Efisiensi menulis itu perlu. Tetapi menyingkat ucapan-ucapan seperti GWS (get well soon), WYATB (wish u all the best), GBU (God bless u) dimana notabene itu adalah ungkapan "doa", kok rasa-rasanya kurang baik ya.... Kalau kita sungguh-sungguh pengen mendoakan orang lain, mendingan diucapkan dengan benar.
******************
Kalau saya tidak pernah mengeluh atau berkoar-koar kesedihan tentang not having children yet, itu bukan karena saya tidak menginginkannya. I want it more than anyone... anyone. Hanya saja, saya merasa sangat dicukupkan dan dibahagiakan dengan kondisi saat ini, yang seperti ini. Jadi kebanyakan complain sama Allah bikin saya ngga enak hati karena itu artinya saya fokus pada apa yang gak saya punya.... Saya dan suami percaya kok bahwa jawabannya hanya "belum", bukan "tidak". Dan di masa "belum" ini, kami berusaha mengisi rumah tangga yang kami miliki dengan se-produktif mungkin dalam banyak hal.
FYI, Saya tertawa jaauuuhhhh lebih banyak sejak menikah. Saya rasa ini saja sudah indikator bahwa kami harus lebih banyak bersyukur daripada meminta lebih.
******************
Saya baru menemukan kalau ternyata sangat menyenangkan berada di antara orang-orang berzodiak Aries-Taurus, hihihihii.... Sampai detik ini saya sudah menemukan 11 nama yg berzodiak keduanya yg saya kategorikan "asyik". (pssstt.... bahkan 2 di antaranya adalah mantan pacar!)
******************
Ayah saya kemarin baru saja selesai menjalankan jabatan puncaknya. Sekarang beliau menempati posisi lain, dan lebih fokus mempersiapkan masa pensiunnya tahun depan. Kadang-kadang saya ngga percaya kalau Papi udah setua itu, mengingat semua kelincahan dan energinya yang seolah ga pernah habis. Papi bener-bener inspirasi tentang semangat bekerja keras, fleksibilitas, dan selalu bersenang-senang dengan apapun yang saya kerjakan.
******************
Quote itu salah satu kekayaan intelektual. Jadi kalau kita mengutip quote siapapun, berbesar hati aja untuk mengatakan / menuliskan siapa sumbernya. Anggap quote itu seperti citation di tugas akademik. Kalaupun lupa, mendingan ditulis "unknown" sekalian. Seriously, don't take any credits if it's not yours.
Sunday, April 22, 2012
Wednesday, April 18, 2012
Motivasi dan Motivator
Jujur nih ya.... saya bukan penggemar, pengikut, atau pemerhati motivator. Itu lhoh , orang-orang yang berbicara di seminar atau pelatihan, atau menulis buku, yang tujuannya memotivasi orang lain... ngasih resep-resep jitu menghadapi kerasnya kehidupan. Tujuannya satu: mencapai sukses. Entah sukses secara emosional, finansial, relasional, u name it....
Sebelumnya saya juga ngga terlalu paham kenapa saya nggak ngerasa related sama motivator-motivator itu.. Padahal kebanyakan dari mereka punya jargon hebat yang sering saya dengar, punya acara televisi terkenal, punya seminar-seminar yang sering diadakan , punya kolom sendiri di media massa, punya jutaan follower di twitter yang sering mendengungkan betapa hebatnya mereka... Entahlah, saya hanya ngerasa ga "klik" aja. Kayak jodoh, kalo ga "klik" ya ga bakalan nyambung ya. hehehehe...
