika ke-alfa-an jacob mulai muncul, sampai adegan yang seharusnya menjelaskan tentang "imprint" (saya bahkan tidak melihat kata-kata "imprint" ditulis sebagaimana mestinya) sehingga akhirnya penonton juga kurang dapet sense nya ketika terjadi imprint antara Jacob-Renesmee.

Saya rasa kesalahan memang terletak pada dialognya, karena gaya cerita dalam buku serial Twilight Saga: Breaking Dawn memang mengambil sudut pandang orang pertama. Gaya penulisan ini memungkinkan penulis menggambarkan pikiran dan perasaan karakternya secara mendalam. Nah sayangnya, karena keterbatasan film, gaya bicara orang pertama ini sulit dilakukan sehingga jalan satu-satunya menjelaskan isi kepala masing-masing karakter ya lewat dialog yang diracik dengan ringkas tapi tepat sasaran. Padahal, hal ini juga sebenarnya ga mustahil2 amat dilakukan kok... seperti adegan ketika Leah menceritakan kenapa dia memilih ikut kawanan Jacob, dalam beberapa kalimat ringkas sudah bisa tertangkap bahwa: Leah tersiksa karena imprint antara mantan pacarnya (Sam) dengan sepupunya (Emily), Leah tersiksa karena kemampuan mereka saling membaca pikiran, dan betapa bencinya ia pada keluarga Cullen. jadi seharusnya dialog-dialog efektif semacam ini bisa diterapkan juga di semua adegan penting lainnya.

Kalo boleh sedikittt mengomentari cerita Twilight Saga keseluruhan, saya sebenarnya ngga terlalu suka dengan ending ceritanya yang dipaksakan perfectly happy for everyone. Jacob yang meng imprint Renesmee, kemudahan Charlie menerima Bella yang "baru" dan Renesmee, kemudahan Bella melalui masa-masa awal ke-vampir-an-nya, sampe kemarahan keluarga Volturi yang ternyata nggak segitunya... Entahlah, buat saya jadi terlalu dongeng aja gitu. Ga ada yg berduka, ga ada kesedihan, ga ada pengorbanan, dan ga ada kesulitan yang terbukti benar-benar sulit...
Yah..tapi banyak orang memang suka dengan tipe cerita seperti ini kan? Karena ada janji yang cukup besar disana: HARAPAN..... Harapan bahwa kehidupan dongeng yang aneh tapi serba bahagia itu ada........... Apalagi karakter Edward n Bella, dan kisah cinta mereka yang mewakili banget imajinasi percintaan bagi pembacanya, terutama kaum perempuan. heheheee...

Hmm... ga sabar tunggu November tahun depan untuk Breaking Dawn part 2. Semoga, bagian keduanya lebih sempurna lagi sehingga bener-bener bisa jadi cherry on top in a piece of ice cream! ^^

Monday, November 28, 2011

Best Friends

       "Best friend never lies just to make you happy... They will always tell you the truth, they may say the most hurtfull words...but with the best intention"
"Best friends are like heartbeats.... You may not hear them frequently, but they silently support life!" 
" Best friends understand when you say forget it. Wait forever when you say just a minute. Stay when you say leave me alone. And open the door before you say come in"
"Everybody will be your friend when you're doing right things... Your true best friends will stick with you, support you even when you're doing the wrong things"
"I used to be normal till' i met those losers i call: my best friends"
"Best friends, it's not a label. It's a promise" 


Best friends.... Saya bisa mencari jutaan quote tentang hubungan antar-manusia yang unik ini. Di atas adalah sebagian quote yang saya sukai tentang sahabat. Suka, karena memang begitulah adanya sahabat bagi saya.... Mereka bukan sekedar "orang-orang di balik layar" dalam perjalanan hidup saya. Mereka nyata, utama, dan sama pentingnya dengan orang-orang yang saya cintai lainnya.......

Saya bukan orang yang memiliki banyak sahabat... ini karena pribadi saya memiliki banyak luka, sehingga hanya sedikit orang yang saya izinkan masuk dan dekat dengan saya, untuk kemudian melihat diri saya apa adanya.. Di antara yang sedikit ini, Alhamdulillah...saya dipertemukan dengan orang-orang terbaik. Saya memiliki catatan yang panjang bersama mereka... Kami tumbuh bersama, melakukan kesalahan bersama, dan belajar bersama.... Tidak selalu lewat cara yang menyenangkan tentu saja, tetapi sahabat memang tidak mengenal musim bukan? Seperti janji pernikahan, through the bad day... and the good day..... Seperti itulah juga seharusnya ikatan persahabatan.

Dan tanpa mengurangi cinta saya pada semua sahabat-sahabat lain... Tulisan ini saya dedikasikan khusus untuk sahabat-sahabat yang justru baru pada tahun-tahun terakhir ini saya kenal.... Mereka adalah......

NICE
Saya mengenalnya sejak hari pertama kuliah pra-profesi Mapro Klinis UGM angkatan VI.. lebih tepatnya, orang kedua yang saya kenal di pagi itu. Sejak pertama saya sudah merasa diterima dengan ramah olehnya, dia tidak segan menceritakan dan bertanya banyak hal pada saya. Di saat-saat kemudian, kualitas inilah yang menurut saya menonjol pada Nice... Dia sangat terbuka, mudah bergaul, bubbly personality.... persis seperti namanya, NICE. Tinggalin dia di tempat asing 2 menit aja, dan dia pasti udah dengan mudah ngobrol dengan siapa aja disitu... Karena kualitas ini Nice punya banyak teman, bahkan jauh lebih banyak dari saya yang asli Jogja. Padahal Nice tinggal disini baru sejak S1.... keren ya??
Kami jadi sahabat secara alamiah, karena ternyata punya banyak kesamaan. Sama-sama doyan ngomong, cablak, suka gosipin artis, dan punya sense of humor di level yang sama. Yang bikin saya terharu, Nice ini inget sama semua detail-detail tentang saya... dari kebiasaan jelek saya yang suka naruh handuk sembarangan, belanja ga pikir-pikir, nyetir sambil multitask (tlp / bbm an) , gak pede-an, sampe semua hal-hal baik pada diri sayapun dia peka banget. Gak kerasa  deh kalau dia usianya lebih muda dari saya... karena selain sifat-sifat itu, dia brilian luar biasa. Pintar tanpa harus berusaha keras tampak pintar... Tahu banyak hal karena luasnya pergaulan yang dia punya..
Saya merasa.. emotionally related bgt sama sahabat yang satu ini, karena saya ngerasain betul sayangnya dia sama saya. Rela nganterin saya kemana-mana, nemenin tanpa protes, selalu dengerin keluhan saya tanpa judgement, dan branding saya terus-menerus (dia yg paham kalo saya ni cocoknya jadi psikolog cinta :p, dia yang percaya saya jago urusan dagang, dia yang yakin saya bisa jadi penulis hebat suatu saat nanti, dan dia bahkan heboh saya ni cocok jadi artis :D) . Gila kan? lebih gilanya lagi dia melakukan ini tanpa jeda..... Sepanjang-panjang usia saya sahabatan sama dia, dorongan-dorongan aneh bin ajaib ini terus dia lakukan.. dan somehow, membuat saya percaya bahwa saya "special". Udah ga terhitung deh, jutaan kata-kata supportifnya ke saya.. tentang betapa hebat nya saya.....
Kalimat-kalimat khasnya yang hampir tiap hari saya dengar adalah: "boy pasang seatbelt!" -tiap kali masuk mobil- , "kamu beli itu mau dipake kemana? kapan? padanannya apa? udah punya yang mirip belom?" -kalo saya lagi ngawur belanja-, "ediaannn, ebbaatt beut" -kalo saya lagi melakukan something great- . "maju boy" / "awas boy" / "pelan-pelan" -kalo saya lagi multitask nyetir-.
Care..care..care... Nice always care about me... Dia punya kapasitas luar biasa untuk peduli dan menyayangi orang lain...... dan saya belajar itu darinya.....

