Sunday, October 23, 2011

Pengusaha / Seller / Reseller / Makelar / Preman ??!

"Do what you afraid to do, and success will follow"
            - Bill Rancic, "The Apprentice" & "Giulianna and Bill"-

Saya memulai karir perdagangan kira-kira tahun 2003. Waktu itu saya baru jadi mahasiswa dan mencoba-coba untuk dapat uang saku sendiri.. Akhirnya saya putuskan untuk bergabung jadi consultan Oriflame, salah satu merk kosmetik yang saat itu sistem penjualannya melalui networking (kata orang sih MLM) dengan media katalog untuk memperkenalkan produk-produknya. Lumayan, meskipun untungnya ga bisa saya rasain karena selalu saya pake untuk beli kosmetik juga, tapi saya mulai belajar cara persuasif untuk menjual dagangan saya. Berturut-turut setelah itu, saya juga berjualan pulsa, susu berkolostrum, pakaian pelangsing, baju-baju vintage, kain batik, dan banyaaakk lagi (saya ga inget saking banyaknya...hehehe.....). Pokoknya apapun yang bisa jadi peluang untuk dijual, saya lakukan! Level saya agak naik ketika di tahun 2007 saya dikasih jalan sama Allah untuk buka butik bersama sahabat saya. Dari sini segala sesuatu yang berhubungan dengan menjadi enterpreneur saya pelajari.. baik yang sifatnya teknis, operasional, sampe detail detail kecil... Dari yang sekedar berjualan, menjadi marketing, menjadi producing... semua step-stepnya alhamdulillah saya dapetin.

Sayapun akhirnya menemukan bahwa salah satu passion saya disini, jadi enterpreneur. Saya bercita-cita suatu saat nanti punya perusahaan yang world wide, yang punya berbagai jenis lini usaha. Menurut Wikipedia, enterpreneur adalah:  is an owner or manager of a business enterprise who makes money through risk and initiative. Dua karakteristik inilah yang menurut saya penting dan membedakan enterpreneur (pengusaha) dengan level dagang yang lain. Enterpreneur berani menanggung resiko dan berinisiatif, dalam arti mampu melihat peluang dan memiliki sudut pandang yang luas, ga sekedar cari laba, laba, dan laba. Sedihnya, justru saat ini saya sering sekali melihat seller-seller yang ga mikirin etika berdagang dan hanya mengutamakan cari untung. Hal ini terutama muncul sejak era shop online mulai marak, kenapa? karena buyer dan seller ngga ketemu langsung, dan seller ngga harus menyediakan barang langsung di depan buyer. Banyak ni barang-barang yang dijual online yang jelas-jelas palsu alias KW ditulis ORIGINAL. Deskripsinya juga beragam, dari yang katanya reject lah, dropship langsung dari produsen lah, sisa ekspor lah.... Saya ga nuduh semua seller yang mengklaim produknya ORI ini salah, karena memang mungkin info itulah yang didapat seller dari distributornya, sedangkan si seller hanya meneruskan info yang dia dapat. Tapi yang jadi korban dari "penipuan" ini jelas buyer kan? terlepas dari siapa yang ngga jujur mendeskripsikan barangnya.. sehingga menurut saya, harusnya semua seller lebih aware dan smart menilai dan menyelidiki apakah produknya asli atau palsu.

Saya beberapa kali kecewa karena barang yang diklaim ORI ini ternyata KW... Saya pernah coba dari kosmetik MAC, baju ZARA, sampe sepatu CONVERSE. Ternyata kualitasnya jauhhhhhhh.... Packagingnya aja mungkin mirip / asli, tapi produknya itu sendiri saya 100% yakin palsu. Saya bandingin sama produk-produk asli yang saya punya, duh..miris banget!

Persoalan palsu ni jg suka bikn greget ketika sekarang banyak banget baju-baju yang dijual dengan deskrpsi mencatut merk-merk terkenal itu. Hayo siapa yang sering melihat tulisan semacam : kemeja ZARA, dress Diane Von Furstenberg, kaos MANGO, celana BEBE bertebaran? mereka memang tidak mengklaim produknya asli, tapi di klaim terinspirasi alias mirip. hahaha...!! mirip apanya, terinspirasi apanya, kalau di toko aslinya produk semacam itu bahkan nggak ada?.
Paling parah sih menurut saya kalo produk palsu ini berkaitan sama kulit kaya kosmetik atau produk perawatan.. karena ni jelas-jelas bersentuhan sama organ tubuh kita, ngga skedar nempel kaya baju atau sepatu atau tas.... kok tega banget yah seller-seller itu? Kasian saya sama buyer di daerah yang mungkin di wilayahnya ga ada real store merk-merk yang dicatut si seller, sehingga ga bisa bandingin langsung.


