Reed : "How did you and your wife get it so right?"- Reed Bennet and Alphonso, Valentine's Day-
Alphonso : 'Easy, i marrried my bestfriend"
23 September 1979. Tepat 32 tahun yang lalu orangtua saya melangsungkan pernikahan mereka.... Lama banget ya 32 tahun itu?? Lamanya kayak 1 tahun dijalani 32x....hehehe....
Hari ini saya dan kakak saya menghadiahkan hadiah sederhana untuk orangtua kami... Yaitu se-set cupcake berhias Papi dan Mami dalam bentuk 3D lengkap dengan karakteristik mereka (papi dalam jacket gaulnya, dan mami dengan tahi lalat nya seperti saya), cup lain berisi hobby mereka (gadget mewakili papi, dan tas mewakili mami), sisa cupcake lainnya berisi kepala yang melambangkan saya dan suami saya, serta kakak dan istrinya...
![]() |
| Ini diaaaa cupcakesnya.. |
Kembali ke angka 32 tahun tadi.....
Saya bersyukur oragtua saya masih diberi kesempatan merayakan 32 tahun mereka bareng. Saya nggak bilang kalo orangtua saya adalah orangtua terbaik di dunia ... Bukan karena saya nggak menghargai mereka, tapi karena satu-satunya orangtua saya ya papi dan mami itu... Saya belom pernah jadi anak orang lain...hihihi.. Jadi gimana saya mau ber naif2 bilang kalo mereka adalah orangtua "ter"?
Tapi buat saya , papi dan mami adalah sosok-sosok hebat. Kepada merekalah Allah menitipkan saya dan kakak saya untuk dibesarkan, disayangi, dididik... Meskipun kami berdua bukan anak-anak "sulit" (nakalnya gak ketauan maksudnya... :p) tapi saya tahu perjuangan mereka berdua membesarkan kami anak-anak anehnya ini juga nggak gampang.....
Tapi tulisan ini bukan dibuat untuk menuliskan mereka sebagai orangtua...itu akan saya bahas di bagian lain blog ini... Saya lebih pengen nulis tentang mereka sebagai suami istri dan bagaimana hal itu menginspirasi saya....
Sejak kecil, orangtua saya terbiasa hidup terpisah... Papi saya selalu harus berdinas di luar kota, sedangkan mami stay di Jogja bersama kami. Tentu saja ada tahun-tahun sulit yang kami lalui... Baik dari segi ekonomi, maupun pendewasaan Papi dan Mami sebagai suami istri. Saya pernah melihat orangtua saya bertengkar, ngambek2an, sayang2an, mesra2an..... Semua itu memiliki masanya masing-masing. Dulu ketika mereka masih di usia lebih muda tentu emosi-emosi itu lebih banyak.. Tapi semakin lama, saya melihat mereka semakin dinamis sebagai pasangan. Sekarang ketika mereka lebih banyak menghabiskan waktu dalam satu kota, saya perhatikan ke-dinamis-an itu terpupuk terus setiap hari... Ternyata betul, batu memang harus ditempa dengan keras lebih dahulu sebelum jadi patung yang indah (ini quote seseorang yang saya pinjam)
Pernah baca serial Twilight? Di salah satu bukunya dijelaskan tentang kemampuan warewolf untuk melakukan imprint, dimana ketika mereka meng-imprint suatu objek maka gravitasi seperti tidak lagi pada bumi tapi berpindah pada objek tersebut. Satu bergerak, satu menyesuaikan. Lebay buanggeeett emang... tapi kurang lebih seperti itulah yang saya lihat dari orangtua saya... Mereka seperti bergerak dalam irama yang sama tapi juga punya kemampuan toleransi ketika pergerakan lainnya sedang tidak seirama.... Duh, susah amit sih jelasinnya... Hmm, nanti kalo saya nemuin penjelasan lebih sederhana saya tambahin deh...
Seharian ini saya sibuk menganalisis, apa yah yang saya lihat dari 32 tahun pernikahan mereka yang bisa saya share di blog ini dan bermanfaat untuk orang lain? Tapi ternyata jawabannya saya temukan ketika saya ngobrol dengan sahabat saya sore ini... Kami sama-sama sudah menikah, jadi pembicaraan memang lebih banyak seputar keluarga, nggak lagi soal baju, gosip, cowok... (berasa tuwiiirrrrr deehh..)