UBUNG & UCUP
Meet this 2 amazing person : Supriadi Hardianto & Sekar Putri Ardiyati (Ucup n Ubung, disingkat jadi Bungcup). Buat saya mereka ini 2 orang dalam 1 paket hebat.... Karena sejak persahabatan mereka naik status jadi berpasangan, mereka adalah 1 paket utuh yang luar biasa baiknya. Saya ga pernah ketemu orang-orang secerdas dan serendah hati mereka.... Bungcup punya ruang yang sangat besar untuk orang lain. Secapek apapun, sepenuh apapun urusan mereka, ga pernah mereka merasa berat memikirkan orang lain.... Saya sendiri merasa, kapasitas mental saya jauhhh di bawah mereka.... Tapi Bungcup juga ga pernah merendahkan saya karena ini, mereka terus menerus lifting up saya karena mereka yakin sama kemampuan saya.....
Saya sayang banget sama Ubung..... di sampingnya selalu terasa hangat karena Ubung ini nurturant tingkat dewa. Mungkin karena usianya lebih tua dari kami, makanya saya selalu ngerasa "aman" sama dia... Selalu ngomong dengan lembut, dan siap nolong saya kapanpun saya butuh... Pinter masak, jago bahasa Belanda, dan punya banyaaakkk banget value baik dalam hidupnya. Meskipun gitu, Ubung ngga pernah sok-sok ngajarin saya karena merasa lebih berpengalaman... Semuanya value nya dibagi dengan cara yang menyenangkan.
Saya juga sayang banget sama Ucup, satu-satunya cowok di antara kami yang gak saya anggep cowok. Hehehe... Tempat saya bertanya macem-macem hal ya Ucup ini, karena dia cerdasnya kebangetan! Mekipun kadang bahasanya suka ga saya pahami saking pinternya dia.... Ucup berubah banget dari yang awalnya dulu cowok -tampak- songong, jadi sangat rendah hati n pengalah... Mungkin karena dia kelamaan gaul sama kami, cewek-cewek ribet ini... Darinya, saya ga hanya sekedar curi ilmu, tapi sebagai contoh bukti hidup bahwa ilmu padi itu benar adanya. Semakin cerdas dan tinggi pencapaiannya, semakin merunduk pula kepribadian Ucup...

Ga akan cukup kata-kata saya menggambarkan mereka, apalagi menggambarkan bagaimana saya merasa terhormat menjadi sahabat Nice, Ubung, n Ucup. Saya menulis ini, karena sungguh merasa sudah menerima terlalu banyak dari mereka... lebih dari yang pantas saya terima....
Kami mungkin baru bersahabat kurang dari 2 tahun terakhir ini, tapi intensitasnya ternyata sangat sangat pekat. Mungkin karena kami sama-sama kuliah di Psikologi Klinis, sehingga bisa saling memonitor pribadi masing-masing... Tapi saya lebih suka percaya, bahwa saya memang dipertemukan dengan orang-orang hebat ini untuk meningkatkan kualitas saya pribadi... Bukan karena ilmu mereka sebagai Psikolog, tapi karena luasnya hati mereka untuk memberi tanpa menghitung apakah sudah cukup menerima dari saya.
Kami pun pernah mengalami masa-masa rapuh. Kami bertengkar, mengkritik, terlibat terlalu jauh, sok tahu, tidak setuju atas perilaku masing-masing... Tapi justru dari situ kami paham betapa cocoknya kami jadi sahabat, karena ternyata tidak ada satupun hal itu yang cukup membuat kami membenci satu sama lain. Kami jadi  lebih dalam saling mengenal, ga hanya antara kami tapi juga dengan diri kami sendiri....

Saya percaya.. seperti halnya belahan jiwa... diri kita diciptakan untuk menjadi sahabat orang lain. Kalau untuk menjadi pasangan saja yang dicari adalah kualitas sahabat, berarti memang sebegitu pentingnya kan menjadi seorang sahabat dan memiliki sahabat? Karena sahabat ini label tanpa pamrih.... tidak ada hak dan kewajiban mengikat.... hanya kasih sayang, tidak menghakimi.....

Untuk Boboy-Boboy ku tersayang.......
Dulu kita adalah orang-orang asing, sekarang kita tanpa topeng.......
Dulu kita adalah makhluk-makhluk kesepian, sekarang kita bersama dalam kesepian.....
Dulu kita mencari kesamaan, sekarang lihatlah betapa berbedanya kita dan tetap saling menyayangi....
Dulu kita terpisah, sekarang kita terpisah lagi..... tapi lihatlah betapa kita menjadi lebih dekat.....


Be good ya boboy-boboyku yang sedang menjemput suksesnya masing-masing.... Selalu ada banyak cinta untuk kalian disini!





