Wednesday, November 28, 2012

Dream Project: See the Unseen.


Tulisan kali ini adalah tentang project terbaru yang sedang saya kerjain... Apa projectnya? hehehee, nihhh sedikit cuplikan foto-fotonya:


Room in the making
outside area

Iyap, saya sedang renovasi bangunan yang nantinya bakal jadi TK pertama saya. Pertama? yess, karena impian saya memang akan memiliki banyak sekolah nantinya.... nggak hanya TK, tapi juga SD-SMA bahkan homeschooling pun akan saya miliki nanti...
Tapi sekarang, saya sedang fokus membangun "bayi" saya yang satu ini. Mungkin langkah saya ini cukup mengagetkan banyak orang.. mengingat background pendidikan Psikologi saya sebetulnya adalah Klinis, bukan Pendidikan. Tapi eh tapi, saya sendiri ga pernah membatasi diri untuk melakukan apapun sejauh saya tahu passion saya menyala-nyala disana.... Jadi saya mau berbagi sedikit gimana kok bisa kecemplung ngerjain project ini ya...

Project TK ini adalah kombinasi dari semua yang PAS bagi saya, baik sadar ataupun tidak. Saya sudah bercita-cita memiliki PAUD bahkan sejak saya belum tahu kenapa... pokoknya pengen aja... dan itu terjadi kira" 10 tahun lalu waktu saya masih SMA. Sekali lg, saya ngga tahu kenapa, pokoknya jiwa sweet seventeen saya waktu itu percaya bahwa suatu hari saya akan punya TK sendiri... Ternyata arah nasib selanjutnya memang menuntun saya untuk mempelajari Psikologi, yang di dalamnya ada elemen-elemen pendidikan, perkembangan, parenting.... dan disinilah saya mulai lebih mengerti alasan saya menginginkan punya TK. Saya akhirnya memahami bahwa bagaimana anak dibesarkan itu sangat-sangat-sangat berpengaruh bagi kepribadian dan perjalanan kehidupannya kelak.. sehingga sangat penting juga memberikan mereka dasar pendidikan dan pengasuhan terbaik.

Saya sering sekali frustasi melihat masalah-masalah perkembangan / pendidikan yang sekarang ada dan sudah sedemikian kompleksnya dan banyak diantaranya bermula dari usia dini anak... Mulai dari gangguan perkembangan anak yg meningkat dibanding 20 thn lalu, sistem pendidikan yg morat-marit (salah kaprah melihat golden age, calistung di TK, KBM yang hanya mengajarkan konsep, dll), model parenting yang sarat hedonic-motivation (contoh: milihin sekolah anak berdasar syarat 'yang penting keren dan mahal'/ 'yg penting ada judul internationa schoolnya', berlebihan memfasilitasi anak dg teknologi, 'kontes' keahlian memasak n lulus ASI oleh mommy2 muda, ikutin anak di kontes model ini itu,  sampe banyak kasus terlompatinya tahap perkembangan anak demi kebanggaan orangtuanya), juga kasus-kasus remaja sekarang yang memang memiliki akar dari masa kecilnya (KDP, hamil pranikah, tawuran, dll). Wahhh banyak deh! Sampai-sampai secara ga sadar, tesis saya pun mengambil tema dimana saya bisa berkontribusi pada kehidupan individu sejak ia di dalam kandungan.... Ini karena saya memang bersemangat untuk melakukan sesuatu di garda depan, di usia sedini mungkin, di masa paling awal kehidupan.
Nah, daripada saya frustasi tidak pada tempatnya, jadilah cita--cita saya memperbaiki kehidupan bangsa ini lewat pendidikan mulai saya realisasikan. Bidang pendidikan memberikan saya ruang untuk melakukan langkah preventif dalam skala besar... inilah yang saya butuhkan.

Alasan utama lainnya, saya memang sudah memantabkan diri untuk bekerja di atas kaki sendiri. Membangun sesuatu. Bekerja di instansi / perusahaan dengan struktur dan sederet peraturan bukan jiwa saya. Saya juga bertekad melakukannya sedini mungkin, tidak menunggu dengan alasan cari modal, keberanian, dan pengalaman dulu. Ketiganya tetap bisa saya capai kok di usia 27 tahun ini...
Syukurlah saya punya keluarga hebat yang mendukung pilihan-pilihan ini.... Saya menyadari betul dukungan keluarga ini adalah modal yang tak ternilai harganya, karena memang banyak orang yang saya temui kesulitan mewujudkan impiannya karena faktor keluarga.. sementara seringkali alasan kita bekerja adalah untuk keluarga kan?

