"Do what you afraid to do, and success will follow"- Bill Rancic, "The Apprentice" & "Giulianna and Bill"-
Saya memulai karir perdagangan kira-kira tahun 2003. Waktu itu saya baru jadi mahasiswa dan mencoba-coba untuk dapat uang saku sendiri.. Akhirnya saya putuskan untuk bergabung jadi consultan Oriflame, salah satu merk kosmetik yang saat itu sistem penjualannya melalui networking (kata orang sih MLM) dengan media katalog untuk memperkenalkan produk-produknya. Lumayan, meskipun untungnya ga bisa saya rasain karena selalu saya pake untuk beli kosmetik juga, tapi saya mulai belajar cara persuasif untuk menjual dagangan saya. Berturut-turut setelah itu, saya juga berjualan pulsa, susu berkolostrum, pakaian pelangsing, baju-baju vintage, kain batik, dan banyaaakk lagi (saya ga inget saking banyaknya...hehehe.....). Pokoknya apapun yang bisa jadi peluang untuk dijual, saya lakukan! Level saya agak naik ketika di tahun 2007 saya dikasih jalan sama Allah untuk buka butik bersama sahabat saya. Dari sini segala sesuatu yang berhubungan dengan menjadi enterpreneur saya pelajari.. baik yang sifatnya teknis, operasional, sampe detail detail kecil... Dari yang sekedar berjualan, menjadi marketing, menjadi producing... semua step-stepnya alhamdulillah saya dapetin.
Sayapun akhirnya menemukan bahwa salah satu passion saya disini, jadi enterpreneur. Saya bercita-cita suatu saat nanti punya perusahaan yang world wide, yang punya berbagai jenis lini usaha. Menurut Wikipedia, enterpreneur adalah: is an owner or manager of a business enterprise who makes money through risk and initiative. Dua karakteristik inilah yang menurut saya penting dan membedakan enterpreneur (pengusaha) dengan level dagang yang lain. Enterpreneur berani menanggung resiko dan berinisiatif, dalam arti mampu melihat peluang dan memiliki sudut pandang yang luas, ga sekedar cari laba, laba, dan laba. Sedihnya, justru saat ini saya sering sekali melihat seller-seller yang ga mikirin etika berdagang dan hanya mengutamakan cari untung. Hal ini terutama muncul sejak era shop online mulai marak, kenapa? karena buyer dan seller ngga ketemu langsung, dan seller ngga harus menyediakan barang langsung di depan buyer. Banyak ni barang-barang yang dijual online yang jelas-jelas palsu alias KW ditulis ORIGINAL. Deskripsinya juga beragam, dari yang katanya reject lah, dropship langsung dari produsen lah, sisa ekspor lah.... Saya ga nuduh semua seller yang mengklaim produknya ORI ini salah, karena memang mungkin info itulah yang didapat seller dari distributornya, sedangkan si seller hanya meneruskan info yang dia dapat. Tapi yang jadi korban dari "penipuan" ini jelas buyer kan? terlepas dari siapa yang ngga jujur mendeskripsikan barangnya.. sehingga menurut saya, harusnya semua seller lebih aware dan smart menilai dan menyelidiki apakah produknya asli atau palsu.
Saya beberapa kali kecewa karena barang yang diklaim ORI ini ternyata KW... Saya pernah coba dari kosmetik MAC, baju ZARA, sampe sepatu CONVERSE. Ternyata kualitasnya jauhhhhhhh.... Packagingnya aja mungkin mirip / asli, tapi produknya itu sendiri saya 100% yakin palsu. Saya bandingin sama produk-produk asli yang saya punya, duh..miris banget!
Persoalan palsu ni jg suka bikn greget ketika sekarang banyak banget baju-baju yang dijual dengan deskrpsi mencatut merk-merk terkenal itu. Hayo siapa yang sering melihat tulisan semacam : kemeja ZARA, dress Diane Von Furstenberg, kaos MANGO, celana BEBE bertebaran? mereka memang tidak mengklaim produknya asli, tapi di klaim terinspirasi alias mirip. hahaha...!! mirip apanya, terinspirasi apanya, kalau di toko aslinya produk semacam itu bahkan nggak ada?.
