Wednesday, October 5, 2011

Pertanyaan Horor...Hiyyyy...

Having a baby is like getting a tattoo on your face. You really need to be certain it's what you want before you commit.” 
           - Elizabeth Gilbert, EatPrayLove -


Saya percaya setiap orang di muka bumi ini pasti punya black-list pertanyaan horor yang mungkin dilontarkan orang lain. Ngga selebritis, politikus, PNS, mahasiswa, si cupu, si keren, si jagoan, si kaya raya, si tukang gosip... Semua to the max!. Contoh pertanyaan horor itu: udah ada calon? - buat si penyandang gelar jomblo -, kapan lulus? - buat akademisi yang terlalu lama nyangkut di kampus -, sekarang kegiatannya apa? - buat para jobless -, udah "isi"? - buat pengantin baru, for example... SAYA!-. 
Hemm mungkin pertanyaan horor ini sedikit bervariasi untuk kalangan lain, misal: udah punya koleksi houndstooth-nya Badgley Mischka? -buat para fashionista- atau sekedar : kemarin dapat ranking? - untuk anak sekolahan yg baru aja lulusan-. Intinya, ini adalah tipe pertanyaan yang kalo disodorin ke kita, rasanya darah langsuungg zwiiiinggg naik  ke muka bikin berdesir-desir ahee, bikin cuping idung kembang kempis, dan bikin otak muter kayak gasing mikir jawaban cepat dan tepat.......


Saya ngga menyalahkan orang-orang yang menanyakan hal ini. Sebagian dari pelontar pertanyaan memang mereka yang sungguh-sungguh peduli pada hidup kita, meskipun sebagian lagi, well.. memang orang-orang yang sekedar bertanya basa-basi, dan sebagian lagi...golongan yang memang dengan sengaja menanyakan itu supaya desir-desir aheee kita muncul. Siapapun itu, mereka punya hak untuk bertanya. Masalahnya bisa nggak kita mmenghadapinya dengan keanggunan.....


Selama hidup sayapun sebenarnya banyak pertanyaan horor yang menghantui hari-hari saya. But lately, list itu nambah satu lagi sejak saya menikah 4 bulan lalu. This baby question.....whew lumayan menguras emosi dan pikiran saya!! dan membuat saya kemudian questioning banyak hal juga....Saya jadi meragukan, apa iya intensi saya untuk segera memiliki momongan itu asalnya dari dalam diri saya, atau saya sekedar kejar target untuk menyenangkan orang-orang di sekitar saya? untuk menyelamatkan saya dari pandangan aneh udah-beberapa-bulan-kok-belum-hamil-ada-apa-dengan-tubuhmu? untuk membuktikan bahwa saya wanita sempurna? .... 


Self-question ini pun akhirnya mengarah ke pemikiran lain: tentang betapa berat beban yang kita bawa setiap hari terkait peran-peran yang kita jalankan (sebagai orangtua, anak, murid, saudara, pekerja, istri / suami). Beban ini kalau ngga terpenuhi, hasilnya adalah judgement dari orang lain dan seringkali...judgement kita terhadap diri sendiri. Karena sadar atau tidak, banyak dari kita yang "living in others dream". Kita berusaha menjadi atau mencapai sesuatu yang sebenarnya itu impian orang lain... entah itu impian orangtua, atau impian orang yang kita kagumi.. Kita terlalu lama dibesarkan dengan mimpi-mimpi itu sehingga percaya bahwa itu impian kita juga. Memang tampaknya lebih mudah mempercayai mimpi semacam ini, karena kita ngga perlu berdarah-darah mencarinya...dan kita akan selalu dapet dukungan untuk mencapainya. Tapi tahukah..... sebenarnya dalam proses ini kitapun kehilangan banyak puzzle tentang siapa diri kita. Inilah sumber perasaan hampa, bingung, unhappy, ketidakpuasan.. meskipun TAMPAKNYA kita sudah dapetin semua yang kita mau....


