Wednesday, April 18, 2012

Motivasi dan Motivator


Jujur nih ya.... saya bukan penggemar, pengikut, atau pemerhati motivator. Itu lhoh , orang-orang yang berbicara di seminar atau pelatihan, atau menulis buku, yang tujuannya memotivasi orang lain... ngasih resep-resep jitu menghadapi kerasnya kehidupan. Tujuannya satu: mencapai sukses. Entah sukses secara emosional, finansial, relasional, u name it....

Sebelumnya saya juga ngga terlalu paham kenapa saya nggak ngerasa related sama motivator-motivator itu.. Padahal kebanyakan dari mereka punya jargon hebat yang sering saya dengar, punya acara televisi terkenal, punya seminar-seminar yang sering diadakan , punya kolom sendiri di media massa, punya jutaan follower di twitter yang sering mendengungkan betapa hebatnya mereka... Entahlah, saya hanya ngerasa ga "klik" aja. Kayak jodoh, kalo ga "klik" ya ga bakalan nyambung ya. hehehehe...

Pernah sih beberapa kali saya coba menonton acara mereka, memperhatikan apa yg mereka tulis dan katakan, mencoba mencari "wow" momen seperti yang bisa didapat orang lain. Tapi apa daya, biasanya saya cuma berakhir dengan melongo aja dengan kata-kata indah para motivator itu. Buat saya itu cuma kata-kata indah, titik. tidak cukup memotivasi saya melakukan perubahan apapun dalam hidup. Bahkan seringnya saya justru geli kalau menonton acara salah satu motivator paling terkenal di Indonesia karena jawaban-jawaban yang dia berikan suka ngga nyambung sama pertanyaan audiens. Tapi dengan gaya penyampaian yang aduhai kayaknya cukup bikin semua penontonnya terpukau n bertepuk tangan keras setiap kali dia mengakhiri kalimat. Begitupun dengan membaca tweet2 atau kolom-kolom yang biasa diisi motivator itu, otak dan hati saya ga bisa konek. Saya bahkan pernah  secara sengaja memperhatikan semuaaa tweet seorang motivator terkenal selama beberapa hari... Ajaibnya, saya menemukan beberapa quote bijak yang saya tau persis itu quote milik orang lain, hanya dipoles sedikittt dgn esensi yang jelas sama, tetapi diberi hashtag (#) bahwa itu quote miliknya... Alamak!! tidak pernahkah dia mendengar tentang plagiatisme???. Bener-bener pengalaman yg tidak membuat saya terinspirasi deh.

Hmmm....mungkin saya jadi terdengar negativistik ya... atau pesimistis? . Atau saya terlalu egois sehingga motivasi dari orang-orang hebat itu tidak bisa menggugah sanubari jiwa terdalam ini???
Seperti biasa, saya mulailah menajamkan intuisi ini untuk tahu jawabannya..... supaya saya nyaman aja dengan ke-enggan-an saya jadi pengagum para motivator itu. :D :D

Saya memulai pencarian itu dengan sungguh-sungguh memperhatikan apa yang dikatakan para motivator. Di televisi, tweet, media cetak, anything.... saya bahkan membeli dua buah buku yang diklaim bestseller n jadi salah satu mahakarya penulisnya -ya motivator itu sendiri-. Judulnya: gagah. Pemberi komentar tentang buku itu: orang-orang terkenal. Isi komentar mereka: persuasif sangat. Harga bukunya: dahsyat!! Hehehehehe..... Sayapun berniat akan baca isi buku itu dengan segenap hati, tanpa prejudice yang menyesatkan.

Dan perjalanan menembus lembar demi lembar buku itupun saya lakukan...... saya membiarkan dulu diri ini hanyut di dalamnya, sambil mulai merasakan, dan menganalisa tentunya...