Dulu, saya berpikir akan memiliki TK di usia di atas 30 tahun. Pikiran saya waktu itu, di usia tersebut saya sudah memiliki modal, ilmu, dan keberanian yang lebih kuat. Saya menyadari, masih banyak hal yang harus saya pelajari jika ingin menyediakan sistem pendidikan yang lebih baik dan tentu butuh waktu untuk menyiapkannya. Ternyata, Allah justru mengakselerasi impian saya. Bulan Juli lalu, saya pertama kali membaca buku best-seller 7 Keajaiban Rezeki nya Ippho Santosa. Telat bgt ya? hehehe, tapi kalo saya baca nih buku dari dulu... jodoh ama TK inipun mungkin tdk terjadi. Di halaman terakhir buku inilah saya mengetahui tentang TK Khalifah, PAUD milik Ippho yang di franchise-kan...
Ibarat love at the first sight, hati saya langsung degggg!!! Insting saya mengatakan saya harus mengikuti gejolak hati saya itu.. Jadilah 2 hari setelahnya saya habiskan dengan googling sebanyak''nya tentang TK ini, dan semakin dibaca keyakinan saya ternyata semakin kuat. Saya sepakat dengan value-value yang diajarkan sekolah ini, dan model franchise dengan sistem yang sudah ada akan sangat membantu bagi  anak bawang seperti saya. Cocok deh! Tapiii.... duit dari mana yaaa?? hehehehe... faktor besar nan utama memang soal permodalan nih... Keraguan kedua, dengan sistem yang sudah jadi begini, bisakah saya berkontribusi maksimal??

Kebetulan saat itu adalah bulan puasa, jadi doa saya yg minta sama Allah agar dimudahkan jalannya jika memang ini baik untuk saya kerjakan sepertinya diijabah dgn cepat juga... Saya bahkan ingat menulis status di bbm saya begini: " tahun 2013 saya udah punya TK, tolong bantu Amien-kan ya..", dan alhamdulillah yang meng-Amien in memang banyak sekali... Subhanallah betapa cepatnya doa terjawab dengan bantuan Amien dari banyak pihak ini. Akhir Agustus, saya akhirnya bertemu dengan pihak master franchise untuk wilayah Yogyakarta. Bagi saya, partner yang memiliki visi yang sama adalah hal mutlak, maka saya pertajam betul indra saya pada pertemuan itu utnuk melihat apakah chemistry dari love at the first sight saya memang ada....hehehehehehe..
Dan lagi-lagi alhamdulillah, pertemuan itu menghasilkan keyakinan yang lebih besar bagi saya. Kecocokan value, visi, dan misi saya dapatkan.. segala keraguan saya mendapat jawaban... dan saya bahkan mendapat kesempatan untuk berkontribusi maksimal ga hanya di TK Khalifah milik saya, tp juga di semua TK Khalifah Yogyakarta! Alhamdulillah...Alhamdulillah....!. Saya juga bersyukur dengan timing yang ternyata serba PAS ini... FYI, Tk milik saya ini adalah yang ke -11 di Yogyakarta. Saya beruntung dengan menjadi yang ke-11 berarti ada banyak perbaikan dari TK-TK yang sudah ada sebelumnya, dan ruang bagi saya mengembangkan TK ini dari pakem yang sudah ada juga semakin terbuka lebar. PAS juga kesempatan ini datang di saat saya hampir lulus (wisuda im comiinggg!!) sehingga fokus saya bisa lebih maksimal nantinya.  See? Allah selalu memberi tepat waktu, dan berkahnya selalu datang dalam jumlah yang PAS! (Pertamina aja kalah nih Pasti Pas-nya.. hehehe... )

Sayapun dibukakan pintu rezeki dari Allah sehingga semua proses menuju deal berjalan cepat. Mulai tanggal 1 Oktober lalu kontrak sudah ditandatangani dan Insya Allah awal tahun besok TK Khalifah 11 Yogyakarta mulai berjalan. Yeyy!!. Saya memang percaya bahwa ide hanya akan berhasil dengan keyakinan kuat dan harus ditindaklanjuti dengan cepat juga... Otak manusia biasanya senang memelihara ketakutan, dan semakin lama dipelihara justru ide-ide seringkali terhambat realisasinya.

Yang lucu... ternyata saya tidak hanya mendapat dukungan banyak pihak, tapi juga...cibiran.
Ada yang bilang: Iyalah gampang, tinggal sediain duit doank.....
Hmm, baiklah... saya mengupayakan rezeki itu ada, lalu saya manfaatkan... so what??. Rezeki ini juga tidak jatuh dari langit, bukan sesuatu yg saya dapatkan gratis, bukan tanpa resiko, dan tetap harus saya pertanggungjawabkan nantinya.
Ada juga yang bilang : model franchise itu kan kalau orang mau gampangnya doank...
Hmm, baiklah.... tapi bagi saya, justru keuntungan dari kemudahan itu yang saya manfaatkan, instead saya harus tunggu 5-10 tahun lagi padahal belum tentu segala sumber daya 5-10 tahun lagi lebih siap dari sekarang... Toh, tujuan saya utk memaksimalkan kontribusi lewat kapabilitas yang saya miliki tetap bisa tercapai kan?

