Tuesday, September 27, 2011

Dear Enemy......

Dear Enemy.......
Saya sebenernya nggak berharap kamu ada dalam hidup saya. Kehadiranmu itu bikin hati ini rasanya nggak enak... Saya jadi punya rasa marah, benci, jijik, kecewa dan emosi-emosi negatif lain. Masih mending kalau sosokmu tipe yang jarang saya temui... Tapi kalo saya pas lagi sering harus berinteraksi dengan kamu, melihat atau mendengar tingkahmu, duuhh mood saya bisa mendadak jungkir balik. Pengen rasanya mengacungkan jari tengah atau menyumpah serapahi kamu!! tapi.... saya kan orang beradab yang ga bisa seenaknya meledakkan emosi dengan cara begitu... Jadilah saya menyalurkannya dengan cerita ke teman saya lainnya, atau nulis begini... Karena sungguh, saya sebenernya nggak suka melihara apalagi mengembangbiakkan kebencian seperti ini.....



Dear Enemy,
Saya sudah melakukan usaha  untuk tidak membenci kamu, memaafkan kamu, mengikhlaskan, melepaskan, atau apalah namanya.... Itu udah jadi semacam agenda rutin saya, untuk mencari cara untuk berdamai dengan perasaan saya kepada kamu. Tapi saya mengakui, saya memang manusia dengan banyak kelemahan... sehingga kontrol diri saya nggak selalu bagus, sehingga rasa benci saya ke kamu akhirnya muncul lagi dan lagi dan mengganggu keseimbangan hidup saya...


Sayapun melakukan usaha untuk mencari tahu KENAPA saya membenci kamu. Saya pikir dengan tahu sebabnya, saya akan lebih mudah menyelesaikan konflik ini karena saya bisa mencabutnya langsung dari akar.... Apa iya rasa ini seemata-mata hadir karena perilakumu yang menyebalkan? atau......... saya sebenarnya iri sama kamu? karena kamu punya sesuatu yang nggak saya punya?..... atau.... ini karena kadar toleransi saya yang rendah sama hal-hal yang tidak sesuai dengan "standar" hidup saya?....atau.... saya sebenanrnya takut menghadapimu, sehingga opsi aman satu-satunya adalah dengan menjadikan kamu musuh?.
Sampai sekarang saya masih berjuang mencari tahu..........


Dear Enemy,
Saya kemudian sering bertanya-tanya.... kenapa ya Tuhan menguji saya dengan kehadiran kamu ini? Apa yang hendak Dia sampaikan melalui kamu? Sulit banget melihat jawabannya ketika hati saya tertutup oleh emosi negatif yang meluap-luap... Rasanya kamu itu nggak ada bagus-bagusnya buat saya. Gimana mau bagus kalau energi saya juga jadi buruk dengan adanya kamu.....


Tapi, saya belajar...dan diajarkan untuk selalu mengucapkan 3 mantra ini: "aku menyayangimu", "terimakasih", dan "maafkan aku". Mungkin dari ke-3nya ini saya paling bisa mengucapkan "terimakasih" pada kamu, musuhku...... Karena kamu sebenarnya menginspirasi banyak hal kepada saya, hampir sebanding dengan inspirasi yang diberikan sahabat-sahabat saya. Meskipun inspirasi darimu datangnya dengan cara yang, terkadang, menyakitkan...... tapi paling tidak saya selalu belajar bangkit dari kamu, belajar melihat sisi lain manusia yang warnanya nggak selalu indah, belajar melihat ada "apa" di balik "apa", dan  belajar menemukan diri saya sendiri ..... Hmmm, bahkan sebenarnya kamu juga menginspirasi pandangan-pandangan saya terhadap hidup, dan akhirnya cara yang saya pilih untuk menjalani hidup itu (setelah saya olah dengan pikiran dan hati saya tentunya)....