Pernah sih beberapa kali saya coba menonton acara mereka, memperhatikan apa yg mereka tulis dan katakan, mencoba mencari "wow" momen seperti yang bisa didapat orang lain. Tapi apa daya, biasanya saya cuma berakhir dengan melongo aja dengan kata-kata indah para motivator itu. Buat saya itu cuma kata-kata indah, titik. tidak cukup memotivasi saya melakukan perubahan apapun dalam hidup. Bahkan seringnya saya justru geli kalau menonton acara salah satu motivator paling terkenal di Indonesia karena jawaban-jawaban yang dia berikan suka ngga nyambung sama pertanyaan audiens. Tapi dengan gaya penyampaian yang aduhai kayaknya cukup bikin semua penontonnya terpukau n bertepuk tangan keras setiap kali dia mengakhiri kalimat. Begitupun dengan membaca tweet2 atau kolom-kolom yang biasa diisi motivator itu, otak dan hati saya ga bisa konek. Saya bahkan pernah secara sengaja memperhatikan semuaaa tweet seorang motivator terkenal selama beberapa hari... Ajaibnya, saya menemukan beberapa quote bijak yang saya tau persis itu quote milik orang lain, hanya dipoles sedikittt dgn esensi yang jelas sama, tetapi diberi hashtag (#) bahwa itu quote miliknya... Alamak!! tidak pernahkah dia mendengar tentang plagiatisme???. Bener-bener pengalaman yg tidak membuat saya terinspirasi deh.
Hmmm....mungkin saya jadi terdengar negativistik ya... atau pesimistis? . Atau saya terlalu egois sehingga motivasi dari orang-orang hebat itu tidak bisa menggugah sanubari jiwa terdalam ini???
Seperti biasa, saya mulailah menajamkan intuisi ini untuk tahu jawabannya..... supaya saya nyaman aja dengan ke-enggan-an saya jadi pengagum para motivator itu. :D :D
Saya memulai pencarian itu dengan sungguh-sungguh memperhatikan apa yang dikatakan para motivator. Di televisi, tweet, media cetak, anything.... saya bahkan membeli dua buah buku yang diklaim bestseller n jadi salah satu mahakarya penulisnya -ya motivator itu sendiri-. Judulnya: gagah. Pemberi komentar tentang buku itu: orang-orang terkenal. Isi komentar mereka: persuasif sangat. Harga bukunya: dahsyat!! Hehehehehe..... Sayapun berniat akan baca isi buku itu dengan segenap hati, tanpa prejudice yang menyesatkan.
Dan perjalanan menembus lembar demi lembar buku itupun saya lakukan...... saya membiarkan dulu diri ini hanyut di dalamnya, sambil mulai merasakan, dan menganalisa tentunya...
Saat ini sudah satu buku yang saya selesaikan... dan sekali lagi, jujur sejujur-jujurnya...saya merasa membayar terlalu mahal "hanya" untuk isi buku semacam itu. saya tidak menemukan resep-resep how-to yang terhitung baru, dan tidak tergugah akan kisah hidupnya, intinya...tidak melihat sesuatu yang signifikan untuk bisa saya terapkan lah. Memang, dalam bagian-bagian tertentu saya mendapat kan "agree moment", dimana topik yang ditulis memang sesuai apa yang sudah saya yakini sebelum ini. Tapi selebihnya tidak ada sesuatu yang baru. Saya sudah tahu tentang bekerja cerdas instead bekerja keras, tentang integritas, bermimpi besar, fokus mencapai cita-cita, menjalin relasi, dst, dst.... Tapi how-to secara teknis, yang benar-benar implementatif,dan revolusioner tentunya..tidak saya temukan. Saya bahkan ga bisa menangkap how-to nya si motivator itu mencapai suksesnya sendiri, yang benar-benar berbeda dari how-to orang sukses lainnya. Kisah-kisah analogi singkat yang selalu dia tulis untuk menjelaskan maksud dari tema-tema besar resep suksesnya juga tidak inspiratif. Saya sudah sering mendengar tentang kisah anak ayam-rajawali, coca cola, dan beberapa lainnya. Dan hal paling krusial yang bikin saya ga sreg adalah......buku itu tidak mendukung individual differences, karena cenderung mengarahkan pembaca untuk menyetujui kesuksesan versi si motivator saja. Padahal di hari yang sama, saya baru berbicara dengan seorang teman yang punya definisi happy n sukses yang jauh berbeda dengan motivator ini..........