Selain persoalan palsu ini, sebenernya masih banyak lagi etika berdagang yang dilanggar oleh seller-seller. Misalnya, terkait pelayanan ke customer. Menurut saya, berbelanja sistem online itu resiko terbesar ada pada customer... karena mereka ngga bisa melihat, menyentuh, atau mencoba barang secara langsung. Mereka hanya membeli berdasar informasi visual dan deskripsi barang. Nah, parahnya, banyak ni seller yang males meladeni customer online. Belom-belom udah nulis duluan, FOR SERIOUS BUYER ONLY. Apa sih definisi serious buyer? bertanya berarti membeli gitu? Ya ga bisa juga donk.. justru pertanyaan-pertanyaan itu yang nantinya menentukan apakah jawabannya bisa me-leading calon customer utk akhirnya membeli. Kalo persoalannya takut ada pembeli HIT and RUN,simple aja ..bikin aturan ketat! misal booked max 24 jam, atau DP untuk barang PO. Toh kalo customer ga bayar sisa DP nya, kita masih punya barang yang bisa dijual dan uang DP itu kan? Nggak rugi sama sekali... Sistem booked 24 jam tanpa pandang bulu juga bisa menyokong sistem waiting list sehingga ga ada istilah customer run. Masih sering kejadian Hit and Run? nah ini biasanya terjadi pada reseller model makelar (akan saya jelaskan di bawah). Pembeli pesan, reseller/makelar harus buru-buru order kalau ngga mau kehabisan dari reseller/ makelar lain, eehh di jalan customernya macet. Kayak gini namanya memang resiko, tapi resiko anda... wahai reseller/makelar! Salah siapa ngga punya stock barang sendiri??. Jadi, kasus hit and run bukanlah alasan untuk ngga kasih pelayanan maksimal untuk customer. Mereka berhak bertanya sedetail mungkin, dan penjual wajib menjawabnya sebaik mungkin.

Hal lain yang juga ganggu saya adalah model reseller yang sebenernya makelar. Reseller, bagi saya adalah seller dengan partai kecil yang memiliki stock barang dan menjualnya. Itu definisi ideal saya. Tapi nyatanya, sekarang di pasaran hampir semua orang berlagak jadi reseller, padahal sebenernya makelar. Mereka cuma punya foto aja, dipasang, nanti kalau ada buyer yang mau baru deh dipesenin ke  -sebutan mereka- distributor. Wow, benar-benar  minim resiko, ngga pake usaha keras mikirin strategi marketing dll. Modal pun sangat sangat minim , kalau ngga mau dibilang nol! Karena sebenernya mereka ini cuma perantara, ngambil untung di tengah-tengah seller dan customer. Oke buat yg baru aja memulai karir berdagang cara ini tergolong aman, tapi kalo seterusnya dipake... saya curiga mereka ini memang tipe yang idup mau enaknya doank. belum lagi kalau ada kasus customer ga puas karena barang ga sesuai dengan deskripsi..tau jawaban template semua reseller "makelar" ini? "Nanti disampaikan / ditanyakan ke distributor". Enak banget kan ga ada tanggungjwab? Lemparin semua ke seller aslinya, mereka tinggal terima untung. Padahal seharusnya transaksi jual-beli tu antara penjual dan pembeli. Perkara nanti dia mau komplain ke seller di atasnya (distributor / produsen) ya itu urusan dia, jangan dibebankan ke customer. Seller yang baik harus punya cara untuk memuaskan pelanggan, bukannya melempar kesalahan ke pihak lain dan membuat customer bingung.  Kalau seseorang memang memiliki modal minim, menurut saya tetap jadilah reseller yang sebenarnya. Punya stock barang sendiri sesedikit apapun, pikirkan bagaimana menjualnya, berani ambil resiko, lalu lakukan penjualab. Dengan begini integritas, etika, dan tanggungjwab benar-benar akan tumbuh, ga sekedar tau uang, uang, uang aja.  


Model terakhir dari rantai perdagangan ini adalah seller yang sebenernya preman. Model ini beneran ga punya etika dalam berdagang. Mereka ini ngambil gambar milik seller lain tanpa permisi, menjualnya dengan kenaikan harga seenak jidat, dan kalau ada complain dari customer melemparkan ke seller di atasnya (distributor / produsen) dan sebaliknya, kalau ada complain dari distributor / produsen terkait ketepatan membayar pesanan, dilemparkan juga kesalahan itu pada customer. Pokoknya prinsip hidup preman ini, "urusan orang lain gw ga mau tau yang penting gw dapet duit cepet". . Saya ga sekali dua kali aja ketemu sama preman begini nih, dan kalau saya konfrontir... jawaban "premannya" adalah "yang penting saya bantu supaya barang kamu laku kan?" . Duh sedih saya.... seolah-olah saya mau aja barang laku dengan cara apapun tanpa mempertimbangkan etika berdagang dan integritas reseller saya.

Saat ini saya merasa berada di posisi seller, tapi saya berusaha semaksimal mungkin menerapkan prinsip-prinsip enterpreneur dalam usaha yang saya lakukan karena saya tahu kesanalah titik yang saya tuju. Dalam proses inipun saya ga memungkiri banyak reseller dan "makelar" yang dateng ke saya dan mau menjadi bagian usaha kecil saya ini.. sehingga kompromi yang bisa saya lakukan adalah memberlakukan sistem yang berbeda untuk mereka yang serius menjadi reseller lepas dan reseller "makelar". Tentu saja, mereka yang berani jadi reseller seungguhan saya apresiasi dengan memberikan potongan harga yang lebih banyak dibanding reseller model lain.

There, akhirnya terungkap juga uneg-uneg saya. Saya bukannya mau sok senior, berasa tau banget seharusnya seperti apakah roda perdagangan berjalan. Sayapun masih belajar dan melakukan buanyaakkk sekali kesalahan. Tapi salah satu yang saya pelajari, bahwa integritas, dalam hal apapun yang kita lakukan sangat penting. Karena tidak semuanya tentang uang, meskipun itulah salah satu tujuan orang bekerja... Dalam bekerja pun kita harus mengembangkan diri, harus jadi orang yang lebih baik bahkan dalam hal-hal kecil..itulah yang berusaha saya bagi kepada sebanyak mungkin orang...