Andai suatu saat hubungan kita berubah, entah ke arah yang lebih baik atau bahkan buruk... saya berharap akan selalu memiliki jawaban kenapa kamu hadir, apa yang sebenarnya hendak kamu berikan pada saya..... Sayapun berharap, bagi mereka-mereka yang membenci saya... kehadiran saya ini mendewasakan dan menempa pribadi mereka sehingga mereka siap untuk musuh-musuh kehidupan lain yang lebih keras dari saya.


Seperti yang pernah saya tulis dalam status facebook saya:
"Hidup terlalu singkat untuk mengalami segala sesuatunya sendiri.... maka pelajarilah teman-temanmu, pelajarilah musuh-musuhmu"
- Inspired by Sun Tzu, The Art of War-

Saturday, September 24, 2011

Jodoh / Sahabat

Reed        : "How did you and your wife get it so right?"
Alphonso    : 'Easy, i marrried my bestfriend"
       - Reed Bennet and Alphonso, Valentine's Day-

23 September 1979. Tepat 32 tahun yang lalu orangtua saya melangsungkan pernikahan mereka.... Lama banget ya 32 tahun itu?? Lamanya kayak 1 tahun dijalani 32x....hehehe....
Hari ini saya dan kakak saya menghadiahkan hadiah sederhana untuk orangtua kami... Yaitu se-set cupcake berhias Papi dan Mami dalam bentuk 3D lengkap dengan karakteristik mereka (papi dalam jacket gaulnya, dan mami dengan tahi lalat nya seperti saya), cup lain berisi hobby mereka (gadget mewakili papi, dan tas mewakili mami), sisa cupcake lainnya berisi kepala yang melambangkan saya dan suami saya, serta kakak dan istrinya...



Ini diaaaa cupcakesnya..
Alhamdulillah mereka seneng banget sama hadiah sederhana kami, sampe detik ini kue nya belom boleh dimakan... Sayang katanya...hwehehehe....


Kembali ke angka 32 tahun tadi.....
Saya bersyukur oragtua saya masih diberi kesempatan merayakan 32 tahun mereka bareng. Saya nggak bilang kalo orangtua saya adalah orangtua terbaik di dunia ... Bukan karena saya nggak menghargai mereka, tapi karena satu-satunya orangtua saya ya papi dan mami itu... Saya belom pernah jadi anak orang lain...hihihi.. Jadi gimana saya mau ber naif2 bilang kalo mereka adalah orangtua "ter"?
Tapi buat saya , papi dan mami adalah sosok-sosok hebat. Kepada merekalah Allah menitipkan saya dan kakak saya untuk dibesarkan, disayangi, dididik... Meskipun kami berdua bukan anak-anak "sulit" (nakalnya gak ketauan maksudnya... :p) tapi saya tahu perjuangan mereka berdua membesarkan kami anak-anak anehnya ini juga nggak gampang.....
Tapi tulisan ini bukan dibuat untuk menuliskan mereka sebagai orangtua...itu akan saya bahas di bagian lain blog ini... Saya lebih pengen nulis tentang mereka sebagai suami istri dan bagaimana hal itu menginspirasi saya....


Sejak kecil, orangtua saya terbiasa hidup terpisah... Papi saya selalu harus berdinas di luar kota, sedangkan mami stay di Jogja bersama kami. Tentu saja ada tahun-tahun sulit yang kami lalui... Baik dari segi ekonomi, maupun pendewasaan Papi dan Mami sebagai suami istri. Saya pernah melihat orangtua saya bertengkar, ngambek2an, sayang2an, mesra2an..... Semua itu memiliki masanya masing-masing. Dulu ketika mereka masih di usia lebih muda tentu emosi-emosi itu lebih banyak.. Tapi semakin lama, saya melihat mereka semakin dinamis sebagai pasangan. Sekarang ketika mereka lebih banyak menghabiskan waktu dalam satu kota, saya perhatikan ke-dinamis-an itu terpupuk terus setiap hari... Ternyata betul, batu memang harus ditempa dengan keras lebih dahulu sebelum jadi patung yang indah (ini quote seseorang yang saya pinjam)