Saya bergerak, saya melakukan sesuatu. Saya tahu dimana sumber daya yang saya miliki dan bisa dimaksimalkan, dan saya tahu juga dimana letak kelemahan saya. Saya tahu apa-apa yang  ingin saya lakukan, apa yang bisa membuat saya bangga dan bergairah melakukannya, apa-apa yang penting dan tidak.   Saya tidak harus menunggu apapun... Saya melakukannya SEKARANG.
Saya pikir inilah point penting yang ingin saya bagi... Ter-realisasinya mimpi saya ini semua terjadi berkat kombinasi keyakinan (meski dulu saya tidak tahu alasan di balik keyakinan ini), doa dari banyak pihak, kecepatan merespon ide, dan kepekaan tentang apa-apa yang  bisa / tidak, mau / tidak, ingin / tidak kita lakukan. Saya bukan orang yang nekad, bagaimanapun saya memutuskan sesuatu melalui pertimbangan.. tapi saya selalu memastikan hati dan otak saya terlibat dalam setiap pengambilan keputusan. Segala hal yang 'nampak' seperti kemudahan sebenarnya adalah produk dari kombinasi tersebut, bukan karena saya anak orang kaya yang gampang saja melakukan apa yang saya mau sambil ongkang-ongkang kaki.

Perjalanan mimpi saya masih panjang... Sekolah ini masih butuh banyak keringat, pikiran, dan waktu.. begitupun goal utama saya di bidang Psikologi untuk menyentuh sebanyak mungkin kehidupan orang lain... Tapi saya yakin selama ada kombinasi hal-hal tersebut di atas, saya sangat bisa mencapai impian apapun.. termasuk: berpenghasilan besar dari Psikologi Klinis! Hihihiii....  Menjadi kaya raya di bidang yang memang menjadi minat kita itu bukan mustahil dan nggak terlarang kan?.. :p


Monday, November 5, 2012

Comfort Zone: Take It OR Leave It?

Comfort Zone....
Wilayah yang sering "ditakuti" banyak orang karena menurut konsensus umum, wilayah ini suka bikin kita terlena sehingga berhenti berkembang....
Well, saya akan berada di garis depan penentang pendapat ini. Hehehehe..... Bukan karena saya mengidap ODD (Oppositional Defiant Disorder  -merupakan gangguan perilaku menentang-) lho, tapi memang haqqul yaqien saya punya pendapat yang berbeda.

Menyalahkan comfort zone karena tidak berkembang, menurut saya itu terjadi karena kita sendiri yg mengecilkan arti 'comfort zone'. Menurut bayangan kita, comfort zone itu contohnya seperti: pekerjaan enak yang udah kita lakukan bertahun-tahun, atau lingkungan sosial yang itu-itu saja.... betuull?. Padahal comfort zone sebetulnya kan situasi / wilayah yang membuat kita nyaman... tidak terbatas hanya hal-hal yang dari luar terlihat nyaman saja karena bisa jadi nyamannya seseorang justru dipandang aneh bagi orang lain. Ini masalah rasa.. dan rasa adalah sesuatu yang sangat subjektif.

Contoh, orang yang merasa ngga progress di pekerjaannya lalu memilih keluar karena merasa sudah terlalu nyaman disana sehingga akhirnya berkelana lah dia mencari pekerjaan lain. Menurut saya, comfort zone orang ini bukan pekerjaan nyamannya, tapi di proses mencari tantangan atau situasi baru tersebut. Mengambil resiko, bertemu orang-orang baru, beradaptasi dengan pekerjaan baru.. mungkin hal-hal ini 'terlihat' tidak nyaman, tapi somehow sebenernya ada kenyamanan baginya ketika melakukannya.

(masih) menurut saya, justru sejatinya kita ini selalu mencari comfort zone sebetulnya... Kalau kita lagi susah, biasanya orang yang kita cari adalah sahabat atau keluarga yang bikin kita nyaman kan? atau justru kita lebih nyaman bicara dengan orang asing?. Kalau kita terus menerus ganti pacar, kita sebetulnya sedang mencari orang yang bersamanya kita merasa nyaman kan? . Kalau sekarang kita masih jadi 'kutu loncat' di pekerjaan, saya rasa 2 alasan besar yang sering mendasari hal ini adalah: gaji dan kenyamanan bekerja.. Yess??. Kalau kita lagi jenuh dengan sesuatu, biasanya kita bisa menyelesaikannya dengan melakukan hobby kita kan? Semua terpola menuju hal yang sama: comfort zone yang selalu kita cari.........

Justru... ketika kita sudah berada di tempat atau situasi yang tepat dan kita merasa nyaman disitu, potensi-potensi kita akan berkembang dengan baik... Saya yakin kok Ir.Ciputra, Dwi Lestari, Mark Zuckerberg, dan jutaan tokoh sukses lainnya  bisa sedemikian besar prestasinya karena memang itulah bidang yang membuat mereka nyaman... Ga ada istilah bosan atau stuck ketika kita benar-benar sudah ada di comfort zone. Yang ada adalah menikmati, bersyukur, berkembang lebih besar lagi dan lagi.......