Tuesday, November 22, 2011

Lose some, Gain more!

whow..it's been a month since my last wrote. I dont even think i was drowning that long. Drowning?? Yess! Saya baru aja kembali dari proses tenggelam yang cukup lama ternyata.... hehehe.. Kurang lebih 3 minggu yang lalu saya dikasih ujian dengan adanya tanda-tanda kehamilan yang saya rasain... Dari yang "abu-abu" kaya mood ga stabil, pusing, sakit pinggang n punggung, dan perubahan-perubahan di bagian kewanitaan saya, sampe tanda yg jelas: telat haid. Alhamdulillah saya termasuk perempuan yang haid nya selalu teratur, jadi telat satu hari aja dah amazing... Saat itu sih saya menahan diri bgt untuk ga buru-buru girang karena toh juga belum ketauan positif. Tapi hati ga bisa bohong, semakin lama saya telat... harapan tu semakin tinggi.
And bham!!ketika akhirnya saya justru haid, rasanya kaya' jatuh yang sakit kit kiiittttt.....! Saya nangis deh seharian. Si cengeng dalam diri saya benar-benar mengambil alih. Saya merasa tolol karena ke-GR-an membaca tanda-tanda..... Padahal sebenarnya, saya ini bukan orang yg suka berharap-harap. Saya tipe cewek plan B,C,D, dan seterusnya kalo plan A ga berjalan. Fleksible banget pokoknya sama yg namanya target...... Jadi, kemarin itu pengalaman yang bisa dibilang baru dalam sejarah pengharapan di kehidupan rumah tangga saya...

Pukulan kedua dalam hal pekerjaan. Ceritanya nih, sekitar 2 bulan lalu saya dikompor-komporin suami untuk melamar job vacancy sebagai branch manager di sebuah klinik kecantikan. Ga nyambung bgt ya sama pendidikan saya?? Apalagi dgn posisi yang demikian bagus, plus kualifikasi saya yang no experience di bidang itu..kok kayanya mustahil bgt. Tapi saya dikomporin terus, karena suami tau salah satu passion saya memang di bidang kewanitaan, entah soal issue-issue psikologis sampe urusan kesehatan fisik dan fashion saya suka. Bukankah pekerjaan yg membahagiakan tu kalau ada passion di dalamnya?. Jadi begitulah, dengan semangat iseng akhirnya saya kirim juga application nya. Ga disangka sekitar sebulan setelahnya saya dipanggil dan mengikuti rangkaian test... dari interview, psikotest, sampe presentasi program! Proses yang lumayan bikin deg-deg an karena saya buta bgt sama hal-hal ini. Tapi ternyata semua berbuah manis karena manajemen klinik tsb ternya suka sama saya dan saya diterima untuk posisi itu. HAPPY! saya ngerasa seneng bgt bisa langsung ke posisi prestigious tanpa harus berlama-lama di "bawah"... Tapi masalahnya adalah: LOKASI. Ketika hari penandatanganan kontrak saya baru dapat kepastian bahwa saya boleh memilih memimpin 4 pilihan cabang: Jakarta, Malang, Salatiga, atau Purwokerto. Kesamaannya satu : JAUH. Padahal ini satu-satunya kendala saya... Sekeren apapun pekerjaannya saya ngga mau jauh dari keluarga. Sehingga setelah diskusi yang cukup lama dengan pihak manajemen klinik, saya menolak pekerjaan itu......

Sedihnya, kedua hal ini datang bersamaan dan pergi bersamaan. Pukulannya dobel. Buat yang ngeliat nih pasti keliatannya sepele...cuma telat haid n ga jadi dapet kerjaan doank. Tapi yang menyakitkan buat saya adalah harapannya. Berharap tinggi kemudian jatuh tu suakit bgt ternyata. Saya yang biasa nya asyik-asyik aja sama proses hidup, kok ya bisa terpukul juga. Tapi pelajaran utama yg saya dapet ternyata adalah... lebih baik berharap terus jatuh daripada ngga merasakan apa-apa..! Karena sungguh, pengalaman kemarin ini worthy bgt karena saya jadi makin tau siapa saya dan siapa orang-orang di sekeliling saya....

Sebelumnya.. saya mana tahu kalo saya sebenernya kepingiiiinnnnnnn bgt punya baby. Saya pikir so-so aja lah..lagipula saya memang yakin akan dikasih momongan kalo memang sudah diizinkan sama Allah. Saya juga mikirnya, orang-orang di sekitar saya kaya orangtua dan mertua yang lebih menginginkan cucu daripada saya sendiri. Ternyata tidak.. ternyata saya menginginkannya juga, THAT MUCH! lebih dari yang saya pikir sebelumnya.
Saya juga jadi yakin, bahwa kemampuan saya lebih dari yang saya duga sebelumnya.. Buktinya, first shoot saya melamar pekerjaan di posisi yang cukup tinggi bisa saya dapetin. Padahal saya sebelumnya sering questioning kemampuan saya sendiri... ternyata, orang lain yang justru bisa melihat kapabilitas saya. Hal ini juga berkaitan dengan mindset saya yang sempit, berpikir kalo nantinya saya akan bekerja di bidang yg jelas-jelas "psikologi banget". Daaann yang mengejutkan adalah, ternyata ketika saya menjalani proses test di bidang yang saya kira "nggak psikologi" bgt itu, justru saya menemukan bahwa justru bidang ilmu psikologi ini memberi platform yang kuat bgt dalam diri saya. Mungkin banyak orang berpikir di posisi branch manager itu wilayahnya orang-orang ekonomi, atau psikologi industri lah.. tapi engga loh sodara-sodara! Ternya justru analisis berpikir klinis saya yang membuat mereka berpikir saya cocok untuk posisi itu.. dan analisis klinis saya juga lah yang membantu saya membuat program untuk saya presentasikan. Psikologi klinis rocks deh pokoknya! hehehehe.....

Tapi pelajaran yg paliinggg utama dari kesedihan kemarin adalah... betapa luar biasanya cinta keluarga dan teman-teman pada saya. Betapa mereka yakin dan selalu mensupport saya untuk selalu naik ke next level, dan ketika saya gagal pun mereka berbondong-bondong "memeluk" saya walaupun hanya lewat kata-kata.

Suami saya, tidak ada sepersekian detikpun dia menunjukkan raut wajah kecewa ketika saya akhirnya haid atau ketika saya bilang pekerjaan itu saya lepas... Dia malah tertawa dan mengelus pipi saya dengan ceria seperti biasanya. Ketika saya menangis, dia pun tetap ada dan berkata "yang bukan milik kita..memang belum tentu jadi milik kita. Yang sudah jadi milik kita aja bisa diambil, apalagi yang belum? Ga usah terlalu terikat sama hal-hal duniawi".... tembakan langsung ke hati saya deh! hahahaha... Belum lagi orangtua, mertua, saudara2, dan teman-teman yang ga brenti pompa semangat saya untuk maju lagi.... Ucapan sederhana dari orangtua dan mertua seperti "kami ngga papa kok dek", atau ucapan sahabat "akan ada waktu yang lebih tepat" tu sangat efektif menceriakan hari-hari saya yang sempat gloomy itu.