Mungkin, banyak orang "tidak sengaja" melakukan kesalahan-kesalahan seperti yang saya tulis itu karena mereka takut. Takut gagal, takut modalnya habis, takut dicap ngga becus berjualan, takut ngga dapet laba...
Well, i tell u something... rasa takut itu, adalah satu-satunya pembatas kita dengan yang namanya kesuksesan. Jadi kalau kita ngga punya keberanian untuk melewatinya, jangan harap kesuksesan juga akan kita temui. Lakukan apa yang membuatmu takut, karena biasanya sense takut itu justru pertanda bahwa kamu tahu disitulah potensimu berada.

Mau berdagang setelah ini? tentukan dulu, mau jadi enterpreneur / seller / reseller / makelar / preman?? Karena masing-masing punya intensitas ketakutan yang berbeda, dan menawarkan level kesuksesan yang berbeda juga!

Thursday, October 20, 2011

Birthday @ X.O Suki & Dimsum!

Kemarin, suami saya menginjak usia 29 tahun..yaiy! Biasanya sih dia selalu lupa sama hari ulang tahunnya.. nggak peduli malah..hehehe.. Katanya siihh dia males balesin ucapan happy birthday. Tapi saya curiga alasan sebenarnya karena dia nggak mau menua. Hahaha! Makanya sejak kenal saya kurang lebih 2,5 tahun lalu saya berusaha menularkan sense of banci ultah ke suami saya. Akhirnya tahun ini, meski tetap tidak heboh... saya rasa cukup sukses membuatnya ingat dengan hari kelahirannya dan menikmati bertambahnya umur itu. Happy Birthday, suamiku yang super light.....!

MORNING SURPRISEEEEEEE...... !

Kopi, kue, dan tas kerja baru!

sembuurrrrr...!


DINNER DO @ Super tasty X.O Dimsum & Suki






                                                              YUM-YUM FOOD!
Sukiyaki with mix seafood, meat, and vegetables

Two tone pink: Guava & my baby

Udah jelas kan kalo ini nasi??

Tahu susun X.O yang bikin mabok enaknyaaa...!

seafood fried rice 
Note: XO Suki & Dimsum ini resto baru di Ambarrukmo Plaza. Menu utamanya suki yang bisa dipilih sendiri ingredients nya, dari yang standar kaya beef slice, meatball, sampe yang lucu-lucu kaya bibir ikan, ubur-ubur, dan seafood lain yang namanya susah, hihihi. Dsini juga sedia menu selain suki kok, kaya tahu cumi cabe garam, kepiting soka, ayam goreng mongolia, banyak deh... cocok buat tempat makan keluarga. Very reccomended!

Tuesday, October 11, 2011

ParentHood

"....i hope u feel what u never felt before. I hope u meet people with a different point of view. Hope u live life that u proud of...and if u're not, i hope u have strength to start all over again..."
          - Benjamin Button, Curious Case of Benjamin Button- (Letter to his unseen daughter)


Beberapa hari yang lalu saya baru aja mengunjungi baby shop. Bukaaan, bukan karena saya persiapan menyambut bayi, tapi saya berniat beliin kado untuk saudara yang baru aja melahirkan. Tercengang, terpesona, dan terkagum saya dibuatnya (untung ga sampe terjengkang...) karena disana ada banyaaakkk banget pernik-pernik bayi dan anak yang lucu, unik, bahkan canggih. Semuanya dijual untuk memudahkan tugas orangtua dalam mengurus anaknya. Otak dagang saya langsung muter n mikir "hmm...peralatan bayi ni pasarnya lumayan deh pasti..karena anak kan kebutuhan n pertumbuhannya cepat. Belum lagi orangtua jaman sekarang yang pengen anaknya dapet peralatan terbaik..."

But wait!!
Saya sendiri langsung terhenti begitu pikiran ini pop-up di kepala. Saya mikir, benarkah? Benarkan peralatan-peralatan canggih ini yang diperlukan seorang anak untuk tumbuh dengan baik? Benarkah ini sungguh kebutuhan anak, dan bukan kebutuhan orangtuanya?

Saya mungkin sekarang masih berstatus anak, saya belum jadi orangtua... Tapi jujur aja, banyak kelakuan orangtua jaman sekarang yang bikin saya geli. Mau contoh? Nih...: mengikutsertakan anak usia kurang dari 3 tahun untuk ikut kontes "model2an" dan bikinin anak account facebook! Saya sih menganggap itu konyol, karena porsi terbesar keuntungan ada pada orangtuanya. I mean, mau dibuat apa trophy kemenangan kontes itu untuk anak? Alasan yang dikemukakan -mungkin- supaya si anak dibiasakan punya prestasi sejak kecil, atau melatih anak supaya berani tampil di muka umum. ... Tapi coba dipikir, apa iya trophy itu akan bermanfaat untu kehidupan si anak selanjutnya? Apa si anak kelak akan punya kebanggaan sebesar orangtuanya melihat trophy itu?
Lalu facebook... apa gunanya anak dibuatkan account yang dia sendiri bahkan belum tahu apa itu internet ?(dan pada masa dia sudah mulai tahu, giliran orangtua yang panik dengan efek internet itu sendiri) Untuk lucu-lucuan? Supaya si anak populer di dunia maya?
Hmmm... sorry to say, tapi menurut saya jawabannya simple: itu semua dilakukan karena kebutuhan orangtuanya. Kebutuhan apa? entahlah.... bisa kebutuhan untuk ngeksis, diakui, atau sekedar kebutuhan memberi diri sendiri "reward" atas fungsi ke-orangtua-an nya.

