Comfort Zone....
Wilayah yang sering "ditakuti" banyak orang karena menurut konsensus umum, wilayah ini suka bikin kita terlena sehingga berhenti berkembang....
Well, saya akan berada di garis depan penentang pendapat ini. Hehehehe..... Bukan karena saya mengidap ODD (Oppositional Defiant Disorder -merupakan gangguan perilaku menentang-) lho, tapi memang haqqul yaqien saya punya pendapat yang berbeda.
Menyalahkan comfort zone karena tidak berkembang, menurut saya itu terjadi karena kita sendiri yg mengecilkan arti 'comfort zone'. Menurut bayangan kita, comfort zone itu contohnya seperti: pekerjaan enak yang udah kita lakukan bertahun-tahun, atau lingkungan sosial yang itu-itu saja.... betuull?. Padahal comfort zone sebetulnya kan situasi / wilayah yang membuat kita nyaman... tidak terbatas hanya hal-hal yang dari luar terlihat nyaman saja karena bisa jadi nyamannya seseorang justru dipandang aneh bagi orang lain. Ini masalah rasa.. dan rasa adalah sesuatu yang sangat subjektif.
Contoh, orang yang merasa ngga progress di pekerjaannya lalu memilih keluar karena merasa sudah terlalu nyaman disana sehingga akhirnya berkelana lah dia mencari pekerjaan lain. Menurut saya, comfort zone orang ini bukan pekerjaan nyamannya, tapi di proses mencari tantangan atau situasi baru tersebut. Mengambil resiko, bertemu orang-orang baru, beradaptasi dengan pekerjaan baru.. mungkin hal-hal ini 'terlihat' tidak nyaman, tapi somehow sebenernya ada kenyamanan baginya ketika melakukannya.
(masih) menurut saya, justru sejatinya kita ini selalu mencari comfort zone sebetulnya... Kalau kita lagi susah, biasanya orang yang kita cari adalah sahabat atau keluarga yang bikin kita nyaman kan? atau justru kita lebih nyaman bicara dengan orang asing?. Kalau kita terus menerus ganti pacar, kita sebetulnya sedang mencari orang yang bersamanya kita merasa nyaman kan? . Kalau sekarang kita masih jadi 'kutu loncat' di pekerjaan, saya rasa 2 alasan besar yang sering mendasari hal ini adalah: gaji dan kenyamanan bekerja.. Yess??. Kalau kita lagi jenuh dengan sesuatu, biasanya kita bisa menyelesaikannya dengan melakukan hobby kita kan? Semua terpola menuju hal yang sama: comfort zone yang selalu kita cari.........
Justru... ketika kita sudah berada di tempat atau situasi yang tepat dan kita merasa nyaman disitu, potensi-potensi kita akan berkembang dengan baik... Saya yakin kok Ir.Ciputra, Dwi Lestari, Mark Zuckerberg, dan jutaan tokoh sukses lainnya bisa sedemikian besar prestasinya karena memang itulah bidang yang membuat mereka nyaman... Ga ada istilah bosan atau stuck ketika kita benar-benar sudah ada di comfort zone. Yang ada adalah menikmati, bersyukur, berkembang lebih besar lagi dan lagi.......
Sehingga, kalau mau ditarik ke belakang... sebetulnya sangat penting buat kita untuk tahu apa yang benar-benar membuat kita nyaman, apa yang sesungguhnya kita mau. Karena mengetahui kenginan hati sedini mungkin tuh akan semakin mempermudah langkah-langkah kita menuju ke arahnya.....
Saya sangat salut pada orangtua yang mempu mendidik anaknya untuk mengetahui apa yang ia inginkan sedari kecil. Dengan mengesampingkan ego 'berkuasanya', orangtua model ini akan mendukung sepenuh hati proses si anak menemukan comfort zonenya.... Nah sebaliknya yang suka bikin saya geram, jenis orangtua yang penetrasi gila-gilaan terhadap keinginan, passion, dan kebutuhan anak. Ini nih bibitnya kenapa fakultas-fakultas yang laku di Indonesia ga jauh-jauh dari Kedokteran, Ekonomi, atau Teknik..... yang kemudian berefek lagi kenapa Indonesia ga punya ahli-ahli di bidang khusus lainnya. Padahal negara yang besar harusnya pendidikannya juga maju di semua bidang, bahkan bidang yang 'nyeleneh' sekalipun!. Saya sering merasa miris ketika beberapa kali harus melakukan rekruitmen di perusahaan, para pendaftar banyak yang berasal dari fakultas-fakultas yang sebenarnya lebih cocok untuk berkarya di bidang lain.... Dan ajaibnya, ketika ditanya alasannya banyak yang menjawab karena harapan orangtua. Harapan orangtua bahwa anaknya akan bekerja di tempat mentereng yang menghasilkan banyak uang dan itu HANYA bisa didapat di bidang tertentu saja -yang tentu saja berbeda dengan bidang perkuliahan si anak-.
Bersyukurlah bagi kita yang sudah menemukan comfort zone saat ini. Ngga perlu merasa berdosa karena menikmatinya, karena justru dari kenikmatan itu akan lahir sesuatu yang bermanfaat.... Kalaupun sekarang belum menemukan comfort zone, saya rasa kita perlu lebih mem-peka-kan diri tentang apa-apa yang sebenarnya kita sukai. Hanya perlu lebih banyak merasakan dan mendengarkan hati saja kok untuk mengetahuinya....
No comments :
Post a Comment