Sebenernya dengan kekuatan pendorong sebesar itu, saya memang cuma butuh 2 hari utk letting go dan bangkit lagi. Tapi saya butuh waktu lebih lama untuk mencerna hal-hal ini dan menginternalisasikannya.... kalau istilah saya, saya masuk dulu dalam "my bubble". Tempat dimana saya merenung, merasakan, berpikir, mengambil keputusan....
Dan sekarang... saya sudah siap banget untuk keluar... mengejar lagi mimpi-mimpi dan tugas-tugas yang belum selesai....... dengan tenaga extra NOS tentunya!

Sunday, October 23, 2011

Pengusaha / Seller / Reseller / Makelar / Preman ??!

"Do what you afraid to do, and success will follow"
            - Bill Rancic, "The Apprentice" & "Giulianna and Bill"-

Saya memulai karir perdagangan kira-kira tahun 2003. Waktu itu saya baru jadi mahasiswa dan mencoba-coba untuk dapat uang saku sendiri.. Akhirnya saya putuskan untuk bergabung jadi consultan Oriflame, salah satu merk kosmetik yang saat itu sistem penjualannya melalui networking (kata orang sih MLM) dengan media katalog untuk memperkenalkan produk-produknya. Lumayan, meskipun untungnya ga bisa saya rasain karena selalu saya pake untuk beli kosmetik juga, tapi saya mulai belajar cara persuasif untuk menjual dagangan saya. Berturut-turut setelah itu, saya juga berjualan pulsa, susu berkolostrum, pakaian pelangsing, baju-baju vintage, kain batik, dan banyaaakk lagi (saya ga inget saking banyaknya...hehehe.....). Pokoknya apapun yang bisa jadi peluang untuk dijual, saya lakukan! Level saya agak naik ketika di tahun 2007 saya dikasih jalan sama Allah untuk buka butik bersama sahabat saya. Dari sini segala sesuatu yang berhubungan dengan menjadi enterpreneur saya pelajari.. baik yang sifatnya teknis, operasional, sampe detail detail kecil... Dari yang sekedar berjualan, menjadi marketing, menjadi producing... semua step-stepnya alhamdulillah saya dapetin.

Sayapun akhirnya menemukan bahwa salah satu passion saya disini, jadi enterpreneur. Saya bercita-cita suatu saat nanti punya perusahaan yang world wide, yang punya berbagai jenis lini usaha. Menurut Wikipedia, enterpreneur adalah:  is an owner or manager of a business enterprise who makes money through risk and initiative. Dua karakteristik inilah yang menurut saya penting dan membedakan enterpreneur (pengusaha) dengan level dagang yang lain. Enterpreneur berani menanggung resiko dan berinisiatif, dalam arti mampu melihat peluang dan memiliki sudut pandang yang luas, ga sekedar cari laba, laba, dan laba. Sedihnya, justru saat ini saya sering sekali melihat seller-seller yang ga mikirin etika berdagang dan hanya mengutamakan cari untung. Hal ini terutama muncul sejak era shop online mulai marak, kenapa? karena buyer dan seller ngga ketemu langsung, dan seller ngga harus menyediakan barang langsung di depan buyer. Banyak ni barang-barang yang dijual online yang jelas-jelas palsu alias KW ditulis ORIGINAL. Deskripsinya juga beragam, dari yang katanya reject lah, dropship langsung dari produsen lah, sisa ekspor lah.... Saya ga nuduh semua seller yang mengklaim produknya ORI ini salah, karena memang mungkin info itulah yang didapat seller dari distributornya, sedangkan si seller hanya meneruskan info yang dia dapat. Tapi yang jadi korban dari "penipuan" ini jelas buyer kan? terlepas dari siapa yang ngga jujur mendeskripsikan barangnya.. sehingga menurut saya, harusnya semua seller lebih aware dan smart menilai dan menyelidiki apakah produknya asli atau palsu.

Saya beberapa kali kecewa karena barang yang diklaim ORI ini ternyata KW... Saya pernah coba dari kosmetik MAC, baju ZARA, sampe sepatu CONVERSE. Ternyata kualitasnya jauhhhhhhh.... Packagingnya aja mungkin mirip / asli, tapi produknya itu sendiri saya 100% yakin palsu. Saya bandingin sama produk-produk asli yang saya punya, duh..miris banget!

Persoalan palsu ni jg suka bikn greget ketika sekarang banyak banget baju-baju yang dijual dengan deskrpsi mencatut merk-merk terkenal itu. Hayo siapa yang sering melihat tulisan semacam : kemeja ZARA, dress Diane Von Furstenberg, kaos MANGO, celana BEBE bertebaran? mereka memang tidak mengklaim produknya asli, tapi di klaim terinspirasi alias mirip. hahaha...!! mirip apanya, terinspirasi apanya, kalau di toko aslinya produk semacam itu bahkan nggak ada?.
Paling parah sih menurut saya kalo produk palsu ini berkaitan sama kulit kaya kosmetik atau produk perawatan.. karena ni jelas-jelas bersentuhan sama organ tubuh kita, ngga skedar nempel kaya baju atau sepatu atau tas.... kok tega banget yah seller-seller itu? Kasian saya sama buyer di daerah yang mungkin di wilayahnya ga ada real store merk-merk yang dicatut si seller, sehingga ga bisa bandingin langsung.


Selain persoalan palsu ini, sebenernya masih banyak lagi etika berdagang yang dilanggar oleh seller-seller. Misalnya, terkait pelayanan ke customer. Menurut saya, berbelanja sistem online itu resiko terbesar ada pada customer... karena mereka ngga bisa melihat, menyentuh, atau mencoba barang secara langsung. Mereka hanya membeli berdasar informasi visual dan deskripsi barang. Nah, parahnya, banyak ni seller yang males meladeni customer online. Belom-belom udah nulis duluan, FOR SERIOUS BUYER ONLY. Apa sih definisi serious buyer? bertanya berarti membeli gitu? Ya ga bisa juga donk.. justru pertanyaan-pertanyaan itu yang nantinya menentukan apakah jawabannya bisa me-leading calon customer utk akhirnya membeli. Kalo persoalannya takut ada pembeli HIT and RUN,simple aja ..bikin aturan ketat! misal booked max 24 jam, atau DP untuk barang PO. Toh kalo customer ga bayar sisa DP nya, kita masih punya barang yang bisa dijual dan uang DP itu kan? Nggak rugi sama sekali... Sistem booked 24 jam tanpa pandang bulu juga bisa menyokong sistem waiting list sehingga ga ada istilah customer run. Masih sering kejadian Hit and Run? nah ini biasanya terjadi pada reseller model makelar (akan saya jelaskan di bawah). Pembeli pesan, reseller/makelar harus buru-buru order kalau ngga mau kehabisan dari reseller/ makelar lain, eehh di jalan customernya macet. Kayak gini namanya memang resiko, tapi resiko anda... wahai reseller/makelar! Salah siapa ngga punya stock barang sendiri??. Jadi, kasus hit and run bukanlah alasan untuk ngga kasih pelayanan maksimal untuk customer. Mereka berhak bertanya sedetail mungkin, dan penjual wajib menjawabnya sebaik mungkin.