Sama seperti toko bayi yang menyediakan segala pernik canggih itu..... Saya jadi bertanya, berapa banyak ya  orangtua yang membeli benar-benar sesuai kebutuhan anak? Botol susu dengan bentuk yang dibuat menyerupai puting ibu agar si bayi terstimulasi dengan baik motorik dan pertumbuhan giginya, menurut saya tetap ga bisa ngalahin puting susu ibu. Mainan yang bisa mengeluarkan suara-suara lucu, menurut saya belum bisa ngalahin canda tawa yang dilakukan orangtua. Kursi bayi keren dengan logo brand yang gede banget di tengahnya, menurut saya masih kalah sama buaian / gendongan orangtuanya.

Hmm...saya bukannya mau nyinyir sama peralatan2 itu, karena saya tau peralatan itu dibuat untuk memudahkan tugas-tugas orangtua. Saya tau pada derajat tertentu anak-anak memang membutuhkannya.... Mereka butuh mainan edukatif yang menstimulasi perkembangan, mereka butuh pakaian yang nyaman, mereka butuh asupan terbaik... Apalagi dalam kasus-kasus tertentu, bantuan dari alat-alat ini sangat diperlukan, misalnya botol penyimpanan ASI bagi ibu yang ASInya melimpah agar selalu terjaga kualitasnya...

Saya ini nyinyir-in NIAT orangtuanya. Karena faktanya, banyak sekali anak yang ngga dapetin kebutuhan mereka yang sesungguhnya baik fisik, emosi, maupun sosialnya. Orangtua yang terlalu sibuk misalnya... melimpahi anak-anak mereka dengan kebutuhan tersier yang super mewah, tapi kebutuhan dasar anak untuk dipeluk saja diserahkan ke pengasuh... sampai-sampai si anak lebih nempel sama pengasuh daripada orangtuanya. Orangtua yang males, ga mau repot bikinin anak makanan rumah dengan bahan-bahan asli, justru menggelontor anak dengan makanan buatan yang melimpah di pasaran dan di klaim produsennya mampu memenuhi asupan gizi secara sempurna. Orangtua yang peduli hanya pada perkembangan anak yang kasat mata, sibuk memperbagus tampilan anak, tapi tetep aja di depan anak bicara kasar atau memberi contoh sikap buruk lainnya. Orangtua yang gengsi an, rela masukin anak ke sekolah mahal dengan embel-embel "internasional" tanpa melihat apakah sekolah itu memenuhi kebutuhan anaknya akan pendidikan atau tidak. Orangtua yang melek teknologi, sibuk membekali anak dengan blackberry sejak dini, tapi mendengarkan cerita anak tentang kegiatannya saja nggak sempat.....

Sungguh contoh-contoh itu bukan karangan saya saja..tapi terjadi di sekeliling kita sekarang.

Pada tulisan sebelumnya saya sedikit menyinggung tentang "living in others dream". Bahwa kita, seringkali dibesarkan dengan mimpi-mimpi orang lain yang secara ga sadar dipaksakan seolah-olah itu mimpi kita juga. Menurut saya, bibit dari perilaku ini ya orangtua.... karena sejak si anak kecil, orangtuanya sendiri bingung mana yang sebenanrnya kebutuhan dirinya, dan mana kebutuhan putra-putrinya. Mungkin awalnya hanya kontes, facebook, alat-alat canggih.... namun lama kelamaan "pemaksaan kebutuhan" ini bertransformasi jadi gaya hidup dan cita-cita anak. Meskipun banyak orangtua yang ber statement "terserah anak mau jadi apa, kami hanya mendukung", tapi berapa banyak dari mereka yang restu dari awal jika anaknya memilih jadi, hairdresser misalnya? atau jadi ahli kimia? atau memilih fakultas yang ga populer semacam sastra jawa? Akibatnya, ga sedikit anak yang tumbuh dalam kekosongan... karena ia ga sempat membesarkan mimpi-mimpinya sendiri.

Menjadi orangtua, memang tugas yang maha berat. Bahkan sejak anak dalam kandungan pun, nutrisi emosi sudah dibagikan oleh ibu kepada calon bayinya... dan tugas ini akan terus berlanjut sampai ruh berpisah dari jasadnya. Namun bukan berarti tugas ini harus ditanggapi dengan superior, menganggap kita yang paling paham kebutuhan anak. Mereka pun makhluk hidup yang punya suara, punya keinginan dan kebutuhan. Mudah kok resepnya: dengarkan, rasakan..... Maka kita akan tahu bedanya mana kebutuhan milik kita dan milik anak.

Quote yang saya cantumkan di awal tulisan ini benar-benar menyentuh saya... Karena rasa-rasanya masih langka ya orangtua yang menanamkan hal-hal tentang inner strength sejak awal.. Surat Benjamin Button itu menurut saya sarat kasih sayang tanpa syarat dari seorang Ayah, yang menginginkan putrinya menjadi special dengan caranya sendiri, bukan dengan cara mainstream yang banyak diyakini orang lain. Benjamin Button mendorong kekuatan anak untuk mengikuti jalan hidupnya, bukannya sekedar menunjukkan ke mana arah jalan itu......

