Tuesday, December 13, 2011

Small Step Big Step

"Men are haunted by the vastness of eternity. And so we ask ourselves: will our actions echo across the centuries? Will strangers hear our names long after we are gone, and wonder who we were, how bravely we fought, how fiercely we loved?”
          - Odysseus, Troy -

Kemarin, saya pergi nyekar (berdoa, membersihkan, dan menabur bunga) di makam eyang. Entah karena sedang musim hujan, atau karena bukan bulan dimana orang-orang biasanya banyak mengunjungi makam... namun kondisi makam saat itu tampak kurang terawat. Rumput ilalang nya tinggi-tinggi sehingga menyulitkan untuk berjalan di antara batu nisan, kotoran sampah dimana-mana, dan banyak pepohonan yang mati. Karena saya sedang datang bulan, maka saya hanya menunggu di dekat pintu masuk makam, sementara budhe yang memang mengajak saya kesanalah yang akhirnya masuk dan melakukan tradisi nyekar tersebut
Di sudut saya berdiri itulah, saya melihat sekeliling... melihat nisan-nisan tak terawat yang bahkan namanya saja sudah tidak terbaca... Saya jadi bertanya-tanya.....
"gimana ya kalau cicit atau saudara jauh hendak nyekar bisa menemukan makam yang mereka cari kalau kondisi makamnya seperti ini?”
“Kapan ya terakhir kali seseorang mendatangi makam itu, dan mendoakan serta mengingat keluarga / kenalan mereka yang telah berpulang"
“Berapa lama, atau berapa keturunan ya yg akan mengingat orang-orang yang terkubur di balik nisan-nisan ini? 10 tahun? 20 tahun? 4 turunan? 7 turunan? 1 abad? sampai akhirnya namanya benar-benar dilupakan.... dan digantikan nama-nama lain di nisan mungkin?"
Dan akhirnya pertanyaan......
"Apa ya yang diingat orang-orang yang masih hidup akan mereka yang telah tiada ini? kenangan baik kah...? kenangan buruk...? prestasi...? atau.... tidak ada? mereka hanya nama?"

Hm.. mungkin saya lagi over analyzed sama makam-makam itu. Harusnya kan saya mikir something yang lebih spiritual ya... semacam siksa kubur, kehidupan akherat, hisab, dsb, dsb.... Ya, pikiran tentang itu jelas ada, tapi kalau saya butuh jawaban dari hal-hal itu, saya yakin punya Al-qur'an yang akan menjawab segalanya
Saya justru berpikir tentang....hidup. Yeah, hidup yang teramat singkat dan apa yang bisa kita  lakukan untuk mengisinya.

Entah bagaimana dengan orang lain, tapi salah satu kecemasan utama hidup saya adalah... tidak melakukan apa-apa yang cukup besar bagi orang lain. Saya takut hidup saya cuma numpang lewat, sehingga tidak ada kebaikan yang akan terus berjalan nanti setelah jatah usia saya habis... Saya takut orang-orang hanya akan mengingat dan mendoakan saya, let's say, 40 hari aja dari kepergian saya.. setelah itu whuzzzzz, melangkah maju dan saya, Ega Asnatasia Maharani, benar-benar hanyalah sebuah nama.... orang tidak akan mengingat apa gunanya saya hidup.

Saya punya Ayah mertua, yang tidak sempat saya kenal karena beliau meninggal dunia ketika saya baru saja menjalin hubungan dengan putranya yang saat ini sudah berstatus suami saya. Saya tidak mengenal Ayah mertua saya ini... Secara fisik, saya hanya mengenalnya dari foto-foto beliau yang banyak tersimpan di rumah Blitar. Tapi saya ingat, suami pernah berkata bahwa salah satu cita-cita Bapak adalah kalau meninggal nanti ingin banyak yang melayat dan mendoakannya.
Dan keinginan inipun terkabul... meskipun saya hanya melihatnya dari video.. betapa banyaknya masyarakat Blitar yang mengantar Bapak ke peristirahatan terakhirnya. Saya rasa, ini bukan semata karena jabatan yang beliau miliki semasa hidup.... tapi dari caranya menjalani hidup. Tidak cuma sekali dua kali saya mendengar dari orang-orang yang bukan keluarga dekat beliau, menceritakan bagaimana Bapak menjalani hidupnya dengan kebaikan. No wonder begitu banyak orang yang bersedih ketika Bapak wafat, dan mendoakannya..... hingga saat ini....
Kalau saja saya punya waktu untuk mengenalnya, dan belajar lebih jauh tentang kebaikan-kebaikan hidup....