Saat ini sudah satu buku yang saya selesaikan... dan sekali lagi, jujur sejujur-jujurnya...saya merasa membayar terlalu mahal "hanya" untuk isi buku semacam itu. saya tidak menemukan resep-resep how-to yang terhitung baru, dan tidak tergugah akan kisah hidupnya, intinya...tidak melihat sesuatu yang signifikan untuk bisa saya terapkan lah. Memang, dalam bagian-bagian tertentu saya mendapat kan "agree moment", dimana topik yang ditulis memang sesuai apa yang sudah saya yakini sebelum ini. Tapi selebihnya tidak ada sesuatu yang baru. Saya sudah tahu tentang bekerja cerdas instead bekerja keras, tentang integritas, bermimpi besar, fokus mencapai cita-cita, menjalin relasi, dst, dst.... Tapi how-to secara teknis, yang benar-benar implementatif,dan revolusioner tentunya..tidak saya temukan. Saya bahkan ga bisa menangkap how-to nya si motivator itu mencapai suksesnya sendiri, yang benar-benar berbeda dari how-to orang sukses lainnya. Kisah-kisah analogi singkat yang selalu dia tulis untuk menjelaskan maksud dari tema-tema besar resep suksesnya juga tidak inspiratif. Saya sudah sering mendengar tentang kisah anak ayam-rajawali, coca cola, dan beberapa lainnya. Dan hal paling krusial yang bikin saya ga sreg adalah......buku itu tidak mendukung individual differences, karena cenderung mengarahkan pembaca untuk menyetujui kesuksesan versi si motivator saja. Padahal di hari yang sama, saya baru berbicara dengan seorang teman yang punya definisi happy n sukses yang jauh berbeda dengan motivator ini..........

Saya bukannya memandang sinis, meremehkan, atau being negative aja lhoh. Saya pun sebenenarnya kagum sama pencapaian si motivator ini... Saya kagum dengan sepak terjangnya yang bener-bener meyakini mimpinya, visinya, dan hasil nyata dari keyakinan itu. Saya yakin secara finansial, si motivator ini sudah beyond cukup deh... Siapa yang ga iri coba?? terkenal, diundang bicara dimana-mana, dibayar mahal, plus punya visi yang baik untuk humanity.... itu adalah poin dimana saya menghargai kesuksesannya yang from zero to hero. Saya menghargai si motivator ini sebagai individu, bukan atas kemampuan motivasinya.


Sayapun menyadari, mungkin..inilah sebabnya saya ga feel related sama motivator-motivator itu. Karena buat saya,motivator itu seharusnya orang yang been through sesuatu, sudah punya wisdom akan keberhasilannya, dan mampu mengkomunikasikan ilmunya. Motivator kanker, ya seharusnya para survival cancer yang berhasil melewati tahap krisis di hidupnya dan sudah memetik nilai-nilai dari pengalaman sakitnya. Motivator bisnis, ya seharusnya enterpreneur yang betul-betul merangkak dari nol dan sudah menyadari betul resep-resep jitu suksesnya sendiri. Nah padahal yang saya lihat sekarang, dengan semakin menjamurnya motivator.... banyak orang yang cita-citanya jadi motivator, sebelum dia mencapai suksesnya sendiri!! siapa yang ga mau sih memang, dibayar puluhan juta dengan berbicara beberapa jam, buku-bukunya laris di pasaran, dan "didengarkan"... seolah punya semua jawaban atas semua permasalahan hidup. Saya bahkan melihat sendiri, ada pelatihan yang bertujuan mencetak motivator!! Saya ngga membayangkan gimana ya materi yang dilatihkan?? public speaking kah? art of life?? apaaaa???. Gimana seorang motivator muda , non pengalaman, bisa memberi nasehat-nasehat hidup?? (saya memang menyebutnya nasehat, karena quote-quote dari motivator ini seringnya bernada menasehati: "janganlah kita bla bla bla.....", "berikanlah bla bla bla.....). Maka gak salah kan kalau kemudian anggapan saya motivator itu ya cuma pandai merangkai kata saja, bukan karena sudah melalui proses berpikir mendalam dan jatuh-bangun?....

Alasan kedua, bagi saya seni ilmu hidup itu spesifik bagi setiap orang... Saya pernah baca quote bagus tetapi maaf saya lupa siapa pencetusnya... Bunyinya kurang lebih gini:
 "U may know my name, but not my story. U may know what i've done, but not what i've been through. If u are in my shoes, u will fall in u'r first step"
maksud dari quote ini adalah.. setiap diri kita punya kisah sendiri, perspektif sendiri... dan hanya kitalah yang akan sanggup menjalani hidup sebagai diri kita. Kalau orang lain mencoba jadi diri kita, mereka tidak akan berhasil. So, melihat betapa unik dan berbedanya masing-masing dari kita, saya rasa yang bisa ditawarkan para motivatorpun sesungguhnya hanya rumus-rumus umum tentang menjalani hidup kan? Mereka ga akan bisa ngajarin caranya sukses jadi si Bambang, si Edi, si  Tini, dst dst.... Coba perhatikan deh, ajaran-ajaran how-to-get-sucessfull-in-your-life milik motivator ini sesungguhnya sangat umum kok. Tapi karena mereka sanggup merangkumnya dengan indah,ya jadi tampak fantastik. Nah, kalau yang ditawarkan "hanya" rumus umum, kenapa kita tidak melakukannya dengan cara lain? Misalnya, dengan menajamkan pancaindra kita. Lebih banyak mendengarkan, melihat, merasakan, berpikir, mengolah hasil pengalaman n kisah hidup orang lain, memaknai pengalaman pribadi. Saya yakin dengan begitu kita justru akan banyak mendapat resep-resep umum tadi, plus dengan kepekaan yang tinggi kita bisa create rumus-rumus spesifik yang hanya akan berhasil untuk kita!. Asyik kan??