Mudah-mudahan.... nanti kalau sudah waktunya saya naik kelas jadi orangtua, saya akan selalu ingat bahwa anak adalah titipan Allah. Titipan, bukan 'milik' yang bisa saya bentuk sesuai keinginan sendiri, atau 'pewaris' bagi pemenuhan kebutuhan yang gagal saya lakukan sendiri........


Friday, October 7, 2011

I Heart Jogja

Jogjaku tempo doeloe.......

Malioboro

Tugu Yogya

Alamnya cantik....
Lereng Merapi

Air Terjun

Pantai Drini
Budayanya unik......
Tari Bedhoyo

Yess Gowess...We like gowess..

Produk asli Kasongan,it goes worldwide!

Mural, di salah satu sudut Jogja



The beauty of Jogja......
The Legend: Mbah Maridjan

Pembatik

The Dancer

Abdi Dalem kakung

Abdi Dalem putri
Jogja Fashion Week


Ngga usah takut kelaparan di kota ini.....
Angkringan: Kenyang, Murah, Nyaman.
Lupakan KOLESTEROL!

Sate kendal / gajih /lemak.

 Jogjapun pernah berduka..........
Wedhus Gembel = hujan abu

Kali Code meluap

Gempa Jogja

Tapi tidak sedikitpun dari kami marah karenanya, karena alam hanya menjalankan tugasnya....
Gotong royong

Mereka tidak lari....


Saya, CINTA JOGJA!
Prewed shoot: Nol Kilometer

Prewed shoot: Nol Kilometer with cute police officer

Jogja adalah rumah bagi semua orang,
Ia menyimpan segala jenis kearifan, dengan bahasa yang mudah dipahami manusia etnis manapun.....
Jogja tidak pernah murka bagi siapapun yang mengotorinya,
Karena ia percaya alam memiliki hukumnya sendiri.....
Jogja Istimewa, bukan karena ia ingin diagungkan....
Tapi karena ia memang istimewa, disini, di hati kami.........


Sugeng Tanggap Warsa Yogyakarta, kotaku tercinta............


(Sumber foto: dari berbagai sumber, Google answer everything!)

Wednesday, October 5, 2011

Pertanyaan Horor...Hiyyyy...

Having a baby is like getting a tattoo on your face. You really need to be certain it's what you want before you commit.” 
           - Elizabeth Gilbert, EatPrayLove -


Saya percaya setiap orang di muka bumi ini pasti punya black-list pertanyaan horor yang mungkin dilontarkan orang lain. Ngga selebritis, politikus, PNS, mahasiswa, si cupu, si keren, si jagoan, si kaya raya, si tukang gosip... Semua to the max!. Contoh pertanyaan horor itu: udah ada calon? - buat si penyandang gelar jomblo -, kapan lulus? - buat akademisi yang terlalu lama nyangkut di kampus -, sekarang kegiatannya apa? - buat para jobless -, udah "isi"? - buat pengantin baru, for example... SAYA!-. 
Hemm mungkin pertanyaan horor ini sedikit bervariasi untuk kalangan lain, misal: udah punya koleksi houndstooth-nya Badgley Mischka? -buat para fashionista- atau sekedar : kemarin dapat ranking? - untuk anak sekolahan yg baru aja lulusan-. Intinya, ini adalah tipe pertanyaan yang kalo disodorin ke kita, rasanya darah langsuungg zwiiiinggg naik  ke muka bikin berdesir-desir ahee, bikin cuping idung kembang kempis, dan bikin otak muter kayak gasing mikir jawaban cepat dan tepat.......


Saya ngga menyalahkan orang-orang yang menanyakan hal ini. Sebagian dari pelontar pertanyaan memang mereka yang sungguh-sungguh peduli pada hidup kita, meskipun sebagian lagi, well.. memang orang-orang yang sekedar bertanya basa-basi, dan sebagian lagi...golongan yang memang dengan sengaja menanyakan itu supaya desir-desir aheee kita muncul. Siapapun itu, mereka punya hak untuk bertanya. Masalahnya bisa nggak kita mmenghadapinya dengan keanggunan.....


Selama hidup sayapun sebenarnya banyak pertanyaan horor yang menghantui hari-hari saya. But lately, list itu nambah satu lagi sejak saya menikah 4 bulan lalu. This baby question.....whew lumayan menguras emosi dan pikiran saya!! dan membuat saya kemudian questioning banyak hal juga....Saya jadi meragukan, apa iya intensi saya untuk segera memiliki momongan itu asalnya dari dalam diri saya, atau saya sekedar kejar target untuk menyenangkan orang-orang di sekitar saya? untuk menyelamatkan saya dari pandangan aneh udah-beberapa-bulan-kok-belum-hamil-ada-apa-dengan-tubuhmu? untuk membuktikan bahwa saya wanita sempurna? .... 