Lalu, masih di hari yang sama... saya menonton film bagus di bioskop. Judulnya Machine Gun Preacher... bercerita tentang seorang mantan pecandu narkoba yang akhirnya membaktikan hidupnya untuk membantu anak-anak Afrika dengan segala yang ia miliki. Garis bawah: dengan segala yang ia miliki, termasuk kekayaan pribadinya, dan pada titik tertentu... keluarganya. Tapi Sam Childers tetap melakukannya dengan keyakinan bahwa yang ia lakukan adalah panggilan jiwanya........ (ok saya mesti stop cerita filmnya disini, kalo engga jadi review film lagi :p)

Film itu, pertanyaan-pertanyaan di makam, dan ingatan saya tentang Ayah mertua membuat saya mengevaluasi lagi hal-hal yang sudah saya lakukan dalam hidup.. yang sekiranya bisa terus ada hingga lamaaaaa setelah saya tiada....
Ternyata, yang muncul adalah... perjalanan dalam langkah-langkah kecil. Seperti slogan sebuah pusat pendidikan anak di Jogja, Small Step Big Step!
Saya jadi malu sendiri... kenapa juga saya selalu takut tidak melakukan hal-hal besar, padahal yang seharusnya saya lakukan adalah melakukan langkah-langkah kecil? Trevor hanya berpikir untuk mengajak orang untuk saling mengasihi ketika ia memulai eksperimen "Pay It Forward" yang akhirnya menjadi sebuah gerakan besar yang mengajak orang berbuat baik. Valencia Mieke Randa hanya berpikir ingin menolong pasien yang membutuhkan darah ketika pertama membangun "Blood for Life", dan kini menjadi gerakan sosial besar dengan manfaat yang sudah dirasakan masyarakat luas. Harry Moseley  hanya berpikir ingin menyumbang untuk penelitian kanker otak (penyakit yg diderita sahabatnya, sementara ia sendiri menderita tumor otak) ketika ia membuat gelang manik-manik dan menjualnya seharga 2 poundsterling, sebelum akhirnya menjadi gerakan fundraising "Harry Help Others" dengan hasil jutaan poundsterling.
Mereka adalah orang-orang dengan ide sederhana, langkah sederhana, dengan gema yang luar biasa besarnya...............

Saya pikir kita semuapun harusnya begini ya.... tidak melulu fokus pada hal-hal besar, tetapi jg meluangkan waktu untuk melakukan hal-hal sederhana. Siapa tahu, justru dari kesederhanaan itu maka jalannya akan jauh lebih mudah, lalu efeknya justru lebih besar dari perkiraan sebelumnya. Mungkin, ini juga yang menjadi sumber kehampaan hidup bagi kebanyakan orang, terutama mereka yang hidupnya selalu menetapkan target... Mereka luput melihat langkah-langkah kecilnya dan menjadikan itu bermakna. Mereka, dan juga saya, sering lupa bahwa satu bantuan kecil, satu senyum tulus, satu kata-kata sederhana bisa jadi sesuatu yang besar bagi orang lain....