Sehingga, kalau mau ditarik ke belakang... sebetulnya sangat penting buat kita untuk tahu apa yang benar-benar membuat kita nyaman, apa yang sesungguhnya kita mau. Karena mengetahui kenginan hati sedini mungkin tuh akan semakin mempermudah langkah-langkah kita menuju ke arahnya.....
Saya sangat salut pada orangtua yang mempu mendidik anaknya untuk mengetahui apa yang ia inginkan sedari kecil. Dengan mengesampingkan ego 'berkuasanya', orangtua model ini akan mendukung sepenuh hati proses si anak menemukan comfort zonenya.... Nah sebaliknya yang suka bikin saya geram, jenis orangtua yang penetrasi gila-gilaan terhadap keinginan, passion, dan kebutuhan anak. Ini nih bibitnya kenapa fakultas-fakultas yang laku di Indonesia ga jauh-jauh dari Kedokteran, Ekonomi, atau Teknik..... yang kemudian berefek lagi kenapa Indonesia ga punya ahli-ahli di bidang khusus lainnya. Padahal negara yang besar harusnya pendidikannya juga maju di semua bidang, bahkan bidang yang 'nyeleneh' sekalipun!. Saya sering merasa miris ketika beberapa kali harus melakukan rekruitmen di perusahaan, para pendaftar banyak yang berasal dari fakultas-fakultas yang sebenarnya lebih cocok untuk berkarya di bidang lain.... Dan ajaibnya, ketika ditanya alasannya banyak yang menjawab karena harapan orangtua. Harapan orangtua bahwa anaknya akan bekerja di tempat mentereng yang menghasilkan banyak uang dan itu HANYA bisa didapat di bidang tertentu saja -yang tentu saja berbeda dengan bidang perkuliahan si anak-.

Bersyukurlah bagi kita yang sudah menemukan comfort zone saat ini. Ngga perlu merasa berdosa karena menikmatinya, karena justru dari kenikmatan itu akan lahir sesuatu yang bermanfaat.... Kalaupun sekarang belum menemukan comfort zone, saya rasa kita perlu lebih mem-peka-kan diri tentang apa-apa yang sebenarnya kita sukai. Hanya perlu lebih banyak merasakan dan mendengarkan hati saja kok untuk mengetahuinya....





Saturday, August 11, 2012

"Aturan-Aturan" Hidup


Beberapa waktu belakangan ini, saya lagi doyan menabrak beberapa pemikiran yang sebelumnya secara mutlak dan (tidak disadari) sangat saya yakini.... Saya ngga tau darimana asal-muasal keyakinan saya ini, tapi sepertinya pikiran itu memang udah nempel di kepala saya.. Kaya' Ipin yg selalu nempel sama Upin.. hehehe...

Mungkin, karena pikiran-pikiran itu begitu seringnya saya dengar dan udah dikenalkan ke otak saya sedari kecil, jadi saya menerimanya aja tanpa mengujinya lebih lanjut.

Pernah punya pikiran meyakinkan seperti ini? Saya sih menyebutnya : aturan-aturan hidup...." Nggak tau dari mana, pokoknya harusnya begitu!" ---> nah, ini tipe pikiran yang saya maksud itu. Misalnya: keyakinan bahwa  orang tu harusnya kerja dulu sebelum nikah, orang tu harus memulai dari nol dulu kalo mau sukses, orang tu harus kerja keras kalo mau dapetin impiannya, orang tu harus memaafkan dulu kalau mau melupakan, dst, dst..... Aturan-aturan ini saya "uji" di kepala saya dengan menanyakan: emang kenapa nikah harus tunggu kerja?, emang memulai dari 10 ngga boleh sukses? bukannya bakalan lebih cepet nyampe 100 ya?, kerja keras? kenapa ngga kerja cerdas?, emang kalo udah memaafkan beneran bisa melupakan gitu? maksudnya menghapus memori? yakin?......

Itu baru random thought ya... di bawah ini saya akan tuliskan beberapa "aturan hidup" populer yang (menurut saya) perlu dikaji lagi ketepatannya.... yuk cekidot:

**Jadilah yang terbaik! atau bahasa kerennya: Be the best!
Menetapkan target untuk selalu jadi yang terbaik, menurut saya berpotensi menyulut genderang perang terhadap diri sendiri. Kenapa? karena ini sama artinya dengan menetapkan orang-orang atau hal-hal lain di luar kita sebagai sesuatu yang harus dikalahkan. Lha gmn mau jadi yang terbaik, kalau yang lain-lain nggak dalam posisi kalah dari kita?. Permainan sepakbola misalnya, sebuah team tentu akan disebut terbaik jika berhasil mengalahkan team-team lain dalam pertandingan itu kan?. Dalam hal-hal yang memiliki semangat kompetisi, aturan untuk menjadi yang terbaik itu perlu. Tapi menjadi yang terbaik dalam segala hal, wah bisa memicu gangguan psikologis tuh! hehehe... Lihat aja betapa banyak anak sekarang yang stress di sekolah karena target selalu menjadi yang terbaik disematkan orangtuanya dalam berbagai bidang, tanpa toleransi bahwa ketika tidak menjadi yang terbaikpun mereka tetap 'terbaik' di hati orangtuanya.