Self-question ini pun akhirnya mengarah ke pemikiran lain: tentang betapa berat beban yang kita bawa setiap hari terkait peran-peran yang kita jalankan (sebagai orangtua, anak, murid, saudara, pekerja, istri / suami). Beban ini kalau ngga terpenuhi, hasilnya adalah judgement dari orang lain dan seringkali...judgement kita terhadap diri sendiri. Karena sadar atau tidak, banyak dari kita yang "living in others dream". Kita berusaha menjadi atau mencapai sesuatu yang sebenarnya itu impian orang lain... entah itu impian orangtua, atau impian orang yang kita kagumi.. Kita terlalu lama dibesarkan dengan mimpi-mimpi itu sehingga percaya bahwa itu impian kita juga. Memang tampaknya lebih mudah mempercayai mimpi semacam ini, karena kita ngga perlu berdarah-darah mencarinya...dan kita akan selalu dapet dukungan untuk mencapainya. Tapi tahukah..... sebenarnya dalam proses ini kitapun kehilangan banyak puzzle tentang siapa diri kita. Inilah sumber perasaan hampa, bingung, unhappy, ketidakpuasan.. meskipun TAMPAKNYA kita sudah dapetin semua yang kita mau....


Kedua, self-question ini juga menyadarkan saya... bahwa detik-detik dalam hidup kita, sebagian besar dihabiskan untuk melompat dari satu tugas ke tugas lain. Tanpa benar-benar be present, embrace, appreciate, acceptance, loving, forgiving....... Jadi anak, kita bertugas membanggakan keluarga, beralih jadi contoh untuk saudara-saudara lain, beralih jadi menafkahi keluarga, dan seterusnya dan seterusnya.... Jadi perempuan, kita bertugas jadi pribadi yang sopan dan jaga nama baik keluarga, beralih jadi istri yang melayani suami, jadi petugas reproduksi, jadi pengasuh, daaann seterusnya... Tugas yang sangaaatt panjang ya? 
Tapi bukankah untuk ini kita hidup? Bukankah hidup ya seperti ini? kalau ngga melakukan tugas-tugas ini kita ngapain donk?
Iya...betuL. Memang hidup adalah serangkaian tugas-tugas..dan tanpanya kitapun ngga akan bertumbuh... Yang saya maksudkan adalah, berapa dari kita yang meluangkan waktu untuk memberi jeda di antara tugas-tugas itu dan betul-betul menikmatinya? berterimakasih pada diri sendiri? meneteskan air mata saking bahagianya dengan cinta yang kita miliki? memaafkan kesalahan-kesalahan yang tidak bisa kita ubah lagi?...... Waktu dimana diri kita adalah NOL sekaligus sangat KAYA? (this part akan saya tulis di bagian lain ya... karena bakal panjang banget...hehehe). Ini yang sesungguhnya harus kita renungkan......


Lalu..saya pun jadi mikir, betapa sedikit yaa ruang privacy orang lain yang kita hormati? sehigga kita mudah menanyakan hal-hal yang mungkin orang lain feel uncomfort... Saya baru aja beberapa hari lalu dapet sms dari temen yang sebenernya cuma numpang kenal sebentar, sms pun langka bgt selangka kemungkinan kita ketemu Johnny Depp di malioboro, dan bunyi sms pertamanya setelah sekian lama ga meet up adalah "ega udah punya momongan?" what??! 78%n9!!f0$hR*&6@!!. Harusnya pertanyaan gini kan kelasnya sama kaya "berapa gaji kamu?" atau "berapa umurmu?' di kehidupan bule-bule sono..... Minimal, prolog dulu kek biar saya tau kalo dia beneran care.. 
Yeah intinya, budaya rawe-rawe rantas malang-malang putung (hash gimana seh nulisnyaaa..) kebersamaan, kekeluargaan, dan segala ketimuran kita ini harus juga diimbangi belajar menghormati wilayah pribadi orang lain ya......


Kembali ke pertanyaan horor saya.. Well, saya belum punya jawaban cerdas kalau pertanyaan "udah isi?" ini datang menghampiri saya. Sejauh ini saya cuma jawab sambil senyum : "belum, doain yah..." atau jawaban sedikit garing kalo jiwa saya lagi kesambet Sule; "udah ni, isi lemper....."
Tapi andaikata saya punya cukup waktu dan tenaga untuk ngadain jumpa pers n menjelaskan ke semua orang, saya pengen mereka sungguh-sungguh melihat saya dan saya bisa berkata :"saya bahagia....hidup saya jauh lebih baik sejak saya menikah". Alhamdulillah saya dikaruniai suami yang super light, ga ada masalah di dunia ini yang cukup besar hingga ia izinkan jadi 'masalah'. Saya tumbuh, tertawa, belajar, dengan kondisi hidup yang masih berdua ini. Sungguh, ada banyak hal dalam kehidupan kami yang bisa kami syukuri daripada kami sibuk memerintah Allah untuk segera mengaruniai kami momongan. Kalau menjadi orangtua adalah komitmen seumur hidup yang akan kami jalani sampai mati nanti, boleh kan kami sekarang menikmati waktu berdua ini tanpa dikejar-kejar target punya anak?
Di luar semua hal ini (orang lain boleh menganggapnya rasionalisasi saya semata) saya percaya Allah saya yang Maha Baik punya hitung-hitungan matematika paling dahsyat. Dia Maha Tepat Waktu. Dia Maha Tahu. Kehamilan terjadi bukan sekedar sperma dan sel telur bertemu di saat tepat dan kondisi sehat. Kehamilan adalah kombinasi fisik, mental, dan spiritual yang sempurna... semua akan terjadi tepat waktu, saya mengimani hal ini. Oleh karenanya, doa saya setiap kali sujud kepada Allah  bukanlah agar segera diberi momongan.... tapi agar saya diberi momongan ketika kami SIAP, dan PANTAS menurut hitungan-Nya... dan agar saya dan suami tetap berdiri kokoh tersenyum dalam setiap pertanyaan horor yang hadir... coz' yes, we're so much in happy marriage life..............