Jawaban sederhananya adalah: menemukan kualitas sahabat dalam diri pasangan..... Pasti kita semua pernah kan dengar tentang ini? Tapi bagi saya , implementasinya ga semudah itu... Sahabat bukan sekedar kita bisa jadi diri sendiri di hadapan pasangan, atau sekedar kita bisa tertawa bersama, atau saling menerima segala kekurangan dan (tentu saja) kelebihan pasangan....
Persahabatan adalah proses yang kontinuum......
Sahabat adalah sosok yang se"energi" dengan kita....
Sahabat adalah teman seperjalanan untuk berbagi, sekaligus sosok yang harus kita hormati ke-individu-an nya...
Pernah ketemu sama orang baik, sempurna, ga ada kurangnya, tapi somehow kita ga bisa 'klik' dengannya? Atau pernah ketemu sama pasangan yang segitu saling cinta matinya sampe ga bisa punya ruang untuk mengembangkan diri? yang tanpa pasangannya itu seolah dirinya nothing?. Nah, dalam kasus-kasus seperti inilah yang menurut saya belum ditemukan sosok sahabat dalam diri pasangan....
Saya sendiri belum bisa mendeskripsikan jelas, gimana caranya mendeteksi kualitas sahabat itu dalam diri orang lain... Yang jelas, ketika memutuskan untuk menjalani hubungan rumah tangga dengan seseorang, kualitas ini wajib ada....
Pernikahan itu janji kita di hadapan Tuhan untuk berkomitmen menjalani segala sesuatunya bersama sampai dipisahkan maut... Dan itu berarti selamanya. Kita nggak bisa hanya mengandalkan hormon yang menghasilkan rasa meletup-letup untuk membuat pernikahan berhasil... Hormon itu akan redup pada satu titik (meskipun kita selalu kok punya cara untuk membakarnya lagi) karena pernikahan mengandung kompleksitas yang luar biasa besarnya... Kompleksitas itu akan menguras energi, sehingga hormon "cinta" yang sebelumnya menguasai pun akan berkurang, dan ini harus diantisipasi oleh kualitas lain itu: persahabatan..... Kualitas ini pun bukannya sim salabim nongol, tapi seperti yang saya bilang tadi, sifatnya kontinuum..terus menerus...dan tentu saja, harus diupayakan. Saya menemukan banyak sample, bahwa banyak pasangan bertahan dalam pernikahan hanya karena "HARUS", lalu berhenti mengupayakan diri menjadi sahabat bagi pasangannya, lalu pasangannya juga tidak pernah menjadi sahabatnya, lalu mereka berdua hidup dalam ketidakbahagiaan...namun lagi-lagi "HARUS" tetap bertahan.....
Nah..menurut saya justru step inilah yang paling sulit: mempersiapkan diri menjadi sahabat orang lain.. Sulit, karena kita cenderung berpikir akan menunggu orang yang tepat memasuki dan membereskan kekacauan dalam hidup kita. Kita berpikir jika kita bertemu orang itu, maka keadaan baru akan menjadi lebih baik... Dalam cinta, itungan matematika begini nggak akan bikin kita jadi pejuang. Tapi kalau kita sudah memantaskan diri jadi sahabat,semesta akan meresponnya dengan mengirim sahabat yang compatible dengan diri kita..... Compatible tidak selalu dalam artian "orang baik" , tapi orang yang perfectly match dengan keinginan dan kebutuhan kita....
Oh ya, melihat kualitas sahabat juga bukan berarti nggak ada gairah atau passion dalam hubungan itu...karena kita pasti ga mau kan menghabiskan hidup datar-datar aja? Api itu harus selalu dibakar oleh passion, dan yang saya pelajari dari orangtua saya.... menemukan passion bersama sahabat itu ternyata menyenangkan... Karena mereka memiliki energi yang sama, jadi menikmati passion itupun akan dalam kesenangan yang sama juga.. Passion ini tidak melulu berupa "lust" atau nafsu ya... tapi bisa berupa minat pada sesuatu... bahkan minat untuk terus belajar memahami pasangan.....
Saya percaya...bahwa menemukan pasangan yang juga sahabat itu tidak sekedar menemukan orang yang sesuai kriteria yang kita impikan... Tapi orang yang ketika bersamanya kita bisa berproses bersama menjalani grafik naik turunnya kehidupan.. dan di akhir hari, tentu saja, tetap bisa tertawa bersama......
Apa kamu sudah siap menjadi sahabat kehidupan orang lain?

Aku suka percakapan kita malam kemarin Kak, yang dimaksud sahabat di sini adalah orang yang dengan dia, kamu bisa menjadi apa adanya ;)
ReplyDeletedan berproses bersama...:)
ReplyDelete