Thursday, April 5, 2012

Karena cinta itu (Un)Niversal...

"How can you hope they will understand the love between two people if they're not around?"
           -Carrie Bradshaw, Sex and The City The Movie 2- 


Dua hari lalu saya chat sama seorang sahabat lama yang sekarang tinggal di kota seberang... Kami cukup sering sih haha hihi ngobrol ngga penting, sehingga dia cukup tau bagaimana hari-hari saya dsini dan sebaliknya. Lalu diapun menanyakan sesuatu yang cukup menggelitik bulu idung saya, he.... lupakan bulu idungnya...., katanya gini...

                "kamu kok jarang sih posting foto berdua suamimu? atau nulis-nulis apaaa gitu 
                 tentang kalian berdua...."

Waktu itu sih jawaban saya standar jawaban prinsipil aja: ngga suka pamer-pamer berlebihan, demikian kata saya. Tapi sesungguhnya saya juga ga puas-puas amat sama jawaban saya... pasti ada sesuatu yang lebih besar yang melatarbelakangi pikiran ini karena yess saya tu sebenernya suka terganggu liat pasangan-pasangan yg heboh banget displaying their affection, meskipun tu pasangan suami-istri sekalipun. Saya juga ga belagak keren sendiri dgn anti banget sama yang namanya kemesraan di socmed, saya juga suka kok pasang picture berdua suami, sesekali menulis tentangnya, tapiiiiiii menurut timbangan subjektif saya siihh... itu masi biasa-biasa aja... Haha, ga boleh protes, ni kan blog saya, suka-suka donk donk.....

Setelah mikir-mikir , menelaah selama 2 hari ini, maka skrg saya siap memberikan hak jawab saya terhadap pertanyaan di atas....

Menurut saya, kemesraan itu kan pasti related sama cinta yah... jadi menunjukkan kemesraan sama juga kaya ber statement "ni lho i'm deeply in love sama orang ini..... oh-betapa-bahagianya-kami", kira-kira gitu kan? .
Cinta memang milik semua orang, cinta memang bahasa universal sebagaimana musik dan matematika. Tapi bagi saya, cinta juga bahasa khusus yang tidak bisa dipahami setiap orang......
Coba, berapa di antara kita yang mengernyit lihat  cinta menembus batas usia macem Raffi Ahmad - Yuni Shara (contohnya asix banget deh akuh :p) ? lihat orang yang bertahan mencintai orang lain yang tidak mungkin dimiliki? lihat cinta yang menyakiti tapi somehow orang tersebut tetap bertahan pada hubungannya? ... lihat cinta antar orang jelek n pasangannya yg jaaauuhhh lbh good looking?
Itu baru contoh yang common ya,masih ada bentuk-bentuk cinta  lainnya yang mungkin bikin kita lebih jago menilai, menghujat, bergidik ngeri : cinta sesama jenis, cinta beda agama, cinta yang mampu bikin orang melakukan hal-hal gila, cinta pada objek yang 'terlarang'... saya pikir kita ngga kekurangan informasi lah untuk tau bahwa banyak cinta ajaib di luar sana.
Hm..atau ngga usah jauh-jauh deh... yuk coba dilihat ke pengalaman kita sendiri, berapa kali kita terlibat pada hubungan percintaan yang kita yakin tidak akan ada orang lain yang mengerti selain pihak-pihak yang terlibat di dalamnya??
Sayapun mengalaminya, berkali-kali malah..... cinta yang saya yakin hanya saya, dia, dan Tuhan yang tau bagaimana bentuknya...... Mau dijelaskan detail sampe jungkir balik juga orang lain ngga bakalan bisa mengerti...
Inilah kenapa saya bilang cinta itu memang universal, dalam hal kepemilikan... tapi secara pemaknaan, dia itu agung, khusus, unik...karena tidak akan pernah ada bahasa cinta yang sama, meskipun dialami oleh orang yang sama.
Cara saya mencintai si A, berbeda dengan cara saya mencintai B... meskipun status hubungannya sama. Kita tidak akan pernah bisa mengualngi kisah cinta yang sama.. hanya sekali, pada satu waktu. Itulah kenapa saya bilang cinta tu bahasa yang personal banget sebenernya.....