Hal lain yang juga ganggu saya adalah model reseller yang sebenernya makelar. Reseller, bagi saya adalah seller dengan partai kecil yang memiliki stock barang dan menjualnya. Itu definisi ideal saya. Tapi nyatanya, sekarang di pasaran hampir semua orang berlagak jadi reseller, padahal sebenernya makelar. Mereka cuma punya foto aja, dipasang, nanti kalau ada buyer yang mau baru deh dipesenin ke  -sebutan mereka- distributor. Wow, benar-benar  minim resiko, ngga pake usaha keras mikirin strategi marketing dll. Modal pun sangat sangat minim , kalau ngga mau dibilang nol! Karena sebenernya mereka ini cuma perantara, ngambil untung di tengah-tengah seller dan customer. Oke buat yg baru aja memulai karir berdagang cara ini tergolong aman, tapi kalo seterusnya dipake... saya curiga mereka ini memang tipe yang idup mau enaknya doank. belum lagi kalau ada kasus customer ga puas karena barang ga sesuai dengan deskripsi..tau jawaban template semua reseller "makelar" ini? "Nanti disampaikan / ditanyakan ke distributor". Enak banget kan ga ada tanggungjwab? Lemparin semua ke seller aslinya, mereka tinggal terima untung. Padahal seharusnya transaksi jual-beli tu antara penjual dan pembeli. Perkara nanti dia mau komplain ke seller di atasnya (distributor / produsen) ya itu urusan dia, jangan dibebankan ke customer. Seller yang baik harus punya cara untuk memuaskan pelanggan, bukannya melempar kesalahan ke pihak lain dan membuat customer bingung.  Kalau seseorang memang memiliki modal minim, menurut saya tetap jadilah reseller yang sebenarnya. Punya stock barang sendiri sesedikit apapun, pikirkan bagaimana menjualnya, berani ambil resiko, lalu lakukan penjualab. Dengan begini integritas, etika, dan tanggungjwab benar-benar akan tumbuh, ga sekedar tau uang, uang, uang aja.  


Model terakhir dari rantai perdagangan ini adalah seller yang sebenernya preman. Model ini beneran ga punya etika dalam berdagang. Mereka ini ngambil gambar milik seller lain tanpa permisi, menjualnya dengan kenaikan harga seenak jidat, dan kalau ada complain dari customer melemparkan ke seller di atasnya (distributor / produsen) dan sebaliknya, kalau ada complain dari distributor / produsen terkait ketepatan membayar pesanan, dilemparkan juga kesalahan itu pada customer. Pokoknya prinsip hidup preman ini, "urusan orang lain gw ga mau tau yang penting gw dapet duit cepet". . Saya ga sekali dua kali aja ketemu sama preman begini nih, dan kalau saya konfrontir... jawaban "premannya" adalah "yang penting saya bantu supaya barang kamu laku kan?" . Duh sedih saya.... seolah-olah saya mau aja barang laku dengan cara apapun tanpa mempertimbangkan etika berdagang dan integritas reseller saya.

Saat ini saya merasa berada di posisi seller, tapi saya berusaha semaksimal mungkin menerapkan prinsip-prinsip enterpreneur dalam usaha yang saya lakukan karena saya tahu kesanalah titik yang saya tuju. Dalam proses inipun saya ga memungkiri banyak reseller dan "makelar" yang dateng ke saya dan mau menjadi bagian usaha kecil saya ini.. sehingga kompromi yang bisa saya lakukan adalah memberlakukan sistem yang berbeda untuk mereka yang serius menjadi reseller lepas dan reseller "makelar". Tentu saja, mereka yang berani jadi reseller seungguhan saya apresiasi dengan memberikan potongan harga yang lebih banyak dibanding reseller model lain.

There, akhirnya terungkap juga uneg-uneg saya. Saya bukannya mau sok senior, berasa tau banget seharusnya seperti apakah roda perdagangan berjalan. Sayapun masih belajar dan melakukan buanyaakkk sekali kesalahan. Tapi salah satu yang saya pelajari, bahwa integritas, dalam hal apapun yang kita lakukan sangat penting. Karena tidak semuanya tentang uang, meskipun itulah salah satu tujuan orang bekerja... Dalam bekerja pun kita harus mengembangkan diri, harus jadi orang yang lebih baik bahkan dalam hal-hal kecil..itulah yang berusaha saya bagi kepada sebanyak mungkin orang...

Mungkin, banyak orang "tidak sengaja" melakukan kesalahan-kesalahan seperti yang saya tulis itu karena mereka takut. Takut gagal, takut modalnya habis, takut dicap ngga becus berjualan, takut ngga dapet laba...
Well, i tell u something... rasa takut itu, adalah satu-satunya pembatas kita dengan yang namanya kesuksesan. Jadi kalau kita ngga punya keberanian untuk melewatinya, jangan harap kesuksesan juga akan kita temui. Lakukan apa yang membuatmu takut, karena biasanya sense takut itu justru pertanda bahwa kamu tahu disitulah potensimu berada.

Mau berdagang setelah ini? tentukan dulu, mau jadi enterpreneur / seller / reseller / makelar / preman?? Karena masing-masing punya intensitas ketakutan yang berbeda, dan menawarkan level kesuksesan yang berbeda juga!

Thursday, October 20, 2011

Birthday @ X.O Suki & Dimsum!

Kemarin, suami saya menginjak usia 29 tahun..yaiy! Biasanya sih dia selalu lupa sama hari ulang tahunnya.. nggak peduli malah..hehehe.. Katanya siihh dia males balesin ucapan happy birthday. Tapi saya curiga alasan sebenarnya karena dia nggak mau menua. Hahaha! Makanya sejak kenal saya kurang lebih 2,5 tahun lalu saya berusaha menularkan sense of banci ultah ke suami saya. Akhirnya tahun ini, meski tetap tidak heboh... saya rasa cukup sukses membuatnya ingat dengan hari kelahirannya dan menikmati bertambahnya umur itu. Happy Birthday, suamiku yang super light.....!

MORNING SURPRISEEEEEEE...... !

Kopi, kue, dan tas kerja baru!

sembuurrrrr...!


DINNER DO @ Super tasty X.O Dimsum & Suki






                                                              YUM-YUM FOOD!
Sukiyaki with mix seafood, meat, and vegetables

Two tone pink: Guava & my baby

Udah jelas kan kalo ini nasi??