Pernah baca serial Twilight? Di salah satu bukunya dijelaskan tentang kemampuan warewolf  untuk melakukan imprint, dimana ketika mereka meng-imprint suatu objek maka gravitasi seperti tidak lagi pada bumi tapi berpindah pada objek tersebut. Satu bergerak, satu menyesuaikan. Lebay buanggeeett emang... tapi kurang lebih seperti itulah yang saya lihat dari orangtua saya... Mereka seperti bergerak dalam irama yang sama tapi juga punya kemampuan toleransi ketika pergerakan lainnya sedang tidak seirama.... Duh, susah amit sih jelasinnya... Hmm, nanti kalo saya nemuin penjelasan lebih sederhana saya tambahin deh...


Seharian ini saya sibuk menganalisis, apa yah yang saya lihat dari 32 tahun pernikahan mereka yang bisa saya share di blog ini dan bermanfaat untuk orang lain? Tapi ternyata jawabannya saya temukan ketika saya ngobrol dengan sahabat saya sore ini... Kami sama-sama sudah menikah, jadi pembicaraan memang lebih banyak seputar keluarga, nggak lagi soal baju, gosip, cowok... (berasa tuwiiirrrrr deehh..)
Jawaban sederhananya adalah: menemukan kualitas sahabat dalam diri pasangan..... Pasti kita semua pernah kan dengar tentang ini? Tapi bagi saya , implementasinya ga semudah itu... Sahabat bukan sekedar kita bisa jadi diri sendiri di hadapan pasangan, atau sekedar kita bisa tertawa bersama, atau saling menerima segala kekurangan dan (tentu saja) kelebihan pasangan....
Persahabatan adalah proses yang kontinuum......
Sahabat adalah sosok yang se"energi" dengan kita....
Sahabat adalah teman seperjalanan untuk berbagi, sekaligus sosok yang harus kita hormati ke-individu-an nya...
Pernah ketemu sama orang baik, sempurna, ga ada kurangnya, tapi somehow kita ga bisa 'klik' dengannya? Atau pernah ketemu sama pasangan yang segitu saling cinta matinya sampe ga bisa punya ruang untuk mengembangkan diri? yang tanpa pasangannya itu seolah dirinya nothing?. Nah, dalam kasus-kasus seperti inilah yang menurut saya belum ditemukan sosok sahabat dalam diri pasangan....
Saya sendiri belum bisa mendeskripsikan jelas, gimana caranya mendeteksi kualitas sahabat itu dalam diri orang lain... Yang jelas, ketika memutuskan untuk menjalani hubungan rumah tangga dengan seseorang, kualitas ini wajib ada....


Pernikahan itu janji kita di hadapan Tuhan untuk berkomitmen menjalani segala sesuatunya bersama sampai dipisahkan maut... Dan itu berarti selamanya. Kita nggak bisa hanya mengandalkan hormon yang menghasilkan rasa meletup-letup untuk membuat pernikahan berhasil... Hormon itu akan redup pada satu titik (meskipun kita selalu kok punya cara untuk membakarnya lagi) karena pernikahan mengandung kompleksitas yang luar biasa besarnya... Kompleksitas itu akan menguras energi, sehingga hormon "cinta" yang sebelumnya menguasai pun akan berkurang, dan ini harus diantisipasi oleh kualitas lain itu: persahabatan..... Kualitas ini pun bukannya sim salabim nongol, tapi seperti yang saya bilang tadi, sifatnya kontinuum..terus menerus...dan tentu saja, harus diupayakan. Saya menemukan banyak sample, bahwa banyak pasangan bertahan dalam pernikahan hanya karena "HARUS", lalu berhenti mengupayakan diri menjadi sahabat bagi pasangannya, lalu pasangannya juga tidak pernah menjadi sahabatnya, lalu mereka berdua hidup dalam ketidakbahagiaan...namun lagi-lagi "HARUS" tetap bertahan.....