Saya? Saya tidak akan memaksakan diri menjadi siapapun.... Saya, hanya ingin setulus hati menikmati perjalanan-perjalanan kecil saya.. menyentuh kehidupan orang lain sebanyak yang mungkin saya lakukan. Beruntung saya diberikan jalan untuk menemukan ilmu yang saya cintai, Psikologi.. dimana saya belajar banyak hal tentang kehidupan manusia....tentang semesta, tentang rasa..... Ilmu ini memungkinkan saya melakukan hal itu, menyentuh kehidupan orang lain.
Saya ga muluk-muluk kalo bilang pengen ikut andil make a world better place... saya nggak akan mengerdilkan diri saya, karena.. satu kehidupan saja berhasil saya sentuh dan berubah lebih baik..itu artinya saya sudah membantu dunia ini....

Minggu ini, 2 orang adik angkatan saya yang pintar-pintar menunjukkan bahwa saya, dengan kapabilitas yang saya miliki sekarang, mampu meng-inspirasi mereka....... Apresiasi mereka manis banget, sampe saya malu sendiri..... :p . Tidak dalam arti bikin saya Ge-eR, tapi menjadi semacam doping bahwa ya, saya tetap ingin melakukan perjalanan-perjalanan kecil yang bermakna ini.... Bahagia banget rasanya kalau orang lain dalam proses hidupnya sekarang atau kelak, bisa merasakan kebahagiaan / kebaikan dan mereka mengingat nama saya pada moment itu.... Apresiasi mereka menjadi bukti nyata, bahwa saya bisa melakukan sesuatu yang sungguh-sungguh bermanfaat bagi orang lain. Sebelumnya, jika ada klien / teman yang mengucapkan apresiasi semacam ini, saya cuma bisa malu dan ga percaya....... Tapi sekarang, pemikiran tentang langkah-langkah kecil ini menyadarkan banget agar saya tidak mengerdilkan diri dan menerimanya sebagai pendorong untuk langkah-langkah selanjutnya.......

Saya jadi inget omongan saya sendiri... "Terkadang kita memang tidak perlu tahu apa yang ada 100 meter di depan. Berhenti memikirkannya, dan nikmati saja 10-20 langkah ke depan....". Saya yakin, spirit sederhana ini jugalah yang ada dalam diri Trevor, Mieke Valencia Randa, Harry Moseley, Bapak, dan jutaan inspirator dunia lainnya yang menyentuh dunia dengan caranya masing-masing.....
Small Step... is a BIG STEP!

2 comments :

  1. Aku ingat dulu aku pernah nulis artikel buat dapet beasiswa, yang intinya I want to make this world a better place. *Ayo penggemar Pakde MJ, angkat tangannyaaaa....

    Nah, sewaktu wawancara, pewawancara nanya, "gimana kamu bisa mengubah dunia dengan kapabilitas yang kamu miliki?"

    waktu itu aku jawab, "ya dengan apapun yang saya punya, dari hal yang kecil aja. Misalnya kalau kuliah, saya kuliah dengan baik. Saya bisa menulis artikel ttg ilmu yang bermanfaat, entah itu di blog ato di kirim ke majalah atau sosial media lain. Yang pasti dari hal yang kecil."

    Sebuah puisi yang tertulis di makamnya Webminster Abbey:

    "Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal
    Aku bermimpi ingin merubah dunia
    Seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku
    Kudapati bahwa dunia tidak kunjung berubah

    Maka cita-cita itu pun agak kupersempit
    Lalu kuputuskan untuk hanya mengubah negeriku
    Namun tampaknya
    Hasrat itu pun tiada hasilnya

    Ketika usiaku semakin senja
    Dengan semangatku yang masih tersisa
    Kuputuskan untuk mengubah keluargaku
    Orang-orang yang paling dekat denganku…

    Tetapi celakanya
    Mereka pun tidak mau diubah !

    Dan kini
    Sementara aku berbaring saat ajal menjelang
    Tiba-tiba kusadari……

    Andaikan yang pertama-tama kuubah adalah diriku
    Maka dengan menjadikan diriku sebagai panutan
    Mungkin aku bisa mengubah keluargaku

    Lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka
    Bisa jadi aku pun mampu memperbaiki negeriku

    Kemudian siapa tahu
    Aku bahkan bisa mengubah dunia"

    I love your writing, Sister!

    ReplyDelete