**Mirror never lies, atau artinya: berkacalah selalu karena kaca ngga pernah bohong.
Kalau bagi saya, cermin bukannya ngga pernah bohong... tapi cermin selalu memberitahu apa yang "ingin" kita lihat. Cermin, dalam arti kata harfiahnya, memang digunakan untuk memberikan pantulan dari objek aslinya. Ketika kita bercermin, kalau kita 'ingin' melihat seseorang yang cantik, ganteng, molek, ya itulah yang akan terlihat. Hm... tapi mana ada orang yang ingin terlihat jelek? Tepat!! Itu kenapa kata ingin saya beri tanda petik ("), karena ingin yang dimaksud disini adalah sesuatu yg sebenarnya lebih kita percayai.. yg lebih mendominasi pikiran kita. Kalau kita ingat di buku dan film The Secret, disitu dijelaskan bahwa kalau kita terus menerus dililit hutang, itu karena kita yang mengundangnya... utang itu begitu lekat menempel di pikiran kita sehingga tidak sadar kita menginginkannya!. Nah ketika bercermin, momen dimana kita melihat jerawat kita terlihat sangat besar dan mengganggu, percaya deh...itu karena kita yang menginginkannya besar!
Begitupun ketika kita sedang menilai diri sendiri, apa yang dikatakan cermin subjektif kita, ya hanya sebatas apa yang 'ingin' kita lihat saja. Itupun hanya satu sisi yang nampak..... sama seperti sedang bercermin wajah, mana mungkin di saat yang bersamaan punggung kita terlihat?
Lalu, gimana caranya dapet pantulan yang objektif? Caranya, seimbangkanlah pantulan cermin ini dari koreksi / opini orang-orang lain. Dengarkan kata keluarga, teman-teman, bahkan musuh-musuh tentang diri kita. Tidak semua kata mereka bisa dipercaya, tetapi tidak semua pantulan cermin juga dipercaya. Jadi menyeimbangkan keduanya adalah cara paling jitu.

**Go with the flow aja.....
Kalau kata saya... only dead fish go with the flow!. Beda lho go with the flow dengan memasrahkan segala urusan pada Tuhan. Berjalan mengikuti arus ini sama dengan tidak mau berusaha menentukan arah hidup kita sendiri. Arusnya korupsi, ya jadi koruptor juga... arusnya lagi suka rainbow cake, ya makan rainbow cake juga (ga peduli rasanya kaya apa)... arusnya jadi PNS, ya milih PNS an juga.... jiaahh, kapan mandirinya bos?
Lebih bagus, dance with the flow lah..... dengan berdansa sama arus ini, kita memilih untuk juga menjadi pihak yang aktif dalam pilihan-pilihan hidup, karena arus juga membutuhkan gerakan-gerakan kita. Berdansa, artinya kita juga mengambil tenaga pasangan dansa untuk jadi kekuatan kita... Berdansa, artinya ketika arus menuju ke tempat yang tidak kita inginkan, kita bisa bergerak menuju ke tepian atau pindah dalam arus yg lain.
Jadi, mau ikut arus atau berdansa dengan arus?

**Follow your heart
Follow your heart boleh..... but use your head also! Hehehe.... Hati, memang memiliki kapasitas yang terhitung murni. Dia akan memberitahu kita apa yang benar-benar membuat kita bahagia, apa yang sungguh-sungguh benar dan salah. Tapi jangan abaikan fungsi akal, pikiran, kognitif, atau apalah namanya... karena fungsi ini yang memuliakan kita manusia dibanding makhluk-makhluk lainnya. Saya sering, bertemu dengan orang yang menyesali keputusannya karena merasa dulu terlalu mengandalkan keinginan hati... atau sebaliknya, terlalu mengandalkan pertimbangan logika. Hal ini terjadi, karena kita kerap terlalu mengkotak-kotakkan mana yang kata hati dan mana yang kata pikiran. Padahal, kalau saja kita mau ramah kepada keduanya, maka keduanya juga akan bekerja dengan harmonis untuk kita.... Jadi, menurut saya, keputusan yang baik adalah keputusan yang dapat diterima secara akal sehat dan hati nurani... tidak memihak salah satunya. Diterima, bukan berarti selalu dalam presentasi seimbang ya... yang penting, keduanya (dalam mekanisme masing-masing) "ada" dalam keputusan tu.

** Stay positive!
Kata-kata ini, kalau bagi saya... sangat sarat pemaksaan. Karena menjadi orang yang positif sepanjang waktu tuh melelahkaannn... bahkan, saya bisa sangat muak kalau ketika saya sedang down dan segala hal tampak gloomy, lalu ada orang yang meminta saya bersikap lebih positif. Memangnya ada apa sih dengan ke-negatif-an? Bukannya negative things juga sarana kita mempelajari sesuatu?... Lalu kenapa kita ngga accept aja dengan keadaan negatif itu, sehingga tidak ada kelelahan dengan berusaha menolaknya?. Karena begitu kita accept, otomatis  kondisi tubuh akan lebih rileks dan hal-hal negatif itu akan pergi dengan sendirinya, tanpa paksaan. Justru kalau kita memaksakan stay positive sepanjang waktu, sekalinya ada hal negative yang datang , kita akan sulit mengatasinya.... Ya gimana mau diatasin, wong emang itu hal asing yang jarang kita terima keberadaannya!
Betul, yang harus kita lakukan sebagai manusia adalah berusaha menjadi pribadi yang positif... Betul, menerima ke-negatif-an bukan berarti melegalkan kita untuk terus menjadi negatif apalagi melanggar norma. Tetapi, jika sedang tidak positif, menerima diri apa adanya itu jauh lebih bijaksana...tetap mencintai diri sendiri, during the bad times or a good times, adalah janji paling mulia yang bisa kita katakan pada diri sendiri.