Saya berharap...... kita semua, termasuk saya, akan terus menjadi jiwa-jiwa yang merdeka... dengan impian-impian sendiri yang kita temukan dan perjuangkan sendiri. Sehingga kalau ada pertanyaan horor yang mampir dalam keseharian, kita akan selalu punya jawaban aheeee kriuk-kriuk............
"Udah ada calon?"........... "udah, tinggal seleksi fit and proper test aja abis ini. Finalisnya masih 5 sih" *kedip genit*
"Kapan lulus?".........."Alhamdulillah yaah udah 3x lulus, jadi sekarang ga ngoyo2 amat" *pake kacamata item*
"Skrng kegiatannya apa?"...."Sibuk! Baru aja guntingin kuku kaki tetangga. Kegiatan sosial gitu" *kunyah permen karet*


Cheers,

Another project awaits!


Saya kemarin baru mengunjungi rumah mami.... Minta makan, numpang bobo siang, daaan... menjarah beberapa koleksi kainnya...hihihihiii... Lucu-lucu sekalii. Ada kain-kain batik n chiffon yang langsung kebayang mau dijadiin apa....
Ide di kepala saya lagi banyak banget ni.. menunggu untuk ditransformasikan jadi aneka ria baju dan tas.. Yeps, saya mo coba bikin tas dan harus sesegera mungkin memulai langkah-langkah kecilnya..... finger cross!
Nanti kalau udah jadi saya lock and load deh...
Semoga mamak saya ikhlas kain-kainnya udh berpindah tangan. *ketawa setan*

Sunday, October 2, 2011

Fashion 911 !!!

"You can't messed up with clothes... You wore it! worked it!"
- Jodie Kidd, Fashion Avenue-
Hola!! Welcome, early October!
Saya tadinya mau mengawali tulisan di awal bulan ini dengan sesuatu yang menggemparkan, menegangkan, dan bikin kening berkerut-kerut...tapi kayaknya niatan ini ngga diridhoi Allah, oleh karena saya nggak selesai2 nulisnya... Ada aja gitu halangan nya... Jadilah saat ini saya disini, nangkring depan komputer  suami, mencoba menghasilkan tulisan yang ringan, seringan bulu idung..... but hey i promise back then to keep writing genuinely, rite??

Ide ini datengnya semalem, ketika saya memposting display picture di bbm ketika saya mau pergi bermalem minggu. Outfit saya sebenernya simple aja, cuma dress pendek + stocking + light colour shoes. Ternyata sampe sisa malem itu ada beberapa teman yang texting saya dan bilang suka sama style itu (errr....sebenernya cm 2,5 orang sihh..hahahahaha... yang 0,5 itu soalnya si pelaku ada nyela-nyela bajing jadi ga saya itung 1 biji kepala :p ). Nah saya selain jadi Ge-eR, jempol saya pun lumayan capek jelasin ke mereka kalo sebenenrnya outfit saya itu ga keren-keren amat aslinya. Itu cuma dress kegedean + kependekan yang saya akalin pake tali supaya ngasih ilusi lbh fit.... Sebelumnya sayapun sering ngalamin hal kayak gini. Terutama kalo beli sesuatu secara online, yang saya hanya bisa mengira-ngira gimana produk itu jadinya kalau saya pake. But sometimes shit happened, begitu sampe rumah adaaa aja bagian yang ga pas. Kegedean, kekecilan, kepanjangan, kependekan, kemahalan...... (yang terakhir ini hampir selalu terjadi ketika membeli di atas tgl 18... u know why....: tanggal tuwwwakk!!). Lalu apa iya baju-baju semacam ini harus cuma teronggok di lemari?? Smart shopper need a fashion rescue!!.
dari hasil bbm an semalem sama temen-temen itulah saya dapet Aha! moment untuk sedikiitt bagi-bagi tips tentang fashion-rescue-do-it-yourself. Daann ini dia list fashion rescue yang menurut saya bisa dimiliki / dilakukan cewek untuk menyelamatkan diri di saat genting.......Jreeengg-jreeenggg *down the light please*....:

1. BELT

Yess, Belt! saya bersyukur banget karena sejak sekitar 2 tahun lalu muncul berbagai jenis dan material belt : skinny belt, obi belt, leather, suede, cotton, rattan, sampe plastik!. Pemakaian belt pun bisa disesuaikan kebutuhan : di garis pinggang, tepat di garis perut, bahkan bisa dipake agak longgar di bagian panggul. Dan yang paling seru, belt bisa dipake untuk jenis pakaian apaaaaaaa ajaaaa..... even in runaway the designers play with the belt:

             


Terkait fashion rescue ini, belt terutama bisa dipake untuk ngakalin baju kegedean..karena belt ngasih ilusi tampak fitted body. Selain itu belt juga bisa dipake untuk baju yang kepanjangan. Pakai belt untuk dress, shirt, atau kemeja yang kepanjangan, di garis pinggang atau di perut... kemudian tarik sedikit baju di bagian atas dress..voila! jadi deh kesan loose yet sexxy dan shorter tentunya!. Please noted, jangan sampe over do sama aksesoris kalau udah pake belt karena belt itu sendiri udah jadi aksesori yang cukup besar untuk the whole look. Oh ya, belt juga bisa jadi senjata andalan untuk pemilik tubuh tidak-tinggi loh.... karena belt juga ngasih ilusi motong tubuh di bagian middle, sehingga garis batas antara tubuh atas dan bawah jadi nggak keliatan.... Ilusi ini akhirnya bikin kaki terlihat lebih panjang dan kesan lebih tinggi bisa didapet. Jadiii, buat si mungil..jangan ragu pake maxi dress yakz!