Saya bukannya memandang sinis, meremehkan, atau being negative aja lhoh. Saya pun sebenenarnya kagum sama pencapaian si motivator ini... Saya kagum dengan sepak terjangnya yang bener-bener meyakini mimpinya, visinya, dan hasil nyata dari keyakinan itu. Saya yakin secara finansial, si motivator ini sudah beyond cukup deh... Siapa yang ga iri coba?? terkenal, diundang bicara dimana-mana, dibayar mahal, plus punya visi yang baik untuk humanity.... itu adalah poin dimana saya menghargai kesuksesannya yang from zero to hero. Saya menghargai si motivator ini sebagai individu, bukan atas kemampuan motivasinya.
Sayapun menyadari, mungkin..inilah sebabnya saya ga feel related sama motivator-motivator itu. Karena buat saya,motivator itu seharusnya orang yang been through sesuatu, sudah punya wisdom akan keberhasilannya, dan mampu mengkomunikasikan ilmunya. Motivator kanker, ya seharusnya para survival cancer yang berhasil melewati tahap krisis di hidupnya dan sudah memetik nilai-nilai dari pengalaman sakitnya. Motivator bisnis, ya seharusnya enterpreneur yang betul-betul merangkak dari nol dan sudah menyadari betul resep-resep jitu suksesnya sendiri. Nah padahal yang saya lihat sekarang, dengan semakin menjamurnya motivator.... banyak orang yang cita-citanya jadi motivator, sebelum dia mencapai suksesnya sendiri!! siapa yang ga mau sih memang, dibayar puluhan juta dengan berbicara beberapa jam, buku-bukunya laris di pasaran, dan "didengarkan"... seolah punya semua jawaban atas semua permasalahan hidup. Saya bahkan melihat sendiri, ada pelatihan yang bertujuan mencetak motivator!! Saya ngga membayangkan gimana ya materi yang dilatihkan?? public speaking kah? art of life?? apaaaa???. Gimana seorang motivator muda , non pengalaman, bisa memberi nasehat-nasehat hidup?? (saya memang menyebutnya nasehat, karena quote-quote dari motivator ini seringnya bernada menasehati: "janganlah kita bla bla bla.....", "berikanlah bla bla bla.....). Maka gak salah kan kalau kemudian anggapan saya motivator itu ya cuma pandai merangkai kata saja, bukan karena sudah melalui proses berpikir mendalam dan jatuh-bangun?....
Alasan kedua, bagi saya seni ilmu hidup itu spesifik bagi setiap orang... Saya pernah baca quote bagus tetapi maaf saya lupa siapa pencetusnya... Bunyinya kurang lebih gini:
"U may know my name, but not my story. U may know what i've done, but not what i've been through. If u are in my shoes, u will fall in u'r first step"
maksud dari quote ini adalah.. setiap diri kita punya kisah sendiri, perspektif sendiri... dan hanya kitalah yang akan sanggup menjalani hidup sebagai diri kita. Kalau orang lain mencoba jadi diri kita, mereka tidak akan berhasil. So, melihat betapa unik dan berbedanya masing-masing dari kita, saya rasa yang bisa ditawarkan para motivatorpun sesungguhnya hanya rumus-rumus umum tentang menjalani hidup kan? Mereka ga akan bisa ngajarin caranya sukses jadi si Bambang, si Edi, si Tini, dst dst.... Coba perhatikan deh, ajaran-ajaran how-to-get-sucessfull-in-your-life milik motivator ini sesungguhnya sangat umum kok. Tapi karena mereka sanggup merangkumnya dengan indah,ya jadi tampak fantastik. Nah, kalau yang ditawarkan "hanya" rumus umum, kenapa kita tidak melakukannya dengan cara lain? Misalnya, dengan menajamkan pancaindra kita. Lebih banyak mendengarkan, melihat, merasakan, berpikir, mengolah hasil pengalaman n kisah hidup orang lain, memaknai pengalaman pribadi. Saya yakin dengan begitu kita justru akan banyak mendapat resep-resep umum tadi, plus dengan kepekaan yang tinggi kita bisa create rumus-rumus spesifik yang hanya akan berhasil untuk kita!. Asyik kan??