Nah..menurut saya justru step inilah yang paling sulit: mempersiapkan diri menjadi sahabat orang lain.. Sulit, karena kita cenderung berpikir akan menunggu orang yang tepat memasuki  dan membereskan kekacauan dalam hidup kita. Kita berpikir jika kita bertemu orang itu, maka keadaan baru akan menjadi lebih baik...  Dalam cinta, itungan matematika begini nggak akan bikin kita jadi pejuang. Tapi kalau kita sudah memantaskan diri jadi sahabat,semesta akan meresponnya dengan mengirim sahabat yang compatible dengan diri kita..... Compatible tidak selalu dalam artian "orang baik" , tapi orang yang perfectly match dengan keinginan dan kebutuhan kita....


Oh ya, melihat kualitas sahabat juga bukan berarti nggak ada gairah atau passion dalam hubungan itu...karena kita pasti ga mau kan menghabiskan hidup datar-datar aja? Api itu harus selalu dibakar oleh passion, dan yang saya pelajari dari orangtua saya.... menemukan passion bersama sahabat itu ternyata menyenangkan... Karena mereka memiliki energi yang sama, jadi menikmati passion itupun akan dalam kesenangan yang sama juga.. Passion ini tidak melulu berupa "lust" atau nafsu ya... tapi bisa berupa minat pada sesuatu... bahkan minat untuk terus belajar memahami pasangan.....


Saya percaya...bahwa menemukan pasangan yang juga sahabat itu tidak sekedar menemukan orang yang sesuai kriteria yang kita impikan... Tapi orang yang ketika bersamanya kita bisa berproses bersama menjalani grafik naik turunnya kehidupan.. dan di akhir hari, tentu saja, tetap bisa tertawa bersama......


Apa kamu sudah siap menjadi sahabat kehidupan orang lain?

Thursday, September 22, 2011

Once of A Lifetime Moment...

Ini adalah surat cinta yang saya buat untuk kedua orangtua saya dan kedua kakak saya,ketika akan melangsungkan pernikahan.... 14 Mei 2011 yang lalu....








Detik..Detik.....



Bismillahirrahmaannirrahiim, Astaghfirullahal’adzim, Asyhadualla illa ha illallah, Wa asyhadu anna Muhammadarrosulullah
Yang tercinta, kedua orangtuaku… papi dan mami….
Sungguh terasa berat ketika ananda menuliskan kata-kata ini… bukan karena beratnya niat di hati, tetapi karena mustahil melukiskan betapa cinta dan bahagia ananda dilahirkan menjadi putri papi dan mami selama ini…..
Masih terekam jelas dalam ingatan ananda bagaimana papi dan mami mendidik, membesarkan, mendoakan, dan menyayangi ananda selama 26 tahun ini….
Bagaimana papi,  dengan tangan kokoh yang selalu melindungi.. dan pandangan mata yang memancarkan sorot kebanggaan kepada diri ananda… ……….
Tidak peduli dalam musim apapun, keteguhan dan kekuatan hati papi selalu membuat ananda merasa aman, seolah ada benteng kokoh yang tidak terkalahkan oleh apapun….. Maafkan ananda krn seringkali lupa… bahwa dari papilah segala kekuatan ananda berasal….

Dan bagaimana mami, dengan selimut kesabaran yang luas tanpa batas senantiasa memberikan ketenangan dan kesejukan hati… membuat ananda merasa yakin, bahwa kemanapun ananda melangkah, akan selalu ada tempat untuk pulang… dimana ananda selalu disambut dengan tangan hangat mami….. Maafkan ananda, krn seringkali lupa.. bahwa di telapak kaki mamilah syurga berada…

Dari papi dan mami lah ananda belajar mengenai cinta tanpa syarat yang sesungguhnya….
Ananda  setulus hati memohon dibukakan pintu maaf… apabila selama usia ananda ini… telah banyak  air mata yang menetes karena kesalahan yang ananda lakukan dan masih sedikit kebahagiaan yang dapat ananda lakukan untuk membalas kasih sayang papi dan mami….. maafkan ananda apabila belum dapat menghiasi diri dengan akhlak yang mulia di hadapan papi dan mami….
Tidak lupa juga ananda haturkan cinta setulus hati kepada kedua kakakku, Kyai Doan Mahardhika dan Suhunan Rya Yuliana.. Terimakasih atas segala kasih sayang, perhatian, dan pelajaran yang kakak berdua berikan untuk ananda..  Maafkan juga segala kesalahan ananda sebagai adik yang seringkali menyakiti hati kalian….