Lalu, jika sebegitu khususnya bahasa cinta, saya jadi ngga ngerti apa pentingnya terus menerus memberitakannya ke khalayak umum??. Kalau saya perlu memberitahu pasangan betapa saya mencintai nya, yang perlu saya lakukan adl memberitahukan itu padanya secara langsung kan? dengan bahasa yang dipahami kami berdua... bukan dengan nulis "i love u sayangku" di status, tweet, atau apalah.....
Saya juga ngga merasa perlu membuktikan sungguh2 berada dalam kondisi cinta yang membahagiakan dengan sering-sering posting foto berdua suami. Membuktikan ke siapa? Mencitrakan ke siapa? Toh kalaupun itu dipahami sebagai image positif dari orang lain, tetep aja yang dipahami mereka ya sebatas kulit luarnya.... Mereka lihat saya bahagia? gimana kalau saya bilang, saya super sangat banget banget pol-polan bahagianya?? Bisa ngga mereka memahami itu? sementara saya tau ada banyak orang di luar sana yang menilai kebahagiaan kami kurang lengkap karena rumah tangga saya belum ramai sama suara bayi sampe sekarang....... Sekali lagi, formula cinta n kebahagiaan rumah tangga saya tidak akan bisa dipahami orang lain...

Ketidaksetujuan saya sama pamer-pamer kemesraan tu juga bentuk empati saya bagi mereka-mereka yang belum menemukan pasangannya. Banyak orang yang saya kenal sampai saat ini masih berjuang menemukan cintanya... padahal menurut saya, cari jodoh tuh lebih susah daripada cari kerja atau cari sekolah. Jadi ga ada gunanya nambah-nambahin beban para single ini dengan membuatnya semakin "sesak" dengan melihat kemesraan orang lain.... Daripada membebani mereka dengan energi "iri" yang pasti muncul seberapapun kadarnya, mending meng encourage mereka untuk nemuin kebahagiaannya sendiri dulu kan? karena cinta positif memang berhubungan sama kebahagiaan, tapi kebahagiaan belum tentu selalu tergantung sama sudah atau belumnya kita menemukan cinta itu.
Nah, masalahnya adalah... banyak ni orang yang saya tahu menggantungkan betul momentum menemukan cinta ini sama naiknya derajat kebahagiaan mereka. Dari yang sebelumnya memble, merana, menderita, diolok-olok lingkungan krn lama single, punya hubungan yang gagal melulu, atau punya pasangan tapi ga bisa dibanggain, sampe akhirnya... dher!! nemulah sama si solmed,eh soulmate sejatinya.... habis itu menggelegar deh energi public display affection alias pamer kemesraan ini. Kalau dari kacamata saya sih, model begini ini  kasian sebenernya, karena kebutuhan nya akan cinta lebih banyak untuk dunia eksternalnya: pembuktian, pamer, pemenuhan social value..... Sorry dorry morry to say, tapi saya yakin yang termasuk kategori ini -entah dgn sadar atau tidak- tu banyak bgt. Cirinya gampang deh, liat aja socmed yang dia miliki, lalu hitung seberapa mendominasinya deklarasi cinta pd pasangan yang dia lakukan.

Padahal sejatinya, kalau kita memaknai betapa cinta itu kebutuhan internal, kita akan lebih banyak melakukan proses-proses untuk membangunnya, bukan meneriakkannya pada dunia.
dan sebagai bonus kalau kita benar-benar memaknainya secara internal , cinta yang baik tu akan tampak kok, tanpa kita harus susah payah mempertontonkannya.... Gimana nampaknya?? Ya karena cinta itu bahasa khusus, maka penampakannya pun akan khusus sehingga ga ada rumus pastinya... ia berbeda bagi setiap orang.
Gampangnya gini deh, kita bisa kan merasakan mana pasangan-pasangan yang sungguh-sungguh bahagia, saling meng-influence dengan energi positif, dan mana pasangan-pasangan yang "hanya" bagus tampilannya aja?

Cinta punya banyak cara untuk menemukan kita, tetapi setelah bertemu dengannya, keputusan ada di tangan kita bagaimana menggunakannya... Mudah-mudahan para penggemar public display affection bisa sedikit kesetrum dengan tulisan ini... atau minimal, menggelitik bulu idung mereka deh! hihihihihi......

..............Semoga menginspirasi! ..............

2 comments :

  1. Geli, bulu hidungku tergelitik! :D

    Pada akhirnya, tulisanmu ini menguatkanku atas quote: "semua tergantung sama niatnya". Nah, utk tergantung sama niat itu, berarti kita harus sadar akan niat kita,, which means mindful. Halah! balik ke sini lagi... hehehe supaya kita sadar dengan setiap apa yang kita tulis. apakah ini buat menutupi kekurangan diri, pemenuhan sosial value, tanda ketidakpercayaan diri, krisis identitas, bahkan mungkin apakah ini bisa membuat pihak lain merasa sebel baca yg gini2 terus dsb.

    Mungkin kapan2 kita harus bikin kampanye "internet sehat" bareng kak, dan sehat yang dimaksud adalah sehat secara mental.

    keep writing Dear, glad to see u back! Banyak yg nunggu2 nyinyiranmu.*terserah mau bilang apa dgn "paksaan nulis"ku wahai pribadi yang bebas!* muach.

    ReplyDelete
  2. aaaaaaaaaaaaaaakk... u know me so well mood boosterkuuu!! *smooches*

    ReplyDelete