Yang saya perhatikan adalah, jika pekerjaan motivator ini jadi sedemikian menjanjikan, berarti karena permintaan pasar juga sangat besar. Seperti teori ekonomi dimana ketika demand meningkat, supply juga meningkat. Berarti, orang-orang yang demotivasi juga banyak banget ya? Sampe butuh dimotivasi oleh banyak motivator gitu.... hehehehe.... Jadi miris juga jadinya saya, karena dengan butuh dimotivasi gitu, berarti kekuatan masyarakat kita untuk mengakses sumberdaya internal juga rendah banget ya?. Padahal sumberdaya internal ini sudah fitrahnya dimiliki manusia, bisa diakses kapan aja, berlimpah ruah, dan gratis!
Sekali lagi, tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyepelekan motivator. Mereka besar, berkembang, exist pun pasti karena dibutuhkan banyak orang. Saya juga ngga menafikan bahwa ada banyak motivator yang hebat di luar sana... Mereka yang saya golongkan motivator hebat ini justru bukan orang yang dengan sengaja dapat julukan motivator, bahkan mereka hanya sesekali saja bicara untuk menularkan ilmu nya pada orang lain atau sesekali mengeluarkan quote-quote hebat, namun justru di saat bersamaan.... memotivasi orang lain. Contohnya: Bunda Teresa, Donald Trump,Mahatma Gandhi. Kalau kelas lokal saya suka Ir.Ciputra, Dahlan Iskan, R.A Kartini. mereka-mereka ini jelas-jelas bekerja nyata, hasilnya nyata, dan punya segudang pemikiran brilian yang bisa memotivasi saya!. Belum lagi motivator-motivator lain yang tidak world-wide atau nation-wide tapi sungguh-sungguh menyentuh hidup saya: dosen, penjual angkringan, tukang pijat langganan, sahabat dekat...... Jadi, yeah bagi saya motivator itu berguna dan priceless, tapi tidak melulu mereka-mereka yang dijuluki motivator oleh masyarakat, yang untuk mendapatkan resep umumnya saja saya harus membayar teramat sangat mahal........ :p :p
Saya tidak menyepelekan motivator, saya hanya tergelitik melihat bahwa motivator sekarang adalah sebuah pekerjaan, sebuah komoditas pencetak uang!
Tapi, lagi-lagi saya juga harus punya kejernihan berpikir bahwa ke-enggan-an saya ini ya hanya didasari pada ke-tidak-butuh-an saya pada kata-kata bijak mereka... Rasa tidak butuh ini juga karena dasarnya saya merasa sudah tahu, sehingga merasa tidak perlu diberi tahu lagi. Mungkin, banyak orang yang memang masih butuh diberitahu dan betul-betul mendapat "aha" moment dari motivator-motivator itu. Karena sedikit penggerak sebenarnya sudah cukup untuk membuat seseorang melakukan perbaikan hidup. Saya sih pengennya kita semua lebih peka untuk dapetin sumber-sumber motivasi yang lebih dekat dengan kita... sehingga kita bisa mengkases sirkuit penggerak ini kapan saja, gak melulu tergantung omongan si motivator.
Yang belum saya lakukan dalam proses memahami ini adalah... bicara langsung dengan pengikut motivator tersebut. Sehingga saya juga belum tahu pasti apa yang sebenarnya mereka rasakan dan pikirkan... Semua yang saya tulis di atas hanya dari kacamata saya dan ke-sok-tahu-an saya sama kondisi orang lain, hehehe... Jadi, kalau anda termasuk golongan ini, u're welcome to share your story with me yaa......
Salam BAHAGIA dari saya Egolita!!! hihihihihihiiiii.............
Thursday, April 5, 2012
Karena cinta itu (Un)Niversal...
"How can you hope they will understand the love between two people if they're not around?"-Carrie Bradshaw, Sex and The City The Movie 2-
Dua hari lalu saya chat sama seorang sahabat lama yang sekarang tinggal di kota seberang... Kami cukup sering sih haha hihi ngobrol ngga penting, sehingga dia cukup tau bagaimana hari-hari saya dsini dan sebaliknya. Lalu diapun menanyakan sesuatu yang cukup menggelitik bulu idung saya, he.... lupakan bulu idungnya...., katanya gini...