Yang tercinta kedua orangtuaku, papi dan mami serta kedua kakakku……
Di hari yang baik ini… Ananda memohon izin… mohon restu untuk dinikahkan dengan laki-laki yang ananda cintai, yang bernama Mohammad Guntur Yasser Arafat Bin Imam Muhadi.... Dengan dialah ananda memilih untuk menambatkan hati hingga akhir hayat…
Hanya dengan ridha orangtua lah ananda dapat melangkahkan kaki menuju pernikahan yang sakinah, mawaddah, warahmah… pernikahan yang menyempurnakan separuh ibadah kami berdua dan dapat menghantarkan kami menuju Jannatul Firdaus……
Semoga dengan restu kalian … kami berdua dapat bersatu dalam ikatan cinta suci, sebagaimana cinta yang menjadi penghias keluarga Nabi yang mulia…. Cinta yang juga mendekatkan kami pada cintanya Allah Azza Wa Jalla…..


Tuesday, September 20, 2011

Renungan CLOSET

" I like my money right where i can see it.... hanging in my closet" 
- Carrie Bradshaw, Sex and The City -


Saya suka banget quote itu.... !! hehehe.... "Money" yang dimaksud dalam quote itu bagi saya artinya semacam investasi untuk dunia kewanitaan saya.. HAH??? Apa?? investasi?? gimana mungkin isi lemari, yang pasti berkonotasi dengan acara belanja belinji jadi bentuk investasi?? (ini bacanya boleh sambil lebay zoom in-zoom out ala sinetron kok. biar efek dramatisnya dapet gt). Oke sebelum saya jelaskan lebih lanjut, saya ceritain dulu ya hubungan emosional saya sama yang namanya lemari dan isinya.


Saya suka fashion, suka baju, dan segala pernik perniknya. Saya bukan termasuk cewek tomboy yang dari kecil hobi manjat pohon. Sepanjang usia memori saya, yang saya inget saya memang suka main boneka, masak-masakan, dan punya sifat yang biasanya menyertai gadis kecil dengan hobi semacam itu yaitu nangis. Pendeknya, saya emang cewek banget lah. Sejak kecil rambut selalu panjang, rapi, dengan pita-pita, jepit, atau bando. Dan sense of style saya mulai nongol waktu SMP. meskipun saat itu tampang saya ga bakal masuk dalam kategori cewek cantik versi manapun, tapi saya beruntung punya sahabat-sahabat yang "mekar" dan cantik-cantik. Kalau mereka udah cantik dari sononya, saya harus jungkir balik ngos-ngos an supaya bisa  AGAK cantik...hehehehe... gimana mau cantik kalo kacamata tebel selalu nempel di idung saya. Saya inget waktu SMP itu saya mulai concern sama rambut dan make up. keringetan dikit, bedakan... abis olahraga, bedakan.. abis pipis, benerin rambut (hehe gak denk boong... ga ada hubungannya)...mau berangkat les, mikirin baju dari malem sebelumnya... Pokoknya concern!. Tapi itu saya lakukan bukan untuk menarik laki-laki. Saya cukup paham kalo tampang pas-pas an saya ga bakal bisa kebantu sama make up, baju, atau rambut yang keren dan bikin cowok2 naksir saya. Lagipula, stock cowok ganteng udah diembat semua sama sahabat2 saya yang cantik2 ituh.  Saya melakukannya karena suka, untuk saya sendiri, dan saya pandang-pandang sendiri.