2. OUTWEAR
       


Outer yang saya maksudkan disini bisa apa aja: jacket, cardigan, blazer, coat.... saya sendiri agak obsessed sama fashion item yang satu ini karena bisa dipakai untuk ngerubah tampilan total, dan ngasih volume ke tipe badan  kayak saya yang gepeng a.k.a kurus.. Menurut saya siihh, hukumnya 'agak' wajib deh buat cewek punya outer ini, minimal dalam warna-warna tanah seperti hitam, cokelat, atau abu-abu... karena outer ini termasuk fashion rescue yang mudah dan impactable.... Kalau ada masalah sama baju yang terlalu terbuka, robek, ngga ngasih shape yang pas di tubuh, atau sekedar kasih sentuhan manis..outer ini juaranya! Model outer yang berbeda-beda, misal cropped atau yang model lebih panjang kaya' coat juga bisa jadi solusi untuk baju yang kependekan atau kepanjangan. Misal: tank top kependekan yang terlalu mepet ama garis celana dan beresiko naik2 selama dipakai beraktivitas, bisa dipaduin sama outer yang agak panjang. Sebaliknya, shirt atau kemeja kepanjangan juga bisa diakalin pake outer model cropped. Bonus lain, outer juga bisa ngerubah tampilan dengan cepat: chic, resmi, casual... jadi kalau harus dateng ke dua acara yang beda suasana dalam waktu berdekatan... this outer definetely could be your bestfriend! ^^

3. STOCKING / LEGGING
               

Again, i should thank for the fashion revolution.... karena sekarang legging bukan cuma sekedar bawahan ketat untuk senam aerobik, tapi udah jadi fashion item yang SESUATUH bangetttt! Alhamdulillah yaahh.... Fungsi legging / stocking untuk fashon rescue ini sebenernya ngga seluas belt atau outwear... tapiiiii legging/stocking beneran bisa kasih pukulan KO buat problem baju 'tanggung' atau atasan yang 'sedikit' kebesaran... saya sering ngalamin, punya atasan yang kalo dijadiin atasan untuk padanan jeans jatuhnya kepanjangan, tapi mau dijadiin dress juga terlalu mini. Nah untuk kasus tanggung seperti ini legging / stocking selalu bisa jadi andalan. Trus, untuk baju yang sedikit kebesaran, fashion item ini juga cocok banget karena legging / stocking kasin tampilan yang press body sehingga bisa balancing untuk atasan agak kebesaran tadi. The results: edgy, sexy but not cheezy look!. yang harus jadi perhatian dari legging / stocking ini adalah pallete warnanya. Karena sekarang dipasaran banyak banget jenis dan warna yang tersedia: latex, leather, jegging, plain, motif, sampe yg light colour. Meskipun musim ini colour blocking lagi "in", tapi pemilihan stocking / legging yang tepat juga mesti diperhatiin. Untuk amannya, pilih aja yang dalam pallete basic: hitam, abu tua, navy blue. kalaupun mau pakai yang bermotif kaya' leopard, abstract, atau yang agak rebel model robek-robek gitu, pastiin atasannya cukup plain yaaa......

4. DISTRACTOR
   
 
     



NAAAHHHH!!! Fashion rescue ini adalah jalan keluar terakhir kalo udah mentoookkkkk banget....hehehe... pke sesuatu yang pop-up dan eye catching  bisa banget buat mengalihkan perhatian dari costume malfunction. In fact, sebenernya ngga semua orang loh ngeh sama problem baju kita.. seringkali kita sendiri yang udah duluan panik sehingga membesar-besarkan masalah sehingga akhirnya besar beneran karena orang-orang jadi merhatiin. Jadi langkah terbaik, pakai baju itu... tertawa lebar depan cermin...bermain-mainlah dengan apapun distractor yang kamu punya (1-2 distractor cukup yaaa...), dan ucapkan mantra ini depan cermin: "saya keren, saya outstanding, dan gaya saya ini akan ngetrend beberapa saat lagi"  (note: kata "saya" boleh diganti aku, guweh, kulo, ambo, ane, kito, or whatever u like :D)


Begitulah sodara-sodara.... meskipun saya sama sekali ngga berani mengkategorisasi diri saya sebagai fashion expert, meskipun yang saya tulis itu hanya berdasar pengalaman pribadi, meskipun saya juga ngga tau apakah it'll works buat orang lain... but there....fashion rescue 911 i'd like to share....
Kalau viewers ada ide lain untuk di share atau di discuss, saya bakalan seneeengg banget deh.... saya juga bakalan bilang thankiu, mamacieh, mercy, syukron, danke, xi xie yang banyaaakkk banget hihihihihihi.......


Go play with your wardrobe yaayyy! Cheers, 

Saya: tahilalat