** Dont judge the book by it's cover.
Aturan ini seringkali membuat kita mengabaikan pentingnya memperbagus cover. Oke, saya setuju bahwa tampilan luar tidak selalu merepresentasikan isi di dalam... Tapi, tidak dalam semua kondisi kita bisa membuat keputusan dengan menyelami isinya dulu kan?. Misalnya kita mau beli majalah... majalahnya masih disegel kan, kita ngga bisa membuka nya lebih dulu. Tapi dari informasi yang diberikan cover, kita akan bisa memutuskan apakah akan membelinya atau tidak.
Begitupun dengan manusia, seringkali persepsi atau informasi tentang manusia lain kita dapat ya dari covernya saja, karena mustahil kita mengenal pribadi semua orang secara mendalam. Cover, bagi saya bukan sekedar cara berpakaian saja, tapi cara berbicara, gesture , bahkan cara kita membawa diri dalam situasi. Intinya, apapun yang bisa diobservasi secara langsung oleh orang lain.
Jangan salah, di perusahaan pun dalam proses recruitmen, cover atau appearance ini seringkali memberikan informasi awal yang penting apakah calon karyawan itu menganggap pekerjaan ini serius dan benar-benar menginginkannya atau tidak lho.
Kesimpulannya, kalau kita merasa punya 'jeroan' yang berkualitas, yuk perbaiki juga tampilan luarnya. Karena dengan first impression yang bagus, jalan kita mencapai tujuan akan jauh lebih mudah!

** Carilah  win-win solution 
Hmmm.... emang ada ya win-win solution???, buat saya sih... yang ada draw-solution alias solusi SERI, nggak menang dan nggak kalah juga. Itu aja sih koreksi saya untuk aturan hidup yang satu ini... ga pake penjelasan P x L (panjang x lebar), hihihiiiiiiiii

Demikianlah, beberapa 'aturan-aturan' hidup yang sedikit banyak pengen saya sempurnakan ketepatannya...  Itu adalah sebagian aturan yang saya olah... anda boleh agree, boleh juga agree to disagreeBottom line sih, apapun aturan hidup yang kita percayai dan jalani, pastikan kita benar-benar mengetahui apa dan bagaimana aturan itu ada....
Masih punya aturan-aturan hidup yang mau ditabrak? Share-kan dengan saya ya! Hehehehe....

Wednesday, August 1, 2012

EX (baca: Mantan)

"At some point you have to realize that someone might stay forever in your heart, but not in your life"
        - Unknown, Quote-ing from twitter -



Tell me, siapa orang yang paling berpengaruh dalam hidup kita? yang sungguh2 berperan membentuk diri kita? .... Orangtua? Teman? Kekasih? Suami / Istri? Anak? Musuh?.... Hmm, saya mau tambahin satu kategori lagi : mantan pacar.

Buat mereka-mereka yang sekarang sudah menemukan belahan jiwanya sih, mungkin lebih mudah ya melupakan sosok si mantan ini... Ngapain juga dipikirin, udah dapet yang jauhhh lebih baik ini. Ngapain jg mentingin mantan, toh sama mereka hubungannya juga gak berhasil.. kalo berhasil, gak sampe putus namanya dan ga bakalan mereka menyandang status mantan kan? Hm... begini mungkin pikiran para pengelana cinta yang sudah sukses berlabuh di pantai asmara ..... LOL.*serius, saya kok mendadak bayangin Shah Rukh Khan ya waktu ngetik kalimat terakhir ini* hihihihihiii *inget cinta, inget luka, inget India*

Kalo bagi saya, hubungan kita dengan lawan jenis yg ada embel-embel asmara tu layaknya "sekolah kepribadian". Sedikit banyak, disadari atau tidak, hubungan emosional yang sudah kita jalani bersama lawan jenis tu pasti ngasih pengaruh ke perkembangan kita sebagai pribadi. Anda sekarang merasa jadi orang yang tangguh? mungkin itu karena mantan anda memberi pengalaman sakit yang luar biasa.... Anda sekarang jadi sosok yang hebat untuk pasangan anda sekarang? hmm... itu juga mungkin peran mantan yang selalu marah kalau anda berperilaku yang tidak layak padanya dulu.... Atau anda sekarang sudah bersama pasangan yg lebih "sempurna"?... Bisa jadi, itu karena mantan memberitahu anda apa yang sebenarnya tidak cocok bagi diri anda

Kebanyakan dari kita merasa sakit kalau mengingat mantan, sehingga malas mengapresiasi keberadaannya. Padahal, justru dari pengalaman sakit itulah biasanya kita bertumbuh pesat... ya kan? . Saya yakin kita-kita semua yang sampai saat ini tidak mati karena sakitnya cinta, pasti adalah pribadi yang berbeda dibanding kita dulu. Lalu kenapa kita tidak merayakan betapa 'hidupny'a kita sekarang?. Karena kalau mau diibaratkan anak tangga, mantan tuh anak-anak tangga di bawah yang sebenarnya membantu kita sampai di posisi setinggi sekarang. Udah diinjek-injek, ga jadi pula! Udah sepantasnya kan kita berterima kasih padanya?