"kamu kok jarang sih posting foto berdua suamimu? atau nulis-nulis apaaa gitu
tentang kalian berdua...."
Waktu itu sih jawaban saya standar jawaban prinsipil aja: ngga suka pamer-pamer berlebihan, demikian kata saya. Tapi sesungguhnya saya juga ga puas-puas amat sama jawaban saya... pasti ada sesuatu yang lebih besar yang melatarbelakangi pikiran ini karena yess saya tu sebenernya suka terganggu liat pasangan-pasangan yg heboh banget displaying their affection, meskipun tu pasangan suami-istri sekalipun. Saya juga ga belagak keren sendiri dgn anti banget sama yang namanya kemesraan di socmed, saya juga suka kok pasang picture berdua suami, sesekali menulis tentangnya, tapiiiiiii menurut timbangan subjektif saya siihh... itu masi biasa-biasa aja... Haha, ga boleh protes, ni kan blog saya, suka-suka donk donk.....
Setelah mikir-mikir , menelaah selama 2 hari ini, maka skrg saya siap memberikan hak jawab saya terhadap pertanyaan di atas....
Menurut saya, kemesraan itu kan pasti related sama cinta yah... jadi menunjukkan kemesraan sama juga kaya ber statement "ni lho i'm deeply in love sama orang ini..... oh-betapa-bahagianya-kami", kira-kira gitu kan? .
Cinta memang milik semua orang, cinta memang bahasa universal sebagaimana musik dan matematika. Tapi bagi saya, cinta juga bahasa khusus yang tidak bisa dipahami setiap orang......
Coba, berapa di antara kita yang mengernyit lihat cinta menembus batas usia macem Raffi Ahmad - Yuni Shara (contohnya asix banget deh akuh :p) ? lihat orang yang bertahan mencintai orang lain yang tidak mungkin dimiliki? lihat cinta yang menyakiti tapi somehow orang tersebut tetap bertahan pada hubungannya? ... lihat cinta antar orang jelek n pasangannya yg jaaauuhhh lbh good looking?
Itu baru contoh yang common ya,masih ada bentuk-bentuk cinta lainnya yang mungkin bikin kita lebih jago menilai, menghujat, bergidik ngeri : cinta sesama jenis, cinta beda agama, cinta yang mampu bikin orang melakukan hal-hal gila, cinta pada objek yang 'terlarang'... saya pikir kita ngga kekurangan informasi lah untuk tau bahwa banyak cinta ajaib di luar sana.
Hm..atau ngga usah jauh-jauh deh... yuk coba dilihat ke pengalaman kita sendiri, berapa kali kita terlibat pada hubungan percintaan yang kita yakin tidak akan ada orang lain yang mengerti selain pihak-pihak yang terlibat di dalamnya??
Sayapun mengalaminya, berkali-kali malah..... cinta yang saya yakin hanya saya, dia, dan Tuhan yang tau bagaimana bentuknya...... Mau dijelaskan detail sampe jungkir balik juga orang lain ngga bakalan bisa mengerti...
Inilah kenapa saya bilang cinta itu memang universal, dalam hal kepemilikan... tapi secara pemaknaan, dia itu agung, khusus, unik...karena tidak akan pernah ada bahasa cinta yang sama, meskipun dialami oleh orang yang sama.
Cara saya mencintai si A, berbeda dengan cara saya mencintai B... meskipun status hubungannya sama. Kita tidak akan pernah bisa mengualngi kisah cinta yang sama.. hanya sekali, pada satu waktu. Itulah kenapa saya bilang cinta tu bahasa yang personal banget sebenernya.....
Lalu, jika sebegitu khususnya bahasa cinta, saya jadi ngga ngerti apa pentingnya terus menerus memberitakannya ke khalayak umum??. Kalau saya perlu memberitahu pasangan betapa saya mencintai nya, yang perlu saya lakukan adl memberitahukan itu padanya secara langsung kan? dengan bahasa yang dipahami kami berdua... bukan dengan nulis "i love u sayangku" di status, tweet, atau apalah.....