Kedua, self-question ini juga menyadarkan saya... bahwa detik-detik dalam hidup kita, sebagian besar dihabiskan untuk melompat dari satu tugas ke tugas lain. Tanpa benar-benar be present, embrace, appreciate, acceptance, loving, forgiving....... Jadi anak, kita bertugas membanggakan keluarga, beralih jadi contoh untuk saudara-saudara lain, beralih jadi menafkahi keluarga, dan seterusnya dan seterusnya.... Jadi perempuan, kita bertugas jadi pribadi yang sopan dan jaga nama baik keluarga, beralih jadi istri yang melayani suami, jadi petugas reproduksi, jadi pengasuh, daaann seterusnya... Tugas yang sangaaatt panjang ya? 
Tapi bukankah untuk ini kita hidup? Bukankah hidup ya seperti ini? kalau ngga melakukan tugas-tugas ini kita ngapain donk?
Iya...betuL. Memang hidup adalah serangkaian tugas-tugas..dan tanpanya kitapun ngga akan bertumbuh... Yang saya maksudkan adalah, berapa dari kita yang meluangkan waktu untuk memberi jeda di antara tugas-tugas itu dan betul-betul menikmatinya? berterimakasih pada diri sendiri? meneteskan air mata saking bahagianya dengan cinta yang kita miliki? memaafkan kesalahan-kesalahan yang tidak bisa kita ubah lagi?...... Waktu dimana diri kita adalah NOL sekaligus sangat KAYA? (this part akan saya tulis di bagian lain ya... karena bakal panjang banget...hehehe). Ini yang sesungguhnya harus kita renungkan......


Lalu..saya pun jadi mikir, betapa sedikit yaa ruang privacy orang lain yang kita hormati? sehigga kita mudah menanyakan hal-hal yang mungkin orang lain feel uncomfort... Saya baru aja beberapa hari lalu dapet sms dari temen yang sebenernya cuma numpang kenal sebentar, sms pun langka bgt selangka kemungkinan kita ketemu Johnny Depp di malioboro, dan bunyi sms pertamanya setelah sekian lama ga meet up adalah "ega udah punya momongan?" what??! 78%n9!!f0$hR*&6@!!. Harusnya pertanyaan gini kan kelasnya sama kaya "berapa gaji kamu?" atau "berapa umurmu?' di kehidupan bule-bule sono..... Minimal, prolog dulu kek biar saya tau kalo dia beneran care.. 
Yeah intinya, budaya rawe-rawe rantas malang-malang putung (hash gimana seh nulisnyaaa..) kebersamaan, kekeluargaan, dan segala ketimuran kita ini harus juga diimbangi belajar menghormati wilayah pribadi orang lain ya......


Kembali ke pertanyaan horor saya.. Well, saya belum punya jawaban cerdas kalau pertanyaan "udah isi?" ini datang menghampiri saya. Sejauh ini saya cuma jawab sambil senyum : "belum, doain yah..." atau jawaban sedikit garing kalo jiwa saya lagi kesambet Sule; "udah ni, isi lemper....."
Tapi andaikata saya punya cukup waktu dan tenaga untuk ngadain jumpa pers n menjelaskan ke semua orang, saya pengen mereka sungguh-sungguh melihat saya dan saya bisa berkata :"saya bahagia....hidup saya jauh lebih baik sejak saya menikah". Alhamdulillah saya dikaruniai suami yang super light, ga ada masalah di dunia ini yang cukup besar hingga ia izinkan jadi 'masalah'. Saya tumbuh, tertawa, belajar, dengan kondisi hidup yang masih berdua ini. Sungguh, ada banyak hal dalam kehidupan kami yang bisa kami syukuri daripada kami sibuk memerintah Allah untuk segera mengaruniai kami momongan. Kalau menjadi orangtua adalah komitmen seumur hidup yang akan kami jalani sampai mati nanti, boleh kan kami sekarang menikmati waktu berdua ini tanpa dikejar-kejar target punya anak?
Di luar semua hal ini (orang lain boleh menganggapnya rasionalisasi saya semata) saya percaya Allah saya yang Maha Baik punya hitung-hitungan matematika paling dahsyat. Dia Maha Tepat Waktu. Dia Maha Tahu. Kehamilan terjadi bukan sekedar sperma dan sel telur bertemu di saat tepat dan kondisi sehat. Kehamilan adalah kombinasi fisik, mental, dan spiritual yang sempurna... semua akan terjadi tepat waktu, saya mengimani hal ini. Oleh karenanya, doa saya setiap kali sujud kepada Allah  bukanlah agar segera diberi momongan.... tapi agar saya diberi momongan ketika kami SIAP, dan PANTAS menurut hitungan-Nya... dan agar saya dan suami tetap berdiri kokoh tersenyum dalam setiap pertanyaan horor yang hadir... coz' yes, we're so much in happy marriage life..............