Fungsi dan manfaat kenapa dihadirkannya sang mantan oleh Tuhan ini juga tidak serta merta bisa kita dapat kok... Waktu memang (teorinya) hanya berjalan ke depan, tapi titik-titik tentang hikmah kehidupan itu hanya bisa ditarik mundur. Jadi kalo kita sekarang masih belum bisa mengapresiasi kehadiran mantan-mantan, jangan buru-buru kecil hati. Mungkin kita memang sedang dipaksa berjalan maju dulu oleh waktu, sebelum nanti bisa berhenti sejenak dan menarik garis ke belakang... ke titik-titik yang kita tinggalkan tadi..


Tapi saya juga yakin banyak diantara kita yang malas mengapresiasi mantan karena sampai saat ini dia masih ada di hati kita plus segala perasaan cintanya, sehingga mengingatnya justru seperti menabur garam di atas luka *hihihiiii, kali ini saya jadi inget Saipul Jamil, kalo dia yg ngucapin kalimat barusan pasti sambil dinyanyiin dangdut*....
Nah, kalo kasusnya seperti ini sih, ga lain dan ga bukan memang harus berproses dulu sama diri sendiri ya.... Kalo istilah kerennya, berdamailah dengan diri sendiri, kiddo! :D. Berdamai dengan cara menerima bahwa ia mungkin memang akan selalu jadi bagian dari hati kita selamanya.... Psstt, satu rahasia yang mau saya bagi: ternyata hati itu kapasitasnya luar biasa besar. Jadi menerima dan membiarkan mantan  mengisi salah satu ruangnya, nggak akan merubah kemampuan kita mencintai orang lain dengan sama atau bahkan lebih besarnya.
Lho kok bisa???!! *gitu mungkin jeritan hati para tawanan cinta yang belum bebas dari kerangkeng masa lalu*
Iya, BISA! Karena begitu kita berhenti berperang dengan diri sendiri dengan terus-menerus mencoba mengusir si mantan dari hati, saat itu sebenanrnya proses healing sedang berjalan. Kalau kita sudah dengan ikhlas memberi izin si mantan untuk terus bersemayam dalam hati, percaya deh... hati juga rasanya akan menggelembung lebih besar, siap membuat ruang untuk orang-orang lain.

Tapi eh tapiiiiiii.... menurut saya sih tetep aja: tidak ada rumus pasti untuk segala hal, apalagi untuk urusan cinta. Jadi kalo ada kasus-kasus unik sama mantan yang ngga bisa selesai dengan rumus di atas ya sah-sah saja.... Toh tujuan tulisan ini bukan buat bagi-bagi tips, tapi untuk memberi perspektif baru terhadap keberadaan mantan.Tulisan ini juga bukan bertujuan supaya kita terus menerus mengingat mantan, tapi memberi tempat yang lebih baik bagi keberadaannya. Dengan begitu, jiwa kita bisa jauhhhh lebih sehat!

Jadi, buat kita-kita yang selama ini mengesampingkan fungsi mantan dan ogah memikirkannya, yuk hari ini kita dedikasikan sedikit waktu luang untuk mengapresiasi apa-apa yang sudah ia berikan pada hidup kita. Mudah-mudahan dengan begitu, segala macam mimpi buruk yang biasa hadir dalam sosok mantan, nanti malam muncul dalam bentuk mimpi indah. Jangan lupa sampaikan terima kasih anda ya kalau dia hadir di mimpi! Hehehehehe.....

Ps: Blog post ini diperuntukkan bagi mereka yang memiliki mantan. Bagi anda yang belum memiliki dan memutuskan tidak akan memiliki mantan (baca: sekali pacaran langsung menikah), saya yakin 100% anda akan menemukan "sekolah keprbadian" dalam bentuk lain yang tidak kalah seru!

Thursday, May 31, 2012

Kontemplasi 27

Hai.... kamu.....

Ini tulisan saya pertama lagi di usia 27 tahun. Yep, saya kemarin baru aja dianugerahi pertambahan (atau pengurangan jatah) usia ke angka 27 tahun....
Mei yang penuh warna, tahun ini, tapi saya bahkan belum sempat menuliskan apa-apa ya.... hehehe.... Selain perayaan ulang tahun yang seru pol-pol an, saya kemarin juga sempat kehilangan laptop beserta semua data-data nya. Masa-masa berdukanya sudah saya lewati kok....malahan, peristiwa horor itu banyak hikmahnya. Selain dapet laptop baru yang lbh canggih (hiihihiihiii...) , saya juga banyak dapat buku-buku dan materi-materi baru untuk modul tesis saya.. Jadi sekalian deh, nambahin ini itu di modul ini.

Oke, kembali.....(eh, kembali kemana ya?) Hmm, kembali ke hal yang mau saya tulis beneran lah ya... yang seperti biasa, menggelitik bulu idung saya, dan mengobrak abrik sistem kepala saya....Saya emang males kalo cuma nulis pengalaman hidup yang gak bikin otak saya mau meledak.