Masuk SMA... saya mulai merasakan gejolak kawula muda (duileee... mari bergoyang diskoooooo!). Maksudnya, saya mulai tuh ngerasain naksir cowok.. Jadi saya mulai perhatiin lebih banyak soal penampilan. Saya inget dulu sampe bela-belain pake sepatu Gosh yang sol nya tebel kayak burger BigMac. Tersiksa. tapi saya paksain pake demi tampil keren. Langkah besar transformasi saya terjadi di kelas 2, dimana saya belajar pake contact lense dan bisa say goodbye sama kacamata minus 5 . Ternyata langkah itu cukup efektif karena akhirnya saya bisa agak "dipandang" , trus dapet pacar yang notabene waktu itu termasuk deretan cowok ganteng di sekolah! *kedip kedip bulu mata*. Meskipun belom termasuk "it girl" di sekolah, tapi saya rasa dalam hal isi lemari, saya cukup mengalami lompatan besar waktu SMA itu.. Saya mulai berani mix and match, pake yang aneh-aneh.. dan menariknya, selalu ada sensasi menyenangkan tiap kali saya bereksperimen dengan baju-baju.


Menginjak kuliah, saya mulai ngerasa sinting sama baju. Saya ga mau pake baju yang sama dalam waktu yang berdekatan. Awalnya cuma ga mau pake baju yang sama dalam 1 minggu perkuliahan, tapi semakin lama jangka waktunya bertambah, dan saya ga mau pake baju yang sama dalam semester yang sama! Untuk mengantisipasinya saya sampe punya list baju-baju yang saya punya dan kemungkinan padanannya. Jadi kalo tuh baju udah saya pake, saya coret dari daftar supaya nggak kepake lagi. Dan setiap minggu list saya bukannya berkurang, tapi nambah panjang karena saya rajin beli baju hampiirrr tiap minggu. Nah yang penting dsini adalah pertanyaan, emang apa bahagianya bisa pake baju beda-beda terus gitu?? Waktu itu sih yang saya rasain tingkat pede saya ter-boost banget kalo pas saya pake baju yang match sama mood. saya ngerasa kampus, mall, dan tempat-tempat umum itu semacam runway.Saya seneng kalo ada yang merhatiin, nanya, atau muji baju-baju saya itu. 


Akhirnya kesukaan saya sama fashion ini tersalurkan lewat usaha butik yang saya rintis bersama sahabat saya. Kalo sebelumya saya belanja untuk diri sendiri, saat itu saya mulai belanja untuk orang banyak, untuk customer saya....Saya mulai peka sama segala jenis fashion... Gak hanya yang saya suka tapi harus jeli ngelihat apa yang pasar suka, meskipun sering ga nyambung sama kesukaan saya sendiri. Sebenernya isi butik saya waktu itu nggak merepresentasikan sense of fashion saya, tapi apa daya... dalam bisnis, kita harus merhatiin minat pasar, dan ketersediaan sumber juga. Akhirnya saya sering mimpi-mimpi andai bisa design sendiri, saya pasti lebih bisa ngeluarin kreativitas fashion itu... pelan-pelan saya coba wujudkan dalam bentuk bikin label dan produksi baju sendiri meskipun dalam jumlah terbatas. Hasilnya nggak selalu menguntungkan, tapi saya belajar banyaaakk bgt dari proses itu......  Hingga akhirnya saya menemukan kalo saya paling suka mendesign baju / kebaya pesta. Hobby saya ini berkembang cukup pesat... cuma dalam jangka waktu 1 tahun saya udah bisa punya ide-ide untuk setiap baju pesta saya. Bahkan saya udah beberapa kali nerima pesanan design, dan alhamdulillah sejauh ini komentar orang selalu positif.... baju-baju pesta pribadipun banyak yang sudah berpindah tangan, dibeli orang lain setelah saya pakai 1x ..... 


Hemmmhh, lalu..dimana investasinya ??


bagi saya, investasi isi lemari saya adalah pada perkembangan diri saya sebagai perempuan.... Saya menemukan banyak hal tentang "dunia dalam" saya dari baju-baju saya itu. Tidak semuanya baik tentu saja, tapi perjalanan saya bersama isi lemari saya betul-betul membantu saya memahami siapa Ega sebenanrnya.....