Paling parah sih menurut saya kalo produk palsu ini berkaitan sama kulit kaya kosmetik atau produk perawatan.. karena ni jelas-jelas bersentuhan sama organ tubuh kita, ngga skedar nempel kaya baju atau sepatu atau tas.... kok tega banget yah seller-seller itu? Kasian saya sama buyer di daerah yang mungkin di wilayahnya ga ada real store merk-merk yang dicatut si seller, sehingga ga bisa bandingin langsung.
Selain persoalan palsu ini, sebenernya masih banyak lagi etika berdagang yang dilanggar oleh seller-seller. Misalnya, terkait pelayanan ke customer. Menurut saya, berbelanja sistem online itu resiko terbesar ada pada customer... karena mereka ngga bisa melihat, menyentuh, atau mencoba barang secara langsung. Mereka hanya membeli berdasar informasi visual dan deskripsi barang. Nah, parahnya, banyak ni seller yang males meladeni customer online. Belom-belom udah nulis duluan, FOR SERIOUS BUYER ONLY. Apa sih definisi serious buyer? bertanya berarti membeli gitu? Ya ga bisa juga donk.. justru pertanyaan-pertanyaan itu yang nantinya menentukan apakah jawabannya bisa me-leading calon customer utk akhirnya membeli. Kalo persoalannya takut ada pembeli HIT and RUN,simple aja ..bikin aturan ketat! misal booked max 24 jam, atau DP untuk barang PO. Toh kalo customer ga bayar sisa DP nya, kita masih punya barang yang bisa dijual dan uang DP itu kan? Nggak rugi sama sekali... Sistem booked 24 jam tanpa pandang bulu juga bisa menyokong sistem waiting list sehingga ga ada istilah customer run. Masih sering kejadian Hit and Run? nah ini biasanya terjadi pada reseller model makelar (akan saya jelaskan di bawah). Pembeli pesan, reseller/makelar harus buru-buru order kalau ngga mau kehabisan dari reseller/ makelar lain, eehh di jalan customernya macet. Kayak gini namanya memang resiko, tapi resiko anda... wahai reseller/makelar! Salah siapa ngga punya stock barang sendiri??. Jadi, kasus hit and run bukanlah alasan untuk ngga kasih pelayanan maksimal untuk customer. Mereka berhak bertanya sedetail mungkin, dan penjual wajib menjawabnya sebaik mungkin.
Hal lain yang juga ganggu saya adalah model reseller yang sebenernya makelar. Reseller, bagi saya adalah seller dengan partai kecil yang memiliki stock barang dan menjualnya. Itu definisi ideal saya. Tapi nyatanya, sekarang di pasaran hampir semua orang berlagak jadi reseller, padahal sebenernya makelar. Mereka cuma punya foto aja, dipasang, nanti kalau ada buyer yang mau baru deh dipesenin ke -sebutan mereka- distributor. Wow, benar-benar minim resiko, ngga pake usaha keras mikirin strategi marketing dll. Modal pun sangat sangat minim , kalau ngga mau dibilang nol! Karena sebenernya mereka ini cuma perantara, ngambil untung di tengah-tengah seller dan customer. Oke buat yg baru aja memulai karir berdagang cara ini tergolong aman, tapi kalo seterusnya dipake... saya curiga mereka ini memang tipe yang idup mau enaknya doank. belum lagi kalau ada kasus customer ga puas karena barang ga sesuai dengan deskripsi..tau jawaban template semua reseller "makelar" ini? "Nanti disampaikan / ditanyakan ke distributor". Enak banget kan ga ada tanggungjwab? Lemparin semua ke seller aslinya, mereka tinggal terima untung. Padahal seharusnya transaksi jual-beli tu antara penjual dan pembeli. Perkara nanti dia mau komplain ke seller di atasnya (distributor / produsen) ya itu urusan dia, jangan dibebankan ke customer. Seller yang baik harus punya cara untuk memuaskan pelanggan, bukannya melempar kesalahan ke pihak lain dan membuat customer bingung. Kalau seseorang memang memiliki modal minim, menurut saya tetap jadilah reseller yang sebenarnya. Punya stock barang sendiri sesedikit apapun, pikirkan bagaimana menjualnya, berani ambil resiko, lalu lakukan penjualab. Dengan begini integritas, etika, dan tanggungjwab benar-benar akan tumbuh, ga sekedar tau uang, uang, uang aja.