Saya berharap...... kita semua, termasuk saya, akan terus menjadi jiwa-jiwa yang merdeka... dengan impian-impian sendiri yang kita temukan dan perjuangkan sendiri. Sehingga kalau ada pertanyaan horor yang mampir dalam keseharian, kita akan selalu punya jawaban aheeee kriuk-kriuk............
"Udah ada calon?"........... "udah, tinggal seleksi fit and proper test aja abis ini. Finalisnya masih 5 sih" *kedip genit*
"Kapan lulus?".........."Alhamdulillah yaah udah 3x lulus, jadi sekarang ga ngoyo2 amat" *pake kacamata item*
"Skrng kegiatannya apa?"...."Sibuk! Baru aja guntingin kuku kaki tetangga. Kegiatan sosial gitu" *kunyah permen karet*


Cheers,

8 comments :

  1. coba deh baca yg ini http://theurbanmama.com/topics/our-stories/3556/keputusan-menjadi-orangtua.html

    ReplyDelete
  2. hahahahaha bnyk yg nasibnya sama ternyata... alhamdulillah ada yg aware ya mbak...

    ReplyDelete
  3. ega.. aku sukaaaa bgt tulisan ini..
    jdi inget dulu aku juga suka dtanyain gtu.. sampe akhirnya aku dan suamiku bertanya ke diri kita sendiri.. knp yah qta belum punya anak? apa yg salah hingga Allah blm mengizinkan?
    dan ternyata, klo horror question itu dtanyakan oleh kita dan untuk kita sendiri, efeknya luar biasa..
    yah,akhirnya aku jdi mikir mgkn aku blm cukup siap jadi ibu, blm cukup siap utk jdi contoh yg baik.. jdi aku berusaha memperbaiki diri.. aku juga bahagia dan menikmati saat2 aku blm hamil.. and guess what? hanya selang sebulan setelah aku ikhlas dgn keadaan dan ga lg mau musingin pertanyaan orang, aku positif hamil!
    kmu bener ga, kata orang ya ga usah dipikir..toh nanti siapa yg repot2 klo kmu punya anak? emgnya mereka mau bantu? paling2 keluar horror question lagi, kpn mau ngasiy adek?
    hadehh.. kyknya horror question itu ga punya akhir..

    ReplyDelete
  4. hayy dee (haha bingung panggil apaa.....) Makasii apresiasinya. Senasib qta...aku jg paling bete kalo udh dibandingin sama newlywed2 yang udh hamil. Emaang hamil tu lombaaa..emaang menulaarr..Ga bisakah qta berbahagia untuk mereka2 yang sudah hamil dan merayakan hidup kita sendiri??
    Gitulah....
    Keep enjoy your life yaa... n keep in touch! ^^

    ReplyDelete
  5. Mulut orang, gong... cuman mereka yang bisa atur kata2 apa yang mau mluncur dari situ. Kita? Aku spakat denganmu... Kita urus aja telinga kita sendiri.. ;)

    ReplyDelete
  6. ho oh Tee.... ah abis ni beli anting-anting baru n nambah tindikan aahhh #nguruskuping. Huahauaaaa....

    ReplyDelete
  7. ** semangat ya ega! :)

    www.puspitanugraha.com

    ReplyDelete