Tahu susun X.O yang bikin mabok enaknyaaa...!

seafood fried rice 
Note: XO Suki & Dimsum ini resto baru di Ambarrukmo Plaza. Menu utamanya suki yang bisa dipilih sendiri ingredients nya, dari yang standar kaya beef slice, meatball, sampe yang lucu-lucu kaya bibir ikan, ubur-ubur, dan seafood lain yang namanya susah, hihihi. Dsini juga sedia menu selain suki kok, kaya tahu cumi cabe garam, kepiting soka, ayam goreng mongolia, banyak deh... cocok buat tempat makan keluarga. Very reccomended!

Tuesday, October 11, 2011

ParentHood

"....i hope u feel what u never felt before. I hope u meet people with a different point of view. Hope u live life that u proud of...and if u're not, i hope u have strength to start all over again..."
          - Benjamin Button, Curious Case of Benjamin Button- (Letter to his unseen daughter)


Beberapa hari yang lalu saya baru aja mengunjungi baby shop. Bukaaan, bukan karena saya persiapan menyambut bayi, tapi saya berniat beliin kado untuk saudara yang baru aja melahirkan. Tercengang, terpesona, dan terkagum saya dibuatnya (untung ga sampe terjengkang...) karena disana ada banyaaakkk banget pernik-pernik bayi dan anak yang lucu, unik, bahkan canggih. Semuanya dijual untuk memudahkan tugas orangtua dalam mengurus anaknya. Otak dagang saya langsung muter n mikir "hmm...peralatan bayi ni pasarnya lumayan deh pasti..karena anak kan kebutuhan n pertumbuhannya cepat. Belum lagi orangtua jaman sekarang yang pengen anaknya dapet peralatan terbaik..."

But wait!!
Saya sendiri langsung terhenti begitu pikiran ini pop-up di kepala. Saya mikir, benarkah? Benarkan peralatan-peralatan canggih ini yang diperlukan seorang anak untuk tumbuh dengan baik? Benarkah ini sungguh kebutuhan anak, dan bukan kebutuhan orangtuanya?

Saya mungkin sekarang masih berstatus anak, saya belum jadi orangtua... Tapi jujur aja, banyak kelakuan orangtua jaman sekarang yang bikin saya geli. Mau contoh? Nih...: mengikutsertakan anak usia kurang dari 3 tahun untuk ikut kontes "model2an" dan bikinin anak account facebook! Saya sih menganggap itu konyol, karena porsi terbesar keuntungan ada pada orangtuanya. I mean, mau dibuat apa trophy kemenangan kontes itu untuk anak? Alasan yang dikemukakan -mungkin- supaya si anak dibiasakan punya prestasi sejak kecil, atau melatih anak supaya berani tampil di muka umum. ... Tapi coba dipikir, apa iya trophy itu akan bermanfaat untu kehidupan si anak selanjutnya? Apa si anak kelak akan punya kebanggaan sebesar orangtuanya melihat trophy itu?
Lalu facebook... apa gunanya anak dibuatkan account yang dia sendiri bahkan belum tahu apa itu internet ?(dan pada masa dia sudah mulai tahu, giliran orangtua yang panik dengan efek internet itu sendiri) Untuk lucu-lucuan? Supaya si anak populer di dunia maya?
Hmmm... sorry to say, tapi menurut saya jawabannya simple: itu semua dilakukan karena kebutuhan orangtuanya. Kebutuhan apa? entahlah.... bisa kebutuhan untuk ngeksis, diakui, atau sekedar kebutuhan memberi diri sendiri "reward" atas fungsi ke-orangtua-an nya.

Sama seperti toko bayi yang menyediakan segala pernik canggih itu..... Saya jadi bertanya, berapa banyak ya  orangtua yang membeli benar-benar sesuai kebutuhan anak? Botol susu dengan bentuk yang dibuat menyerupai puting ibu agar si bayi terstimulasi dengan baik motorik dan pertumbuhan giginya, menurut saya tetap ga bisa ngalahin puting susu ibu. Mainan yang bisa mengeluarkan suara-suara lucu, menurut saya belum bisa ngalahin canda tawa yang dilakukan orangtua. Kursi bayi keren dengan logo brand yang gede banget di tengahnya, menurut saya masih kalah sama buaian / gendongan orangtuanya.

Hmm...saya bukannya mau nyinyir sama peralatan2 itu, karena saya tau peralatan itu dibuat untuk memudahkan tugas-tugas orangtua. Saya tau pada derajat tertentu anak-anak memang membutuhkannya.... Mereka butuh mainan edukatif yang menstimulasi perkembangan, mereka butuh pakaian yang nyaman, mereka butuh asupan terbaik... Apalagi dalam kasus-kasus tertentu, bantuan dari alat-alat ini sangat diperlukan, misalnya botol penyimpanan ASI bagi ibu yang ASInya melimpah agar selalu terjaga kualitasnya...

Saya ini nyinyir-in NIAT orangtuanya. Karena faktanya, banyak sekali anak yang ngga dapetin kebutuhan mereka yang sesungguhnya baik fisik, emosi, maupun sosialnya. Orangtua yang terlalu sibuk misalnya... melimpahi anak-anak mereka dengan kebutuhan tersier yang super mewah, tapi kebutuhan dasar anak untuk dipeluk saja diserahkan ke pengasuh... sampai-sampai si anak lebih nempel sama pengasuh daripada orangtuanya. Orangtua yang males, ga mau repot bikinin anak makanan rumah dengan bahan-bahan asli, justru menggelontor anak dengan makanan buatan yang melimpah di pasaran dan di klaim produsennya mampu memenuhi asupan gizi secara sempurna. Orangtua yang peduli hanya pada perkembangan anak yang kasat mata, sibuk memperbagus tampilan anak, tapi tetep aja di depan anak bicara kasar atau memberi contoh sikap buruk lainnya. Orangtua yang gengsi an, rela masukin anak ke sekolah mahal dengan embel-embel "internasional" tanpa melihat apakah sekolah itu memenuhi kebutuhan anaknya akan pendidikan atau tidak. Orangtua yang melek teknologi, sibuk membekali anak dengan blackberry sejak dini, tapi mendengarkan cerita anak tentang kegiatannya saja nggak sempat.....

Sungguh contoh-contoh itu bukan karangan saya saja..tapi terjadi di sekeliling kita sekarang.

