Tuesday, October 11, 2011

ParentHood

"....i hope u feel what u never felt before. I hope u meet people with a different point of view. Hope u live life that u proud of...and if u're not, i hope u have strength to start all over again..."
          - Benjamin Button, Curious Case of Benjamin Button- (Letter to his unseen daughter)


Beberapa hari yang lalu saya baru aja mengunjungi baby shop. Bukaaan, bukan karena saya persiapan menyambut bayi, tapi saya berniat beliin kado untuk saudara yang baru aja melahirkan. Tercengang, terpesona, dan terkagum saya dibuatnya (untung ga sampe terjengkang...) karena disana ada banyaaakkk banget pernik-pernik bayi dan anak yang lucu, unik, bahkan canggih. Semuanya dijual untuk memudahkan tugas orangtua dalam mengurus anaknya. Otak dagang saya langsung muter n mikir "hmm...peralatan bayi ni pasarnya lumayan deh pasti..karena anak kan kebutuhan n pertumbuhannya cepat. Belum lagi orangtua jaman sekarang yang pengen anaknya dapet peralatan terbaik..."

But wait!!
Saya sendiri langsung terhenti begitu pikiran ini pop-up di kepala. Saya mikir, benarkah? Benarkan peralatan-peralatan canggih ini yang diperlukan seorang anak untuk tumbuh dengan baik? Benarkah ini sungguh kebutuhan anak, dan bukan kebutuhan orangtuanya?

Saya mungkin sekarang masih berstatus anak, saya belum jadi orangtua... Tapi jujur aja, banyak kelakuan orangtua jaman sekarang yang bikin saya geli. Mau contoh? Nih...: mengikutsertakan anak usia kurang dari 3 tahun untuk ikut kontes "model2an" dan bikinin anak account facebook! Saya sih menganggap itu konyol, karena porsi terbesar keuntungan ada pada orangtuanya. I mean, mau dibuat apa trophy kemenangan kontes itu untuk anak? Alasan yang dikemukakan -mungkin- supaya si anak dibiasakan punya prestasi sejak kecil, atau melatih anak supaya berani tampil di muka umum. ... Tapi coba dipikir, apa iya trophy itu akan bermanfaat untu kehidupan si anak selanjutnya? Apa si anak kelak akan punya kebanggaan sebesar orangtuanya melihat trophy itu?
Lalu facebook... apa gunanya anak dibuatkan account yang dia sendiri bahkan belum tahu apa itu internet ?(dan pada masa dia sudah mulai tahu, giliran orangtua yang panik dengan efek internet itu sendiri) Untuk lucu-lucuan? Supaya si anak populer di dunia maya?
Hmmm... sorry to say, tapi menurut saya jawabannya simple: itu semua dilakukan karena kebutuhan orangtuanya. Kebutuhan apa? entahlah.... bisa kebutuhan untuk ngeksis, diakui, atau sekedar kebutuhan memberi diri sendiri "reward" atas fungsi ke-orangtua-an nya.

Sama seperti toko bayi yang menyediakan segala pernik canggih itu..... Saya jadi bertanya, berapa banyak ya  orangtua yang membeli benar-benar sesuai kebutuhan anak? Botol susu dengan bentuk yang dibuat menyerupai puting ibu agar si bayi terstimulasi dengan baik motorik dan pertumbuhan giginya, menurut saya tetap ga bisa ngalahin puting susu ibu. Mainan yang bisa mengeluarkan suara-suara lucu, menurut saya belum bisa ngalahin canda tawa yang dilakukan orangtua. Kursi bayi keren dengan logo brand yang gede banget di tengahnya, menurut saya masih kalah sama buaian / gendongan orangtuanya.

Hmm...saya bukannya mau nyinyir sama peralatan2 itu, karena saya tau peralatan itu dibuat untuk memudahkan tugas-tugas orangtua. Saya tau pada derajat tertentu anak-anak memang membutuhkannya.... Mereka butuh mainan edukatif yang menstimulasi perkembangan, mereka butuh pakaian yang nyaman, mereka butuh asupan terbaik... Apalagi dalam kasus-kasus tertentu, bantuan dari alat-alat ini sangat diperlukan, misalnya botol penyimpanan ASI bagi ibu yang ASInya melimpah agar selalu terjaga kualitasnya...