Dua hari lalu saya hendak meng-edit kotak Description pada account twitter saya. Ga ada sebabnya sih, cuma pengen ganti suasana aja.... Dan ternyata, saya suliitttt sekali menuliskan / menjelaskan siapa sih saya ini?
Lamaaaaaa saya cuma mengamati kotak kosong itu. Akhirnya karena saya nge-blank, saya coba cari inspirasi dengan liat-liat gimana orang lain mendeskripsikan dirinya.

Ternyata, kebanyakan dari kita mendefinisikan diri berdasar apa yang kita suka... misalnya (dari yang saya baca nih ya): travelling junkie, food lovers, photography addict, dst, dst..... Atau, anda adalah pekerjaan anda, seperti juga saya menulis di kotak description sebelumnya, saya adalah psychologist -soon to be- alias sebentar lagi jadi psikolog resmi. Atau yg lucu, anda mendeskripsikan diri sebagai "properti" orang lain, misalnya: boyfriend of @....... (nyebutin account  pacarnya).
Intinya, kebanyakan dari kita mengidentifikasi diri dengan hal-hal yang umumnya dapet label 'positif'. Entah karena hanya itu yang kita pahami tentang diri kita, atau hanya itu yang ingin kita tahu dari diri kita........ 


Saya Galau.... ya GALAU, seperti anak remaja yang (katanya) sibuk cari jati diri. Ternyata sayapun bisa kebingungan dengan diri saya. Maksudnya, bagaimana ya saya bisa mendeskripsikan diri saya dengan akurat, tanpa atribut-atribut tempelan dari luar? . Kata-kata yang tetap  menjelaskan siapa diri saya bahkan ketika saya TIDAK sedang melakukan hal-hal yang saya sukai, ketika saya BUKAN sedang mengerjakan pekerjaan saya, atau saya yang merdeka, bukan milik siapa-siapa.......

Siapa saya?
Atau, saya adalah sifat saya? Ega yang konyol, easy going, moody-an, gampang lupa-gampang inget, dst...? Lha, itu kan menurut kacamata saya ya, padahal sifat saya menurut orang lain bisa saja berbeda.
Atau memang "saya" ya subjektif dari kacamata saya sendiri? tidak ada ruang untuk interpretasi orang lain tentang saya, bahkan sebagai pertimbangan sekalipun....?
Saya tetep ngga sreg dengan opsi ini. Karena kalau mau bicara sifat, sifat saya sebenarnya jauh lebih kompleks dari yang saya sebutkan tadi. Itu baru lingkaran terluar.... tetapi kalo mau ditelisik layer-per-layer, saya ini masih misterius bahkan untuk diri saya sendiri kok... saking kompleksnya. Bagaimana mungkin menjelaskan ke-kompleks-an tadi dalam beberapa baris singkat sederhana?

Seorang teman dekat saya pernah bilang, kalau masing-masing kita ini unik dan special karena tercipta dari berbagai milyar kemungkinan kombinasi DNA. Tidak ada orang yang sama persis, se-kembar apapun dia atau sesama apapun dia dibesarkan.... Jadi kalau kita mau merunut dari jaman terciptanya manusia sampai kiamat nanti, yang cetakannya kaya kita itu ngga bakalan ada lagi....
Hmmm, lalu knapa ya banyaaakkk sekali orang menggunakan kata "ordinary" untuk menjelaskan dirinya... tidak tahukah mereka, betapa langkanya diri mereka sendiri?

Oke, jadi satu point jelas sudah saya dapat: saya special
Lalu, kalau saya special, anda special, dan begitupun semua makhluk di muka bumi ini.... apa specialnya? hehehe.... bukankah special itu berarti berbeda ya? menonjol? irreplaceable?
Hahahhaa, makin banyak aja pertanyaan lahir dari pertanyaan saya sendiri.
Tapi ngga papa, ini artinya otak saya masih punya dahaga, dan masih berguna. Tidak mati dalam kerangkeng dogmatis.

Sampai saya menulis inipun, saya masih belum menemukan pencerahan yang konkrit... Jadi saya rasa, ini akan jadi tulisan bersambung saya yang pertama...yang akan saya sambung lagi nanti kalau percikan ilham sudah sudi menghampiri, hehehe...
Saya juga ngga bisa memastikan, apakah jawabannya akan datang dalam bentuk kerumitan juga... atau jutru dalam kesederhanaan.. atau justru tidak akan terjawab. Seperti yang Dee Lestari tuliskan dalam salah satu scene nya: ini adalah atraktor asing yang akan terus menggantung.. sebuah tanda tanya Agung. Tanda tanya itulah sebenarnya perjalanan kita, yang secara konstan menggerakkan kita...
Yang jelas, perjalanan ke 'dalam' itu memang lebih sulit terduga ya?, saya sendiri masih sering terkaget-kaget setiap kali melakukannya....

Maka sementara, saya akan membiarkan kotak Description dalam account twitter saya demikian saja adanya: Saya...... adalah kejutan bagi diri saya sendiri.