Pada tulisan sebelumnya saya sedikit menyinggung tentang "living in others dream". Bahwa kita, seringkali dibesarkan dengan mimpi-mimpi orang lain yang secara ga sadar dipaksakan seolah-olah itu mimpi kita juga. Menurut saya, bibit dari perilaku ini ya orangtua.... karena sejak si anak kecil, orangtuanya sendiri bingung mana yang sebenanrnya kebutuhan dirinya, dan mana kebutuhan putra-putrinya. Mungkin awalnya hanya kontes, facebook, alat-alat canggih.... namun lama kelamaan "pemaksaan kebutuhan" ini bertransformasi jadi gaya hidup dan cita-cita anak. Meskipun banyak orangtua yang ber statement "terserah anak mau jadi apa, kami hanya mendukung", tapi berapa banyak dari mereka yang restu dari awal jika anaknya memilih jadi, hairdresser misalnya? atau jadi ahli kimia? atau memilih fakultas yang ga populer semacam sastra jawa? Akibatnya, ga sedikit anak yang tumbuh dalam kekosongan... karena ia ga sempat membesarkan mimpi-mimpinya sendiri.

Menjadi orangtua, memang tugas yang maha berat. Bahkan sejak anak dalam kandungan pun, nutrisi emosi sudah dibagikan oleh ibu kepada calon bayinya... dan tugas ini akan terus berlanjut sampai ruh berpisah dari jasadnya. Namun bukan berarti tugas ini harus ditanggapi dengan superior, menganggap kita yang paling paham kebutuhan anak. Mereka pun makhluk hidup yang punya suara, punya keinginan dan kebutuhan. Mudah kok resepnya: dengarkan, rasakan..... Maka kita akan tahu bedanya mana kebutuhan milik kita dan milik anak.

Quote yang saya cantumkan di awal tulisan ini benar-benar menyentuh saya... Karena rasa-rasanya masih langka ya orangtua yang menanamkan hal-hal tentang inner strength sejak awal.. Surat Benjamin Button itu menurut saya sarat kasih sayang tanpa syarat dari seorang Ayah, yang menginginkan putrinya menjadi special dengan caranya sendiri, bukan dengan cara mainstream yang banyak diyakini orang lain. Benjamin Button mendorong kekuatan anak untuk mengikuti jalan hidupnya, bukannya sekedar menunjukkan ke mana arah jalan itu......

Mudah-mudahan.... nanti kalau sudah waktunya saya naik kelas jadi orangtua, saya akan selalu ingat bahwa anak adalah titipan Allah. Titipan, bukan 'milik' yang bisa saya bentuk sesuai keinginan sendiri, atau 'pewaris' bagi pemenuhan kebutuhan yang gagal saya lakukan sendiri........


Friday, October 7, 2011

I Heart Jogja

Jogjaku tempo doeloe.......

Malioboro

Tugu Yogya

Alamnya cantik....
Lereng Merapi

Air Terjun

Pantai Drini
Budayanya unik......
Tari Bedhoyo

Yess Gowess...We like gowess..

Produk asli Kasongan,it goes worldwide!

Mural, di salah satu sudut Jogja



The beauty of Jogja......
The Legend: Mbah Maridjan

Pembatik

The Dancer

Abdi Dalem kakung

Abdi Dalem putri
Jogja Fashion Week


Ngga usah takut kelaparan di kota ini.....
Angkringan: Kenyang, Murah, Nyaman.
Lupakan KOLESTEROL!

Sate kendal / gajih /lemak.

 Jogjapun pernah berduka..........
Wedhus Gembel = hujan abu

Kali Code meluap

Gempa Jogja

Tapi tidak sedikitpun dari kami marah karenanya, karena alam hanya menjalankan tugasnya....
Gotong royong

Mereka tidak lari....


Saya, CINTA JOGJA!
Prewed shoot: Nol Kilometer

Prewed shoot: Nol Kilometer with cute police officer

Jogja adalah rumah bagi semua orang,
Ia menyimpan segala jenis kearifan, dengan bahasa yang mudah dipahami manusia etnis manapun.....
Jogja tidak pernah murka bagi siapapun yang mengotorinya,
Karena ia percaya alam memiliki hukumnya sendiri.....
Jogja Istimewa, bukan karena ia ingin diagungkan....
Tapi karena ia memang istimewa, disini, di hati kami.........


Sugeng Tanggap Warsa Yogyakarta, kotaku tercinta............


(Sumber foto: dari berbagai sumber, Google answer everything!)

Wednesday, October 5, 2011

Pertanyaan Horor...Hiyyyy...

Having a baby is like getting a tattoo on your face. You really need to be certain it's what you want before you commit.” 
           - Elizabeth Gilbert, EatPrayLove -


Saya percaya setiap orang di muka bumi ini pasti punya black-list pertanyaan horor yang mungkin dilontarkan orang lain. Ngga selebritis, politikus, PNS, mahasiswa, si cupu, si keren, si jagoan, si kaya raya, si tukang gosip... Semua to the max!. Contoh pertanyaan horor itu: udah ada calon? - buat si penyandang gelar jomblo -, kapan lulus? - buat akademisi yang terlalu lama nyangkut di kampus -, sekarang kegiatannya apa? - buat para jobless -, udah "isi"? - buat pengantin baru, for example... SAYA!-. 
Hemm mungkin pertanyaan horor ini sedikit bervariasi untuk kalangan lain, misal: udah punya koleksi houndstooth-nya Badgley Mischka? -buat para fashionista- atau sekedar : kemarin dapat ranking? - untuk anak sekolahan yg baru aja lulusan-. Intinya, ini adalah tipe pertanyaan yang kalo disodorin ke kita, rasanya darah langsuungg zwiiiinggg naik  ke muka bikin berdesir-desir ahee, bikin cuping idung kembang kempis, dan bikin otak muter kayak gasing mikir jawaban cepat dan tepat.......


Saya ngga menyalahkan orang-orang yang menanyakan hal ini. Sebagian dari pelontar pertanyaan memang mereka yang sungguh-sungguh peduli pada hidup kita, meskipun sebagian lagi, well.. memang orang-orang yang sekedar bertanya basa-basi, dan sebagian lagi...golongan yang memang dengan sengaja menanyakan itu supaya desir-desir aheee kita muncul. Siapapun itu, mereka punya hak untuk bertanya. Masalahnya bisa nggak kita mmenghadapinya dengan keanggunan.....


Selama hidup sayapun sebenarnya banyak pertanyaan horor yang menghantui hari-hari saya. But lately, list itu nambah satu lagi sejak saya menikah 4 bulan lalu. This baby question.....whew lumayan menguras emosi dan pikiran saya!! dan membuat saya kemudian questioning banyak hal juga....Saya jadi meragukan, apa iya intensi saya untuk segera memiliki momongan itu asalnya dari dalam diri saya, atau saya sekedar kejar target untuk menyenangkan orang-orang di sekitar saya? untuk menyelamatkan saya dari pandangan aneh udah-beberapa-bulan-kok-belum-hamil-ada-apa-dengan-tubuhmu? untuk membuktikan bahwa saya wanita sempurna? .... 