Dari isi lemari saya tahu bahwa saya menyukai pekerjaan kreatif... Saya suka segala sesuatu yang sifatnya one of a kind, out of box... Dan dari situ saya belajar, bahwa hasil dari pekerjaan kreatif lebih berharga dibandingkan sekedar repetisi dari pekerjaan yang sudah ada sebelumnya. Saya lebih suka mengambil inspirasi dan mengubahnya jadi milik saya sendiri... Saya nggak suka sama keseragaman, atau sesuatu yang terlalu "trend". Hal ini berlaku akhirnya ga cuma untuk fashion aja, tapi segala hal.... Saya bikin ucapan lebaran sendiri, saya temukan tema tesis yang "ega" banget, saya atur sendiri smua pernik pernik pernikahan saya (mulai foto prewedding, semua baju, dekorasi, undangan, pokoknya semua yang bisa saya handle), dan sekarang saya lagi dalam project bikin rumah baru saya bertema minimalis romantis. Ini juga tema yang saya ciptakan sendiri loh.... :) 


Untuk bisa jadi "milik" saya sendiri itu, saya juga harus jadi orang yang paham betul diri saya dan apa yang saya mau. Saya harus aware dengan semua proses kehidupan saya supaya saya tahu apa yang benar-benar saya inginkan, baik untuk hal-hal kecil maupun besar. Hal ini juga harus diimbangi sama ke - aware - an sama dunia luar, karena saya ga mau jadi orang yang egois dengan semua harus berjalan sesuai standar saya.


Dari isi lemari saya juga tahu bahwa saya ini takut menunjukkan luka-luka saya ke orang lain. Saya berpakaian baik, supaya orang lain nggak bisa liat kecacatan saya.... baju adalah salah satu persona yang saya punya... Ketika saya punya hari yang buruk, atau saya tahu saya sedang bersikap buruk, saya merasa "aman" bersembunyi dalam baju-baju saya....  
Saya juga bersembunyi di balik baju dari ekspektasi yang tinggi dari orang lain. Sejak kecil saya belajar bahwa orang yang terlalu "dandan" lebih sering dianggap remeh. Mereka tergolong orang nggak punya otak , nggak punya kemampuan yang cukup hebat. Tapi ketika orang-orang dalam golongan ini mencapai sesuatu, orang di sekitarnya akan apresiasi karena sebelumnya tidak dianggap akan berhasil. Saya pun mengalami itu. Setiap kali memasuki lingkungan baru, baju-baju itu melindungi saya dari ekspektasi yang tinggi dari orang lain. Kenapa saya suka berlindung? karena saya punya insting takut gagal yang juga besar.... keliatannya aja saya kuat, tapi saya ini masih gadis kecil cengeng sebenernya... yang takut banget untuk gagal dan kalah.  Padahal sebenarnya, saya ngerasa percaya diri dengan potensi-potensi saya. Tapi saya tipikal yang nggak bisa berkembang dari ekspektasi orang lain... saya butuh lingkungan yang "aman" dari ekspektasi sehingga saya bisa berfungsi maksimal. Penakut banget yah saya??


Lucunya, meskipun saya ngerasain betapa kuat kekuatan baju.... di saat bersamaan saya juga sadar, bahwa aksesori terbaik buat cewek itu confident! Percuma punya isi lemari yang indah kalao kitanya nggak nyaman atau confident dengan itu. Ini bukan sekedar ungkapan klise, karena saya ngalamin sendiri gimana ketika saya pake baju yang biasa-biasa aja tapi orang tetep ngeliatnya "wow"..itu semua karena saya confident dengan yang saya pakai. saya percaya pada baju-baju saya. 
Menurut saya, in the end...apa yang ada dari dalam itu ga akan mungkin bisa nipu.. saya bisa sembunyi atau membentuk image lewat baju... tapi pada akhirnya, apa yang sungguh-sungguh saya punya itu yang akan berjuang menemukan tempatnya. Jadi saya yakin betul, semua pencapaian saya selama ini karena sungguh diri saya apa adanya. Meskipun fakta ini nggak merubah cinta saya sama lemari saya doonk... hahahahaha.... u've got to be the best inside and out....and vice versa of course!