Model terakhir dari rantai perdagangan ini adalah seller yang sebenernya preman. Model ini beneran ga punya etika dalam berdagang. Mereka ini ngambil gambar milik seller lain tanpa permisi, menjualnya dengan kenaikan harga seenak jidat, dan kalau ada complain dari customer melemparkan ke seller di atasnya (distributor / produsen) dan sebaliknya, kalau ada complain dari distributor / produsen terkait ketepatan membayar pesanan, dilemparkan juga kesalahan itu pada customer. Pokoknya prinsip hidup preman ini, "urusan orang lain gw ga mau tau yang penting gw dapet duit cepet". . Saya ga sekali dua kali aja ketemu sama preman begini nih, dan kalau saya konfrontir... jawaban "premannya" adalah "yang penting saya bantu supaya barang kamu laku kan?" . Duh sedih saya.... seolah-olah saya mau aja barang laku dengan cara apapun tanpa mempertimbangkan etika berdagang dan integritas reseller saya.
Saat ini saya merasa berada di posisi seller, tapi saya berusaha semaksimal mungkin menerapkan prinsip-prinsip enterpreneur dalam usaha yang saya lakukan karena saya tahu kesanalah titik yang saya tuju. Dalam proses inipun saya ga memungkiri banyak reseller dan "makelar" yang dateng ke saya dan mau menjadi bagian usaha kecil saya ini.. sehingga kompromi yang bisa saya lakukan adalah memberlakukan sistem yang berbeda untuk mereka yang serius menjadi reseller lepas dan reseller "makelar". Tentu saja, mereka yang berani jadi reseller seungguhan saya apresiasi dengan memberikan potongan harga yang lebih banyak dibanding reseller model lain.
There, akhirnya terungkap juga uneg-uneg saya. Saya bukannya mau sok senior, berasa tau banget seharusnya seperti apakah roda perdagangan berjalan. Sayapun masih belajar dan melakukan buanyaakkk sekali kesalahan. Tapi salah satu yang saya pelajari, bahwa integritas, dalam hal apapun yang kita lakukan sangat penting. Karena tidak semuanya tentang uang, meskipun itulah salah satu tujuan orang bekerja... Dalam bekerja pun kita harus mengembangkan diri, harus jadi orang yang lebih baik bahkan dalam hal-hal kecil..itulah yang berusaha saya bagi kepada sebanyak mungkin orang...
Mungkin, banyak orang "tidak sengaja" melakukan kesalahan-kesalahan seperti yang saya tulis itu karena mereka takut. Takut gagal, takut modalnya habis, takut dicap ngga becus berjualan, takut ngga dapet laba...
Well, i tell u something... rasa takut itu, adalah satu-satunya pembatas kita dengan yang namanya kesuksesan. Jadi kalau kita ngga punya keberanian untuk melewatinya, jangan harap kesuksesan juga akan kita temui. Lakukan apa yang membuatmu takut, karena biasanya sense takut itu justru pertanda bahwa kamu tahu disitulah potensimu berada.
Mau berdagang setelah ini? tentukan dulu, mau jadi enterpreneur / seller / reseller / makelar / preman?? Karena masing-masing punya intensitas ketakutan yang berbeda, dan menawarkan level kesuksesan yang berbeda juga!
















