Self-question ini pun akhirnya mengarah ke pemikiran lain: tentang betapa berat beban yang kita bawa setiap hari terkait peran-peran yang kita jalankan (sebagai orangtua, anak, murid, saudara, pekerja, istri / suami). Beban ini kalau ngga terpenuhi, hasilnya adalah judgement dari orang lain dan seringkali...judgement kita terhadap diri sendiri. Karena sadar atau tidak, banyak dari kita yang "living in others dream". Kita berusaha menjadi atau mencapai sesuatu yang sebenarnya itu impian orang lain... entah itu impian orangtua, atau impian orang yang kita kagumi.. Kita terlalu lama dibesarkan dengan mimpi-mimpi itu sehingga percaya bahwa itu impian kita juga. Memang tampaknya lebih mudah mempercayai mimpi semacam ini, karena kita ngga perlu berdarah-darah mencarinya...dan kita akan selalu dapet dukungan untuk mencapainya. Tapi tahukah..... sebenarnya dalam proses ini kitapun kehilangan banyak puzzle tentang siapa diri kita. Inilah sumber perasaan hampa, bingung, unhappy, ketidakpuasan.. meskipun TAMPAKNYA kita sudah dapetin semua yang kita mau....


Kedua, self-question ini juga menyadarkan saya... bahwa detik-detik dalam hidup kita, sebagian besar dihabiskan untuk melompat dari satu tugas ke tugas lain. Tanpa benar-benar be present, embrace, appreciate, acceptance, loving, forgiving....... Jadi anak, kita bertugas membanggakan keluarga, beralih jadi contoh untuk saudara-saudara lain, beralih jadi menafkahi keluarga, dan seterusnya dan seterusnya.... Jadi perempuan, kita bertugas jadi pribadi yang sopan dan jaga nama baik keluarga, beralih jadi istri yang melayani suami, jadi petugas reproduksi, jadi pengasuh, daaann seterusnya... Tugas yang sangaaatt panjang ya? 
Tapi bukankah untuk ini kita hidup? Bukankah hidup ya seperti ini? kalau ngga melakukan tugas-tugas ini kita ngapain donk?
Iya...betuL. Memang hidup adalah serangkaian tugas-tugas..dan tanpanya kitapun ngga akan bertumbuh... Yang saya maksudkan adalah, berapa dari kita yang meluangkan waktu untuk memberi jeda di antara tugas-tugas itu dan betul-betul menikmatinya? berterimakasih pada diri sendiri? meneteskan air mata saking bahagianya dengan cinta yang kita miliki? memaafkan kesalahan-kesalahan yang tidak bisa kita ubah lagi?...... Waktu dimana diri kita adalah NOL sekaligus sangat KAYA? (this part akan saya tulis di bagian lain ya... karena bakal panjang banget...hehehe). Ini yang sesungguhnya harus kita renungkan......


Lalu..saya pun jadi mikir, betapa sedikit yaa ruang privacy orang lain yang kita hormati? sehigga kita mudah menanyakan hal-hal yang mungkin orang lain feel uncomfort... Saya baru aja beberapa hari lalu dapet sms dari temen yang sebenernya cuma numpang kenal sebentar, sms pun langka bgt selangka kemungkinan kita ketemu Johnny Depp di malioboro, dan bunyi sms pertamanya setelah sekian lama ga meet up adalah "ega udah punya momongan?" what??! 78%n9!!f0$hR*&6@!!. Harusnya pertanyaan gini kan kelasnya sama kaya "berapa gaji kamu?" atau "berapa umurmu?' di kehidupan bule-bule sono..... Minimal, prolog dulu kek biar saya tau kalo dia beneran care.. 
Yeah intinya, budaya rawe-rawe rantas malang-malang putung (hash gimana seh nulisnyaaa..) kebersamaan, kekeluargaan, dan segala ketimuran kita ini harus juga diimbangi belajar menghormati wilayah pribadi orang lain ya......


Kembali ke pertanyaan horor saya.. Well, saya belum punya jawaban cerdas kalau pertanyaan "udah isi?" ini datang menghampiri saya. Sejauh ini saya cuma jawab sambil senyum : "belum, doain yah..." atau jawaban sedikit garing kalo jiwa saya lagi kesambet Sule; "udah ni, isi lemper....."
Tapi andaikata saya punya cukup waktu dan tenaga untuk ngadain jumpa pers n menjelaskan ke semua orang, saya pengen mereka sungguh-sungguh melihat saya dan saya bisa berkata :"saya bahagia....hidup saya jauh lebih baik sejak saya menikah". Alhamdulillah saya dikaruniai suami yang super light, ga ada masalah di dunia ini yang cukup besar hingga ia izinkan jadi 'masalah'. Saya tumbuh, tertawa, belajar, dengan kondisi hidup yang masih berdua ini. Sungguh, ada banyak hal dalam kehidupan kami yang bisa kami syukuri daripada kami sibuk memerintah Allah untuk segera mengaruniai kami momongan. Kalau menjadi orangtua adalah komitmen seumur hidup yang akan kami jalani sampai mati nanti, boleh kan kami sekarang menikmati waktu berdua ini tanpa dikejar-kejar target punya anak?
Di luar semua hal ini (orang lain boleh menganggapnya rasionalisasi saya semata) saya percaya Allah saya yang Maha Baik punya hitung-hitungan matematika paling dahsyat. Dia Maha Tepat Waktu. Dia Maha Tahu. Kehamilan terjadi bukan sekedar sperma dan sel telur bertemu di saat tepat dan kondisi sehat. Kehamilan adalah kombinasi fisik, mental, dan spiritual yang sempurna... semua akan terjadi tepat waktu, saya mengimani hal ini. Oleh karenanya, doa saya setiap kali sujud kepada Allah  bukanlah agar segera diberi momongan.... tapi agar saya diberi momongan ketika kami SIAP, dan PANTAS menurut hitungan-Nya... dan agar saya dan suami tetap berdiri kokoh tersenyum dalam setiap pertanyaan horor yang hadir... coz' yes, we're so much in happy marriage life..............


Saya berharap...... kita semua, termasuk saya, akan terus menjadi jiwa-jiwa yang merdeka... dengan impian-impian sendiri yang kita temukan dan perjuangkan sendiri. Sehingga kalau ada pertanyaan horor yang mampir dalam keseharian, kita akan selalu punya jawaban aheeee kriuk-kriuk............
"Udah ada calon?"........... "udah, tinggal seleksi fit and proper test aja abis ini. Finalisnya masih 5 sih" *kedip genit*
"Kapan lulus?".........."Alhamdulillah yaah udah 3x lulus, jadi sekarang ga ngoyo2 amat" *pake kacamata item*
"Skrng kegiatannya apa?"...."Sibuk! Baru aja guntingin kuku kaki tetangga. Kegiatan sosial gitu" *kunyah permen karet*


Cheers,