Saya ini nyinyir-in NIAT orangtuanya. Karena faktanya, banyak sekali anak yang ngga dapetin kebutuhan mereka yang sesungguhnya baik fisik, emosi, maupun sosialnya. Orangtua yang terlalu sibuk misalnya... melimpahi anak-anak mereka dengan kebutuhan tersier yang super mewah, tapi kebutuhan dasar anak untuk dipeluk saja diserahkan ke pengasuh... sampai-sampai si anak lebih nempel sama pengasuh daripada orangtuanya. Orangtua yang males, ga mau repot bikinin anak makanan rumah dengan bahan-bahan asli, justru menggelontor anak dengan makanan buatan yang melimpah di pasaran dan di klaim produsennya mampu memenuhi asupan gizi secara sempurna. Orangtua yang peduli hanya pada perkembangan anak yang kasat mata, sibuk memperbagus tampilan anak, tapi tetep aja di depan anak bicara kasar atau memberi contoh sikap buruk lainnya. Orangtua yang gengsi an, rela masukin anak ke sekolah mahal dengan embel-embel "internasional" tanpa melihat apakah sekolah itu memenuhi kebutuhan anaknya akan pendidikan atau tidak. Orangtua yang melek teknologi, sibuk membekali anak dengan blackberry sejak dini, tapi mendengarkan cerita anak tentang kegiatannya saja nggak sempat.....

Sungguh contoh-contoh itu bukan karangan saya saja..tapi terjadi di sekeliling kita sekarang.

Pada tulisan sebelumnya saya sedikit menyinggung tentang "living in others dream". Bahwa kita, seringkali dibesarkan dengan mimpi-mimpi orang lain yang secara ga sadar dipaksakan seolah-olah itu mimpi kita juga. Menurut saya, bibit dari perilaku ini ya orangtua.... karena sejak si anak kecil, orangtuanya sendiri bingung mana yang sebenanrnya kebutuhan dirinya, dan mana kebutuhan putra-putrinya. Mungkin awalnya hanya kontes, facebook, alat-alat canggih.... namun lama kelamaan "pemaksaan kebutuhan" ini bertransformasi jadi gaya hidup dan cita-cita anak. Meskipun banyak orangtua yang ber statement "terserah anak mau jadi apa, kami hanya mendukung", tapi berapa banyak dari mereka yang restu dari awal jika anaknya memilih jadi, hairdresser misalnya? atau jadi ahli kimia? atau memilih fakultas yang ga populer semacam sastra jawa? Akibatnya, ga sedikit anak yang tumbuh dalam kekosongan... karena ia ga sempat membesarkan mimpi-mimpinya sendiri.

Menjadi orangtua, memang tugas yang maha berat. Bahkan sejak anak dalam kandungan pun, nutrisi emosi sudah dibagikan oleh ibu kepada calon bayinya... dan tugas ini akan terus berlanjut sampai ruh berpisah dari jasadnya. Namun bukan berarti tugas ini harus ditanggapi dengan superior, menganggap kita yang paling paham kebutuhan anak. Mereka pun makhluk hidup yang punya suara, punya keinginan dan kebutuhan. Mudah kok resepnya: dengarkan, rasakan..... Maka kita akan tahu bedanya mana kebutuhan milik kita dan milik anak.

Quote yang saya cantumkan di awal tulisan ini benar-benar menyentuh saya... Karena rasa-rasanya masih langka ya orangtua yang menanamkan hal-hal tentang inner strength sejak awal.. Surat Benjamin Button itu menurut saya sarat kasih sayang tanpa syarat dari seorang Ayah, yang menginginkan putrinya menjadi special dengan caranya sendiri, bukan dengan cara mainstream yang banyak diyakini orang lain. Benjamin Button mendorong kekuatan anak untuk mengikuti jalan hidupnya, bukannya sekedar menunjukkan ke mana arah jalan itu......

Mudah-mudahan.... nanti kalau sudah waktunya saya naik kelas jadi orangtua, saya akan selalu ingat bahwa anak adalah titipan Allah. Titipan, bukan 'milik' yang bisa saya bentuk sesuai keinginan sendiri, atau 'pewaris' bagi pemenuhan kebutuhan yang gagal saya lakukan sendiri........


No comments :

Post a Comment