Well, itu hanya sebagian kecil dari investasi lemari saya.... Saya nggak membenarkan hobby mengisi lemari saya itu sebagai sesuatu yang positif (karena jujur aja saya sering bangkrut di tengah bulan hehehe). Saya juga nggak menganggap diri saya sekelas Carrie Bradshaw yang fashionista abis (karena saya masih sering melongo ngeliat gaya anak jaman sekarang yang "it" banget)... saya hanya merasa, indah banget punya koneksi yang begitu kuat dengan lemari saya.... sehingga buat saya, lemari saya ga ubahnya seperti kekayaan yang luar biasa.....


Saya akan punya walk in closet suatu saat nanti. Yang besar, indah, penuh barang-barang cantik, dan segudang perjalanan yang juga besar, indah, dan menyenangkan bersamanya...... Sure i will!!



Sunday, September 18, 2011

Appetizer!

Belajar nulis. Yep, saya pengen banget belajar nulis... Makanya saya semangat luar biasa akhirnya punya blog ini, setelah sekian lama kepingiiiinnn  punya tempat untuk nulis. Saya udah bosen banget 'memadatkan' isi kepala saya dalam bentuk status di facebook atau kicauan singkat di twitter. Tapi karena teknologi kayaknya emang bukan sahabat saya, jadilah saya terjebak cukup lama dalam rimba kebodohan karena ga bisa bikin blog. hehehehe..... (saya bisa bikin footer di tugas kuliah aja baru awal tahun ini, padahal udah kuliah dari 2003. #koplak ==> kalo di twitter :p).


Sampe akhirnya seminggu lalu, ada cewek yang ngebet pengen jadi adek saya ngabisin waktu cukup lama dengan saya di Bali. Kami sama-sama ikut pelatihan Transpersonal Psychology. Selama itu saya pun terpesona pada ke-hi-tech-an nya.. Dia punya semua teknologi : blackberry, android, sampe apple. Tiap abis kegiatan apa dia nulis, tiap ambil poto bisa jadi bagus... 


Maka mengeceslah saya melihat semua keajaiban itu...... NGIRI tepatnya! :P


Dan karena dia calon adek yang baik, dia berjanji bikinin saya blog sepulangnya ke Jogja. Voila! akhirnya di sela-sela kesibukannya dia berhasil menghadiahkan blog ini ke saya dengan penuh semangat. I should thank for her..... ( dengan ini dia resmi saya terima jadi adek ^^) Seharian ini pun saya habiskan untuk mendekorasi, mengutak atik, melihat-lihat "mainan" baru saya ini. Karena dasarnya saya suka sama segala yg berbau mendekor, mengkonsep, mendesign, jadi saya bener-bener khusyuk ngerjainnya (saya sampe mandi 1x aja hari ini sangking girangnya . Hahay got an excuse!).


Saya bener-bener pengen belajar nulis. Nulis yang jujur.... Saya nggak (atau belum) peduli apakah tulisan saya bagus ato enggak, enak dibaca ato bosenin, inspiring ato cuma sampah untuk yang baca... Saya cuma pengen nulis jujur, karena kadang saya ngerasa isi kepala ini ruwet banget sampe lajur-lajur pemisahnya sulit saya definisikan . Dengan nulis jujur, saya pengen punya refleksi jujur juga tentang diri saya... Jejak yang bisa saya evaluasi, saya cerna dengan lebih jelas karena tulisan bentuknya kan visual... Bukan sekedar kilatan-kilatan pikiran yang datang dan pergi.....


Tulisan malam ini, saya menganggapnya semacam appetizer.. makanan pembuka yang akan menggugah selera untuk tulisan-tulisan saya selanjutnya. Saya harap appetizer ini cukup kuat, enak, sexy, refreshing sehingga saya semakin semangat nulis ke depannya.


the old maxim say "you're nothing untill you write a book". But i say "you're nothing until you write SOMETHING".


Bon Appetit! Happy writing! Happy Reading!