Saya juga ngga merasa perlu membuktikan sungguh2 berada dalam kondisi cinta yang membahagiakan dengan sering-sering posting foto berdua suami. Membuktikan ke siapa? Mencitrakan ke siapa? Toh kalaupun itu dipahami sebagai image positif dari orang lain, tetep aja yang dipahami mereka ya sebatas kulit luarnya.... Mereka lihat saya bahagia? gimana kalau saya bilang, saya super sangat banget banget pol-polan bahagianya?? Bisa ngga mereka memahami itu? sementara saya tau ada banyak orang di luar sana yang menilai kebahagiaan kami kurang lengkap karena rumah tangga saya belum ramai sama suara bayi sampe sekarang....... Sekali lagi, formula cinta n kebahagiaan rumah tangga saya tidak akan bisa dipahami orang lain...
Ketidaksetujuan saya sama pamer-pamer kemesraan tu juga bentuk empati saya bagi mereka-mereka yang belum menemukan pasangannya. Banyak orang yang saya kenal sampai saat ini masih berjuang menemukan cintanya... padahal menurut saya, cari jodoh tuh lebih susah daripada cari kerja atau cari sekolah. Jadi ga ada gunanya nambah-nambahin beban para single ini dengan membuatnya semakin "sesak" dengan melihat kemesraan orang lain.... Daripada membebani mereka dengan energi "iri" yang pasti muncul seberapapun kadarnya, mending meng encourage mereka untuk nemuin kebahagiaannya sendiri dulu kan? karena cinta positif memang berhubungan sama kebahagiaan, tapi kebahagiaan belum tentu selalu tergantung sama sudah atau belumnya kita menemukan cinta itu.
Nah, masalahnya adalah... banyak ni orang yang saya tahu menggantungkan betul momentum menemukan cinta ini sama naiknya derajat kebahagiaan mereka. Dari yang sebelumnya memble, merana, menderita, diolok-olok lingkungan krn lama single, punya hubungan yang gagal melulu, atau punya pasangan tapi ga bisa dibanggain, sampe akhirnya... dher!! nemulah sama si solmed,eh soulmate sejatinya.... habis itu menggelegar deh energi public display affection alias pamer kemesraan ini. Kalau dari kacamata saya sih, model begini ini kasian sebenernya, karena kebutuhan nya akan cinta lebih banyak untuk dunia eksternalnya: pembuktian, pamer, pemenuhan social value..... Sorry dorry morry to say, tapi saya yakin yang termasuk kategori ini -entah dgn sadar atau tidak- tu banyak bgt. Cirinya gampang deh, liat aja socmed yang dia miliki, lalu hitung seberapa mendominasinya deklarasi cinta pd pasangan yang dia lakukan.
Padahal sejatinya, kalau kita memaknai betapa cinta itu kebutuhan internal, kita akan lebih banyak melakukan proses-proses untuk membangunnya, bukan meneriakkannya pada dunia.
dan sebagai bonus kalau kita benar-benar memaknainya secara internal , cinta yang baik tu akan tampak kok, tanpa kita harus susah payah mempertontonkannya.... Gimana nampaknya?? Ya karena cinta itu bahasa khusus, maka penampakannya pun akan khusus sehingga ga ada rumus pastinya... ia berbeda bagi setiap orang.
Gampangnya gini deh, kita bisa kan merasakan mana pasangan-pasangan yang sungguh-sungguh bahagia, saling meng-influence dengan energi positif, dan mana pasangan-pasangan yang "hanya" bagus tampilannya aja?
Cinta punya banyak cara untuk menemukan kita, tetapi setelah bertemu dengannya, keputusan ada di tangan kita bagaimana menggunakannya... Mudah-mudahan para penggemar public display affection bisa sedikit kesetrum dengan tulisan ini... atau minimal, menggelitik bulu idung mereka deh! hihihihihi......
..............Semoga menginspirasi! ..............
Subscribe to:
Comments
(
Atom
)