Yang saya perhatikan adalah, jika pekerjaan motivator ini jadi sedemikian menjanjikan, berarti karena permintaan pasar juga sangat besar. Seperti teori ekonomi dimana ketika demand meningkat, supply juga meningkat. Berarti, orang-orang yang demotivasi juga banyak banget ya? Sampe butuh dimotivasi oleh banyak motivator gitu.... hehehehe.... Jadi miris juga jadinya saya, karena dengan butuh dimotivasi gitu, berarti kekuatan masyarakat kita untuk mengakses sumberdaya internal juga rendah banget ya?. Padahal sumberdaya internal ini sudah fitrahnya dimiliki manusia, bisa diakses kapan aja, berlimpah ruah, dan gratis!

Sekali lagi, tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyepelekan motivator. Mereka besar, berkembang, exist pun pasti karena dibutuhkan banyak orang. Saya juga ngga menafikan bahwa ada banyak motivator yang hebat di luar sana... Mereka yang saya golongkan motivator hebat ini justru bukan orang yang dengan sengaja dapat julukan motivator, bahkan mereka hanya sesekali saja bicara untuk menularkan ilmu nya pada orang lain atau sesekali mengeluarkan quote-quote hebat, namun justru di saat bersamaan.... memotivasi orang lain. Contohnya: Bunda Teresa, Donald Trump,Mahatma Gandhi. Kalau kelas lokal saya suka Ir.Ciputra, Dahlan Iskan, R.A Kartini. mereka-mereka ini jelas-jelas bekerja nyata, hasilnya nyata, dan punya segudang pemikiran brilian yang bisa memotivasi saya!. Belum lagi motivator-motivator lain yang tidak world-wide atau nation-wide tapi sungguh-sungguh menyentuh hidup saya: dosen, penjual angkringan, tukang pijat langganan, sahabat dekat...... Jadi, yeah bagi saya motivator itu berguna dan priceless, tapi tidak melulu mereka-mereka yang dijuluki motivator oleh masyarakat, yang untuk mendapatkan resep umumnya saja saya harus membayar teramat sangat mahal........ :p :p

Saya tidak menyepelekan motivator, saya hanya tergelitik melihat bahwa motivator sekarang adalah sebuah pekerjaan, sebuah komoditas pencetak uang!


Tapi, lagi-lagi saya juga harus punya kejernihan berpikir bahwa ke-enggan-an saya ini ya hanya didasari pada ke-tidak-butuh-an saya pada kata-kata bijak mereka... Rasa tidak butuh ini juga karena dasarnya saya merasa sudah tahu, sehingga merasa tidak perlu diberi tahu lagi. Mungkin, banyak orang yang memang masih butuh diberitahu dan betul-betul mendapat "aha" moment dari motivator-motivator itu. Karena sedikit penggerak sebenarnya sudah cukup untuk membuat seseorang melakukan perbaikan hidup. Saya sih pengennya kita semua lebih peka untuk dapetin sumber-sumber motivasi yang lebih dekat dengan kita... sehingga kita bisa mengkases sirkuit penggerak ini kapan saja, gak melulu tergantung omongan si motivator.

Yang belum saya lakukan dalam proses memahami ini adalah... bicara langsung dengan pengikut motivator tersebut. Sehingga saya juga belum tahu pasti apa yang sebenarnya mereka rasakan dan pikirkan... Semua yang saya tulis di atas hanya dari kacamata saya dan ke-sok-tahu-an saya sama kondisi orang lain, hehehe... Jadi, kalau anda termasuk golongan ini, u're welcome to share your story with me yaa......

Salam BAHAGIA dari saya Egolita!!! hihihihihihiiiii.............


1 comment :